
Setelah kepergian Gery Lusi pun hanya bisa terima ikhlas bahwasannya hidup tetap terus berjalan hidup tak bisa ia paksakan setiap manusia punya jalan cerita hidup masing-masing yang tak bisa kita atur sendiri.
Uang yang Lusi terima 500 juta dari Gery pun Lusi simpan dalam gengaman, Lusi simpan untuk keperluan anaknya Yasmin. Lusi berniat tak ingin memakai sepeserpun uang yang Gery berikan . Semua yang Gery berikan akan Lusi pakai untuk keperluan Yasmin. Meksipun Gery mengatakan ia akan memberikan lagi Lusi tak bisa jamin apakah benar atau hanya saat itu saja.
Setiap manusia punya hati yang tak pernah Sama kadang bisa diharapkan, dan kadang tidak. Dalam hidup kita hanya perlu berharap pada Allah bukan pada manusia yang hanya ciptaan Allah. Dan semua yang Lusi dapatkan itu memang rejeki dari Allah.
Sebenernya Lusi tak pandai menyimpan uang tapi Lusi berusaha untuk tetap amanah menyimpan apa yang diberikan oleh ayah dari Yasmin.
Lusi mungkin membenci pria yang begitu jahat padanya, tapi Lusi tak bisa pungkiri jika Gery adalah ayah dari putrinya.
Ada perasaan sedih terkadang dalam hidup, tapi Yasmin masih beruntung dalam hidup masih ada papa kandungnya.
Sementara Fabio yang masih kecil sudah ditinggalkan oleh Ayahnya.
Dan dalam hal ini...
Batin Lusi terasa perih bila mengingat Rian yang telah tiada, kadang Lusi merasa ingin sekali hidup bersama orang yang dicintai. Dalam pelukan hangat yang begitu dalam, mengapa begitu sulit.
Sesak semua terasa sesak...
Lusi pun menyapu air matanya, Berkali-kali Lusi mencoba menerima semua yang dirasa pahit.
Setalah Hilman pulang Lusi hanya duduk dikamar sambil menangis dalam diam, tak pernah Lusi merasakan hancur sehancurnya saat Lusi merasa begitu berat menjalani hidup bersama orang yang Lusi tak cinta dan merelakan orang yang ternyata ada dihati namun sulit digapai. Yaitu Gery kenapa ada perasaan sedih yang mendalam disaat ia mengatakan akan pergi..
Lusi pun menghela napas yang terasa berat dan menghembuskan secara perlahan untuk menenangkan hatinya.
.
.
.
.
Lalu...
Keesokan paginya hari ini adalah libur kerja bagi Lusi, baru kerja sehari tapi langsung libur ya bagaimana tidak libur karena hari ini adalah hari Sabtu. Dikantor pun tutup.
Lalu saat siang itu Hilman datang mengajak Lusi untuk refreshing ke sebuah mall.
Hilman pun mengatakan jika Lusi boleh mengajak kedua anaknya, tapi kata Ibu kalau Nila mau ajak Fabio ke pesta ulang tahun anak temannya. Jadi Lusi pun membolehkan saja karena Nila adalah orang yang bisa dipercaya.
Lusi pun enggan sebenarnya pergi tapi karena Hilman katanya mau membelikan sebuah cincin yang untuk pernikahan, Lusi pun iya iya saja.
Lusi pun memandang Hilman secara seksama selama perjalan menuju mall, Lusi tak pernah menyangka jika dirinya akan menikah dengan pria yang umurnya seumuran dengan Ayahnya. Lusi bukan tidak bersyukur namun hanya tak menyangka saja.
Rambut Hilman yang mulai memutih, yang Lusi sendiri tak pernah tahu dia orangnya seperti apa? Bisakah memberikan kebahagiaan ataukah? Lusi enggan rasanya menjadi janda tiga kali, terasa hina sekali. Apakah pernikahan dirinya dengan Hilman akan kembali gagal bila mengingat Lusi yang saat ini tak cinta padanya.
Rasanya menyakitkan sekali jika menjadi janda untuk ketiga kalinya.
Lusi bukan wanita bayaran tapi kalau diingat kembali sudah berapa banyak pria yang Lusi meniduri rasanya menjijikan sekali.
Bahkan luka di dasar hati dengan perlakuan Demian sebenernya belum sembuh benar Lusi masih harus menyembuhkan luka yang teramat tapi kini harus menghadapi sebuah kalimat yaitu menikah lagi.
Hah lelah sekali??
Lusi tidak tahu...
Bagaimana caranya menyusun hati, yang sebenernya Lusi pun sedang mengobati luka hati yang teramat dalam.
Dari luar orang melihat Lusi mungkin seperti Wanita yang penuh rasa kebahagiaan, dibelikan tas mahal memakai baju terkesan mewah dan tatanan rambut yang elegan. Namun mereka tak pernah tahu ada diduka yang teramat dalam didalam hati yang obatnya sendiri sebenernya adalah waktu untuk sembuh.
Lusi pun hanya mencoba tersenyum menerima dan lalu menjalani.
Dan saat perjalanan menuju mall...
Selama perjalanan Lusi hanya terlihat terdiam dan melamun. Lalu tampak Hilman yang tak mau membiarkan Lusi diam saja.
__ADS_1
"Lusi kenapa diam" tanya Hilman.
"Gak apa-apa" jawab Lusi.
"Sakit gigi" tanya Hilman.
"Lebih dari itu"
"Apa?"
"Entahlah yang pasti sakit tapi tak berdarah"
"Bukannya wanita itu sering berdarah tanpa harus disakiti, itu artinya wanita kuat kan"
"Tapi sekuat apapun wanita,. wanita terlahir itu bukan berati untuk disakiti. Mereka para wanita perlu bahagia" kata Lusi.
"Kebahagiaan seperti apa?"
"Banyak"
"Contohnya?"tanya Hilman.
"Bersama orang yang ia cintai, misalnya, anak keluarga dan intinya semua yang dicintai" jelas Lusi tersenyum getir.
Seketika Hilman pun terdiam dan merenung dengan ucapan Lusi yang begitu masuk ke dalam relung hati.
Tak lama mereka pun sampai disebuah toko emas, terlihat Lusi yang menggendong Yasmin saat itu.
"Kalau kamu pegal biar aku saja" kata Hilman.
"Yang apa?"
"Yang menggendong"jawab Hilman.
"Jangan bapak bawa yang lain aja, bapak gak biasa kan gendong bayi" kata lusi.
"Ih..... Si bapak"
"Oia pilih lah yang kamu mau" ucap Hilman.
"Aku ingin yang sederhana saja"jawab Lusi.
"Kenapa?"
"Bukan cincinnya yang penting adalah perasaannya"
"Baiklah"
Lalu Hilman pun memilih cincin dan kalung untuk mas kawin nanti.
"Bagaimana apakah ini bagus" tanya Hilman.
"Sangat bagus dan indah"
"Habis ini kita makan ya"
"Boleh" jawab Lusi.
"Mau makan apa?"
"Apa saja"
"Oke"
Lalu mereka pun datang ke Restaurant Jepang yang ada disitu, Hilman pun memesan berbagai macam makanan kesukaannya. Tiba-tiba Lusi melihat Liana dan bayi Alena yang sedang digendong oleh seorang pria. Tapi Lusi seketika heran melihat Liana yang bersama pria namun bukan Gery. Lusi tampak heran.
Tapi..
__ADS_1
Lusi tak bisa mengudje kalau Liana selingkuh dengan pria lain. Tapi mereka seperti pasangan, Lusi hanya terdiam tapi penuh tanda tanya.
Sampai pada akhirnya Liana pun menyadari jika meja yang duduki Lusi sebelahan dengan Liana, Liana pun tersenyum melihat Lusi dan menghampiri Lusi.
"Loh makan disini" kata Liana menghampiri Lusi.
"Iya, apa kabar?"
"Baik Btw ini siapa?" Tanya Liana yang melihat Hilman.
"Kami akan segera menikah, saya adalah calon suami Lusi" sahut Hilman yang tampak tersenyum langsung memeperkenalkan dirinya.
"Selamat semoga kalian selalu bahagia, tapi aku duluan ya" Ucap Liana lansung pergi bersama pria yang Lusi tak kenal.
"Loh buru-buru banget" tanya Lusi.
"Iya ada janji, sorry ya" kata Liana yang lansung menggandeng seorang pria didekatnya.
Lusi pun langsung shock tak sempat menanyakan siapa pria yang bersama Liana barusan.
"Kamu kenapa, terlihat kaget dan dia siapa?" Tanya Hilman yang bingung melihat Lusi.
"Aku cuma kaget Liana pergi sama pria lain, lalu pria itu siapa?" Kata Lusi heran.
"Dia itu siapa?"
"Istrinya Gery tadi wanita itu adalah istrinya Gery, tapi dia kenapa pergi sama pria lain ya" kata Lusi yang masih heran.
"Oh, ya mungkin tadi itu sepupunya atau saudaranya?"
"Oh ya mungkin juga sih" Lusi pun hanya bingung lalu tak membicarakannya lagi.
Lalu Lusi pun melanjutkan makan.
"Lusi, aku sudah menentukan tanggal pernikahan kita" kata Hilman.
"Waahhh, kapan?" Tanya Lusi.
"Sebulan lagi"
"Ha??? Cepat sekali"
"Ya lebih cepat lebih bagus kan, halal itu lebih enak lagi. Saya gak sabar honeymoon sama kamu, kita ke tempat yang indah berdua saja" ucap Hilman dan langsung mengambil sendok Lusi dan menyuapinya.
"Saya suapi ya" kata Hilman lagi.
"Eh jangan pak, jangan pak"
"Gak apa-apa"paksa Hilman yang mau meyuapi Lusi.
Lusi pun pasrah seperti anak kecil yang disuapin bapaknya.
Lalu setelah makan bersama Lusi dan Hilman pun pulang bersama.
Hilman mengantar Lusi dengan selamat sampai rumah tanpa kekurangan sesuatu apapun kgu.
Namun...
Setelah mengantar Lusi.
Hilman pun kembali pulang..
Namun sayangnya??
Lusi mendapati kabar setelahnya bahwa Hilman mengalami sebuah kecelakaan tunggal.
Seketika Lusi kaget saat itu.
__ADS_1
Ia tidak menyangka bahwa Hilman kecelakaan.