Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Klaim


__ADS_3

Seketika hati Lusi terasa perih dan sakit saat seorang pegawai rumah sakit itu menjelaskan rincian dari tentang pembayaran biaya rumah sakit. Begitu besar dan Lusi tak sanggup untuk membayar nya.


Lusi pun seketika teringat pada Gery namun Lusi enggan untuk meminjam uang pada pria itu, pasti akan ada embel-embel perjanjian yang akan lebih menyulitkan.


Uang segitu tidak sedikit apakah ada orang yang mau meminjamkan, Lusi pun teringat Zelda tapi Zelda juga bisnis nya sedang tidak baik-baik saja.


Mungkin pinjam sama Juna.. ah.. Kalau pun pinjam pada Juna dan Marisa, Lusi ingat dengan kasus dirinya dengan Juna saat dirinya di fitnah diruang Gery. Pasti akan ada omongan yang tidak baik.


Huf.....


Lusi pun tampak memijat keningnya berkali-kali. Terdiam dan tak tahu.


Seketika saat Lusi melihat handphone nya ternyata hape nya baterainya habis. Lusi pun tampak menghela napas panjang sekali lagi. Kenapa dia bisa bodoh, tak membawa charger padahal itu penting.


Lusi pun sekali lagi tampak menghela napas beratnya. Tiba-tiba ada sesosok pria datang dan itu adalah Arga. Arga pun melihat Lusi yang tampak galau, Arga pun langsung menarik kesimpulan bahwa Lusi sedang menghadapi sebuah masalah. Dengan rasa penasaran Arga pun menghampiri Lusi.


"Apa yang kamu lihat" ucap Arga tiba-tiba datang dan melihat Lusi yang memegang selembar kertas ditangan.


Lusi pun tampak terdiam tak menyahuti Arga.


"Apa yang kamu lihat?" Tanya Arga sekali lagi.


"Total tagihan yang harus dibayar, sangat mahal. Dan sepertinya aku tak sanggup membayar" jawab Lusi sedih.


"Berapa?"


"Banyak, total keseluruhan 75.000.000 buat orang yang tak memiliki apa-apa seperti ku ini mahal untuk ku" jawab Lusi terang-terangan.


"Aku akan membantu mu" ucap Arga


"Apa kamu Serius? kamu akan membantu ku" tanya Lusi.


"Iya. Kamu mau berapapun aku akan membantu" jelas Arga.


"Tidak usah"


"Kenapa?" Tanya Arga.

__ADS_1


"Aku tidak mau hutang budi pada siapapun. Tidak dengan mu, atau pun orang lain"


"Ini bukan dari ku tapi dari perusahaan"


"Betulkah seperti itu, Jika itu dari perusahaan, aku jelas mau. Tapi, kalau dari orang lain jujur aku tidak mau"


"Iya dana itu bisa diclaim kok, aku akan kasih tahu caranya"


"Caranya?"


"Iya, kamu harus membuat laporan dengan datang ke perusahaan untuk isi berkas laporan dan diberikan pada senior manager" kata Arga.


"Manager, yang di Jakarta atau sini?" Tanya Lusi.


"Bukan di Jakarta, tapi meminta pada atasan yang stay disini dan kamu harus mendatangi nya" ucap Arga.


"Aku harus datang? Kalau kamu yang datang dan membantu ku apakah bisa?" Tanya Lusi.


"Iya, kamu yang harus datang kesana tidak bisa digantikan oleh siapun termasuk aku. Aku yang akan mengantarmu ketempat itu" kata Arga memberitahu.


"Kapan?"


"Sore?"


"Iya kalau siang beliau masih sibuk paling tidak sore"


Lusi pun tampak terdiam dan berfikir sambil memandang wajah suami nya yang terlihat tak berdaya. Dengan mata yang sayu dan merah karena habis menangis Lusi tampak berusaha menguatkan dirinya. Demi apapun itu Lusi akan memberikan untuk suaminya demi kesembuhan suaminya dan bisa kembali pulih Lusi akan berusaha dan mau datang ke tempat kerja dimana Rian kerja.


Lusi pun tampak menatap Rian dan mencium keningnya.


"Rian, doakan aku untuk mendapatkan uang itu. Rian doakan aku" ucap Lusi berbisik ke telinga suaminya.


Sebagai istri yang mencintai suami dalam keadaan suka dan duka Lusi tampak selalu berikhtiar demi kesembuhan dan keselamatan sang suami tercinta.


"Lusi?" Tanya Arga melihat wajah Lusi.


"Ya?"

__ADS_1


"Area mata mu tampak menghitam, beda saat pertama kali ku bertemu dengan mu, kenapa?" Tanya Arga.


Ya ini adalah hari kedua Lusi berada di rumah sakit itu. Jadi Lusi memang tidak bisa tidur.


"Apakah kamu tidak tidur?" Tanya Arga sekali lagi.


Lusi pun tampak mengangguk.


"Aku tidak bisa tidur melihat suamiku dalam keadaan seperti ini. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak disaat aku harus melihat dirinya terbaring lemah dan tak berdaya seperti ini, aku tidak bisa melihat nya sakit seperti ini" kata Lusi dengan mata yang merah dan kembali menjatuhkan air matanya.


"Bersabarlah Lusi semua yang bernyawa pasti akan mati" ucap Arga.


"Aku tahu soal itu, tapi masih bisa diusahakan untuk kesembuhan nya dan pastinya atas kehendak dari Allah. Manusia hanya perlu berusaha dan berharap?"


"Ya kamu benar semua perlu diusahakan, apalagi kita hanya lah manusia biasa" ucap Arga.


Mudah-mudahan usahamu akan selalu gagal Lusi, aku harap suami mu tak pernah sembuh dan akan mati dalam waktu dekat ini. Aku tidak ingin dia hidup... Dan dirimu Lusi akan menjadi milikku setelah Rian mati. Mungkin dulu aku hanya mengincar jabatan mu Rian, tapi aku juga ternyata mengincar istri mu ini. batin Arga.


Sampai waktu sore hari....


Lusi pun tampak bersiap pergi untuk ikut Arga. Arga berjanji akan mengantar Lusi untuk membantu klaim uang pengobatan dan operasi Rian. Lusi pun hendak pergi bersama Arga ketempat yang Lusi tak pernah datangi sama sekali dan Lusi tak pernah tahu tempat itu dimana.


Arga membawa Lusi ke tempat parkir dan membawa nya masuk kedalam mobil.


"Apakah benar kamu akan mengantar ku ketempat yang ku tuju" tanya Lusi.


"Pasti jika dirimu tak sampai sana kamu boleh mengiris kuping ku ini untuk apa aku berbohong untuk apa?" kata Arga.


Ya Lusi pun tampak tak menaruh curiga apapun pada Arga. Karena Lusi memang merasa butuh uang saat itu dan hendak ikut pergi dengan Arga.


Arga pun tampak tersenyum melihat Lusi yang masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu sudah siap kan untuk aku antar" tanya Arga sembari tersenyum.


"Iya" jawab Lusi singkat.


Arga pun membawa Lusi dengan janji bahwa ia akan mengantar ke kantornya untuk claim dana pengobatan.

__ADS_1


Apakah benar Arga akan membawa Lusi untuk mengklaim dana pengobatan dan ataukah yang lain? mari simak ceritanya?


__ADS_2