Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Aku tidak mau siapapun menyakitimu


__ADS_3

Disudut suasana apotik dirumah sakit, suasana saat itu masih keadaan sore hari.


Leon pun tampak selesai mengantre obat dan vitamin untuk Tanisa. Ya, wanita yang di cintai oleh papanya itu. Mungkin kini bukan cuma papanya yang mencintai wanita itu, tp juga Leon. Leon bahkan rela mengantar Tanisa sampai ke rumah sakit.


Dan..


Dari sekian banyak pria yang ada hanyalah Loen sebagai orang yang mampu menerima kehadiran orang lain sebagai ibu tirinya. Ibu tiri yang sangat muda, lemah dan penuh belas kasihan. Namun penuh cinta dan kasih sayang.


Sebenarnya Leon merasa bila melihat wajah Tanisa penuh akan kasihan dan beban yang teramat dalam pada hidup Tanisa. Namun Leon tak pernah tahu, secara detail kehidupan nya dan bagaimana bisa Tanisa masuk kedalam kehidupan papanya. Jika dipikir secara logika mana mungkin seorang Tanisa yang masih muda mau menikahi pria yang seharusnya menjadi ayah nya. Leon pun menarik napas panjang nya. Semua hal itu masih teka teki bagi Leon.


Sudah hampir 30 menit sudah, Leon menunggu obat dan kini obat itu sudah ditangannya. Namun hingga kini Tanisa masih belum kembali.


Lalu Leon pun berniat mencari Tanisa untuk keluar yang sedang membeli es jeruk namun hingga kini tak kunjung kembali apa mungkin ramai sehingga ia masih mengantre. Lalu Leon pun tampak menyusul, tapi saat didepan taman rumah sakit itu Leon menemukan sebuah es jeruk dicup yang jatuh dan sudah tumpah. Mungkinkah ini milik Tanisa? Lalu dimana dirinya kini? Batin Deon tampak khawatir dengan firasat yang tak enak.


"Apa mungkin ini milik Tanisa, lalu dimana Tanisa" ucap Leon panik.


Leon pun langsung berlari dan mencari Tanisa dengan mengedarkan pandangan kesana kemari namun tetap saja ia tak mampu menemukan. Leon pun ke parkiran siapa tahu Tanisa ada disana, namun masih saja tidak ditemukan. Pada akhirnya, Leon pun menelpon papanya memberanikan diri, untuk menanyakan dimana Tanisa. Karena Leon teringat jika papanya akan menyusul untuk datang ke rumah sakit.


Berkali-kali Leon menelpon tidak diangkat.


Tut... Tut .. Tut...


hingga sudah yang ke tiga kalinya, barulah Leon menerima jawaban dari sang papa.


"Hallo pa, apa benar papa bersama Tanisa" ucap Leon panik.


"Bukan urusan mu" ucap papa.


"Katakan pa, apa betul papa sudah bertemu Tanisa" ucap Leon memastikan.


"Iya?"


"Lalu dimana dia kini" tanya Leon. Namun tampak sang papa tidak menjawab sama sekali apa yang ditanyakan oleh Leon. Sehingga ia tersadar bahwa ada yang janggal yaitu suara tangisan Tanisa.


"Hikz, hhik, hiks"


Terdengar dari benda pipih itu bahwa Tanisa sedang menangis.


Deg...

__ADS_1


Menangis, suara siapa itu yang menangis.


"Pa itu suara siapa?"


Tut . Tut. Tut


Tak sampai papa menjawab, sambungan telepon itu mati. Ditutup oleh Deon.


"Halo halo" ucap Leon yang masih menggenngam telepon.


Leon tak habis pikir mengapa papanya menutup sambungan telepon itu, tanpa memberikan jawaban yang jelas.


Lalu dengan cepat Leon pun langsung menuju kerumah untuk memastikan semuanya bahwa semuanya baik-baik saja.


Dengan perasaan yang penuh kecemasan dan kekhawatiran yang begitu mendalam Leon membawa mobil. Leon berharap bahwa tak terjadi apapun pada Tanisa, sungguh apapun yang terjadi pada Tanisa saat ini Leon lah yang paling merasa bersalah.


Tanisa, tunggu aku. Tunggu aku pulang. Kuharap dirimu baik-baik saja, kumohon. Batin Leon penuh kekhawatiran.


Dengan kecepatan penuh Leon pun sampai rumah...


Dengan langkah kaki yang begitu tergesa, Leon masuk kedalam rumah itu dan mencari Tanisa didalam.


Dengan merasa bersalah dengan apa yang dialami Tanisa saat ini, karena Leon lah yang membawa Tanisa. Kini Leon melihat Tanisa dalam keadaaan yang menyedihkan dan luka diwahnya Leon pun mendekati Tanisa. Leon membelai lembut rambut Tanisa.


"Apa yang terjadi, mengapa bisa seperti ini. Siapa yang sudah melakukan ini"


Tanisa terdiam sambil menangis dikamarnya tak menjawab apa yang terjadi.


"Tanisa aku mohon jawab aku siapa yang melakukan ini" tanya Leon.


Namun Tanisa masih tak menjawab, dan masih menangis.


Ini pasti papa, papa yang sudah melakukan ini. Papa dirimu mu begitu tega pada wanita mu, dirimu begitu tega pada wanita yang kamu cintai. Dirimu sungguh keterlaluan!, Batin Deon meyakini bahwa itu adalah perbuatan sang papa.


Lalu Leon pun berlari dan mencari dimana papanya berada, papanya pun sedang ada diruang tengah. Leon pun menghampiri dengan perasaan penuh amarah yang membara.


Dengan sorot mata yang tajam Leon menarik kerah baju sang papa dengan perasaan bersalah.


"Apa-apaan ini" kata Deon.

__ADS_1


Deon pun kaget melihat putranya yang menarik kerah bajunya dengan kasar dan begitu terlihat marah.


"Ini pasti karena papa kan Tanisa seperti itu" tanya Leon emosi.


"Kamu tak perlu tahu"


"Aku harus tahu apapun tentang Tanisa"


"Kamu tak perlu tahu!!!!"


"Aku peringatkan kepada papa, aku tidak peduli siapa Tanisa dirumah ini!!!! Entah itu pacar atau siapapun itu, aku sungguh tak peduli. Siapapun orang yang sudah menyakiti Tanisa harus berhadapan dengan ku"


Deon pun ikut kesal.


"Asal kamu tahu Tanisa diam-diam sudah menemui Gavino!!!! Dia sudah menghianati papa" Ucap papa lantang.


Leon masih memandang papanya emosi.


"Masih kamu membelanya masih kamu peduli dengan apa yang terjadi. Harusnya papa yang marah karena kamu yang sudah membawanya ke luar rumah sehingga dia bertemu dengan pria sialan itu!!!" kata papa kesal.


"Tapi apapun itu, apapun yang dilakukan Tanisa!!!! Tak seharusnya papa memukulnya sampai seperti itu!!!! Sekali lagi papa menyakiti, aku tak akan membiarkan itu terjadi. Sekalipun papa adalah papa ku. Aku sama sekali tak peduli??? Dan aku akan lakukan hal yang sama" Ucap Leon memukul papanya dengan tangan kekarnya, namun Deon menahannya.


"Berani kamu pukul papa demi wanita itu!!!!" Ucap Deon kesal pada putranya.


"Aku peduli dan aku sangat peduli"


Leon pun tampak ingin memukulnya lagi namun tiba-tiba ada Dea datang dan menghalanginya.


"Hentikan!!!!"ucap Dea menghalangi Leon yang akan memukul papanya lagi. Dengan berdiri di depan Leon.


"Aku peringatkan kalian jangan berkelahi" ucap Dea.


Leon pun menatap tajam Deon.


"Aku peringatkan pada papa jangan pernah sekalipun papa sakiti Tanisa lagi!!! Dan aku tidak peduli siapapun itu"


Lalu Leon pun pergi meninggalkan papanya, dengan penuh kekesalan dan marah. kalau bukan karena ada Dea yang menghalangi. sudah pasti Deon akan habis ditangan pria bernama Leon.


Tanisa, siapapun pria yang sudah menyakiti mu aku takkan membiarkan nya. Tanisa..... Aku tidak peduli siapapun itu.

__ADS_1


__ADS_2