Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Kemarahan Juna


__ADS_3

Kesedihan yang mendalam masih Lusi rasakan. matanya terbuka dipagi hari, bahkan Lusi tidak tahu kapan ia tertidur. Pagi sudah menjelang, matanya tampak sembab. Ya, sehabis semalaman ia menangis.


Bahkan ia belum sempat makan malam. Makan malam yang dibawakan Bi Asih pun masih tergelatak tanpa disentuh nya sama sekali. Dadanya masih terasa sesak. Meskipun Lusi kerap kali mendapatkan hal pahit dalam hidupnya. Namun tetap saja rasa pahit ini masih tetap pahit.


Lusi pun berusaha tetap bangun dan menjalankan solat subuh. Dan dalam solat, Lusi pun hanya bisa pasrah pada pernikahan. Ia serahkan semua nya kepada Allah. Dengan usia pernikahan nya yang sudah berjalan hampir satu tahun setengah itu. Lusi hanya bisa pasrah.


Lusi pun menuruni anak tangga dengan pelan. Ia harus turun dan menjalankan harinya karena ia mengingat masih ada Fabio yang butuh dirinya. Meskipun sudah ada pengasuh saat ini.


Lusi pun langsung menemui Fabio tanpa melihat kiri dan kanan. Dan menggendongnya.


Tiba-tiba tanpa disengaja, Lusi melihat Marisa yang diatas kursi roda. Dan Lusi memandang ke arah kaki Marisa. Yang memang tidak lengkap itu.


Namun hal yang menyesakan dada adalah disaat Marisa tampak digendong oleh Rian. Untuk meminta bantuan agar Marisa dipindahkan ke atas sofa. Karena terlalu lelah berada di kursi roda. Hati Lusi pun tampak sakit ketika itu. Namun Lusi hanya bisa untuk menahannya. Lusi pun langsung memeluk putra yang digendongan itu. Untuk menguatkan hatinya. Ia hanya bisa menahan air matanya kala itu.


"Lusi kamu sudah turun" ucap Rian langsung menoleh ke arah Lusi.


Lalu Rian pun menarik tubuh Lusi untuk sarapan.


"Lebih baik kamu sarapan dulu, aku gak mau anak kita. Ya anak dalam perut kita kelaparan" ucap Rian.


Lusi pun langsung tampak menghela napasnya.


"Hari ini bi Asih masak, Nasi goreng kesukaan mu. Kamu suka nasi kemarin, yang terus digoreng lagi kan" ucap Rian.


Lusi pun tampak menggeleng. "Aku sedang tidak ingin"


"Kamu mau makan apa, katakan saja" ucap Rian.


"Aku mau pergi sebentar" ucap Lusi tampak pergi dan meninggalkan Rian.


"Kemana?" Tanya Rian.


"Mencari udara segar" ucap Lusi pergi.


Dan seketika Lusi tampak melihat Marisa.


Marisa pun tampak memandang Lusi sebentar. Lusi pun tampak tak menghiraukan dan langsung pergi.


Lusi pun pergi ke sebuah taman, mengajak Fabio dengan strolernya.


Lalu setelah itu Lusi pun membeli bubur ayam di pinggir jalan dan memakannya. Sambil sedikit melamun. Pandangan Lusi tampak kosong. Lusi memakan bubur itu secara perlahan. Rasanya enggan untuk makan, Lusi pun hanya memakan dua tiga sendok saja. Sisanya melamun. Fabio pun tampak tertidur distolernya setelah diajak berjalan-jalan.


Seketika, ada seorang pria datang. Dan ternyata itu adalah Juna. Terlihat Juna dengan style anak mudanya memakai jaket kulit dan celana jeans pendek. Rambut yang sedikit pirang yang menambah ketampanannya.


Lusi pun tampak terdiam tanpa berkata meski saat itu ia tahu Juna yang datang.


"Hai. Tumben makan di pinggir jalan" ucap Juna.


"Semua tempat makan aku datangi jika aku ingin. Sekalipun itu di seberang lautan, Kenapa kamu disini" ucap Lusi yang tampak datar.


"Mencari udara segar. Dan tiba-tiba lihat kamu disini. Tapi, kamu kenapa terlihat berbeda" ucap Juna yang melihat Lusi tampak dengan mata yang sembab. Juna pun tampak refleks memegang pipi Lusi.


"Kamu kenapa?" Tanya Juna.


"Hemm.." Lusi pun tampak menoleh.

__ADS_1


"Tidak ada yang beda, aku tidak apa-apa" ucap Lusi. Membuang tangan Juna dari wajahnya.


"Katakan Lusi" ucap Juna lagi.


"Apa yang perlu aku katakan, kurasa tidak ada" ucap Lusi tampak menunduk dengan nada yang sedikit lirih.


"Katakan jika dirasa memang perlu. Aku tahu ada beban mu yang memang begitu berat. Coba katakan pada ku" ucap Juna yang melihat Lusi.


"Tidak perlu"


"Lusi aku tidak bisa kamu bohongi"


"Baiklah kalau begitu, Menurut mu, caranya ikhlas itu bagaimana?" Tanya Lusi.


"Ikhlas dalam hal apa?" Ucap Juna


"Ikhlas dalam cinta" jawab Lusi


"Cinta?" Juna tampak bingung


"Jun, bahwasanya aku akan segera dimadu" ucap Lusi tampak menghapus air matanya. Yang tiba-tiba terjatuh.


Juna pun tampak kaget. Dan memandang Lusi.


"Apa maksudnya? Rian ingin menikah lagi"ucap Juna kaget.


Lusi pun tampak hanya mengangguk.


Juna pun tampak menghela napas kasarnya.


"Pria brengsek itu berulah lagi!!! Akan aku beri pelajaran dia" ucap Juna kesal. Dan langsung bergegas berdiri dan beranjak pergi.


"Aku akan menghajarnya" ucap Juna kesal.


"Jangan Juna, jangan!!!" ucap Lusi memegang tangan Juna.


"Lusi, aku tidak suka kamu disakiti olehnya" ucap Juna.


"Juna..."


Juna pun langsung berjalan dengan cepat dan mengambil motor yang ia parkirkan. Lusi pun tampak mengejar Juna. Namun Lusi kalah cepat. Juna langsung pergi.


Lusi pun hendak menyusul Juna. Namun apalah daya saat itu Lusi hanya berjalan kaki jadi pergerakannya pun melambat. Ditengah perjalanan Lusi pun langsung naik taksi untuk menyusul Juna. Lusi tak ingin jika Juna berkelahi dengan Rian.


.


.


.


.


Sementara itu, terlihat Marisa melihat beberapa Boneka yang terpajang dimeja. Marisa menyadari suatu hal. Yaitu boneka gajah kecil berwarna abu-abu. Sangat mirip dengan boneka yang ia beli pada waktu itu dengan Juna.


Seketika Marisa pun teringat, bahwa wanita yang Juna sangat cintai itu juga bernama Lusi.

__ADS_1


Mungkinkah, mungkin kah wanita yang Juna maksud adalah Lusi istrinya Rian. Boneka ini sangat mirip dengan yang saat itu Juna belikan untuk Lusi. Ya, ampun. bagaimana jika Lusi ini benar adalah wanita yang Juna cintai. Juna pasti akan marah. Saat tahu aku merebut suaminya. Batin Marisa.


Seketika Marisa pun terdiam dan melamun.


"Kamu kenapa?" Tanya Rian tiba-tiba.


"Aku, sedang memikirkan suatu hal" ucap Marisa.


"Apa" tanya Rian.


"Apa kamu mengenal pria yang bernama Juna"


Rian pun tampak tersenyum miring.


"Ya, ada apa memang?" Tanya Rian.


Marisa pun seketika pun terdiam sejenak.


Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar begitu keras.


Brug.. brug... Brug... Suaranya begitu terdengar keras.


Rian pun tampak penasaran dan segera untuk membuka.


Seketika saat Rian membuka tampak Juna yang terlihat marah.


Dengan cepat Juna pun langsung mendorong Rian dengan keras ke tembok. Dan langsung memukul wajah Rian dengan keras.


Brugghh....


"Berani sekali Lo ingin menikah lagi!!! disaat istri Lo tengah hamil" ucap Juna kesal.


Rian pun kembali memukul Juna.


"Lu gak pantas pukul gue, urusan rumah tangga gue bukan urusan lu. Bukannya lu senang kalau gue nikah lagi. Lu ada kesempatan buat deketin Lusi kan" ucap Rian kesal.


"Gue gak seperti itu Rian. Gue gak suka merusak rumah tangga siapapun, sekalipun Lusi adalah orang yang gue cintain. Gue menghargai pernikahan lu dan Lusi. Gue marah, Karena lu udah buat dia sakit untuk kesekian kalinya" ucap Juna emosi memandang Rian tajam. Seketika Juna pun melihat sesosok wanita yang ia kenali itu dibelakang Rian. Ya wanita itu adalah Marisa. Juna pun menatap Marisa tajam.


"Kenapa dia ada disini" ucap Juna memandang dan menunjuk Marisa. "Katakan kenapa dia ada disini"


"Ya dia calon istri gue, dan bukan urusan lo" ucap Rian.


Seketika Juna pun semakin kaget dan langsung memandang Marisa tajam.


Marisa pun tampak kaget melihat Juna yang tampak emosi itu. Dan kembali memukul Rian.


"Brengsek" ucap Juna dnegan suara lantang.


Lusi yang baru sampai itu pun kaget melihat Rian yang tampak sedikit memar pada wajahnya. Dan terlihat suasana tampak panas.


.


.


.

__ADS_1


.


Tolong Like Atuh .... Vote juga boleh .. hadiah nya mana juga itu kopi ada, bunga ada, kursi pijat, piala juga ada. Jangan dianggurin gitu ah. Mubazir. Bagi bagi euy☺️☺️.. doorprize kek apa gitu. Wkwkwkk


__ADS_2