
Tanisa kembali tertidur dengan mata yang yang terasa basah. Dengan kepedihan yang terasa begitu didalam hati Tanisa. Tanisa pun melihat bubur yang berada didepannya. Bubur kacang hijau dengan dua potong roti. Tanisa pun seketika melihat bubur dengan mata yang sayu. Tak mungkin dia mengabaikan pemberian orang lain yang sudah baik terhadap dirinya, tak mungkin Tanisa tak memakan pemberian orang yang sudah mau membelikan bubur itu pada dirinya.
Akhirnya Tanisa pun memakannya dengan perlahan namun pasti. Walau hati dan bayinya begitu terasa perih. Disaat hati perih dan sedih, semua yang terasa enak didepan mata pun sudah tak lagi enak disaat semua terasa begitu menyakitkan hati.
Seketika.
Tanisa pun merasa heran kenapa Leon bisa baik pada dirinya. Apakah karena ia merasa kasihan saja pada bayi yang Tanisa kandung sehingga ia membawa kan semua ini batin Tanisa merasa akan hal itu. Tanisa pun memakan habis pemberian Leon itu tanpa tersisa.
Leon terimakasih banyak kamu sudah baik, aku tak seharusnya mengusir mu. Aku senang saat ini masih ada orang yang baik, batin Tanisa. Tanisa pun tampak melihat plastik kecil disamping bubur itu dan dilihat ternyata isinya adalah vitamin dan obat mual. Dan Tanisa meminum obat itu.
Tanisa pun bernapas dengan berat dengan perasaan yang begitu menyakitkan, Tanisa pun tampak mengambil bajunya dilemari dan bercermin didepan cermin dengan mata yang sembab. Tanisa tak percaya melihat dirinya yang terlihat begitu menyedihkan, dengan wajah yang penuh lebam.
Kenapa hidupku bisa seperti ini, kenapa aku mengalami hal ini dalam hidup ini. Aku sunggu tak sanggup hidup begini. Aku tak sanggup. Sungguh.. batin Tanisa yang melihat dirinya sendiri.
Dalam keheningan malam Tanisa pun terlihat tak bisa tidur. Sampai ke esokan harinya. Tanisa tampak menangis semalaman dengan perasan yang begitu terasa sedih dan penuh akan duka dan luka
Lalu keesokan paginya..
Tanisa tampak terbangun dari tidurnya Tanisa pun membersihkan dirinya membersihkan semuanya, sampai pada akhirnya ia bertemu Dea setelah mandi.
Dea tampak menatap heran melihat wajah Tanisa yang memar itu bukan peduli malah seperti bahagia dengan apa yang diderita oleh Tanisa.
"Ups muka lu kenapa bonyok-bonyok gitu. Hempz abis berantem lu" kata Dea.
Tanisa terdiam dan tak menanggapi ucapan Dea.
"Sama siapa?" Tanya Dea.
"Tidak perlu tahu" kata Tanisa.
"Hah, gue tahu sama bokap gue lu begini kan. Makanya jangan jadi pelakor. Karma buat Lo?" Ucap Dea.
Tanisa pun langsung masuk kedalam kamar.
Ya Dea sebenarnya tahu apa yang Tanisa alami tentang kekerasan yang dilakukan oleh papanya Dea pun tahu, tapi Dea tampak tak peduli sama sekali. Sekalipun Tanisa mati di tangan Deon justru Dea malahan senang, karena itu memang adalah keinginannya.
Sampai pagi hari itu Tanisa pun tampak tak mempedulikan sama sekali Deon ia tak mau menyapa atau menatap Deon sama sekali. Hanya tatapan kebencian yang ia rasakan, sebagai manusia Tanisa merasa dirinya bukan manusia dimata Deon. Tanisa hanya terdiam mematung bahkan untuk makan saja Tanisa tampak tak napsu lagi.
Namun lagi lagi Leon yang tampak perhatian pada Tanisa yang sedang duduk termenung dikamar sempit miliknya.
"Kamu masih mengurung kamar, nih aku bawakan susu dan roti. Buat bayi dalam kandunga mu, kamu pasti lapar kan" ucap Leon tampak perhatian pada Tanisa yang terdiam dengan tatapan kosong.
"Tidak usah, aku tidak ingin makan apapun"
"Tapi kamu harus makan kamu punya anak dalam perut mu yang butuh asupan"
__ADS_1
"Untuk apa anak ini lahir"
"Untuk dirimu"
"Aku benci semua nya aku benci anak ini, semuanya aku benci. Hidupku, semuanya aku benci" kata Tanisa menjatuhkan air matanya.
"Sadar Tanisa sadar. Ini adalah kamu, kamu tidak boleh putus asa. Kamu adalah orang yang kuat, ingat anak ini layak hidup meskipun kamu hampir mati"
"Tanisa, aku yakin kamu adalah wanita yang kuat, kamu adalah wanita yang tegar kamu bisa menjalani semuanya" ucap Leon menetap Tanisa yang sudah kehilangan arah.
"Tanisa aku tidak tahu kenapa kamu bisa masuk kedalam papa ku, tapi satu hal yang kamu harus tahu. Kamu tidak sendirian, ada anak ini yang perlu kamu. Kamu tidak boleh egois" kata Leon.
"Dunia mungkin saat ini sedang tidak memihakmu. Tapi kamu jangan menyakiti dirimu dengan cara seperti ini. Sekarang kamu makan dan tenang ya" kata Leon.
Leon pun tampak memasang Tanisa dalam, sementara Tanisa hanya dengan tatapan kosong.
Leon dengan perhatian dan penuh kasih sayang mengambil roti sandwich itu, lalu ia pun menyuapi Tanisa dengan garpu.
"Aaaaa" Leon memberikan pada Tanisa.
Tanisa tampak tak membuka mulutnya.
"Ayolah makan sedikit saja, demi anak ini. Demi anak yang kamu kandung Tanisa"
Lalu Tanisa pun membuka mulutnya dan akhirnya Tanisa pun mau makan.
Leon pun tampak tersenyum melihat Tanisa yang mau makan.
"Leon aku makan sendiri saja. Terimakasih ya"
"Gak apa-apa aku suapin" ucap Leon.
Tanisa aku sedih melihat mu sedih aku sedih melihat mu putus asa. Seberapa hina nya kamu dimata orang lain, seburuk apapun kamu yang sudah dianggap pelakor dalam rumah tangga papaku. Tapi tidak untukku yang melihat mu berbeda penuh ketulusan dan kebaikan cinta yang mendalam. Aku sedih melihatmu sedih Tanisa. Aku ingin memeluk mu, tapi aku tersadar tak akan bisa memeluk mu. Karena kamu adalah calon ibu tiriku. Kenapa diriku bisa terjebak dengan perasaan ku sendiri, batin Leon menatap Tanisa dengan dalam.
"Tanisa berjanjilah untuk tetap hidup walau terkadang hidup tak membuatmu benar-benar merasa hidup" ucap Leon.
"Lalu untuk apa aku hidup, untuk disakiti"
"Tidak seperti itu ada jiwa yang bahagia melihat mu hidup. Aku akan membuat mu bahagia jika kamu mau?" Ucap Leon.
"Maksudnya?"
"Kita hidup bersama"
"Aku tidak mengerti"
__ADS_1
"Kita hidup bersama. Aku akan membawa mu pergi kita tinggal bersama"
"Leon kamu jangan mengarang aku tidak mengerti"
"Kamu akan mengerti karena aku"
Lalu tiba-tiba Deon masuk kedalam kamar dan melihat Tanisa dengan Leon.
Leon pun yang ingin mengatakan cinta itu pun terhalang melihat Deon yang masuk.
"Pergi dari sini, papa ingin bicara dengan Tanisa" kata Deon.
"Tidak bisa"
"Ini masalah papa dan Tanisa, kamu keluar"
"Aku tidak akan membiarkan papa menyakiti Tanisa lagi"
"Tidak akan, cepat pergi papa ingin bicara pada Tanisa"
"Baiklah aku tidak mau papa menyakitinya lagi" ucap Leon pergi dengan kesal.
Lalu Leon pun duduk disamping Tanisa dengan mata yang tajam Deon pun mendekati Tanisa.
Seketika Tanisa tampak mundur takut Deon akan memukulnya lagi. Tanisa takut yan melihat Deon seolah penjahat dihadapanya.
Dan ada kata-kata yang membuat Tanisa sangat kaget dengan apa yang dikatakan oleh Deon saat itu.
"Tanisa Seminggu lagi kita akan menikah" ucap Deon.
Deg...
Tanisa pun kaget dengan ucapan Deon.
"Kenapa secepat ini" kata Tanisa.
"Aku sengaja agar kamu menjadi milikku selamanya"
Tanisa pun terdiam seribu bahasa.
"Kamu tidak boleh keluar dari ruangan ini tanpa seijin ku, kamu tidak boleh kemana-mana" ucap Deon yang mengurung Tanisa didalam kamar.
"Tapi?"
Tanisa pun langsunng dikunciim didalam kamarnya.
__ADS_1
Tanisa pun tampak menjatuhkan air matanya, Tanisa pun tak bisa berkata-kata saat Deon bicara soal pernikahan. Hanya sakit hati yang Tanisa rasakan saat ini. Hanya kesakitan dan kepedihan hati yang mendalam yang Tanisa rasakan. Tanisa tak bisa menolak pernikahan itu, karena Tanisa merasa dirinya sudah terjebak dengan pria yang bernama Deon lalu Tanisa hanya bisa menangis. Karena dalam batin Tanisa sebetulnya ia masih mencintai pria yang bernama Gavino. Namun ia tak mampu menggapai pria itu karena diri Tanisa yang begitu lemah sehingga Tanisa masuk dalam jerat cinta bernama Deon.