
Lalu setelah itu Dea pun pulang bersama Deon dengan naik mobil. Luka diwajah Deon begitu terlihat membuat Dea penasaran apa yang membuat perkelahian itu terjadi. Tampak dalam perjalan pulang Deon dengan Dea menuju kerumah.
"Apa yang terjadi sehingga papa jadi seperti ini" kata Dea melihat wajah papa nya.
"Setiap pria punya masalah dalam bisnis" jawab papa
"Selain itu" tanya Dea.
"Wanita" jawab Deon.
"Jadi papa dan Gavino berkelahi hanya untuk wanita"
"Lebih tepatnya memperebutkan satu wanita"
"Siapa?"
"Tanisa"
Lalu Dea kaget saat nama Tanisa disebut.
"Jadi wanita itu, tidak kuduga dan ku kira kalian hanya berkelahi memperebutkan satu wanita yang tidak ada artinya sama sekali" kata Dea.
"Se-tidak berati apapun wanita itu akan diperebutkan jika ada dua orang yang saling suka dan cinta"
"Jadi Gavino mencintai wanita itu"
"Iya, tapi tidak semudah itu dia mendapatkan Tanisa"
"Aku juga tidak ingin jika Gavino menjadi miliknya"
"Ya, kamu harus jaga baik Gavino"
Sepulangnya dari tempat itu tampak Deon menghampiri Tanisa, sementara Dea langsung naik kedalam kamarnya. Suasana rumah, memang tampak Jihan. Jihan marah pada Deon akhirnya dia pergi untuk sementara, menenangkan diri dalam emosi yang membawa itu.
Deon tak ingin kehilangan Tanisa dalam hidupnya. Deon tak mau surga dunia yang selalu ia suka setiap malam sebagai pelengkap hidup hilang dalam genggemannya. Meskipun Deon bisa membeli wanita baru, tapi tidak untuk Tanisa yang sudah menyihir Deon menjadi pria yang lebih bergairah. Deon pun menemui wanita itu didalam kamarnya, terlihat wanita yang sedang berbaring dalam tidurnya. Lalu Deon memeluknya sambil tiduran. Tanpa basa basi ia langsung mencium bibir wanita itu sambil memeluk dan mencumbunya. Deon tampak memainkan perannya dengan lidah nya. Sesekali Deon tampak mendesah beberapa kali hanya dengan menikmati bibir ranum dari wanita muda itu.
"Bibir ku ini miliku selamanya milikku" ucap Deon. Lalu Deon pun tampak berhenti mencium Tanisa dan memandangnya.
Lalu mereka pun merubah posisi untuk duduk dan kembali berciuman.
"Sayang aku ingin bermain cinta" ucap Deon.
"Bukannya sudah kemarin" jawab Tanisa.
"Itu kemarin berbeda kalau sekarang"
__ADS_1
Tanisa pun terdiam sejenak.
"Wajahmu kenapa?" Tanya Tanisa.
"Nanti aku jelaskan, sekarang aku hanya meminta kamu melayaniku"pinta Deon.
Tanisa pun terdiam ia diam lantaran dirinya merasa keberatan dan ingin menolak melayani pria itu.
"Tanisa kamu tahu kan kalau kamu menolak artinya kamu akan dapatkan pukulan" ucap Deon dengan nada lembut namun mengancam.
Tanisa masih terdiam, seolah enggan melayani pria dihadapannya. Entah dasar tak cinta itulah yang membuat Tanisa merasa sakit jika melayani pria yang dihadapanya.
"Tanisa, layani aku sebelum aku berbuat kasar" kata Deon yang sudah tampak mecengkram Tanisa dan berusaha untuk menamparnya.
Lalu Tanisa tampak mengangguk dan memberikannya.
"Lakukan lah apa yang ingin mas lakukan, pakailah aku sesuka hati mu mas" ucap Tanisa tampak pasrah kehidupan yang terasa menyakitkan.
Lalu Deon pun menggendong Tanisa dan membawanya nya ke kamar utama yang lebih sejuk dan luas.. karena kamar Tanisa terlalu panas dan sempit.
Maafkan aku Tanisa, maaf diriku sendiri yang tak punya daya dan upaya dalam kehidupan ini, sehingga untuk melawan saja diriku sudah tak mampu dan sanggup. Aku tidak tahu lagi aku harus bagaimana, aku tidak tahu lagi. Aku hampir putus asa dalam hidupku, hidup dalam genggam orang lain membuat aku hanya menjadi permainannya setiap hari. Jujur, aku tidak sanggup untuk melayaninya, namun aku juga tak sanggup atas pukulan demi pukulan yang berulang membuat diriku yang semakin merasakan sakit secara jiwa dan raga, batin Tanisa yang begitu sedih yang kini dalam permainan pria yang bernama Deon. Yang sedang memainkan dirinya dalam berbagai gaya bercinta yang ia mau. Semua gaya bercinta yang Deon mau Deon lakukan, ya semuanya. Deon sama sekali tidak peduli, jika diri Tanisa hamil atau tidak. Ia tetap melakukan hal yang ia mau, tanpa peduli Tanisa sakit atau tidak.
Bahkan Deon sering kali membeli obat kuat untuk menambah staminanya, padahal tanpa obat itu pun Tanisa tampak tak sanggup untuk melayani. Namun ia tidak peduli baginya Deon tak mau rugi. Dan baginya uang dua milyar itu tidak boleh mau berkahir sia-sia. Tanisa benar-benar harus memberikan service yang sempurna seusai apa yang Deon harapkan. Ya uang dua milyar itu telah membeli nyawa dan raga seorang wanita bernama Tanisa yang penuh dera dan siksa menjadi budak nafsu pria. Padahal jauh dari itu, Tanisa tak pernah mendapat kan apa-apa lagi. Deon tak pernah memberikan uang. Ia hanya memberikan jika ingin, dan itu pun tak pernah lebih dari 20.000 saja.
Mati.. ya perasaan mau mati.. tapi tak bisa, tak bisa sungguh tak bisa. Tanisa masih berharap jika dirinya akan diberikan kebahagiaan suatu saat nanti, ya suatu saat nanti meski itu tidak jelas waktunya kapan.
Setelah selesai dalam permainan Deon pun memandang Tanisa, Tanisa hanya membalut tubuhnya dengan selimut.
"Bagaimana keadaan kehamilan mu hari ini. Apa bayinya baik-baik saja" tanya Deon yang tiba-tiba menanyakan kehamilan Tanisa selama ini Tanisa merasa jika Deon tak pernah sekalipun menanyakan hal itu.
"Baik-baik saja" jawab Tanisa.
"Ini adalah bukti cinta kita berdua kan" ucap Deon.
"I-iya. Kenapa wajah mu babak belur begitu" ucap Tanisa yang melihat wajah Deon.
"Biasalah" jawabanya santai.
"Aku harap kamu baik-baik saja" ucap Tanisa.
"Bolehkah aku mencium perut mu, aku ingin mencium anak ku malam ini. Aku tidak ingin kehilangan mu dan anak kita" ucap Deon yang mengelus dan mencium perut Tanisa lembut.
"Tanisa? Aku baru saja bertemu Gavino" ucap Deon.
Seketika perasaan Tanisa pun tampak hancur mendengar nama Gavino. Pria yang ia cintai namun terasa jauh dan sulit itu.
__ADS_1
"Aku ingin mencium perut mu lagi" kata Deon.
Tanisa pun mengangguk.
Tanisa tampak menahan air matanya saat nama Gavino yang disebut.
"Tanisa demi anak kita yang kamu kandung aku mau kamu katakan jika kamu mencintai ku" kata Deon.
"Kenapa tiba-tiba kamu meminta ku untuk mengatakannya"
"Agar anak kita mendengar bahwa dia memang memiliki ayah dan ibu yang saling mencintai. Katakan kan lah kamu mencintai ku seumur hidupmu"
Tanisa pun tak kuasa mengatakan nya.
"Ayo katakan" pinta Deon.
"Aku mencintaimu mas Deon" ucap Tanisa yang tampak menjatuhkan air matanya, disaat mulut bisa bicara namun hati tetap tak bisa dibohongi. Bahwa Tanisa sangat mencintai Gavino.
"Ingat Tanisa kita harus bersama apapun yang terjadi, demi anak dalam perutmu. Aku tahu kamu mencintai Gavino tapi itu hanyalah masalalu mu. Kita tatap sama-sama bahwa ada janin yang membutuhkan kita"
Tanisa pun terdiam, lalu membuka suara.
"Tapi?" kata Tanisa.
"Tapi apa?"
"Sejujurnya aku tidak mencintai mu sama sekali, bisakah kita tidak menikah saja. Aku mau kamu melepaskan ku. Jujur saja yang aku rasakan saat ini, bahwa aku tidak mencintaimu. Aku ingin bebas dan aku ingin menjadi diriku sendiri, setiap kali aku mengatakan cinta padamu perasaan ku terasa sakit"
Lalu dengan cepat Deon pun menampar Tanisa.
Plaakk..
"Wanita tidak tahu diuntung, aku sudah melepaskan mu dari tempat itu aku sudah membayar mu mahal. Dan inikah balasannya untukku" ucap Deon marah.
"Aku minta maaf"
''Apakah kamu mau dalam keadaan hamil seperti ini aku mengembalikan mu pada Tante Cery, apakah kamu mau jika kamu melahirkan ditempat prostitusi itu. Kamu mau anakmu dibuang bahkan dibunuh oleh cery pikirkan itu baik-baik jika kamu hidup dengannya. Jelas aku tidak akan bertanggung jawab pada anak yang kamu kandung jika dirimu aku kembalikan pada nya" jelas Deon emosi.
Tanisa pun tampak menangis dan memohon maaf pada Deon.
"Jangan, jangan bawa aku kepada dia aku takut, aku minta maaf aku sangat mencintaimu mas Deon aku tidak mau kehilangan mu. Aku tidak mau kembali biarkan aku dengan mu" ucap Tanisa sambil menangis, Tanisa tak ingin jika dikembalikan pada tempat prostitusi itu. Ia ingat akan kenangan buruk yang harus melayani para pria hidung belang.
"Baiklah kalau gitu katakan sekali lagi jika kamu sangat mencintaiku"
"Aku sangat mencintai mu" ucap Tanisa sambil menangis.
__ADS_1
Lalu Deon pun mencium kening Tanisa dengan lembut.
"Ya pintar jangan pernah pergi dari hidupku" kata Deon.