
Lusi pun tertunduk malu pada dirinya sendiri yang telah merasakan hal yang paling berat dalam hidupnya yaitu tidur dengan pria lain.
Pria yang tak ia suka seperti melakukan suatu kewajiban tapi seperti dosa juga pada dirinya sendiri.
Lusi sadarkan lah dirimu, sadarlah.
Seketika.. Lusi merasa..
Jijik pada dirinya sendiri..
Itulah yang paling Lusi rasakan ketika itu, entah mengapa Lusi terbawa hawa nafsu dengan suasana yang tak seharusnya.
Entah mengapa Lusi merasakan hal yang paling salah dalam hidupnya.
Harusnya Lusi tak menikmati semuanya, harusnya ia tak terhanyut pada semuanya.
Antara salah dan benci pada dirinya sendiri seolah tampak menjadi satu.
Saat Gery mencium bibir Lusi dengan gairah membara, Lusi menarik bibirnya saat itu.
Entah mengapa Lusi teringat dosa yang sudah menguasai pria lain.
Entah mengapa setelah itu..
Lusi teringat Rian juga yang saat itu didepan seolah wajahnya. Lusi pun teringat pada Rian saat itu.
Lusi pun yang tak seharusnya ia khianati Rian seperti ini.
"Gery, anggaplah ini jadi terakhir kalinya aku melakukan ini dengan mu, ini kesalahan terbesar dalam hidupku. Tidur dengan pria beristri. Oh Tuhan apa yang sudah aku lakukan" kata Lusi saat itu menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Tapi kamu istri ku" kata Gery.
"Sudah cukup semuanya, cukup yang sudah kamu berikan kepadaku cukup!!!" Ucap Lusi yang seperti orang yang sehabis berjinah, padahal dirinya sudah resmi menikah walau hanya menjadi istri kedua tapi tetap sah menurut agama dan itu tidak salah.
Tapi Lusi tetap meerasa bersalah untuk dirinya dan semuanya.
"Kenapa?" Tanya Gery yang masih melihat Lusi terlihat shock.
"Terimakasih banyak untuk semuanya" kata Lusi yang menatap Gery lekat dalam keheningan malam tapi ia membuang wajahnya, agar ia merasa hal lebih pada suaminya.
"Lusi" panggil Gery lirih.
"Ini kesalahan terbesar yang pernah aku alami" kata Lusi saat itu merasa bersalah.
Lusi pun kembali seperti orang yang merasa bersalah.
__ADS_1
"Aku salah, aku salah aku salah Rian!!!!" Kata Lusi yang seketika malah nenyebut nama mantan suaminya.
"Aku Gery bukan Rian kenapa kamu sebut aku Rian" kata Gery penuh penekanan disamping Lusi yang terduduk dengan selimut ditubuhnya. Begitu juga dengan Lusi.
"Entah lah aku hanya bersalah hingga yang teringat adalah Rian. Kembalilah pada istrimu" kata Lusi yang memejamkan mata.
"Lusi aku tak bisa hidup dengan Liana aku hanya mencintai mu"kata Gery.
"Pergilah, pergilah temani Liana"
"Lusi...."
Bagi Lusi bukan soal cinta, bukan soal nafsu juga bukan hak dan kewajiban Gery saat ini. Lusi hanya tak mau menghianati siapapun dalam hidupnya.
Lalu Lusi pun menyuruh Gery untuk memakai bajunya.
"Pakailah baju mu segera" titah Lusi.
"Aku tidak mau" kata Gery.
"Cepatlah pakai" teriak Lusi yang masih terlihat merasa bersalah.
"Peluklah istrimu seperti memeluk ku, peluklah dirinya seperti kamu mencintai ku. Dia lebih berhak atas kamu, kita menikah hanya karena hutang ku. Cintai lah dia melebihi cinta mu padaku. Semua yang kita lakukan anggap lah ini pertama dan terakhir" kata Lusi.
"Jangan bahas apapun lagi. Kalau Liana bertanya kemana kamu pergi, jangan bilang kamu mendatangi ku malam ini" kata Lusi.
"Kenapa?"
"Di duakan itu lebih sakit daripada aku yang hanya menjadi yang kedua" kata Lusi saat itu.
"Lusi.."
"Gery???? Aku lebih paham atas diriku sendiri. Jangan paksa aku menjadi jahat. Aku tidak bisa" jelas Lusi saat itu.
"Kamu tidak jahat"
"Tapi aku tidak bisa hidup dalam keadaan seperti ini" kata Lusi sekali lagi penuh dengan penekanan.
Lalu Gery pun mengambil baju yang tergeletak dan ia pun memakainya.
"Bagus pakailah baju mu" kata Lusi saat itu.
Lalu Lusi pun terbangun dan menutupi dengan selimut. Dan lalu ia beranjak ke kamar mandi.
"Aku mandi dulu. Kamu boleh pergi" kata Lusi dengan tatapan sama sekali tidak melihat Lusi
__ADS_1
Gery pun tak mengindahkan apa yang Lusi suruh saat itu. Ia tetap menunggu Lusi sampai selesai mandi.
Sementara itu..
Lusi pun tertunduk saat itu sambil mandi ia merasa bersalah pada dirinya sendiri, karena ia seharusnya tidak mau diajak tidur oleh pria yang bernama Gery itu. Harusnya Lusi menolaknya mentah-mentah dan tak mau. Sekalipun Lusi tahu mungkin dirinya adalah istri dari Gery. Tapi Lusi tetap saja merasa bersalah pada dirinya.
Saat itu Lusi pun juga tidak lupa juga mandi junub. Untuk mensucikan dirinya sendiri setelah bermain cinta.
Saat Lusi selesai mandi Lusi pun melangkahkan kaki ke kursi dan tampak bercermin di meja rias masih dan masih terlihat Gery dibelakangnya.
Lusi pun masih merasa kesal karena Gery masih berada dikamarnya.
"Kenapa kamu masih disini bukankah aku sudah menyuruh mu untuk keluar dari kamar ini" kata Lusi saati itu.
Lusi yang masih memakai handuk sehabis mandi itu pun lantas dipeluk oleh Gery.
"Aku akan pakaikan baju untuk mu" kata Gery yang memberi perhatian yang entahlah itu cinta atau nafsu.
" Berjanjilah untuk mencintai Liana" kata Lusi yang masih saja membahas Liana tanpa peduli dengan dirinya dan perasaan nya
"Bagaimana dengan kamu" tanya Gery.
"Aku baik-baik saja. Lepaskan pakaian ku akan ku pakai sendiri" titah Lusi pada Gerym
Lalu Lusi pun mengambil bajunya dan ia pun memakainya sendiri didalam kamar mandi.
Lusi pun selesai pakai baju saat itu, ia pun membuka pintu kamarnya dengan maksud menyuruh Gery keluar dari kamarnya.
Saat Lusi membuka pintu kamar memerintah Gery untuk keluar kamarnya tiba-tiba Lusi begitu kaget saat itu membuka pintu kamar yang dilihatnya adalah Liana.
"Liana" kata Lusi membulatkan matanya.
"Kenapa?" Kata Liana sambil tak percaya dan ia pun melihat dan menengok ia pun ternyata melihat Gery didalam kamar Lusi.
"Ini yang disebut adil, ini yang kamu sebut adil. Ini sama sekali tidak adil, Gery sudah bermalam bersama mu, dan malam ini kamu masih merebutnya dari ku"
Lusi pun terdiam dan tertunduk merasakan dan semakin sangat merasakan perasaan bersalah pada Liana.
Dengan mata memicing tajam dan menyelimuti emosi yang teramat dalam
"Aku kira kamu baik, aku pikir kamu tidak akan seperti ini. Tapi kenyataan lain, kamu berusaha merebut dia dari ku" kata Liana yang tak kuasa menahan ari matanya semakin menyelimuti perasaan bersalahnya.
"Aku tidak merebutnya" jelas Lusi.
"Tapi kamu menguasainya. Ini sungguh buatku sakit Lusi. Aku pura-pura tidur saat itu.. jangan ku kira aku tidak tahu, jangan kamu kira. Aku tidak tahu semua.. kamu tidur dengan suami ku"
__ADS_1