Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Jagalah dia


__ADS_3

Di hari yang begitu tampak cerah. Langit tampak membiru. Awan tampak memutih terlihat Gery yang sedang tampak di sebuah tempat main Golf. Ia sedang bermain Golf.


Gery tampak keren dengan tampilan kaca mata hitamnya dan baju polo serta celana putih yang ia kenakan.


Tiba-tiba saja ia tak sengaja bertemu Juna di tempat Golf itu. Juna kesana sebenarnya bukan untuk bermain Golf. Tapi untuk sesi preweding bersama Marisa.


Pertemuan yang tak disengaja itu pun membuat Juna ingin menegur kakak dari calon istrinya itu.


Juna pun tampak menegur Gery saat itu.


"Hay" panggil Gery.


Gery pun menoleh. Dan Juna menghampiri Gery.


"Loh kamu bukannya ada di Singapura" tanya Juna pada Gery. Juna tak menyangka jika Gery sudah pulang ke Indonesia.


"Iya, saya pulang lebih awal. Cuma saya memang tidak ingin pulang langsung" jawab Gery.


"Kenapa?" Tanya Juna tampak mengerinyitkan keningnya.


"karena saya tahu dirumah gak ada yang mencari saya. Jadi buat apa saya pulang?" Ucap Gery.


Juna pun tampak ingin mengobrol dengannya. Juna merasa bahwa tak ada salahnya jika Juna mengenal Gery, calon kakak iparnya itu


Lalu Juna pun mengajaknya untuk menikmati kopi ditempat itu.


Juna dan Gery pun tampak mengobrol sambil meminum kopi. Juna merasa bahwa, tidak ada salahnya dirinya mengenal lebih jauh calon kakak iparnya itu. Dan menjaga hubungan baik pada calon kakak iparnya itu. Kini tampak mereka berdua yang sedang duduk. Gery pun tampak memulai obrolannya.


"Saya itu lebih suka kopi tanpa susu, gulanya sedikit, dan airnya jangan terlalu banyak"jelas Gery.


"Oh, kalau saya semua kopi suka tapi kalau tanpa gula gak suka. Karena tidak suka pahit" tutur Juna.


"Sudah berapa lama kamu pacaran sama adik saya" tanya Gery tiba-tiba membahas adiknya, yaitu Marisa" tanya Gery.


"Ah kami tidak saling berpacaran. Saat saya sudah pas. Lebih baik memang untuk menikah" ungkap Juna.


"Oh begitu"ujar Gery.


Juna pun tampak mengangguk.


"Sejauh apa kamu mencintai adik saya" tanya Gery tiba-tiba menanyakan perihal cinta pada pria di hadapannya kini.


"Saya mencintai nya melebihi diri saya sendiri" jawab Juna.


"Selain itu?" Tanya Gery lagi.

__ADS_1


"Saya akan berusaha melakukan yang terbaik untuk hidupnya" jelas Juna.


"Kamu pandang Marisa dari apa?"


"Dia baik dan semua pria pasti suka dengan Marisa. Karena dia selain baik dia pun cantik"


" Kalau ternyata Marisa sudah janda. Atau kasarnya sudah tidak gadis lagi. Kamu masih bisa dan mau menikahinya" pertanyaan Gery tampak mengetes.


"Maksudnya?"tanya Juna.


"Iya bagaimana kalau Marisa sudah janda dan tak gadis lagi" tanya Gery.


"Saya tidak pernah melihat janda atau bukan. Dan saya tidak melihat itu seorang wanita itu" jawab Juna. Juna tidak tahu Gery membahas siapa. Meskipun memang itu terjadi pada Marisa. Juna siap dengan semua itu.


"Kalau dia ternyata punya masa lalu yang buruk. Bagaimana?" Tanya Gery lagi.


"Contohnya seperti apa?"


"Dia suka mabuk-mabukan. Banyak buruk yang kamu tidak ketahui, bagaimana?"


"Jika dia ingin memperbaiki kehidupan itu. Mari kita perbaiki. Saya akan siap menerima dirinya dan masalalunya. Kurang dan lebih nya. Sekalipun sangat buruk akan masalalunya. Tetap saya menerima semuanya"


Seketika hati Gery tampak terenyuh dengan ucapan Juna yang berbeda sekali dengan Gavino yang sangat mengharapkan Marisa hanya karena Marisa masih perawan. Gery tahu jika dirinya memang mencintai Marisa. Namun entah mengapa kali ini ia tampak menutup mata akan itu. Hati Gery merasa jika Marisa layak untuk mendapatkan pria yang baik seperti Juna.


Mungkin dulu pernah ia marah pada dirinya sendiri dan keadaan. Namun Gery bisa ikhlas jika ternyata Marisa telah menemukan pria yang mampu membuat Marisa bahagia. Seketika Gery pun tampak meridhoi dan merestui hubungan mereka.


"Jagalah dia. Jagalah adikku satu-satunya. Bahagiakan dia. Perlakukanlah dia dengan cara yang baik. Saya ikhlas dan meridhoi hubungan kalian berdua. Dia wanita baik-baik"


"A-apa?" Ucap Juna kaget.


"Iya saya merestui hubungan kalian. saya hanya meminta padamu. Jangan hilangkan kepercayaan saya. Bagaimana pun dia, seburuk apapun dia. Dia tetaplah adik saya yang akan saya jaga. Dan satu kata lagi, terimalah dia apadanya" jelas Gery.


"Tentu, saya akan melakukan yang terbaik untuk Marisa" ucap Juna senang sambil tersenyum.


"Ka Gery" suara seorang wanita.


Tiba-tiba saja terdengar suara Marisa dari belakang. Sudah ada Marisa dibelakang Gery. Gery pun tampak kaget.


Marisa mendengar semua apa yang Gery katakan. Marisa tak pernah menyangka jika kakaknya yang ia anggap musuh itu ternyata peduli pada dirinya. Ia pun senang akan ucapan kakak nya kepada Juna.


Gery kaget saat Marisa datang, ditambah lagi ucapan Marisa yang memanggil dirinya dengan sebutan kakak. Dan itu baru kali ini.


"Terimakasih" ucap Marisa kepada Gery.


Gery pun tampak tersenyum, dan mengangguk.

__ADS_1


"Terimakasih sudah merestui hubungan kami" ucap Marisa.


"Ya, yang penting kalian bahagia. saat itulah saya juga bahagia" Gery tampak tersenyum.


Entah apa yang merasuki Gery. Gery tampak bicara baik. Entah mengapa lubuk hati Gery tenang melihat senyum Marisa yang terlihat ceria. Dan bahagia bersama orang yang Marisa cintai. Selama ini Gery sudah menyalahkan artikan cintanya. Gery menganggap jika rasa cintanya selama ini karena ia memang cinta dan ingin memiliki Marisa. Padahal rasa itu, rasa cinta karena Marisa memang adiknya.


Mungkin ini yang disebut cinta. Ya cintaku kepada adik ku. Cinta seorang kakak pada adiknya. Selama ini aku tak pernah sadar. Dari dulu aku mencintai Marisa bukan sebagai kekasih namun sebagai adik. Namun aku tak pernah sadar. Naluri aku mencintai dia karena dia memang lah adikku. Naluri ku mengirimkan rasa cinta itu padaku karena dia memang bagian dari hidup ku, kita terlahir sebagai keluarga. Namun aku malah berfikir lain. Dan kini aku bahagia melihat dia bahagia, batin Gery tampak tersenyum pada Marisa yang tampak bahagia itu.


Seketika Gery mengingat Lusi.


Lalu jika perasaan cinta pada Marisa hanya kekeliruan saja. Perasaan ku pada Lusi apa. Apa benar jika aku mencintai Lusi. Batin Gery tiba-tiba mengingat Lusi. Hatinya tampak berdebar jika mengingat nama wanita itu.


"Kakak seperti melamun" tanya Marisa tiba-tiba melihat Gery yang tampak melamun.


Gery pun tersenyum.


"Tidak hanya mengingat sesuatu aja" jawab Gery.


"Kalian kesini mau main Golf juga" tanya Gery.


"Oh bukan kami ingin sesi preweding" jawab Marisa.


"Wah bagus. Ide yang bagus juga, buat preweding disini. Oke kalian bisa lanjutkan untuk preweding kalian. Saya pergi karena karena tidak ingin ganggu kalian disini" ungkap Gery.


"Gak, gak ganggu justru kita senang" ucap Marisa.


"Ya, kalian lanjut saja ya. Saya memang ada urusan"


Gery pun tampak pergi.


.


.


.


.


Sementara itu terlihat Gavino. Yang sedang tertidur diatas ranjang empuknya. Disebuah apartment mewahnya. Dalam tidur ia tampak gelisah dan resah.


"Tanisa" ungkap Gavino terbangun dari tidurnya.


Entah mengapa sudah dua hari ini ia terus saja memimpikan wanita yang sama sekali tak berarti baginya itu.


"Tanisa kenapa aku terus memimpikan kamu. Kenapa kamu pergi namun tak pernah pergi dan hilang dari pikiran ku. Oh no.. harusnya aku tidak memikirkan dan memimpikan wanita murahan itu. Baiklah aku harus berfikir positif. Bahwa mimpi hanyalah bunga tidur yang sangat tidak penting. Wanita itu tidak layak untuk disisiku. Tempatnya ya memang ditempat lama nya" ungkap Gavino sambil mengacak acak rambutnya.

__ADS_1


Ya berulang kali pikiran Gavino mengingat Tanisa. Berulang kali juga dia mengabaikan rasanya sendiri. Ya, rasa yang mungkin saja sama seperti apa yang Tanisa rasakan. Hanya saja Gavino tampak mengabaikan rasa itu, hanya karena Tanisa wanita yang murahan. Yang bisa dibeli olehnya dengan uang.


__ADS_2