
"Maaf mbak kartu ini sudah diblokir" suara dari kasir terasa tak terdengar syahdu di telinga.
"Coba yang ini" ucap Tanisa memberikan kartu kredit satunya lagi.
"Baik saya coba" ucap kasir kembali mencoba kartu yang lain. Dan hasil nya tetap saja nihil. "Yang ini juga tidak bisa"
Sejak kapan, Gavino memblokir semua kartu milikku. Apakah karena dia sudah tidak mau lagi denganku. Itu sebabnya dia memblokir semua kartu kredit yang pernah ia berikan kepadaku. Batin Tanisa merasa sedih dan kesal.
Lalu Tanisa pun menelpon Gavino.
"Kamu memblokir semua kartu milikku"ucap Tanisa ditelpon.
"Iya kenapa?"
"Iya harusnya aku yang bilang kenapa?"
"Aku sudah tak mau lagi sama kamu. Aku rasa semua sudah cukup jelas" ungkap Gavino dengan nada tinggi. "Pergilah dari ku oke" ujar Gavino lagi.
Tanisa pun tampak menghela napas berat nya yang semakin terasa berat. Ia bahkan belum membeli semua kebutuhan dan keperluannya. Darimana ia akan mendapatkan uang. Tanisa merasa tak memiliki apa-apalagi selain Gavino yang memang membiayai kehidupannya selama Tanisa hidup bersama Gavino.
.
.
.
.
Sementara itu, tampak Gavino yang mulai kepo dengan kehidupan Marisa wanita yang masih gadis yang ia incar itu. Bukan hanya cantik tapi merasakan kegadisan wanita yang ia cintai dirasa perlu.
Dan siang itu, terlihat Gavino yang terlihat gagah dengan setelah jas dan celana hitam. Memakai dasi berwarna abu-abu tampil percaya diri saat meeting diperusahaan yang ia pimpin. Yaitu perusahaan asuransi yang sudah ia kembangkan dan sukses.
Selain dibidang asuransi, Gavino juga memiliki perusahaan lain dibidang properti.
Namun disela sela setelah meeting, ia tampak melihat seorang pria yang tampak ia kenal. Dan ah dia ingat bahwa itu adalah calon dari Marisa.
__ADS_1
"Siapa dia?" Tanya Gavino kepada karyawannya.
"Itu adalah karyawan baru, dia baru dua minggu kerja disini"
"Oh" Gavino pun tampak tersenyum sinis melihat pria yang bernama Juna itu. Bahwa Gavino merasa dirinya lebih baik dari pria itu.
Lalu Gavino pun tampak menemui Marisa. Ia mengatur pertemuan, ia bilang bahwa ia ingin membicarakan kerja sama yang akan diatur oleh David. Namun sebelum itu ia mau Marisa yang bertemu dirinya lebih dulu.
Lalu Gavino pun tampak ingin bertemu dengannya disebuah restoran.
Marisa tadinya tidak mau, cuma karena Gavino bilang hanya sebntar saja Marisa pun mengiyakan.
"Hallo Marisa apa kabar?" Tanya Gavino.
"Baik" jawab Marisa singkat.
"Hem gue bingung mau mulai dari mana. Bagaimana pernikahan lu sama cowok lu, jadi?" Tanya Gavino.
"Ya jadi. Sebenernya lu mau bahas apa? Hubungan gue, atau kerjasama kita" Marisa tampak heran.
"Hem, masalah kerjasama, gue rasa bisa kita omongin nanti dulu. Gue cuma mau tanya lu kenal calon lu sejauh apa? Gue baru tahu kalau ternyata cowok lu itu cuma karyawan biasa" tutur Gavino.
"Itu artinya, gue lebih baik. Gue rasa, lu bisa tinggalin dan memilih gue"
"Apaan sih lu gak jelas" Marisa kesal.
"Marisa? Gue bisa memberikan semua yang lu mau"
"Maksudnya?"
"Gue mau lu tinggalin Juna"
"Enak banget lu bilang gitu. Lu pikir lu siapa?"
"Jika dibanding dengan pria itu. Rumah, mobil mewah, uang berapapun gue bisa berikan buat lu. Jadi gue rasa. Lu gak punya alasan buat tolak gue"
__ADS_1
"Sebentar, gue bingung kenapa lu tiba-tiba kejar gue. Padahal dari awal kayanya lu gak suka sama gue"
"Iya itu awal banget. Tapi gue sadar?"
"Sadar? Sadar bagaimana?"tanya Marisa mengerutkan keningnya.
"Gue bisa dapetin semua wanita yang gue mau. Tapi tidak semua wanita seperti lu" ucap Gavino.
"Seperti gue bagaimana?"
"Lu masih gadis dan gue suka akan hal itu" ungkap Gavino.
Marisa pun tampak heran dan menunjukan wajah kesal.
"Oh jadi hanya alasan itu" ujar Marisa.
"Selain itu, gue juga cnta. Ya gue juga cinta sama lu. Gue suka diri lu. Lu menarik, cantik dan energik"
"Tapi sayang gue gak mau sama lu"
"Marisa buka mata lu lebar-lebar. Juna gak bagus buat lu. Mending gue tampan dan kaya raya" Gavino menjelaskan dengan nada emosi.
"Mau seberapa banyak pun harta yang lu miliki. Tetap semua gak bisa dan gak menarik buat gue. Gue rasa sudah cukup jelas"
Lalu Gavino pun memegang tangan Marisa.
"Lu sadar gue lebih baik, dari pada pria manapun. Termasuk pria itu" ungkap Gavino menarik tangan Marisa dengan keras. Marisa pun tampak kesakitan dengan Gavino yang memegang nya dengan keras.
"Lepasin gue, gue mau pulang" Marisa menarik tangannya.
Dari kejauhan Tanisa tampak memperhatikan Gavino yang sedang duduk berdua dengan Marisa. Terlihat Gavino yang memegang tangan Marisa.
"Oh jadi wanita ini yang membuat Gavino pergi dari gue. Sialan" batin Tanisa melihat Gavino. Lalu Tanisa pun pergi setelah ia tahu bahwa Gavino mengincar wanita lain.
Ya Tanisa memang mengikuti Gavino saat itu. Tanisa penasaran apa yang membuat Gavino berubah.
__ADS_1
Sementara itu Marisa langsung menarik tangannya.
"Aku peringatkan dan jelaskan kepadamu. Bahwa mau seberapa pun lu punya banyak uang. Aku tidak tertarik" Marisa kesal dan langsung pergi.