Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Marisa belajar bermain cinta. Tanisa belajar melupakan cinta.


__ADS_3

Malam itu...


Ya malam yang indah setelah pernikahan. Setelah ijab Qabul. Setelah terjadinya sebuah ikatan cinta yang diresmikan oleh penghulu. Tampak Juna dan Marisa terbalut senyuman. Senyuman sepasang kekasih yang saling terbalut cinta. Yang sudah resmi dalam ikatan cinta suci yang sah.


Didalam kamar yang sengaja dibuat romantis. Kelopak bunga yang indah bertaburan dikasur pemilik pengantin baru itu. Tampak Juna yang memeluk Marisa dari belakang. Juna pun memeluk begitu erat.


"Terimakasih kamu sudah ada untukku" ucap Juna.


"Aku pun juga terimakasih kamu sudah ada untukku" jawab Marisa.


Juna pun mencium kening Marisa.


"Aku minta maaf" ucap Marisa seketika.


"Kenapa?" Tanya Juna.


"Seperti nya kita tak bisa melakukan malam pertama. Karena aku sedang datang bulan" jelas Marisa.


"Ya gak apa-apa. Yang penting aku sudah bisa memeluk mu itu sudah cukup bagiku. Ya cukup walau untuk malam ini" ucap Juna.


"Marisa?" Panggil Juna.


"Apa" jawab marisa.


"Sekalian saja"kata Juna.


"Apanya?" Tanya Marisa.


"Malam pertamanya saat kita bulan madu nanti" kata Juna.


"Kamu yakin kuat menunggu"


"Aku kuat kok kan tinggal beberapa hari lagi"


"Iya udah deh terserah kamu saja"


Lalu mereka tidur diatas ranjang bersama sambil memandang satu sama lain. Tampak kecanggungan diantara keduanya. Marisa yang tak pernah sekalipun ciuman itu jelas tidak tahu harus bagaimana. Juna juga pun sama tampak belum pernah. Status perjaka dan perawan itu tampak keduanya pertahankan sampai ikatan suci itu terjalin.


"Marisa?" Tanya Juna.


"Apa?"


"Apakah kamu pernah ciuman?" Tanya Juna.


"Belum, belum pernah" jawab Marisa.


Tiba-tiba keduanya pun tampak berdebar.


Dag Dig dug dag Dig dug, itulah suara jantung yang terdengar diantara mereka.


"Tapi kalau orang haid ciuman boleh gak" tanya Juna.


"Boleh"


"Aku cium kamu ya"pinta Juna.


"Yang mana?"tanya Marisa.


"Bibir"jawab Juna.


"Caranya" tanya Marisa lagi.


"Aku juga gak tahu dari itu kita coba"


Lalu Juna pun mendekatkan bibirnya pada bibir Marisa.


Cup... Cium Juna asal.


"Sekali lagi ya boleh" pinta Juna.


"Iya boleh" kata Marisa.


Lalu Juna pun tampak mendekati Marisa dan mencium Marisa.


Lalu Juna pun mencium Marisa. Mereka saat itu masih diposisi duduk. Juna pun tampak mencium Marisa dengan begitu penuh nafsu.


"Marisa jangan ditutup mulutnya coba agak dibuka mulutnya. Aaa..." Kata Juna. Meminta untuk Juna membuka mulutnya. Agar Juna lebih leluasa memasukan lidahnya kedalam mulut Marisa.


"Emang kenapa emang harus gitu ya" Marisa tampak kaku.


"Kan kita mau berciuman" kata Juna.


"Aduh.." Marisa tampak canggung.


"Marisa kalau berciuman emang gitu. Gak usah canggung. Kalau cium sama berciuman itu beda. Kalau cium cukup sekali. Kalau berciuman itu kita menikmati. Coba buka mulutnya biar kita bisa saling" tutur Juna.


"Saling apa?"


"Menikmati"


"I-iya" jawab Marisa gugup.


Lalu Marisa dengan canggung membuka mulutnya. Dengan perlahan. Lalu tampak Juna yang langsung memasukan seluruh lidahnya kedalam mulut Marisa. Hingga Juna merasakan langit-langit dari mulut Marisa. Napas Marisa pun tampak terengah-engah. Juna tampak menikmati. Juna tampak begitu dalam melakukannya. Marisa pun tampak kaget. Karena ia baru tahu kalau hanya dengan berciuman bisa membuatnya seperti ini. Juna pun tampak mengelus tubuh Marisa dengan sentuhan sentuhan yang begitu membuatnya agak kegelian namun enak untuk Marisa.


Untuk berciuman saja aku sudah tegang begini. Bagaimana jika itu terjadi saat ia melakukan malam pertama batin Marisa.


Marisa tampak heran Juna yang bilang katanya belum pernah ciuman itu namun mampu berciuman dengan begitu lihainya. Marisa pun jelas tampak kaget atas perlakuan Juna yang menciumnya begitu dalam.


"Ini yang disebut berciuman Marisa gak usah kamu. Nanti kita kan lakuin tiap hari", ucap Juna.."sekarang kamu gak usah malu menunjukannya sama aku..kita sudah sah"


"I-iya" jawab Marisa tegang.


"Coba sekarang julurkan lidah kamu" pinta Juna.


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Lakukan saja" perintah Juna.


"Ba-baiklah" ucap Marisa tampak grogi. Sambil menjulurkan lidahnya. Juna pun tampak langsung menghisap lidah Marisa dengan kuat. Ya lidah Marisa seperti permen yang dihisap begitu dalam. Juna pun tampak mengigit kecil bibir atas dan bawah Marisa.


"Hmmmmpppppppppp... Arrhh"


Ya Marisa belum pernah melakukan apa-apa dalam hidupnya. Kini merasakan hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Belum pernah sekalipun Marisa berciuman dan ini untuk pertama kalinya dengan suaminya. Dan itu adalah pelajaran pertamanya sebagai istri. Dia sudah tampak kaku dan kikkuk melayani pria ini. Padahal baru ciuman bagaimana yang lain. Pikirnya.


Pikiran Juna pun sudah tampak nakal melihat Marisa yang secantik itu. Lalu Juna pun memerintahkan hal yang tak Marisa duga.


"Marisa ciumannya sambil buka baju ya" pinta Juna.


"Kenapa?"


"Pengen lihat yang belum pernah keliatan"


"Tapi kan mau cium bibir bukan cium itu" ucap Marisa polos.


"Dada kamu mau lihat seberapa besar" ungkap Juna menatap Marisa tajam sambil memegang wajah Marisa.


"Emang kenapa kalau besar kecilnya" Marisa heran.


"Mau cek pas gak ditangan aku"


"Gak ah malu"


"Gak apa-apa. Aku kan cuma mau tahu masa gak boleh"


"Iya boleh" ucap Marisa. Membuka bajunya, dengan perlahan. Kini Marisa hanya memakai celana dan bra saja.


Juna pun tampak terkesima dengan buah kembar Marisa yang besar seperti melon. Begitu padat dan berisi.


"Buka juga dong" ucap Juna.


"Apa?"


"Itu kacamata yang didada"


"Aku malu" lirih Marisa.


"Gak apa-apa"


"I-iya" jawab Marisa dengan dada yang degup kencang.


Lalu Marisa membuka nya. Juna pun semakin membulatkan matanya saat melihat sebuah gunung kembar yang tak pernah lihat secara langsung itu. Juna hanya melihat itu difilm porno. Ya Juna memang kalem tapi dibalik sifat kalemnya dia juga punya nafsu yang begitu besar. Dia pernah beberapa kali menonton film porno. Namun pernah menonton nya saja belum pernah melakukan.


Tampak dua bulat kecil ditengah yang begitu tampak jelas saja Juna langsung berpusat pada bagian itu. Juna pun langsung mencium kembali bibir Juna sambil membuka mulut Marisa. Menuju leher lama-lama turun ke dada. Daan Juna langsung menghisap bagian itu. Bulat yang berwarna merah. Juna tampak menghisap secara bergantian.


Maris pun tampak menikmati permaina Juna yang memainkan dua buah gunungnya. Secara bergantian.


Jadi ini rasanya menjadi istri. Aku tidak menyangka akan melakukan hal ini tiap hari batin Marisa. Marisa tampak memejamkan matanya menikmati apa yang dilakukan Juna.


Setelah pelajaran pertama dan kedua selesai, yaitu bibir dan dada. Juna mengajak tidur Marisa.


.


.


.


Sementara itu terlihat Tanisa yang sudah bangun dari tidurnya. Ia tidur di ranjang yang sama dengan Deon. Deon tampak terbangun lebih dulu.


Dan melihat Tanisa yang baru saja bangun tidur. Tanisa kesiangan dia mungkin teramat lelah hari itu. Sehingga telat bangun pagi.


"Maafkan aku aku telah bangun" ucap Tanisa yang sudah melihat Deon bangun, dan sudah memakai pakaian kerja. Dengan kemeja dan dasi yang belum terpasang.


Deon pun menarik tangan Tanisa untuk memakaikan dasi di kerahnya.


"Pakaian dasi ini untukku. Hari ini aku akan kembali kekantor" ucap Deon.


Tanisa pun tampak mengaguk paham. Dan memakaikan dasi itu pada Deon.


Deon memang suka jika dilayani oleh wanita nya jika ingin berangkat ke kantor.


"Aku sudah berikan kamu uang diatas meja yang bisa kamu gunakan untuk belanja untuk keperluan" ucap Deon.


"Terimakasih"


"Tanisa?" Panggil Deon.


"Ya?"


"Kapan kamu berhenti haid?" tanya Deon


"Memangnya kenapa?"ujar Tanisa yang berbalik bertanya.


"Aku ingin mengajak mu liburan. Kita akan pergi ke Bali berdua. Aku ingin merasakan moment-moment indah kita" jelas Deon.


"Biasanya seminggu selsai" ucap Tanisa.


"Ya aku akan memesan tiket untuk kita lakukan momen bersama"


"Moment apa?"


"Aku akan cuti dan kita akan bulan madu"


"Kita kan belum menikah masa bulan madu" ucap Tanisa heran.


"Emang kenapa salah. Dari awal juga kita sudah seperti ini" ucap Deon.


"Aku milik mu jadi terserah kamu saja kamu mau lakukan apa" ucap Tanisa sambil tersenyum miring. "Nanti aku mau makan diluar"


"Iya nanti kita bisa berangkat bersama" ucap Deon.


Lalu Tanisa pun mandi terlebih dulu dan memakai baju. Setelah selesai Tanisa pun tampak naik mobil bersama pria itu.

__ADS_1


Sepanjang perjalan Tanisa pun dipegang terus oleh Deon. Deon pun tampak memegang Tanisa erat. Seolah tak ingin kehilangan Tanisa.


"Tanisa?"


"Ya"


"Kenapa kamu hari ini terlihat berbeda"


"Apanya"


"Ya kelihatan berbeda saja. Kamu seperti menerimaku"


"Kalau iya kenapa, kalau nggak kenapa?"


"Kalau iya. Aku suka"


Tanisa pun tampak terdiam.


Ya Tanisa harus berusaha menerima takdirnya. Bahwa Deon lah yang ada disampingnya kini.


Meskipun Tanisa tampak harus menjalani hidupnya seperti boneka. Yang diatur dan terus diatur tanpa bisa membantah.


Namun Tanisa berfikir realistis ya realistis bahwa hidup ini memang seperti ini.


Menyakitkan..


Dan Tanisa pun mulai belajar untuk melupakan Gavino lambat laun.


"Benar kamu akan menikahi ku" tanya Tanisa.


"Tentu"


"Aku akan belajar melupakan pria itu. Aku akan belajar mencintai mu" ucap Tanisa.


"Aku senang sekali mendengar nya. Kamu memang harus mengabdikan cinta mu padaku. Tanisa kamu adalah belahan jiwaku. Ragamu dan hatimu adalah milik ku" ujar Deon.


Lalu Deon pun langsung mencium bibir Tanisa dengan mesra. Setelah selesai berciuman. Deon pun tampak kembali mengobrol. Deon sangat senang dengan apa yang dikatakan Tanisa. Ya sangat senang.


"Tanisa?"


"Ya"


"Jika kita menikah, kamu mau pakai baju pernikahan seperti apa?" Tanya Deon.


"Belum kepikiran sejauh itu l" jawab Tanisa.


"Bukannya wanita punya cita-cita untuk pernikahannya sendiri" ujar Deon.


"Ya,tapi menurutku semuanya bagus" kata Tanisa.


Lalu tak lama sampa di Restauran cepat saji. Dan Tanisa pun turun dari mobil dan sampai.


Sementara Deon melanjutkan ke kantor.


Tanisa pun tampak memesan ayam goreng dan nasi. Tanisa menyukai banyak makanan namun ia lebih suka yang simple. Ia hanya memesan ayam dan nasi saja sudah cukup mewah. Mengingat kehidupan Marisa yang jauh dari kata mewah dulu. Bahkan untuk makan saja Tanisa hidup dalam berkecukupan. Begitu saja sudah mewah


Tanisa pun mencari meja kosong yang bisa ia isi.


Tiba-tiba Tanisa didatangi oleh seorang pria.


Dia adalah Juna, yang mengembalikan dompet Tanisa yang terjatuh.


"Tadi aku melihat dompet mu jatuh" ucap Juna memberikan dompet milik Tanisa yang terjatuh.


"Ia betul itu dompet ku, terimakasih" kata Tanisa mengambil dompet miliknya.


"Sama-sama" jawab Juna.


Lalu tak lama seseorang datang menghampiri lagi. Tanisa kaget ternyata wanita itu adalah Marisa. Marisa adalah wanita yang ia pernah labrak karena pernah ia anggap yang telah merebut Gavino dari hidupnya. Marisa pun tampak melihat wanita yang pernah mendorong nya dulu.


"Kamu" ucap Marisa kaget melihat Tanisa. Marisa ingat dengan Tanisa.


Wajah Tanisa pun tampak tak enak saat Marisa mampu mengingat dirinya.


"Ya aku. Aku minta maaf atas kejadian yang dulu"ujar Tanisa.


"Ya gak apa-apa. Tapi lain kali kamu jangan dorong aku sembarang ya" oceh Marisa marah.


"Iya sekali lagi aku minta maaf"


."Btw, Gavino mana?" Tanya Marisa.


"Gavino, kami sudah putus. Sudah tak memiliki hubungan apapun" kata Tanisa.


"Putus? Kenapa?" Marisa kaget.


"Adalah"


"Padahal kalian terlihat sangat cocok. Aku berharap jika kalian bisa sampai menikah" ujar Marisa.


Tanisa tampak tersenyum.


"Saya tidak bisa mencintai orang yang tidak mencintai saya. Saya pergi karena Gavino tak pernah cinta dengan saya" ujar Tanisa.


''Benarkah?"


"Iya, wanita hanya bertahan pada pria yang mencintai dia. Tidak bertahan pada seorang pria yang hanya hadir untuk menyakiti perasannya saja"


"Iya, tapi bukankah kalau sakit itu artinya kamu cinta" ujar Marisam


"Cinta pada siapa? Bayangan? Dia hanya bayangan untukku. Kita memiliki kehidupan yang berbeda" tutur Tanisa.


Entah mengapa Tanisa saat ini ingin berfikir yang realistis saja. Tidak mau lagi mengharapkan Gavino yang sudah tidak ada dan takan pernah ada.


Dan bagi Tanisa Gavino hanya lah masa lalunya. Saat ini Tanisa harus belajar mencintai Deon. Meskipun dia tak mencintai. Namun Deon berjanji bahwa akan menikahinya. Itu artinya lebih baik ketimbang hanya menjadi wanita simpanan. Yang mengharap belas kasihan.

__ADS_1


Ya cinta Tanisa yang bertepuk sebelah tangan itu memang harus direlakan dan di buang karena tak berguna dan hanya membuat hati Tanisa semakin sakit.


__ADS_2