Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Anak haram?


__ADS_3

Pertemuan Tanisa dengan wanita yang bernama Lusi itu seperti mimpi bagi Tanisa, bertemu dengan wanita yang baik hati padahal dirinya baru saja mengenalnya itu seperti mimpi. Andai semua orang sebaik wanita yang baru saja Tanisa temui pasti dunia akan baik-baik saja namun semua itu tidak seindah itu, setiap orang akan menemukan jalan yang berliku yang tak selalu mulus. Bahkan menemui rintangan yang teramat berat dan terasa sulit untuk dilewati.


Dan Tanisa tetap berharap dirinya akan bahagia suatu saat nanti. Menemukan kebahagiaan sebenarnya, bukan hidup pada orang yang memberikan janji kebahagiaan namun cuma semua kiasan dan hanya ucapan semata yang tak pernah menjadi nyata.


Perjalanan yang tampak panjang itu pun Tanisa lewati dengan berjalan kaki, walau pun perjalanan panjang. Tapi Tanisa tak sabar ingin segera sampai rumah untuk menyeduh susu hamil yang baru saja ia dapatkan dari orang baik itu, dengan langkah yang penuh semangat.


Tiba-tiba.


Tin.. tin.. tin.. suara klakson motor tampak memberhentikan langkah Tanisa yang akan segera pulang itu. Lalu Tanisa pun menengok ke arah motor sport yang berhenti disampingnya itu, lalu sang pemilik motor itu pun membuka helmnya dan itu adalah Leon, anak laki-laki Deon.


"Leon" ucap Tanisa kaget melihat Deon.


"Mau kemana?" Tanya Leon.


"Aku ingin pulang, tadi dari supermarket" jawab Tanisa.


"Naiklah" perintah Leon.


Tanisa pun tampak menggeleng kan kepala menolak pulang bersama Leon.


"Ayo, bareng saja aku juga mau pulang kita searah" kata Leon.


"Betul gak apa-apa, aku bisa sendiri" tolak Tanisa.


"Naiklah"


Lalu Tanisa pun menuruti Leon untuk naik motor bersama Leon. Tanisa pun agak kesulitan naik motor Leon yang jok nya memang agak tinggi.


"Pelan-pelan naiknya" kata Leon melihat Tanisa yang akan naik motor itu.


"I-iya" jawab Tanisa gugup.


Lalu Tanisa pun berhasil naik, seketika Leon pun agak takut jika Tanisa jatuh saat motor nya akan jalan. Karena Leon sudah akan mengira jika Tanisa Takan mau pegangan.


"Sini barang belanjaannya taro didepan, kamu pegangan aja yang kuat"perintah Leon mengambil barang bawaan Tanisa.


Tanisa pun tampak menggeleng Tanisa tak mau memegang pinggang Leon dan itu terlihat dari kaca spion Leon, Tanisa merasa tak enak hati untuk pegangan dengan Leon.


"Gak apa-apa, demi keselamatan kamu, kamu mau jatuh dari motor" kata Leon.


"Iya" jawab Tanisa.


"Iya apa? mau jatuh"


"Nggak bukan begitu"


"Pegangan yang erat ya makanya"


Tanisa pun mengangguk.


Lalu saat motor itu melaju, seketika Tanisa tampak memegang pinggang Leon. Tanisa berhasil berpegang dengan erat, dan pegangan tangan Tanisa entah mengapa membuat Leon tampak berdebar. Seolah ada getaran aneh yang ia rasakan kini. Tangan lembut Tanisa yang begitu terasa menyentuh dipinggang Leon seolah menggetarkan hati Leon yang tampak memandang wajah Tanisa dari kaca spion miliknya itu.


Cantik, Tanisa terlihat cantik sekali batin Leon melihat wanita itu dari kaca spion.


Ya ampun aku ngomong apa sih barusan.


Namun, sekali lagi Leon tampak menyadarkan dirinya ia tak mungkin merasakan hal itu pada calon ibu tirinya sendiri.


Disela-sela perjalanan, Leon tampak mengajak bicara Tanisa.


"Kamu beli apa" tanya Leon.


"Beli barang untuk Dea, dan ada orang baik kasih aku susu dan vitamin untuk ibu hamil"


"Oh, syukurlah ternyata masih ada orang baik juga dimuka bumi ini selain aku. Ahhaha" ucap Leon becanda garing.


Tanisa pun hanya tampak terdiam karena bagi Tanisa lawakan Leon sama sekali tak lucu.


"Kok kamu gak ketawa"kata Leon.


"Gak" jawabnya singkat.


"Oh iya aku baru ingat kalau aku pernah jahat sama kamu" ucap Leon.

__ADS_1


Tanisa hanya tampak terdiam tak memberikan jawaban apa-apa.


"Tanisa, susu ini diminum ya. Yang rajin minumnya, kasihan orang yang memberikan susu ini kalau gak diminum" kata Leon m.


"Iya pasti, pasti aku minum tiap hari" jawab Tanisa.


"Kamu mau makan dulu gak, biasanya orang hamil suka ngidam makanan kan"


"Tidak"


"Serius"


"Iya"


"Tadi dijalan aku beliin kamu rujak loh, aku ingat katanya kalau orang hamil suka makan rujak ya"


"Gak usah terimakasih" kata Tanisa.


"Aku sudah beli nanti kamu makan"


Tanisa pun tampak terdiam tak menjawab iya juga dan tidak menjawab tidak, ingatan Tanisa tentang Leon yang pernah pukul dirinya sangat parah membuat luka itu belum sembuh dan masih terasa begitu menyakitkan. Wajah Tanisa pun masih tampak lebam masih berbekas. Begitu pula dengan hati Tanisa, yang masih terluka. Tanisa bukan dendam hanya saja, ia masih sakit dan pilu bila mengingat semua.


Tanisa pun tampak dingin terhadap Leon tak ada senyuman dibibir Tanisa dan sangat terlihat datar itu. Leon pun merasakan jika Tanisa dingin terhadap dirinya, namun Leon tak menghiraukan sama sekali.


Mereka tiba dirumah besar itu. Tanisa pun tampak turun dan beranjak pergi. Namun tiba-tiba Leon menarik tangan Tanisa.


"Tunggu, ucapkan lah dulu sesuatu padaku" ucap Leon yang masih memegang Tanisa


"Apa?" Tanya Tanisa keheranan, dan langsung menarik tangannya.


"Dasar manusia tidak tahu terimakasih"


"Oh, aku lupa terimakasih"ucap Tanisa.


"Nah gitu dong"


Lalu Tanisa pun tampak masuk kedalam rumah itu, entah mengapa Leon tampak tersenyum melihat Tanisa hatinya seolah semakin berdebar melihat Tanisa.


Tanisa pun yang sudah berada didalam melihat Dea dengan wajah cemberutnya melihat Tanisa.


"Iya, maaf" jawab Tanisa.


"Yaudah mana buruan barangnya" kata Dea.


"Ini Dea" kata Tanisa memberikan itu ke Dea.


"Yaudah gih sana pergi, pusing aku liat kamu" kata Dea dengan nada ketus.


Lalu Tanisa pun beranjak ke dapur dan membuat susu yang ia dapatkan itu. Tanisa pun membuatnya penuh dengan semangat dan ia membawa segelas susu itu ke dalam kamar. Lalu Tanisa pun tampak meminumnya. Tiba-tiba Deon menghampiri Tanisa dikamarnya.


Tanisa pun tampak kaget melihat Deon yang mendatangi ke kamarnya itu.


"Kamu" ucap Tanisa kaget.


"Nih rujaknya kamu melupakannya" kata Leon.


Tanisa pun menggelengkan kepalanya.


Lalu Deon malah duduk disamping Tanisa dan menghidangkan rujak itu didepan Tanisa.


"Nih, aku sudah membelinya lebih baik kamu makan" ucap Leon memberikannya pada Tanisa.


"Kamu jangan masuk gak enak diliat orang takut dikira kita berbuat apa-apa" kata Tanisa.


"Gak akan ada yang mengira begitu" kata Leon.


"Tapi aku takut"


"Oke aku keluar"


Lalu Leon pun tampak keluar namun masih memandang Tanisa dari depan pintu kamar Tanisa.


"Tanisa" ucap Leon, memandang Tanisa lekat.

__ADS_1


"Kenapa?" Jawab Tanisa sambil tertunduk dan melihat Leon sesekali, Tanisa tak berani menatap Leon langsung. Karena Leon memandang dirinyan lekat tanpa berkedip sama sekali.


"Aku mau mengatakan sesuatu" kata Leon.


"Katakanlah"


"Aku minta maaf padamu, aku minta maaf yang sudah melukai mu. Aku minta maaf sudah memukul wajah cantik mu dengan keras hingga wajahmu memar seperti ini. Aku menyesal sudah melakukannya" ucap Leon yang tanpa sadar mengatakan kata cantik pada cantik.


Ngomong apa aku barusan, cantik.. sial, aku tanpa sadar mengatakan kata cantik pada wanita ini batin Deon.


"Adalagi yang ingin kamu katakan" tanya Tanisa.


"Sudah"


"Kalau begitu pergilah dari depan kamar ku aku ingin sendiri"


"Kamu tidak terima permintaan maaf ku" ucap Leon masih memandang Tanisa dengan lama tanpa berkedip sama sekali, sementara Tanisa masih tertunduk.


"Aku memaafkan mu jika kamu pergi sekarang"ucap Tanisa.


"Kamu mengusir ku" kata Leon.


"Aku tidak nyaman jika ada orang lain apalagi laki-laki melihat ku dengan tatapan tajam tanpa berkedip seperti itu"


"Oh ya ampun, sorry" ucap Leon meraup wajahnya dengan kasar sambil menghela napas dan tersadar jika dirinya daritadi memandang Tanisa begitu dalam.


Sial, kenapa aku memandang Tanisa seperti ini, batin Deon.


"Oke" ucap Leon pergi.


Saat Leon pergi Tanisa pun tampak melihat rujak pemberian Leon, Tanisa bingung kenapa tiba-tiba Leon yang sangat kejam itu tiba-tiba baik pada dirinya. Apakah ia merasa bersalah karena telah memukul sehingga ia memberikan rujak ini. Tanisa pun tampak memakannya, beberapa potong.


Lalu tak lama Tanisa teringat kalau susu hamil itu ia tinggalkan diatas meja didapur saat menyeduh dan lupa membawanya ke kamar.


"Ya ampun susu itu" ucap Tanisa bergegas ke dapur mengamankan susu hamil tersebut.


Tanisa pun beerlari untuk mengambilnya, dan sampai di dapur benar saja susu itu telah hilang tidak ada ditempat dimana Tanisa meninggalkannya. Tanisa pun mencari kesana kemari, namun tak ada.


"Bi Ana, lihat susu aku gak yang aku taru diatas meja pakai plastik warna putih dan ada vitamin nya juga didalamnya, lihat gak" ucap Tanisa terlihat panik.


"Plastik putih, bibi gak lihat non"


"Ya ampun kemana ya?" Ucap Tanisa panik.


Tiba-tiba Dea datang menghampiri Tanisa yang sedang panik itu.


"Nyari apa"kata Dea.


"Dea kamu lihat gak plastik putih aku taru diatas meja" ucap Tanisa.


"Oh yang itu udah aku buang" ucap Dea tanpa rasa bersalah.


"Kenapa di buang, itu susu dan vitamin hamil"


"Oh itu sampah kan"


"Ya ampun Dea terus sekarang mana plastiknya kamu buang kemana" Tanya Tanisa panik.


"Udah aku buang ke tukang sampah yang barusan lewat" Dea tahu jika punya Tanisa dari itu Dea membuangnyan


"Kamu tahu gak sih, itu isinya susu hamil dan vitamin" kata Tanisa.


"Terus kenapa, ya biarin aja lah gak minum susu dan gak usah minum vitamin juga gak apa-apa kan. Secara anak haram gak perlu lah hal-hal seperti itu" ucap Dea.


"Kamu tega banget sih, anak yang aku kandung ini adalah adik kamu"


"Heh, siapa juga yang mau punya adik dari orang seperti kamu, siapa yang minta!!! Kamu itu hamil diluar nikah, dan itu artinya anak haram kan!!!" Ucap Dea nada tinggi.


"Kenapa tega banget sih bilang anak aku anak haram" kata Tanisa sedih campur marah.


"Kenapa kamu marah, aku gak suka dengan keberadaan kamu disini. Apalagi kamu hamil anak haram cuma bawa sial!!" ucap Tanisa dengan mata yang tampak melotot.


Tanisa pun tampak ingin menampar Dea namun Tanisa menahannya.

__ADS_1


Tanisa pun langsung berlari meninggalkan Dea, Tanisa enggan ribut dengan Dea.


Tanisa pun tampak ke kamar dan lalu menangis dengan apa yang dikatakan oleh Dea, dan itu sungguh keterlaluan dan membuat hati Tanisa sakit.


__ADS_2