
Suasana di rumah besar terlihat seorang pria yang memandang ke arah langit, menatap dengan tatapan dan harapan yang mungkin pernah sirna.
Dia adalah Gery..
Dalam kebingungannya dan kesendiriannya, Gery mengingat sosok wanita yang pernah singgah dihatinya. Dan tak pernah tahu lagi kabar dari wanita itu.
Memikirkan Lusi yang sudah lama tak ia temui. Sebentar membuat ia tersiksa namun ia tidak mau lagi merusak kehidupan Lusi.
Ada rasa kerinduan yang sebenarnya ia ingin utarakan namun Gery menahannya. Karena ia ingin menebus rasa bersalahnya dengan cara meninggalkan Lusi dan membiarkan Lusi bahagia bersama suaminya. Tidak mau menggangu lagi dan membirakan Lusi hidup bersama orang yang ia cinta yaitu Rian suaminya.
Gery pun tampak bicara sendiri didalam hatinya...
Lusi....
Sudah lama aku tak menemui dirimu, sudah lama sekali aku tak bertemu dengan mu.
Bagaimana kabar mu sekarang?
Aku tidak tahu kabar mu, aku tidak tahu bagaimana keadaan terbaru tentang mu. Aku rindu padamu. Aku merindukan mu, namun aku tidak layak untuk bertemu dengan mu, mengingat kesalahan ku begitu besar pada mu, jika aku mengingat semua dosa ku padamu sungguh aku tak kuasa memaafkan diriku. Yang pernah membuatmu keguguran dan meniduri secara diam-diam.
Lusi aku ingin kamu tahu bahwa aku memang sangatlah mencintai mu, namun dirimu sulit untuk ku gapai. Aku mengalah dan memutuskan untuk pergi dari mu membina rumah tangga ku dan membiarkan dirimu bahagia dengan cara mu.
Gery pun langsung memandang Poto pernikahan yang ia pegang bersama Liana dan lalu merobeknya.
Pikir ku...
jika aku bersama Liana dan aku pasrah pada pernikahan ku, kelak aku akan bahagia denganya. Nyatanya sama saja, aku sama sekali tak bahagia. aku merasa sungguh masih sangat mencintai mu Lusi. Aku tak bisa menutupi rasa cinta ku padamu. Bahkan hal yang tak ku bisa terima adalah, Liana yang ternyata tak setia. Ia selingkuh dan bermain api dibelakang ku. ucap Gery yang tampak duduk disebuah hunian mewah sambil memandang langit biru. Gery yang sudah di kecewakan oleh sang istri itu pun seolah enggan untuk memperjuangkan dan mempertahankan rumah tangga yang penuh penghianatan itu.
.
.
.
.
Sementara itu di pagi hari yang tampak cerah h, terlihat Lusi yang sedang menyantap sarapan pagi dengan segelas susu dan roti di depan meja sambil melihat indah nya bunga dipagi hari sambil mendengar burung berkicau yang indah di rumahnya yaitu di Bandung yang Lusi tempati bersama keluarganya itu. Lusi tampak menikmati pagi itu dengan duduk di teras depan rumahnya.
Saat itu Fabio sudah mulai bisa berjalan ia pun terlihat menggemaskan, dengan langkah kaki-kaki kecilnya Fabio tampak bermain ditaman Lusi pun tampak menjaga nya sambil tersenyum melihatnya dari kejauhan.
Lusi pun sambil sesekali ia mengelus perutnya yang kini tengah hamil, usia kandungannya yang berusia 6 bulan itu tampak sudah menunjukkan gerakan didalam perut yang membuat Lusi semakin merasakan bahwa memang ada kehidupan didalam perutnya.
"Anak ini, anak hidup dalam rahim ku. Aku tak menyangka jika kelak dirimu akan lahir tanpa seorang ayah" ucap Lusi.
Seketika Lusi pun tampak perih mana kala hidupnya yang tak indah, harus berjuang demi putranya dan anak didalam rahimnya seorang diri. Meski ada Ayah dan ibu tapi tetap saja satu sisi Lusi meraskan sedih dan perih sebagai seorang single parent.
Lusi tidak mau menyalahi takdir hanya saja batinnya terasa perih disaat dirinya haru merasakan kehilangan suaminya saat ia belum benar-benar merasakan kebahagiaan.
Namun...
Seketika saat pagi, Lusi teringat dengan ibu mertuanya yaitu Renata. Dia tinggal di Jakarta sendirian lalu bagaimana dengan kabarnya kini?
Lusi merasa dirinya harus menemui ibu mertuanya yang tinggal sendirian di Jakarta, takut hal-hal yang tidak di inginkan terjadi pada ibu mertuanya.
Siang Lusi pun memutuskan untuk datang menemui ibu mertuanya itu. Untuk maksud mengetahui kabar dan silahturahmi.
Sebelum berangkat, Lusi pun harus meminta ijin terlebih dahulu dengan Ayah atau Ibunya.
__ADS_1
Lusi pun masuk ke dalam rumah, tidak lupa mengajak putranya juga kedalam mengingat bahwa Fabio belum bisa ditinggal sendiri.
Lusi pun menghampiri dimana Ibunya kini, yaitu di dapur.
"Bu" ucap Lusi menghampiri Ibu yang sedang didapur membuat cemilan bakwan goreng dan pisang goreng. Ibu terlihat sibuk dengan alat-alat dapur saat itu.
"Apa" jawab Ibu.
"Siang ini, Lusi boleh gak ke Jakarta. Lusi ingin tahu kabar Mama Renata, kasihan dia sendiri Jakarta" ucap Lusi meminta ijin pada Ibunya.
"Mmm boleh saja, tapi bagaimana kalau besok karena ayah mu hari ini sedang keluar"
"Gak apa-apa kok Bu, tanpa Ayah. Lusi bisa berangkat sendiri" ucap Lusi yang merasa baik-baik saja jika pergi kemanapun sendirian.
"Eh jangan seperti itu, ibu khawatir, nanti ibu suruh pak Makmur untuk temani kamu ya" ucap Ibu.
Pak Makmur adalah supir pribadi Ayah.
"Baiklah Bu" jawab Ibu.
Lalu saat siang, Lusi pun bergegas untuk menemui ibu mertuanya yang ada di Jakarta. Lusi juga membawa beberapa makanan dan oleh-oleh khas Bandung untuk mama mertuanya.
Setelah menempuh perjalan kurang lebih empat jam Lusi sampai dirumah kontrakan milik mama mertuanya.
Saat Lusi datang mama mertuanya pun terkejut atas kedatangan Lusi yang secara tiba-tiba.
"Lusi?" Ucap ibu mertuanya yang kaget atas kedatangan Lusi.
Lusi pun membalas ucapan sang ibu mertuanya dengan senyuman hangat.
"Kamu" dengan cepat ibu mertuanya memeluk Lusi erat. Ibu mertuanya sangat merindukan Lusi yang memang sudah ia anggap sebagai anak kandunganya sendiri.
"Alhamdulillah baik" jawab Lusi.
"Masuklah" kata ibu mertuanya.
Lusi pun masuk ke dalam rumah yang memang tidak terlalu besar, namun cukup untuk ditinggali. Lusi pun menatap ibu mertuanya dengan tatapan sayu dan perihatin dengan keadaan ibu mertuanya. Lusi tidak menyangka jika ibu mertuanya yang dulu bergelimang harta, kini jauh berbeda. Hidup serba kecukupan dan apa adanya.
"Ma, ini Lusi bawain makanan buat mama. Aku sama ibu masak buat mama, dan ada oleh-oleh juga" ucap Lusi membuka tas yang berisi makanan dan ia hidangkan diatas karpet tipis yang tersedia. Maklum saja, dirumah yang ditempati tidak ada sofa atau kursi jadi duduk lesehan dibawah.
Seketika ibu mertuanya itu tampak memeluk Lusi dengan erat tanpa terasa air matanya terjatuh tidak tertahan.
"Terimakasih nak kamu masih mengingat ma" ucap Renata memeluk Lusi dengan erat.
"Ya pasti, mama Lusi pasti mengingat mama" ucap Lusi membalas Renata dengan senyuman.
"Mama senang kamu hadir dalam hidup mama, paling tidak mama tidak kehilangan sosok anak dalam hidup mama" kata Renata.
Lusi pun juga tanpa sadar ikut menjatuhkan air matanya, ikut meraskan kepiluan dan kepedihan yang dirasakan oleh ibu mertuanya.
Lusi pun akhirnya menginap dirumah mama mertuanya dan mungkin akan pulang esok hari. Saat Lusi pun tampak mengajak Fabio juga, karena Lusi tahu pasti Renata juga rindu pada cucunya.
Namun Pak Makmur tak bisa menemani, karena ia ada keperluan akhirnya dia pulang dan lusa akan kembali untuk menjemput.
Namun malamnya ada hal yang tak diduga terjadi.
Pak Makmur sudah kembali ke Bandung saat sorenya.
__ADS_1
Tepat jam 01.00 malam..
Tiga orang pria tegap berdiri berotot datang dengan menggebrak-gebrak pintu dengan sangat keras dan kasar.
Lusi dan Renata yang tertidur itupun akhirnya terbangun karena ada suara ketukan pintu yang cukup keras datang.
Brugg...
Brugg....
Brugg...
Suara ketukan pintu yang cukup keras membuat pemilik rumah merasa tak nyaman.
Lusi dan Renata pun mengintip melihat siapa yang datang lalu salah satu pria berbeda besar langsung mendobrak pintu rumah dengan keras.
Braakk......
Membuat Lusi dan Renata membulatkan matanya ketakutan dengan kedatangan pria-pria bertubuh besar tak ia dikenal sama sekali.
"Mana Rian!!!!!!!" Ucapnya dengan nada membentak.
"Mana Rian!!!!" Ucap lagi pria berbadan besar dengan sorot mata yang sangat tajam.
"A-ada apa kalian datang mencari putra saya" ucap Renata dengan suara yang takut.
"Kemana dia, saya ingin menangih hutang yang belum dia bayarkan kepada boss saya" ucap pria berbadan besar.
"Dia sudah meninggal" ucap Renata.
"Jangan bohong!!!" Ucapnya lagi.
"Serius"
"Awas kalau berbohong, sekarang geledah rumah ini cari apakah Rian ada di dalam atau tidak" perintah seorang pria pada temannya untuk mengecek seluruh ruangan apakah Rian ada atau tidak.
Setelah ia mencari ia pun tak menemukan keberadaan Rian.
"Tidak ada!??" lapor seorang pria pada temannya.
"Sialan, lari kemana dia" ucap nya kesal.
"Dia memang sudah tidak ada, dia sudah meninggal" jelas Renata kesal.
Pada saat itu suasana memang menegang Lusi pun hanya terlihat ketakutan sambil menggendong putranya yang ia gendong erat sekali. Tanpa berbuat apa-apa karena takut.
"Baiklah kalau memang tidak ada bawa saja mereka semua, untuk laporan kepada boss kita!!!" perintah pria itu.
"Kalian mau apa?" Ucap Lusi yang ketakutan sambil menggendong putranya.
Putranya pun direbut nya dari gendongan Lusi dengan kasar.
"Lepaskan berikan dia padaku!!!" pinta Lusi yang tak mau bila putra nya di gendong oleh orang lain.
"Saya akan memberikannya asal kalian ikut dengan kami. Kalian tidak akan kami apa-apakan yang penting nurut saja perintah kami untuk menemui bos kami" ucap salah satu dari mereka.
Renata dan Lusi pun mau tidak mau ikut untuk menemui boss mereka. Lusi dan Renata pun didorong dengan kasar untuk ikut mereka sementara Fabio masih digendong oleh pria berbadan tegap itu.
__ADS_1
Lusi dan Renata pun dibawa pergi entah kemana dengan mobil yang mereka bawa.