
Lusi tak menyangka ternyata didunia ini masih ada orang baik yang memberikan tumpangan pada dirinya. Dan itu merupakan keberkahan untuk Lusi. Andai semua orang baik seperti wanita yang bernama Sarah. Pasti semua akan baik-baik saja.
Sepulang dari wawancara itu, Lusi pun pulang dengan membawa senyum bahagia.
Lusi awalnya mengira bila hujan akan membuat dirinya akan sial, tapi ternyata hujan membawa rejeki sehingga Lusi mendapatkan pekerjaan dan Lusi yakin bila perusahaan itu dapat memberikan gaji yang cukup. Karena yang paling terpenting saat ini Lusi bisa bekerja dan menghasilkan uang itu sudah membuat dirinya merasa bahagia.
"Alhamdulillah bu" kata Lusi terlampau senang dan memeluk sang ibu.
"Bagaimana"
"Lusi besok sudah bisa bekerja" ungkap Lusi yang terlalu senang.
"Syukur Alhamdulillah"
Ibu pun ikut senang mendengar kabar tersebut.
Hingga keesokan harinya....
Lusi pun bangun lebih awal yaitu jam 4.00 pagi untuk membuat sarapan untuk Fabio yakni sayur sop baso dan Lusi juga pagi-pagi sudah memompa asi nya saat itu yang akan diberikan pada bayi Jasmin saat ditinggal kerja nanti.
Lusi belum memberikan sufor kepada Jasmin, karena asi Lusi masih cukup untuk Jasmin dan memang untuk pompa asi butuh ketelatenan, beda dengan sufor.
Lusi pun berangkat kali ini dengan naik ojek, untuk menembus jalan kota Bandung. Lusi berangkat jam 6.30 saat itu. Lusi datang lebih pagi untuk menebus rasa bersalahnya yang kemarin datang telat. Lusi tidak mau menyiakan kesempatan untuk dirinya.
Hingga akhirnya Lusi sampai dikantornya. Sebenernya ada perasaan kamu untuk kerja disana, apalagi dunia baru suasana baru pastilah Lusi merasa tidak terbiasa dalam hatinya. Tapi Lusi berusaha untuk menikmati semua proses yang ada.
Dan sesampainya dikantor Lusi disambut oleh Pak Pandu.
"Selamat pagi" ucap pak Pandu kali ini terlihat sopan pada Lusi. Beda saat awal bertemu yang tampak cuek dan jutek.
"Pagi pak" jawab Lusi dengan senyum simpul.
"Sudah siap bekerja hari ini"
"Tentu pak"
"Suara kamu lembut sekali Lusi seperti sutra tapi serasa menusuk di hati yang paling dalam"
"Menusuk pak, maksudnya apakah ada perkataan yang salah. Hingga buat hati bapak sakit"
"Oh bukan gitu, maksud saya buat saya kelepek-klepek hingga menusuk hati yang paling dalam" jawab pak Pandu.
"Oh saya kira yang lain" kata Lusi.
Tiba-tiba ada seorang wanita datang dengan memberikan celetukan yang menyindir namun dengan nada canda.
"Jiah si bapak mah sudah paling bisa godain anak baru yang glowing, jangan mau dia sudah punya istri tahu" kata wanita yang lewat dan kepergok olehnya godain Lusi saat itu.
"Hehe canda ya Lusi jangan ambil hati, yaudah kamu bisa dibantu Tasya untuk tahu apa saja yang menjadi kerjaan kamu ya. Dan kamu gak keberatan kan kalau hari Kamis Jumat jadi reseptionis di kantor ini. Karena memang kita butuh dua orang secara bergantian untuk tugas itu. Kerjaan gampang kok cuma angkat telepon dan cuap-cuap aja. Kamu cocok wajah kamu cantik dan suara kamu lembut jadi cocok banget"
"Jangan mulai muji deh pak"
"Eh Tasyakuran kamu itu harus paham mana kerja, mana pujian. Saya memuji itu sesuai job desk nya, bukan gombal" timpal pandu.
"Pak, yang mukanya paling blaem blaem, siapa sih yang gak kenal bapak kalau abis muji abis itu pasti ada gombalan terus abis itu ajak jalan. Yang campur aduk itu bapak, gombal di jam kerja itu hukumnya haram"
"Tasya kamu pasti patah hati saya deket sama cewek lain"
"Lah pak, bapak mau deket sama miss univers sekalipun saya sih bodo amat emang bapak siapa, hahaha. udah ah jangan ngeladenin dia gak kelar-kelar"
Lusi pun hanya tampak tertawa kecil mendengar setiap ucapan yang keluar dari Pandu dan teman kerja, seperti hiburan gratis.
Setalah itu..
Lusi pun dibantu Tasya untuk menuju meja kerjanya, Lusi pun diberi tugas harian tentang data yang harus diinput tiap pagi dan file-file yang harus disimpan dan yang harus difoto copy. Tapi memang Lusi harus ada pekerjaan tambahan di hari Kamis dan Jumat jadi reseptionis. Itu sengaja di lakukan karena Lusi punya kualifikasi yang tepat untuk itu dan bisa bergantian tugas juga dengan Tasya yang memiliki tugas yakni mengatur meeting diluar bersama klien. Ya mungkin hanya dikantor yang Lusi tempati saat ini yang punya Job desk yang multi.
Lusi pun iya-iya saja saat mendapat arahan dari Tasya, karena Lusi pun suka pada hal baru dan ilmu baru.
__ADS_1
"Semoga betah ya kerja disini" kata Tasya memberikan senyuman.
"Ya Alhamdulillah sepertinya aku betah"
"Kalau pak Pandu itu memang orangnya seperti itu"
"Aku kira malah dia itu galak"
"Awalnya doang tapi pas udah kenal mah hemp.. sama aja"
"Iya" jawab Lusi saat itu.
"Sudah jam istirahat bagaimana kalau kita makan siang" ajak Tasya.
"Boleh" Jawab Lusi.
Terlihat Tasya yang memesan makanan melalui ojek online sementara Lusi saat itu memakan bekal yang sudah ia bawa dari rumah.
"Wah hebat ya masak kamu" kata Tasya.
"Iya"
Lalu selesai makan Lusi pun mencari tempat sepi untuk memompa asinya yang sudah penuh dibagian dadanya.
"Tempat sepi dimana ya?" Tanya Lusi bingung.
"Mau ngapain" tanya Tasya.
"Disini ada kulkas kan" ucap Lusi mengedarkan pandangan.
"Ada, Mau ngapain" tanya Tasya lagi.
"Aku mau pompa asi"
"Hah asi siapa?"
"Buat apa?"
"Ya ampun, kok buat apa sih Tasya? buat anakku"
"Kamu udah punya anak, udah nikah" ucap Tasya kaget.
"Udah"
"Oh my good aku kira kamu cupu ternyata suhu" kata Tasya.
Lusi pun tampak tersenyum.
"Tempat sepi gak ada disini, sesepinya tempat pasti ada cctvnya kamu mau punya kamu keliatan cctv"
"Gak.. yaudah aku ke kolong aku tutupin pakai jaket yang aku bawa" kata Lusi.
"Yaudah bagus juga ide kamu, tidak aku duga ternyata kamu ibu yang baik kamu hebat Lusi"
"Ya kamu juga nanti ngerasain"
Lalu setelah itu Lusi pun dapat dua botol asi yang isinya 120 ml masing-masing. Jadi totalnya 240 ml, lumayan untuk Jasmin.
Setelah selesai itu Lusi pun dapat tugas jaga meja resepsionis, karena Tasya harus mengatur skedul keluar untuk beberapa pertemuan dihotel. Paling tidak Tasya harus melihat tempat secara langsung untuk acara meeting besok di hotel nanti.
"Lusi aku boleh titip pesan gak sama kamu" Pinta Tasya.
"Pesan apa?"
"Sore nanti ada supir nya pak Hilman. Dia mau ambil tas dan laptop pak Hilman yang ketinggalan. Nanti kamu kasih saja ya. Oia satu lagi, suruh sekalian benerin lampu ya, mati"
"Apa itu gak terlalu berlebihan suruh-suruh orang"
__ADS_1
"Udah biasa dia" kata Tasya.
"Kalau dia gak mau bagaimana?" Ungkap Lusi.
"Nanti kalau dia nolak omelin aja, kerjaan dia memang itu kok. Karena dulunya dia itu cleaning servis di kantor ini. Dan terkahir kamu kasih donat itu pasti dia bakal senang"
"Oh ya, masa sih"
"Serius..."
"Oh baiklah"
Selang kepergian Tasya Lusi pun menjaga meja resepsionis itu, Lusi hanya menunggu tamu kantor atau telepon yang masuk saja. Sisanya melamun...
Hingga beberapa selang ada seorang pria dengan kaus polo berawarna putih dan celana panjang hitam datang meminta tas dan laptop yang ketinggalan..pria itu terlihat berumur 55 tahun cukup tua untuk dijadikan seorang supir.
"Selamat siang pak, oh ya saya tahu pasti bapak kesini mau ambil tas dan laptop yang ketinggalan kan" ucap Lusi percaya diri dengan pria yang dihadapannya kini.
"Iya" jawabnya singkat.
"Baik, ini laptop dan tasnya tapi sebelum bapak pergi. Saya mau bapak benerin lampu dulu ya pak" kata Lusi memberi perintah.
"Kamu???"
"Kenapa pak ada yang salah, saya tahu bapak sebelum nya sudah terbiasa mengerjakan hal ini kan. Tenang pak kata temen saya, bapak akan dapat donat dari teman saya"
"Saya tidak bisa" katanya dengan mata membulat dan menolak.
"Pak bapak tidak bisa menolak"
"Kamu berani memerintah saya!!!!"
"Iya memang kenapa? Kan sudah biasa diperintahkan seperti ini " Ucap Lusi yang tanpa ragu bertanya.
"Kamu ya????" Ucapnya dengan mata membulat.
Tiba-tiba....
Tasya pun kembali dan melihat Lusi yang sedang berbicara dengan seseorang dan Tasya pun langsung kaget dan menyapa.
"Selamat siang pak, loh ternyata laptop dan tas kerjanya bapak yang ambil sendiri" kata Tasya tanpa ragu memberikan sapaannya.
Lusi pun seketika terdiam dan bingung dengan apa yang disampaikan oleh Tasya.
"Lusi kenalkan dia ini pemilik dari perusahan ini. Namanya pak Hilman Ardianto" kata Tasya.
"Bukannya ini supir nya pak Hilmam" kata Lusi terbata dan gugup.
"Bukan dia pak Hilman" jelas Tasya.
Deg..
Mata Lusi pun membulat tajam dan tak menyangka.
"Pak maaf ya pak saya gak tahu kalau bapak ini pemilik perusahaan ini" ucap Lusi yang merasa bersalah dan ketakutan.
"Kamu?????? Ikut ke ruangan saya!!!!!" ucap pak Hilman yang terlihat serius, dan pergi dari tempat ia berdiri.
"Haduhh" ucap Lusi memukul jidat
"Kenapa?"
"Aku kira itu supirnya" ucap Lusi yang ingin menangis.
"Lah bagaimana kamu, makanya kenalan tanya nama nya siapa? Masa iya supir tua begitu. Supirnya pak Hilman itu masih muda lagi"
Lusi pun tampak memegang wajah dengan kedua tangannya dia tak menyangka baru saja kerja satu hari sudah dapat masalah begini.
__ADS_1