
Hidup adalah sebuah perjalanan terkadang berisi suka maupun duka.
Pagi yang cerah terlihat Lusi yang sedang merapikan kamarnya. Dan duduk melihat arah jendela.
Tiba-tiba saja tampak Marisa yang masuk kedalam kamar Lusi ketika itu. Sontak Lusi pun menyambut siapa yang datang kala itu. Dengan senyuman pastinya.
Terlihat Marisa yang datang membawa sebuah makanan ringan. Sembari tersenyum.
"Maaf ganggu" ucap Marisa yang datang dengan tongkat ditangannya. Karena memang ia tidak mampu untuk berjalan sempurna karena ia yang telah kehilangan kakinya.
"Ya, gak juga aku hanya sedang duduk sambil sedikit melamun dan membereskan beberapa hal aja"
"Oke, boleh aku duduk" ucap Marisa.
"Duduklah"
"Aku kesini ingin mengembalikan"
"Apa?" Ucap Lusi heran
"Kalung. Ini adalah kalung pemberian Rian saat itu. Tapi aku tahu kamu lah yang lebih layak untuk kalung ini. Aku tidak mau menyimpan apapun lagi dari Rian. Seperti menyimpan perasaan padanya" ucap Marisa sambil memberikan kalung tersebut.
Lusi pun tampak tersenyum. Ia tahu karena kalung itulah. Ia pernah menaruh curiga pada Rian.
"Ini adalah hadiah untuk mu maka ambilah" ucap Lusi. Kembali menaruh ditangan Marisa.
__ADS_1
"Tidak Lusi. Aku memberikannya ini untuk mu. Satu sisi aku tahu, cinta itu membuat kita bahagia. Namun aku juga tak mau bahagia dengan orang yang dicintai. Kalau nyatanya, orang yang dicintai itu sudah menjadi milik orang lain. Aku sudah saatnya melupakan semuanya dan mengikhlaskan semua untukmu" ucap Marisa.
Lusi pun tampak tersenyum.
"Kamu harus kuat ya, dalam menghadapi apa yang menjadi ujian kamu saat ini. Aku juga meminta maaf atas perbuatan Rian, kamu menjadi begini" ucap Lusi. Yang tak bisa mengatakan Marisa dengan sebutan cacat.
"Ya, aku harus bisa menerima kondisi ku sendiri. Karena mau menangis dan marah pun. Semua takan merubah keadaan. Aku hanya perlu waktu. Sampai saatnya aku mengerti tentang hikmah semua ini" ucap Marisa lagi.
"Lalu, kapan kamu akan mengunjungi orangtua mu?"tanya Lusi.
"Entahlah, mungkin selamanya aku tak mengunjungi papa.. Aku terlalu membenci papa yang membedakan ku dengan Gery. Aku dianggap tak sempurna dengan kondisi aku yang cacat. Aku tak layak atas semuanya" ucap Marisa sambil menundukan kepalanya.
"Kamu harus mengunjunginya. Maaf aku bicara seperti ini bukan karena aku mengusir kamu dari rumah ini. Hanya saja aku hanya ingin kamu memiliki hubungan baik dengan papa kamu" ucap Lusi menatapnya dalam.
"Tapi?"
"Ternoda??? Kamu??" Ucap Marisa kaget.
"Iya aku... Aku hidup dalam keadaan seperti itu. Aku dibenci Ayahku sendiri saat ia tahu aku mengalami hal itu. Berat memang.. namun Aku tidak marah pada Ayah, cuma perasaan aku yang sakit. Dan aku berusaha untuk tetap melanjutkan hidup. Dan tidak sama sekali membenci Ayah walau aku tahu Ayah membenciku sedemikian rupa. Dan saat itu juga aku tahu. Ayah hanya kecewa dengan dirinya sendiri yang gagal menjadikan aku sebagai kebanggaan nya. Dan setelah itu ia mulai sadar, saat aku membuang diriku sendiri. Ayah meminta maaf pada aku. Dan aku memaafkan"
"Ya ampun" ucap Marisa memandang Lusi lekat.
"Ya, aku hanya bisa menangisi semuanya. Namun aku harus tetap kuat saat itu" Lusi pun menghela napasnya. "Marisa..... kamu tahu, Apa yang menjadi duka kamu. Mungkin sama apa yang menjadi duka aku. Hanya saja dikemas secara berbeda dan cara yang berbeda" ucap Lusi yang berusaha menahan air matanya bila mengingat semua hal yang pernah menimpa dirinya.
Marisa pun tampak memandang Lusi.
__ADS_1
"Kamu tidak boleh menyimpan dendam"
"Lalu siapa orang yang sudah menodai itu"
"Rian... Rian adalah orang yang sudah membawa seluruh hidup ku saat itu"
Marisa pun memeluk Lusi. Ia merasa berdosa karena pernah masuk kedalam kehidupannya. Dan membuat perasaannya hancur.
Marisa pun tampak menangis didalam pelukannya.
"Aku sungguh minta maaf dengan semuanya. Aku tidak tahu soal ini. Aku merasa berdosa sekali sama kamu Lusi" ucap Marisa.
Lusi pun hanya tampak tersenyum.
"Dalam hidup aku tidak menikah karena cinta. Tapi semua karena takdir yang tak seharusnya. Bahkan bicara soal kebahagiaan aku belum merasakannya seratus persen dalam hidupku. Aku hanya bisa pasrah dengan semuanya" ucap Lusi.
"Lalu apakah kamu mencintai Rian saat ini" tanya Marisa.
"Tentu, aku mencintainya. Aku mencintainya saat ini. Meski dulu tidak. Tapi aku mencintainya"
"Kenapa?"
"Alasannya karena dia yang sudah mengambil semua apa yang aku miliki. Hanya dia yang ada dipikiran ku saat ini. Tidak ada siapa-siapa Mar. Apakah itu bukan cinta namanya"
(tangan pegel dah dulu)
__ADS_1
_____________
Guys maaf banget Bru up lagi... Ini juga up Krn dpt pemberitahuan disuruh up. Hehehhe.. sprti apa yang aku bilang sebelumnya .. Selema bulan puasa emang gak bisa up.. Krn sibuk kerja dll....