Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
10. Menikahlah denganku


__ADS_3

"Biarkan Zahira pulang bersamaku Papa." Radit menatap ayahnya wajah tampan itu terlihat memohon.


"Baiklah, tapi langsung pulang." David mengingatkan kemudian berlalu masuk kedalam mobilnya lebih dulu.


"Ayo Zahira." Radit membukakan pintu untuknya.


Hening, selama di dalam mobil keduanya tak terlibat percakapan apapun, hingga tiba di rumah.


"Kau kabur dari kantor ternyata untuk menjemput Zahira, dasar anak nakal." Ayu baru saja turun dari mobilnya hampir bersamaan dengan Zahira dan Radit. Radit diam saja seperti tak mendengar apa-apa, pria dingin itu tak mempan dengan ocehan orang tuanya.


"Mama." Zahira memeluk Ayu dengan mesra, tentu saja itu membuatnya tidak jadi marah.


"Ayo masuk." Ayu merangkul anak gadisnya itu.


"Aku mandi dulu Mama, sekalian sholat." Zahira melirik jam di tangannya, kemudian berlaku naik ke atas.


"Radit, Mama perlu bicara padamu." Ayu menatap tajam anaknya, lalu berjalan menuju ruangan kerja bersama David juga.


"Ada apa?" Radit masuk, lalu duduk di hadapan orang tuanya.


"Radit, Papa rasa perasaanmu pada Zahira sudah tak lagi kau tutupi. Papa tidak melarang, hanya kalian masih terlalu dini untuk menjalin hubungan, kau saja masih belum lulus sekolah." David berbicara serius.


"Aku benar-benar mencintainya Papa, aku ingin kau mengurus kepindahanku pulang ke sini." Radit tak mengelak.


"Radit, tidak kah kau sadar dia saudaramu, apa kau tidak malu menjalin hubungan dengan saudaramu sendiri." Ayu ikut bicara.


"Aku dan dia tidak ada hubungan darah kan Ma? Lalu apa yang membuat Mama malu?" Radit masih terlihat tenang.


"Kalian tidak boleh pacaran." Ayu merasa putus asa.


"Siapa bilang aku akan memacarinya, aku ingin menikahi Zahira." ucapnya tegas.


David dan Ayu membulatkan matanya, mulutnya terbuka dengan wajah yang sangat terkejut. "Radit kau jangan bercanda!" Ayu sedikit meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Aku tidak bercanda Mama, bukankah ada beberapa perkara dalam agama yang menjadi acuan untuk menikahi seorang wanita. Karena kecantikannya, keturunannya, hartanya dan agamanya. Zahira memiliki semuanya." Jawab Radit lantang. "Lalu menantu seperti apa yang Mama inginkan jika bukan seperti dirinya?" Radit paling bisa memenangkan perdebatan, tentunya yang di ucapkan memang benar. Ayu terdiam memijit kepalanya yang mulai tak bisa berpikir lagi.


"Sudah Papa katakan Papa tidak melarang, tapi apakah Zahira mau?" David melihat wajah putranya dengan tak yakin.


"Aku akan meyakinkannya." jawab Radit singkat.


"Apa yang membuatmu terburu-buru Radit?" Ayu kembali menanyainya.


"Aku tidak mau kehilangan dia, jika tidak sekarang aku takut tidak akan mendapatkanya." jawabnya lagi.


"Bukankah ini terlalu cepat untuk membahas tentang menikah?" Ayu masih belum percaya.


"Aku sudah tidak tahan Mama, setiap hari melihat dan mengaguminya. Aku takut pandanganku ini semakin membuat dosa, jadi aku mohon izinkan aku melamar putri Papa dan Mama." ucapnya jelas sekali.


"Astaga Radit." Ayu mengusap wajahnya, menutupinya dengan kedua telapak tangan.


"Baiklah, kau bicarakan pelan-pelan dengan Zahira, soal perasaan kalian Papa tak bisa ikut campur." David-pun sudah menyerah, yang di ucapkan Radit memang ada benarnya, tapi juga sangat mengejutkan untuk mereka berdua.


"Satu lagi, jangan paksa Zahira bekerja jika dia tidak mau." ucap Radit dengan wajah dinginnya, kemudian berlalu keluar begitu saja.


"Apa dulu saat kau mengidam benci padanya?" David menoleh istrinya, merasa lucu dengan kelakuan putranya yang membuat Ayu pusing setiap waktu.


"Tidak juga, hanya dia memang menjengkelkan waktu itu." Ayu menjawabnya serius, tapi tidak dengan David, dia terkekeh mendengar jawaban itu. Dia terkenang betapa besar cinta rekannya itu pada istrinya, bahkan bisa di sebut tergila-gila. Tingkah pencinta yang luar biasa itu dapat dia lihat kembali pada Radit, mungkinkah karena yang mereka cintai adalah orang yang sama, sehingga menciptakan kegilaan yang sama.


"Apa dia sedang hidup lagi untuk menjaga putrinya?" David tertawa menggoda Ayu.


"Jangan membahasnya, aku jadi bersedih teringat kakak ku." Ayu menatap David dengan wajah yang mulai sendu.


"Ah tidak, aku hanya bercanda. Mereka sudah bahagia, sekarang tugas kita membuat Zahira bahagia, jika Radit adalah kebahagiaannya kenapa tidak kita satukan. Lagi pula benar kata Radit, dia adalah menantu yang sangat sempurna untuk kita, dan yang paling penting kita tidak akan kehilangan Zahira, putri kesayangan kita." David menghibur istrinya.


"Kau benar." Ayu menyandar di bahu David, sungguh yang di katakan David adalah benar.


Sementara di ruangan atas, Zahira baru saja selesai sholat, wajahnya tampak bercahaya dengan kelembaban alami dari sisa air wudhu. Itu membuat Radit semakin mengaguminya, diam-diam Radit sudah berdiri lama di balkon yang panjang dan sebagiannya mengarah di depan kamar Zahira. Zahira keluar dengan hijab sederhana dan baju yang sederhana pula, tak mengurangi kecantikan gadis belia seperti dirinya.

__ADS_1


Radit mendekat tanpa bicara, terus menatap wajah yang bersih mulus berlesung pipi itu. Semakin dekat dan berhenti dengan tak mengalihkan pandangannya.


Zahira menoleh, "Radit." ucapnya. Pria itu hanya tersenyum.


"Sedang apa?" tanya Radit berbasa-basi.


"Tidak ada, hanya sedang menikmati sore." jawab Zahira.


"Aku ingin bicara sesuatu padamu." Radit melangkah semakin dekat, bersandar di dinding dekat Zahira.


"Ada apa Radit, apa kau akan kembali ke Malaysia?" tanya Zahira serius.


"Jika iya?" tanya Radit seperti mendapat kesempatan. Zahira menunduk tangannya bertaut.


"Aku akan sendirian." kawabnya kemudian.


"Kalau begitu ikutlah denganku." ucap Radit, matanya melirik gadis yang masih menunduk.


"Mama tak akan mengizinkan, lagi pula aku harus belajar bekerja." jawabnya halus.


"Kau tidak perlu belajar bekerja, aku yang akan menggantikan mu, kau juga bebas ikut kemanapun aku pergi." ucap Radit.


"Itu tidak mungkin Radit." Zahira sedikit meninggikan suaranya.


"Mungkin saja, apa yang tidak mungkin?" Radit meyakinkannya.


"Bagai mana caranya?" Zahira menatap Radit dengan pasrah.


"Menikahlah denganku!" ucap Radit sangat yakin. Membuat Zahira kembali terkejut dan sungguh ia tak habis pikir dengan apa yang di bicarakan Radit.


"Kita saudara!" Zahira tidak menerima.


"Kita bukan saudara, kau dan aku tak ada hubungan darah." Radit semakin mendekatkan wajahnya. "Menikahlah denganku Zahira, aku mencintaimu, dan sungguh aku tidak tahan dengan keadaan ini. Kita selalu bersama, dekat denganmu membuat aku ingin menyentuhmu, aku benar-benar tidak bisa menahan perasaanku." Radit memandang ke dalam mata Zahira, mata bening yang menghanyutkan, dengan wajah cantik putih dan satu lesung pipi, membuat Radit semakin tidak karuan.

__ADS_1


"Beri aku waktu." Zahira menunduk ragu.


"Baiklah, jangan terlalu lama. Aku bisa gila memikirkanmu." Radit menatap Zahira sejenak, kemudian berlalu meninggalkan gadis yang terlihat sedang mengatur nafas itu.


__ADS_2