
Pagi di awal pekan, kesibukan yang sudah menanti membuat Zahira datang lebih pagi, Wanita berusia 26 tahun itu tampak lebih matang, dewasa dan elegan. Status sebagai pemimpin perusahaan besar dengan banyak cabang dan saham dimana-mana membuatnya semakin di hormati. Semua yang dimiliki Anggara membuatnya berada di urutan paling atas diantara pengusaha-pengusaha lainnya. Alasan kaya raya, cantik dan muda, membuat banyak pria menginginkannya, tak hanya pria, bahkan anak-anak pengusaha wanita sangat penasaran dengan sosok Zahira Putri, wanita yang juga terkenal dengan kisah cinta sejati, dimana seorang pengusaha tampan dan kaya raya rela mengorbankan nyawa demi sang istri.
"Om." Zahira langsung masuk ke ruangan Ricky saat pintu ruangan itu setengah terbuka.
"Hai Zahira, selamat pagi." sapa Ricky dengan senyum manis dan wajah fresh khas dirinya.
"Selamat pagi." Zahira tersenyum lebar.
"Aku punya banyak berkas yang butuh goresan tanganmu." Ricky masih menyusun banyak berkas , memilih yang mana akan lebih dulu ia naikkan ke meja atasannya itu.
"Om persiapkan saja, aku punya banyak waktu untuk itu." Zahira duduk menyadarkan diri di kursi berhadapan dengan Ricky.
"Aku senang kau sudah lebih baik. Paling tidak aku tak harus kerepotan menjaga wanita yang sedang bersedih menangisi suaminya setiap hari, pekerjaanku sering kali menumpuk." ucapnya sedikit bercanda.
"Maaf, aku benar-benar bersedih. Kau tahu, kehilangan belahan jiwa itu rasanya diri ini juga ingin ikut mati." Zahira melirik Ricky.
Pria Lima puluh tahunan itu terkekeh, tentu saja dia tahu, bahkan melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Untuk pergi ke luar kota, Om jadwalkan saja pada asisten atau sekretaris. Sepertinya aku tidak bisa."
"Baiklah, untuk Sumatera aku akan menjadwalkan Lili dan asistenku. Kau tak perlu khawatir untuk itu, kita punya banyak orang untuk melakukannya." sepertinya Ricky sudah mempersiapkan segalanya sebelum Zahira berbicara.
"Terimakasih, Om sangat mengerti diriku." Zahira memujinya.
"Tentu saja, siapa lagi yang bisa mengerti dirimu selain aku." jawabnya bangga.
"Tentu saja aku!"
Reza Mahendra masuk dan menyahut pembicaraan mereka.
"Benarkah? Aku belum yakin." Ricky suka mendebat rekan kerja Bosnya itu.
"Harus yakin mulai saat ini. Bukan begitu Sayang?" Reza berdiri dengan menekan sandaran kursi yang sedang diduduki Zahira, sengaja memperlihatkan bahwa mereka sangat dekat.
__ADS_1
Zahira hanya tersenyum, sikap Reza yang seperti itu sudah tak mengherankan baginya. Malah dia terkesan cuek dengan tatapan Ricky yang sedikit tajam.
"Bahkan kami menghabiskan malam Minggu berdua." ucapan Reza lagi, memancing kekesalan Ricky yang kian menatap tajam juga penuh pertanyaan.
"Tidak, kami hanya makan malam." Zahira kembali tertawa.
"Aku lebih percaya padanya." Ricky mengangguk-angguk, membiarkan wajah kesal Reza yang ketahuan hanya berbohong.
"Kita harus cepat menyelesaikan semua ini. Aku minta padamu untuk tidak memulai pembicaraan yang tidak perlu." Zahira berbicara serius terhadap laki-laki yang suka memanggilnya sayang tersebut.
"Aku tahu. Lagi pula sekarang kau adalah milikku." menaik turunkan kedua alisnya.
"Aku akan kembali keruangan ku." Zahira beranjak.
"Eh tidak. Aku janji!" Reza meraih lengan Zahira membuatnya menoleh.
"Hemh." Ricky menatap sinis, Reza Mahendra memang terlalu konyol.
"Selamat pagi Om." Radit datang terkahir, tampak fresh dan wangi. Khas sekali tak pernah berubah aroma itu sejak dulu. Duduk di dekat Zahira tanpa menoleh, langsung fokus dengan berkas yang sudah dibagikan masing masing sesuai kursi tempat duduk mereka.
"Aku akan pergi ke Bali, Lombok, dan Makasar." ucap Radit memilih.
"Aku?" Reza merasa tak punya pilihan hanya ada Dua kota lagi, dan sudah tentu itu bagiannya.
"Kau dapat Dua kota bukannya itu bagus. Aku tiga dan Zahira Dua, Artinya aku lebih banyak bukan?" Radit menjelaskan.
"Om Ricky akan menjadwalkan Lili dan Satu orang lagi untuk pergi." Zahira menyahut lebih dulu sebelum keduanya menyambung perdebatan.
Radit menoleh wanita yang baru saja berbicara itu, kedua bola mata mereka bertemu.
"Sebaiknya memang seperti itu, anak-anak tidak akan suka ditinggalkan beberapa hari." ucap Radit sekali berkedip namun kembali menikmati wajah cantik mantan istrinya.
"Iya." jawab Zahira singkat, namun bibir merah yang hanya bergerak sedikit itu membuat Radit membuang pandangannya.
__ADS_1
Reza merasa tak berguna di hadapan Zahira, kalah saing dengan Radit yang cuek tapi sepertinya sengaja mencuri perhatian Zahira. Hatinya kacau, konsentrasinya pecah, ingin sekali ia mengajak Zahira segera keluar menjauhi Radit. Tapi takut Zahira merajuk, sudah pasti itu lebih sulit baginya.
Pertemuan yang tidak sampai satu jam itu berakhir damai, tak ada perdebatan antara mereka. Semuanya aman terkendali dan keputusan sudah mereka sepakati, akan berangkat dua hari lagi.
Zahira keluar lebih dulu dari ruangan Ricky. Berjalan meninggalkan mereka menuju ruangannya.
"Zahira!" suara Radit memanggil, tumben sekali pria yang selalu bersikap dingin beberapa waktu ini kini memanggilnya.
"Ya?" Zahira mengurungkan langkahnya membuka pintu.
"Ponsel Mama tidak aktif, apakah hari ini akan pulang?" tanya Radit mendekati Zahira.
"Ponsel Mama tertinggal di atas, mungkin baterainya habis." jelas Zahira.
"Oh, aku akan langsung berangkat besok. Sepertinya aku harus ke rumahmu nanti sore." ucapnya berusaha menghindari tatapan mata bening Zahira.
"Itu lebih baik, anak-anak juga akan senang." Zahira tersenyum sedikit.
"Ya." Radit menjawab singkat, tanpa tersenyum langsung berbalik arah menuju lift.
Rasanya aneh menerima sikap dingin dari seorang Raditya, sangat bertolak belakang dengan sikapnya yang selama ini selalu perhatian padanya, bahkan terlalu perhatian sehingga seringkali membuat Zahira kesal.
Harusnya tidak merasa heran, karena begitulah sikapnya kepada orang di luar keluarga, tentu hanya orang-orang terdekat saja yang membuatnya baik dan perhatian, salah satunya Zahira.
Tapi sepertinya itu dulu, sekarang tidak lagi.
Zahira masih tertegun di depan pintu ruangannya menyaksikan pintu lift yang sudah tertutup rapat, mungkin orang yang ada di dalamnya sudah jauh di lantai bawah. Tapi nafasnya seolah tertahan dengan perubahan yang akhir-akhir ini semakin terlihat jelas, Radit menjauh, menghindari pembicaraan bersama, bahkan hanya terlihat seru ketika bermain bersama anak-anak, tapi lebih banyak diam ketika Zahira mendekatinya.
Sekali lagi, ingatan tumbuh bersama, menikmati kasih sayang yang sama, dan berlindung di bahu yang sama ketika mereka menangis, rasanya sikap Radit saat ini menunjukkan sudah melupakan semua itu.
"Apa aku harus bicara dengannya?" gumam Zahira sendiri ketika sudah masuk ke ruangannya dan kembali menutup pintu.
Hubungan memang tak selalu baik, bahkan yang menikah saja bisa berpisah. Tapi sedih rasanya jika hubungan saudara yang pernah ada harus terputus karena cinta.
__ADS_1
Apa cinta sekejam itu?
Nyatanya memang seperti itu.