Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
98. Sulit membayangkannya


__ADS_3

"Apa masih jauh?" pertanyaan itu tak henti di ucapkan gadis itu.


"Satu jam lagi Sayang, kita sedang melewati pedesaan yang indah." Anggara menunjuk sebelah kiri mereka, tampak sawah menghampar luas, dengan burung merpati terbang bersama rombongan berayun kesana-kemari tidak saling meninggalkan.


"Indah sekali." ucapnya merasa pernah merasakan suasana ini. "Aku ingin tinggal disini saja." ucapnya lagi seperti melamun namun entah matanya menerawang jauh.


Anggara tersenyum, ia sengaja membawa ke tempat dimana mereka mulai dekat, berbagi cerita dan tentu saja kisah indah itu berawal dari sana.


"Kita memang akan tinggal di sini Sayang, Vila kita baru saja selesai di bangun. Kau akan senang di sana, suasana yang sejuk, tenang, indah, dan kita akan menikmati waktu berdua." Anggara memeluknya, mengecup pucuk kepala berhijab itu penuh kasih sayang.


"Aku lapar." ucapnya merengek dalam pelukan Anggara.


"Kita akan makan setelah tiba." ucap Anggara menenangkan ibu hamil muda itu.


"Aku sedang membayangkan nasi hangat dengan ikan bakar." dia memejamkan matanya dengan sesekali menelan ludah, itu terlihat sangat lucu.


"Kau sangat suka makan Sayang, porsimu juga naik belakangan ini." Anggara selalu memperhatikan semuanya.


"Entahlah, makan itu rasanya enak sekali." jawabnya masih memeluk dan memejamkan mata di dada hangat itu.


Anggara tersenyum dengan mengelus pundak istrinya, hingga beberapa saat kemudian gadis itu tertidur dengan tangannya masih mencengkeram baju di dada Anggara. Kecupan hangat di kening halusnya tak akan ketinggalan, dengan pelukan itu semakin ia atur posisinya agar lebih nyaman. Anggara begitu menyayanginya, hingga tiba di Vila baru mereka, ia menggendongnya masuk, seperti saat Zahira masih bayi. Dia menggendong, memeluk dan menciumi pipinya, bayi itu tidur nyenyak sama seperti saat ini Zahira tetap tidur nyenyak walaupun di cium berkali-kali.


Hingga satu jam kemudian gadis itu bangun dengan perut langsingnya masih di peluk Anggara.


"Mas." suara lembut itu membangunkannya, tangan kecil itu balas melingkar di leher pria yang sedang tertidur.


"Sayang, kau sudah bangun." Anggara membuka matanya.


"Aku lapar." wajah cantik itu terlihat memelas.


"Ah kasihan sekali istriku." Anggara mengelus rambut halusnya. "Makanan yang kau mau sudah ada Sayang, kita turun ke bawah atau di kamar saja?"


"Di sini saja." dia beranjak ke kamar mandi, Anggara menghubungi pelayan di Vila itu, tak lama setelahnya makanan mereka sudah di siapkan di depan kamar mereka.

__ADS_1


"Sayang, ayo makan di sana." Anggara mengajaknya keluar menunjuk makanan nasi yang hangat dengan daun pisang sebagai alas piring yang lebar, serta ikan bakar dengan sambal yang terlihat lebih menggoda.


Zahira menyukainya, makan dengan lahap hingga seekor ikan gurame bakar itu habis tak bersisa. Anggara yang melihat itu semakin terheran-heran di buatnya, entah mengapa dia merasa itu aneh untuk seorang ibu hamil muda. Sepertinya ia harus menanyakan itu pada dokter kandungan, dia sedang berpikir.


"Di sini indah sekali." ucapnya dengan mata berbinar, bibir merahnya tertarik di kedua sudut hingga tampak lesung pipinya semakin menggoda.


"Kau menyukainya?" Anggara mendekat dan memeluknya, pria itu sudah tidak tahan melihat lesung pipi itu menganggur.


"Iya." jawabnya membalas ciuman di sudut bibir Anggara.


"Sayang bibirmu rasa ikan gurame." Anggara tertawa menggodanya.


"Kalau begitu tutup hidungmu." gadis itu menutup hidung Anggara dengan jarinya, tapi Anggara malah menggigit jari kecil itu dengan gemas sekali.


"Awh, itu sakit." dia sedikit menjerit.


"Jari ini nakal sekali." Anggara menangkap tangan kecil itu dan terus menggigitnya pelan.


"Aku bahkan ingin memakannya." ucap Anggara dengan gemas.


"Kalau begitu aku akan memakan milikmu." ucap Zahira geram sekali.


Anggara tertawa lepas kali ini, ia semakin tak melepaskan istrinya. "Tak ku sangka istriku sangat menyeramkan, aku pikir istriku hanyalah wanita lembut yang hanya bisa menerima, tapi ternyata perlawanannya harus di perhitungkan."


"Jika melawan sensasinya akan berbeda." Zahira berbisik di telinga pria dewasa itu dengan menggoda.


"Kau benar-benar liar sekarang." keduanya bercanda dan saling menggoda, saling menggelitik hingga bermanja-manja menghabiskan hari yang indah.


Bukan tanpa alasan pria itu mengajaknya ke sana, suasana tenang dan bebas polusi akan membuat istrinya nyaman dan sehat tentunya, tak ingin dia sakit walau hanya flu saja, Anggara akan menjaganya hingga ia benar-benar pulih, dan akan terus bersama selama waktu mengizinkannya.


Sedangkan di tempat berbeda, David pulang ke rumahnya dengan langkah gontai dan bibir tertutup rapat, pria itu terlihat malas bahkan hanya sekedar bicara. Menyandar lelah, memejamkan mata dengan menengadah ke langit-langit rumahnya.


"Kau sudah pulang?" hari ini ia sengaja pulang lebih awal hanya untuk mengetahui bagaimana David bertemu dengan Zahira.

__ADS_1


"Iya." jawab David singkat.


"Apa kau bertemu dengannya?" tanya Ayu sudah tidak sabar ingin tahu.


"Ya, aku bahkan sempat memeluknya." jawab David menarik nafasnya begitu dalam.


"Aku bahkan tak boleh mendekat." Ayu menatap wajah David, suaranya terdengar bergetar, sungguh ia sedang menahan rindu.


"Kita tidak bisa mendekatinya sembarangan, Anggara sangat menjaganya. Dan ku dengar Zahira sedang mengidam, walaupun aku tidak tahu itu benar atau hanya gosip para wanita-wanita sosialita itu saja."


"Tapi dia anak kita David, mana mungkin Anggara bisa melarang kita untuk mendekatinya, bahkan kita juga bisa mengambilnya." Ayu terlihat kesal sekali.


"Mereka sudah menikah Sayang, dia lebih berhak dari pada kita."


"Tidak David, kita yang merawat dan membesarkannya. Aku akan tetap mengambilnya, membawanya pulang _"


"Tidak, kita tidak bisa membawanya pulang. Aku rasa Anggara punya alasan sendiri sehingga terlalu menjaganya. Dan lagi dia tidak mengingat kita saat ini." David tidak setuju dengan keinginan Ayu.


"Apa maksudmu tidak ingat, dia anak kita David!" Ayu semakin kesal.


"Aku tidak tahu, tapi benar dia tidak ingat apapun. Dia hanya tahu Anggara saja yang dekat dengannya, mereka sudah menikah dan Zahira sangat nyaman bersamanya."


"Aku tidak percaya Zahira mau menikah dengannya, jangan-jangan Anggara memanfaatkan Zahira. Aku akan mengambilnya dengan cara apapun, dia tidak bisa hidup dalam pengaruh Anggara saja." Ayu masih tidak terima.


"Bagaimana dengan Radit?" David menatap tajam istrinya.


"Radit?" ucap Ayu kemudian terdiam, teringat hari itu Ayu datang ke rumah Anggara.


"Kita hanya akan menyakiti mereka berdua. Sekarang saja aku sedang bingung memikirkan bagaimana jika Radit tahu, bagaimana jika mereka bertemu? Aku tidak sanggup membayangkannya." David menjelaskan kekhawatiran di dalam hatinya, ia sungguh ketakutan akan hari itu.


Ayu kembali menangis, ia sungguh-sungguh ingin Zahira kembali, namun tidak ingin menyakiti kedua anak mereka. Lalu bagaimana?


Wanita itu sungguh dalam beban yang berat.

__ADS_1


__ADS_2