Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
70. Temukan Zahira atau Raya


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


"Raya masih belum di temukan Tuan." Kay menunduk takut di ikuti Sasa di belakangnya.


"Bagaimana bisa kalian kehilangan teman sendiri, bukankah dia selalu bersamamu?" Anggara yang kehilangan semangat hidup itu tampak kesal dengan laporan kedua anak buah Ricky.


"Hari itu Raya membeli keperluan wanita di bawah apartemen, tapi dia tak juga kembali hingga Nona Zahira pergi juga dia tak terlihat." lirih Sasa.


Anggara sedikit memicingkan matanya, pria tampan itu tampak berpikir.


"Kita cek CCTV sekitar apartemen juga semua toko yang mungkin ia kunjungi." Ricky tak mau merusak mood bosnya yang sering uring-uringan itu, ia segera melakukan pencarian tanpa harus di perintah, dalam kondisi seperti sekarang yang ada bentakan dan kemarahan saja yang akan mereka dapat dari Anggara.


"Ricko, kau cari tahu identitas Raya beserta keluarganya. Dan, apa kau sudah menemukan jejak Zahira?" tanya Anggara melalui sambungan telepon.


"Belum, tapi satu anak buahku menemukan sepatu yang mirip dengan milik Zahira di dekat lokasi kecelakaan, tepatnya di tebing bawah menuju jurang yang dalam." namun Ricko merasa tak yakin.


"Sekecil apapun kemungkinannya terus kau cari hingga mendapat kepastian. Aku sangat yakin dia masih hidup." jawab Anggara tetap tak menyerah.


"Iya, kau tenang saja aku tak akan berhenti." jawaban Ricko membuat pria itu sedikit tenang.


Sedangkan di rumah besar David, pria empat puluhan itu tampak melamun dengan hanya kursi roda tempat ia bertumpu. Mata hitam pekatnya menatap halaman rumah yang sepi, sesekali ia tersenyum mengingat masa kecil anak-anak yang menyenangkan, tapi kemudian kembali bersedih dengan kenyataan ia sudah kehilangan putri kesayangannya, juga putra semata wayangnya.


"David!" Ayu memanggilnya pelan.


"Aku merasa dunia ini sangat sepi, mungkin penghuninya tinggal sedikit." jawab David tanpa menoleh.


Ayu menatapnya sedih, pria yang penuh semangat itu kini tampak putus asa. "Kau jangan berlarut dalam kesedihan David, cobalah untuk memulai hidup baru, Zahira sudah tenang di alam sana, dia sudah bertemu dengan kedua orangtuanya." Ayu mencoba membujuk David.


"Aku hanya sedang kecewa pada diriku sendiri, aku terlalu buruk untuk di sebut Papa." ucapnya mulai bersedih, mata hitam pekat dengan buku lebat itu mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kita memang sudah gagal, tapi masih ada kesempatan untuk memperbaiki sebagiannya, jangan sampai kita juga menyesal kedua kalinya." Ayu mengingatkan.


"Aku masih marah padanya, aku sungguh marah." David menangis.


"Aku juga marah David, tapi coba kau pikirkan lagi. Kitalah yang paling bersalah akan semua ini, seandainya kita lebih mengawasi anak kita, mungkin ini tak akan terjadi, kita terlalu menganggap anak kita sudah dewasa padahal nyatanya mereka masih butuh bimbingan dan pengawasan, terutama Radit anak kita."


"Kau benar, tapi tetap saja aku kecewa padanya." David masih begitu marah.


"Tak ada gunanya David, kemarahanmu tak mengembalikan apapun. Kau lihat putra kita juga sudah mendapat hukuman, bukankah itu lebih sakit dari yang di alami Zahira." Ayu menangis sedih dengan memegang dadanya.


"Entahlah, aku sedang mencoba berdamai dengan diriku sendiri walau selalu gagal dan gagal lagi, seakan tiada maaf untukku, kegagalanku, kesalahanku." isaknya menjadi-jadi.


"Pikirkan lagi tentang putra kita, bukankah dulu saat kita baru menikah kau sangat menginginkan kehadirannya? Dia anak kita satu-satunya David, selain dia apa lagi yang bisa kita harapkan." ucap Ayu pelan, sungguh ia berharap David memaafkan Radit dan keluarganya kembali bersama.


"Aku akan mencoba." jawab David pelan.


Ayu tersenyum sedikit, ada rasa lega di dalam hatinya tentang jawaban itu. Sungguh ia bersedih dengan kehidupan yang seperti sengaja mempermainkan keluarganya. Belum lagi istri Radit yang lain, keberadaannya kini sudah tercium rekan-rekan bisnisnya, wanita itu saat ini di cari dan begitu ingin di ketahui berbagai informasinya. Walaupun Ayu malas mendengar kabar tentang Merry tapi apalah daya, dia sedang mengandung anak Radit, yang artinya cucu dari David dan Ayu, mau tak mau Ayu harus tetap bertanggung jawab atas kebutuhannya.


Ayu yang tahu hanya Radit yang memberinya uang, sedangkan ayah Merry sudah lepas tangan semenjak ancaman David saat itu.


"Aku sudah mengirimkan uang untukmu, ku harap kau menjaga kandunganmu baik-baik." ucap Ayu tanpa tersenyum, hari itu ia mendatangi Merry.


"Iya." jawab Merry singkat, ia menunduk tak berani menatap.


Ayu berbalik akan meninggalkan Merry dari apartemen itu, namun Merry memanggilnya dengan rasa takut.


"Tante!" ucapnya ragu.


Ayu menoleh. "Ada apa?"

__ADS_1


"Apa aku boleh mengunjungi Radit?" tanya gadis itu, dengan tangannya terus mengelus perutnya yang kini mulai terlihat membesar.


"Nanti saja, setelah keadaanya membaik, saat ini ia masih sangat kacau. Nanti malah bisa kau menjadi sasaran kemarahannya." Ayu menjawabnya dengan tenang.


Merry mengangguk, gadis itu benar-benar tak membuat masalah, hanya menunduk dan menurut saja. Sekilas terlihat gurat kesedihan juga kerinduan yang mendalam, mungkin karena sedang hamil, dia sangat membutuhkan seorang suami.


"Jaga saja anakmu, saat dia sembuh dia akan menanyakan anaknya dan kau tahu, sebab ia menginginkan anak itu dia kehilangan segalanya." tambah Ayu lagi.


"Iya." jawab Merry, sepertinya kata-kata dari mertuanya itu adalah semangat untuknya, tentu semangat untuk banyak hal, salah satunya kembali bersama Radit selamanya tanpa adanya Zahira.


Ayu meninggalkan gadis itu tanpa menoleh, walaupun ada rasa kasihan dan sedih melihat kondisinya yang sedang mengandung tanpa siapa-siapa, tapi masih ada jarak yang tak bisa dengan mudah ia satukan seperti saat menerima Zahira menjadi istri Raditya, ia sangat bahagia.


*


"Bagaimana?" Anggara mengumpulkan semua anak buahnya yang cukup banyak, ia sudah sangat ingin mendengar kabar tentang keberadaan Zahira.


Semuanya diam dan menggelengkan kepala, tapi ada dua orang yang maju dengan berani.


"Kami menemukan satu lagi sepatu di aliran sungai beserta hijab berwarna merah muda dengan bordiran Z di bawahnya. Dan itu sesuai dengan pakaian yang di belikan Kay untuk Nona Zahira." jelas salah satu pria berkulit hitam itu.


Anggara menatap Kay yang diam menunduk.


"Raya tidak ditemukan, terakhir terekam CCTV sebuah toko di arah Utara apartemen ia masuk kedalam mobil Nona Zahira." jawab Kay masih menunduk, sedangkan Sasa sahabat Raya sudah menangis lebih dulu.


"Apa kemungkinan mereka berdua pergi bersama?" tanya Anggara lagi.


"Malam itu memang Raya berjanji akan ikut pergi ke kampus bersama Nona Zahira." ucap Sasa masih menangis.


"Berarti salah satunya masih selamat, jika bukan Zahira maka Rayalah yang selamat." Ricky menyahut arah pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Kalian harus temukan, baik Zahira atau Raya." ucap Anggara terduduk lemas.


Sungguh di dalam hatinya sangat yakin Zahira masih ada.


__ADS_2