Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
114. Ingin bertemu


__ADS_3

"Apa ada pria yang baik-baik saja jika menyaksikan orang yang dicintainya bahagia bersama orang lain?" tanya Radit masih menyandar.


"Ada?" Akbar sedikit tersenyum dengan wajah yang sangat yakin.


"Pamanmu?" Radit balik bertanya.


"Aku jadi tertarik membicarakan masa lalu semenjak mantan istrimu menikah dengan Pamanku. Dan itu sungguh luar biasa." Akbar membuka pintu mobil dan ikut duduk bersama Radit.


"Apa kisahku ini tidak luar biasa?" Radit menggeleng dan menutup matanya sejenak.


"Kau tahu, orang yang hebat itu adalah orang yang bisa mengendalikan diri sendiri." Akbar mengajaknya mengobrol.


"Aku bisa mengendalikan diri, yang sulit bagiku adalah mengendalikan cintaku ini." jawab Radit menunjuk tengah dadanya.


"Hahaha, itu sama saja." Akbar tertawa, dia berhasil membawa suasana sedih itu sedikit berkurang.


"Nanti jika kau sudah merasakan jatuh cinta, kau akan menjadi orang yang bodoh, egois, dan banyak hal yang membuatmu merasa gila." Radit sedikit tersenyum mengejek.


"Sepertinya aku sudah mulai merasakan gejalanya." jawab pria itu tersenyum dengan membayangkan sesuatu.


"Jangan bilang kau menyukai wanita bengis itu." tatap Radit penuh selidik.


"Kalau benar bagaimana?" Akbar ingin tahu reaksi sepupunya.


"Entahlah, jatuh cinta itu tergantung selera." jawab Radit tak mau berpikir.


"Yang penting masih seorang wanita, soal bengis atau pemarah, atau sikap apapun juga aku akan tetap berusaha. Aku akan membuatnya jatuh cinta padaku!" ucapan Akbar penuh semangat.


Radit sampai menganga di buatnya, tapi sejenak kemudian ia menjadi ikut bersemangat. "Artinya kau akan sering datang ke rumah Pamanmu!" ucapnya menatap wajah Akbar.


"Maksudmu?" Akbar memicingkan matanya, ia menjadi curiga dengan apa yang dipikirkan Radit.


"Kau bisa mengetahui apa saja yang di lakukan Zahira." jawabnya dengan wajah tak lagi kuyu.


"Kau sedang menginginkan aku menjadi mata-mata begitu? Lagi pula apa yang kau ingin tahu. Sudah jelas Pamanku sangat menyayangi Zahira, untuk apa kau pusing memikirkannya."


"Aku ingin sekali melihat dia setiap waktu, mendengar kabarnya setiap hari." ucapnya kembali sendu.


"Berdamailah dulu dengan hatimu, mana tahu nanti kau memiliki kesempatan untuk bertemu atau hanya sekedar bicara padanya. Dia adalah saudaramu sebelum menjadi istrimu, jadi kesempatan untuk bertemu tentu masih ada."

__ADS_1


"Kau benar." Radit merasa beruntung sekali bisa berbicara banyak pada sepupunya yang memang lebih dewasa dari Radit.


Tiba di rumah, Radit menghempaskan tubuh lelahnya di sofa ruang tamu itu, ia menyandar dengan segudang beban ia rasakan. Mestinya tidak banyak, hanya karena ia tidak fokus pada pekerjaan lainnya membuat semuanya menjadi berat


Satu bulan setelah hari itu.


"David, aku ingin sekali berkunjung ke rumah Anggara. Coba kau hubungi dia dan memberitahu bahwa kita akan ke sana." Ayu sedang bersantai saja di hari akhir pekan ini.


"Baiklah, aku juga sering memikirkan hal itu." David sedikit tersenyum, meraih ponsel dan menghubungi Anggara.


"Halo!" jawaban di seberang sana.


"Halo Anggara. Aku ingin bertemu putriku, apakah aku boleh datang ke rumahmu?" tanya David langsung pada intinya.


Sejenak tapi belum ada jawaban, membuat hati David sedikit khawatir.


"Hanya sebentar." ucap David lagi ia tak mau berdebat apa lagi sampai memaksa, tapi ia ingin sekali bertemu Zahira.


"Baiklah." jawab Anggara pada akhirnya.


"Terimakasih, Kami akan langsung menuju rumahmu." David merasa lega, langsung menutup panggil ponselnya.


Di rumah yang lain, tampak Zahira sedang duduk di teras rumahnya bersama Bibi Jia dan Dua asisten muda lainnya. Mereka sedang menanam bunga Anggrek yang mendadak di sukai Zahira, sedangkan Jia hanya berdiri dengan mata tajamnya menatap kesana-kemari tanpa ada orang yang tahu apa yang sedang ia pikirkan. Setiap saat wanita itu selalu curiga dengan hal-hal di sekelilingnya.


"Bibi, aku lebih suka yang putih." ucap Zahira terdengar halus.


"Kita akan taman lebih banyak yang putih kalau begitu." Bibi meminta Dua asisten itu memperbanyak yang putih.


"Ada apa Jia?" suara Anggara membuat? mereka menoleh, pria itu sudah berdiri tak jauh dari Jia.


"Aku merasa rumah ini sedang di awasi banyak orang." ucapnya datar.


Anggara mengernyitkan keningnya, dia tak meragukan Jia, tapi ia tak menyangka jika bodyguard istrinya sangat peka dengan keadaan yang jauh di luar.


"Mungkin orang yang ingin tahu kehidupanku, atau pencari berita?" tebak Anggara tak merasa aneh.


"Bukan!" jawab wanita itu lagi membuat Anggara menoleh padanya dengan heran.


"Siapa?" tanya Anggara yang tangannya sudah mendapat tarikan dari Zahira.

__ADS_1


"Entahlah, tapi lebih dari satu." ucap Jia mundur dan duduk di kursi kayu agak menjauh.


Anggara tak ingin membahas itu lagi, ia duduk di dekat Zahira.


"Apa tidak dingin duduk di lantai Sayang?" tanya Anggara mengelus kepala Zahira.


"Tidak, aku suka duduk di sini sejuk." jawabnya menyandarkan kepala di bahu Anggara.


"Ini Anggrek bulan." Anggara menyentuh satu pot bunga yang baru saja di tanam.


"Hem, aku meminta Bibi memesannya." jawab Zahira, tangannya memeluk erat lengan Anggara.


"Kenapa jadi menyukai Anggrek, apa Mawar sudah tidak terlihat cantik?" tanya Anggara membiarkan istrinya menempel dan menghirup aroma wangi di kaos yang di pakainya.


"Semuanya cantik, hanya aku suka karena namanya sama seperti awal namamu. Dan lagi bunganya beraroma alam yang nyaman, hatiku tenang jika menghirup wanginya."


Anggara tertawa memperlihatkan gigi rapi dan wajah bahagia, membuatnya terlihat semakin tampan.


"Tuan ada yang datang." bodyguard pria itu mendekati Anggara lebih dulu sebelum dua orang tamu itu di belakangnya.


"Kami sudah ada janji." jawab Anggara melihat David juga Ayu dari jauh sudah menatap Zahira. Kemanjaan ibu hamil itu membuat kedua orang yang datang ikut terlarut, mereka tak menyapa tapi terus menyaksikan Zahira yang belum menyadari kehadiran mereka.


"Sayang, ada Papa dan Mamamu." ucap Anggara pelan, penuh kasih sayang, dekat sekali dengan telinganya.


Zahira menatap Anggara, lalu menoleh.


"Papa!" ucapnya masih tak beranjak.


"Sayang, apa kabarmu?" David ikut duduk dengan satu kaki di tekuk ke depan.


"Baik Papa." jawabannya, meraih tangan David dan mengajaknya berdiri.


"Kita mengobrol di dalam saja." Anggara mengajak semuanya masuk.


Duduk di sofa mewah di ruangan besar itu, malah semakin membuat suasana menjadi canggung, terutama Ayu yang sedari tadi memperhatikan wajah cantik Zahira, mata kecilnya selalu berembun menyaksikan jarak yang terbentang tapi tak terlihat apa yang menghalanginya.


"Boleh Mama memelukmu?" ucap Ayu dengan wajah sendu.


Zahira mengangguk, membiarkan Ayu mendekat perlahan, tapi kemudian memeluknya erat sekali dengan tangisan yang sudah tidak bisa di tahan.

__ADS_1


"Mama sungguh merindukanmu Sayang?" ucapnya terdengar bersama isak tangis yang begitu dalam.


__ADS_2