
Zahira Melonggarkan pelukannya, menatap wajah tampan yang senantiasa memberi ketenangan. "Mas." panggilnya lembut.
Anggara tersenyum, ia benar-benar khawatir tapi tak ingin membuat wanitanya ikut berpikir. "Kau aman bersama Jia Sayang." ucapnya, mata cokelat itu selalu penuh kasih sayang.
"Tapi-"
Anggara menutup bibir merah Zahira dengan telunjuknya. Ia tahu apa yang akan di bicarakan Zahira. "Ajak anak-anak kita bermain di belakang." pinta Anggara memainkan jari di bahu Zahira, mengelusnya penuh perasaan.
Zahira mengangguk. "Ayo Sayang, kita bermain dengan Bibi Jia." Zahira merayu kedua anaknya, memperlihatkan banyak mainan yang di bawa Jia.
"Ayo Bibi!" seru Sadewa dan Satria bersamaan, menarik tangan Jia tak sabar ingin bermain bersama.
"Ku lihat kau sangat menyayangi keluargamu." Radit kembali memulai pembicaraan serius.
"Tentu saja, dia istriku, juga anak-anakku." jawab Anggara pelan, pria itu duduk menghadap meja makan.
"Jika kau menyayangi mereka, harusnya kau tak membiarkan pria mesum itu mendekati istrimu." Radit menatap tak suka pada Anggara.
"Aku sangat menjaga istriku." jawab Anggara tak ingin Radit menyalahkan dirinya.
"Jika kau menjaganya, lalu kenapa kau membiarkan Zahira pergi hanya berdua dengan Jia? Apa kau pikir laki-laki seperti Daniel akan melepaskan istrimu begitu saja? Bahkan aku mendapati pria tua itu sedang merayu dan memegang tangan Zahira!" Radit sedikit membentak.
Anggara menatap tajam Radit, ia tahu jika Daniel sering memperhatikan Zahira tapi tak menyangka jika sampai memegang tangan istrinya. Ia mendengus kesal.
"Cemburu?" tanya Radit kasar.
__ADS_1
"Tentu saja, aku suaminya sudah pasti aku cemburu. Lalu kau sendiri?" Anggara balas menatap kesal pada Radit, dia merasa jika Radit juga sedang cemburu. Tapi malah marah-marah dan menyalahkan Anggara.
Radit ikut duduk, ia sengaja menatap Anggara dan duduk berhadapan. "Aku hanya ingin kau berpikir lebih baik, jangan korbankan anak-anak dan Zahira." ucapnya dengan wajah serius.
"Aku tahu. Tapi aku juga tidak bisa berdiam diri dengan orang yang sudah jelas berbahaya. Aku tidak bisa membiarkan pria itu terus berkuasa dengan semua kejahatannya. Sudah pasti aku tak akan mengorbankan anak dan istriku, dan aku punya cara sendiri untuk mengatasinya."
"Cara apapun yang kau lakukan sudah pasti memakan waktu, dan dia tak akan menyerah begitu saja untuk menguasai hartamu dan juga mendapatkan Zahira. Aku laki-laki, kau juga! Kita akan melakukan apapun untuk mendapatkan wanita yang membuatmu gelisah, memilikinya dengan utuh adalah impian seorang laki-laki yang sudah jatuh cinta, terlebih lagi laki-laki mesum yang suka membayangkan bagaimana rasanya tidur dengan wanita hanya dengan mendengarkan suaranya. Aku rasa kau mengerti maksudku." Radit membuang muka, ia sungguh malas harus mejelaskan bagaimana Daniel menatap Zahira.
"itu tidak akan terjadi!" Anggara kesal mendengar semua ucapan Radit, walaupun benar yang dikatakan pria muda itu. Bahkan dulu ia merasakan apa yang namanya gelisah dan ingin memiliki Zahira.
"Kalau tidak ingin itu terjadi, maka bawalah Zahira pergi jauh dari sini. Hiduplah jauh dari orang-orang yang akan menyakitinya." pinta Radit bersungguh-sungguh.
"Aku tidak bisa. Aku butuh waktu untuk itu semua." jawab Anggara seakan sedang dilema.
"Kau benar-benar keras kepala. Sebenarnya apa yang membuatmu tidak mau meninggalkan negara ini? Aku curiga kau memiliki alasan lain. Apa anak dan istrimu tidak cukup berharga dari semuanya?" Radit kembali kesal.
"Jika kau berat membawa Zahira pergi, aku yang akan membawanya. Atau mungkin bersamaku lebih baik dan tidak akan mempertaruhkan nyawa seperti bersamamu." ucapnya sinis.
Anggara mendelik tajam. "Kau merasa dia aman bersamamu, Apa tidak salah? Bahkan masalah ini menjadi rumit, pelik dan berbahaya ini karena dirimu! Kau tahu siapa yang membuat Paman Daniel kembali datang ke Indonesia? Mantan istrimu! Mantan mertuamu! Mereka memohon bantuan dan menyebut jika lawan mereka adalah pengusaha besar, kau juga aku!" Anggara geram sekali mendengar ungkapan Radit yang tidak tahu apa-apa.
"Itu hanya kebetulan!" Radit tak mau kalah.
"Tentu saja, artinya jika bersamamu Zahira juga dalam masalah. Asal kau tahu, Merry sudah bebas hari ini, dan yang membebaskannya adalah Daniel!" Anggara menunjuk meja tempat mereka berhadapan. Wajah tampan itu terlihat kesal dan marah.
"Merry?" Raditya tak percaya.
__ADS_1
"Kau tak memiliki informasi tentang mereka. Malah sok kuat ingin melindungi istriku? Sebaiknya kau urus saja mantan istrimu yang belum bisa move on itu." Anggara meninggalkan Radit menuju halaman belakang, ia menyusul anak dan istri.
Kali ini Radit yang merasa kesal, mengapa ia malah tak mengawasi Merry dan keluarganya, menganggap semuanya sudah selesai itu salah besar. "Apa yang di inginkan Merry?" bergumam dengan mengusap kasar wajahnya.
*
Di sebuah rumah mewah, di balkon lantai tiga. Tampak dua orang sedang menikmati udara dengan senyum mengembang. Wanita itu menghirup udara dengan rakus seakan baru saja di bangkitkan dari kematian.
"Kau senang?" tanya pria Lima puluhan itu.
"Ya. Terimakasih untuk semua ini, aku tidak akan melupakan kebaikanmu." ucapnya memuji.
Pria itu tertawa senang, terlebih lagi wanita disampingnya masih muda dan berpakaian minim. Dia terlihat cantik dan menggoda baginya. "Asal tidak lupa dengan janjimu." ucapnya kemudian.
Merry mengangguk.
"Ah, kurasa aku tak perlu memiliki anak darimu, aku hanya butuh teman." laki-laki itu mengubah keputusannya.
Merry menoleh, mengernyitkan keningnya heran. Bukankah kemarin pria itu begitu memaksa untuk meminta anak? "Apa yang membuatmu berubah pikiran?" ungkapnya ingin tahu.
Daniel tertawa, seringai mengerikan dan licik terlihat jelas. "Aku menginginkan istri Anggara." ungkapnya jelas dan penuh ambisi.
"Heh, kau berbelok setelah melihat wanita itu." Merry tampak kesal. "Aku ingin mendengar darimu, apa yang membuat kalian tertarik dengan wanita seperti itu?" tanya Merry pada pria yang sudah berumur namun masih terlihat gagah sekali.
Daniel tertawa terbahak-bahak, ia menangkap raut wajah Merry sedang merasa tak suka, juga cemburu. "Dia sangat menggiurkan, suara merdunya memanggil hasrat seorang laki-laki, mata dan bibirnya membuat aku ingin segera menikmati indahnya tubuh di balik pakaian panjang itu." jawabnya berkhayal, tentu ia tak hanya diam. Tangannya bergerilya pada seseorang yang ada di depan matanya.
__ADS_1
"Aku benci wanita itu." bisik Merry menatap jauh keluar, namun membiarkan laki-laki kaya itu menyentuhnya. Parahnya lagi dia begitu menikmati dan mulutnya tak henti bersuara lirih, matanya terpejam dan dapat di tebak laki-laki itu sedang membayangkan wanita yang dibencinya.
"Aku akan menghabisimu nanti." ucap Merry pelan.