
Lima tahun yang lalu, ketika vonis 12 tahun dijatuhkan dan membuat Merry jatuh pingsan di persidangan. Kehilangan Laura, Radit dan sekaligus harus menerima hukuman, sungguh berat itu semua, jeritan memohon dan air mata bukanlah berarti kala itu, bahkan asisten Ricky tak mau melihat wajah Merry ketika ia bersimpuh, berlutut memohon untuk tidak menuntutnya dengan hukuman terlalu berat. Seringai kemenangan dan kesombongan asisten Anggara itu masih terbayang hingga saat ini.
"Papa! Aku tidak mau dipenjara hingga Dua belas tahun, aku tidak mau menua di dalam sel dingin ini." tangisnya kepada Anwar.
"Nak, Papa sudah berusaha. Tapi tuntutan mereka benar-benar berlapis, belum lagi tuntutan Radit, Tuan Anggara lebih menuntutmu atas kematian seorang anak buahnya, keluarga wanita itu tidak terima dan itu di gunakan Anggara untuk membuat kita tak mampu melawan." Anwar sungguh bersedih melihat putrinya menangis ketakutan.
"Apapun caranya aku harus bebas Papa! Tolong, tolong aku Papa." Merry benar-benar takut.
"Papa akan berusaha menghubungi seseorang yang mungkin bisa membantu. Tapi resikonya tentulah banyak."
"Aku tidak peduli." teriak Merry sambil menangis.
Benar saja jika setelah seminggu kemudian Dua orang pengacara yang lumayan berpengalaman datang untuk menolong Merry dan Anwar. Namun tak semudah perkiraan, asisten Anggara itu kukuh mempertahankan tuntutan dan tak mau menyerah. Pengacara yang berasal dari luar daerah itu tentu kalah telak jika dibandingkan dengan Dua orang asisten Anggara, Ricky dan Ricko. Namun cukup membuat Merry sedikit lega, pada akhirnya hukuman Merry di kurangi menjadi Delapan tahun saja.
"Itu masih sangat lama!" teriak Merry saat itu.
"Kami sudah berusaha keras Nona, bahkan bos besar kami sampai menelpon langsung kepala polisi. Tapi kesalahan kalian benar-benar tak bisa dianggap remeh dan mereka sangat kuat. Jika kau bisa bersabar, tunggulah hingga Bos besar datang ke Negara ini, kau pasti bisa di bebaskan. Saat ini ia masih banyak urusan dan tidak mungkin di tinggalkan hanya untuk mengurusmu." ucap Seorang pengacara itu dengan nada remeh.
"Kau!" Merry jadi kesal karenanya.
"Dia akan menyukaimu jika dia datang." tambah pria itu lagi dengan tertawa terbahak-bahak.
Merry hanya bisa pasrah ketika akhirnya harus menerima hukuman. Hari-hari berat itu berlalu, makanan yang tak sesuai selera, tidur di ubin beralas tikar yang tipis, tanpa selimut dan banyak nyamuk menghisap darahnya. Ah, sungguh derita Merry begitu menyiksa, belum lagi emosinya yang sering naik membuat ia terkadang berteriak dan menangis. Tak jarang ia mendapat perlakuan kasar dari teman satu selnya, dia di benci dan di bully, bermacam kata-kata jahat selalu menjadi lalapan ketika makan pagi, siang dan malam. Hinaan demi hinaan itu benar-benar membuatnya tidak tahan, itu bahkan berlangsung setiap hari.
Dan akhirnya Anwar bebas lebih dulu, itu membuat Merry kembali berharap jika akan mendapatkan bantuan setelah ayahnya kembali bisa mengelola perusahaan. Tapi ternyata tidak, Anwar malah menjual sebagian saham dengan seorang yang entah siapa. Pria itu berpindah jauh ke luar kota dan sesekali mengunjungi putrinya. Dan ketika terakhir kali, Anwar datang bersama pria yang sudah berumur, namun masih terlihat gagah bahkan bersemangat. Mungkin karena wajah Indo-Jepang dan tubuh yang tak terlalu tinggi membuatnya terlihat sedikit muda.
__ADS_1
Mata pria itu tak lepas dari Merry yang memang berkulit putih dan tubuh berisi. Mungkin dia sedang berfantasi? Terserah saja Merry tak peduli, yang penting baginya adalah bebas! Itu saja.
"Daniel." ucapnya mengulurkan tangan dan tersenyum penuh arti.
"Merry." jawabnya tak mau kalah, seringai dan senyum manis tampak di wajah cantik Merry.
Bulan-bulan berikutnya pria itu sering mengunjungi Merry.
"Aku suka wanita yang menantang seperti dirimu." ucapnya ketika Anwar tak bersamanya setelah hari itu mengantar Daniel bertemu Merry.
"Aku juga belum pernah dekat dengan pria seumuran dirimu." balas Merry tak peduli namun terdengar memancing.
"Kalau begitu patut di coba." Daniel tersenyum licik.
"Ya, aku pernah menyaksikan seorang yang menikah dengan pria tua seperti dirimu. Dan ku rasa dia menikmatinya." jawab Merry mengingat seseorang.
"Aku mengorbankan banyak waktu dan uang untukmu." ucapnya ketika membawa Merry pulang.
"Aku akan ikut denganmu, dan belajar mengelola saham perusahaan ku yang tinggal sedikit itu." Merry meyakinkan Daniel, dia tak akan membuat kecewa.
"Baiklah." Daniel melingkarkan tangannya dan mulai jahil.
"Yang penting bagiku, aku bisa menghancurkan kalian semua." gumam Merry di dalam hati, lagipula pria itu tidaklah buruk, kaya dan berkuasa. Jika Zahira saja dulu terlihat sangat menikmati kehidupan bersama perjaka tua itu, lalu apa salahnya jika saat ini Merry mencoba dengan Daniel. Dan sepertinya yang lebih tua memang lebih berpengalaman, mengerti semua hal yang membuat Merry senang.
"Kau punya istri?" tanya Merry. Mereka baru saja selesai bercinta untuk pertama kali.
__ADS_1
"Tidak." jawab Daniel, memeluk pinggang Merry dengan mesra.
"Mengapa kau tidak menikah?" tanya Merry lagi, ingin tahu lebih banyak tentang pria Lima puluhan itu.
"Aku adalah orang yang menyukai gaya hidup bebas, tidak terikat dan sungguh menyenangkan ketika bisa mencoba hal baru." ucapnya masih menatap wajah Merry.
"Apa aku mainan barumu sekarang? Dan akan kau buang ketika bosan? Menyedihkan." ucap Merry namun tak terdengar sedih.
"Sepertinya akan menjadi koleksi, karena kau memiliki rasa yang berbeda." ucapnya tersenyum, kembali naik dan memulai permainan gila mereka berdua.
"Kau pikir aku permen?" ucap Merry kesal.
"Aku suka." Daniel tak peduli.
Sementara di kediaman David, ramai dan bahagia selalu terasa semenjak kehadiran anak-anak Anggara. Namun sore ini Anggara mengajak Dua orang anaknya pulang dengan alasan rindu. Masuk akal, karena memang keduanya tak ingin jauh dari Zahira ataupun Anggara. Keduanya kompak memeluk Anggara dan meminta pulang.
"Nenek akan kesepian jika kalian pulang!" Ayu tak rela ditinggalkan Dua anak-anak tampan itu.
"Kami akan kembali, setelah tidak lagi merasa rindu dengan Ibu." Satria menjawab dengan mulutnya imut sekali.
"Ah, baiklah." Ayu harus mengalah.
"Kenapa kau membawanya pulang?" Radit berdiri dengan tangannya menyilang dada.
"Akan lebih baik di rumah saja, lagi pula ada Jia dan Hi ko." jawab Anggara beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Dia akan lebih aman di sini, bagaimana jika pamanmu yang gila itu datang?" Radit menatap kesal.
"Kau pikir mantan istrimu yang gila itu tidak akan datang?" Anggara membalas ucapan Radit, ia muak dengan sikap pria itu seolah dirinyalah yang paling bisa menjaga anak dan istrinya.