Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
69. Aroma Vanila


__ADS_3

"Kita harus pulang, ini sudah malam Anggara." asisten Ricky masih berusaha membujuknya.


"Aku menyesal malam itu tidak mengambil mobil ini." lirihnya, dengan tangan memegang pintu yang sudah lepas.


"Besok kita datang lagi, terlepas dari dia Zahira atau bukan kita tetap harus datang ke pemakaman." Ricky tak putus asa membujuknya.


Akhirnya Anggara mengikuti Ricky pulang, malam itu Anggara tidak pulang ke rumahnya tapi ke apartemen Zahira, berharap menemukan sesuatu yang bisa mengobati rindu.


Tiba di apartemen miliknya, pria itu melihat isi apartemen itu dengan teliti, ada jaket dan hijab gadis itu terletak di ranjang luas miliknya, ada gelas air putih yang selalu tersedia di atas meja beserta beberapa potong roti kering.


"Maaf Tuan, belum sempatkan membereskan apartemen ini." Kay yang baru saja datang terlihat menunduk, ia takut Anggara marah lantaran pakaian Nona majikannya masih belum ia rapikan.


"Jangan rubah apapun, biarkan pakaian ini terletak pada tempatnya." Anggara mendekat di ranjang besar, meraih hijab yang ia pakaikan malam itu ketika dia terlihat cantik sekali. Menghisap aroma vanila yang masih tersimpan di hijab panjang seperti selendang, teringat ketika memeluknya erat, sungguh rasanya indah sekali.


"Dimana Sasa?" Ricky bertanya pada bodyguard wanitanya itu.


"Sasa belum kembali, dia pergi mencari Raya sejak Maghrib tadi.


"Raya?" tanya Ricky penasaran, benar sekali sejak mereka sibuk mencari Zahira Raya tak ada di sana.


"Minta yang lain juga mencari Raya, jangan sampai dia hilang." Ricky memerintah Kay.


"Iya." jawabnya mengangguk sopan.


"Kita ke rumah sakit." Anggara beranjak dan melangkah keluar lebih dulu.


Ricky mengikuti Anggara, sedangkan Kay sibuk menghubungi rekannya untuk mencari Raya.

__ADS_1


Di rumah sakit masih begitu berkabut Radit menyandar tak berdaya meratapi kepergian Zahira, menggenggam erat cincin pernikahan mereka, hanya itulah satu-satu bukti cinta yang tersisa, bahkan Zahira memakainya hingga akhir hayat.


Ayu masih terus menangis duduk lemas di kursi tunggu, ia benar-benar tak bisa melakukan apapun, selain kehilangan ia juga sedang khawatir David tak kunjung sadar.


Anggara tiba bersama Ricky, kali ini beberapa asistennya ikut menemani. Mereka masuk ke kamar jenazah tanpa menoleh siapapun termasuk Radit yang duduk menyandar di dekat pintu.


Ricky membuka kain penutup itu dengan hati-hati membiarkan Anggara mendekatinya. Pria dewasa itu menatap keseluruhan dengan teliti, tangan halusnya menyentuh bahu Zahira yang tampak masih utuh, namun di luar dugaan Anggara menunjukkan ekspresi yang berbeda.


"Dia bukan Zahira!" ucapnya menatap tajam pada jenazah wanita itu.


Membuat semua bawahannya saling memandang, mereka terlihat heran antara yakin dan tidak yakin.


"Anggara, polisi sudah menyatakan dia Zahira." Ricky takut bos sekaligus temannya itu masih tidak terima.


"Tidak, aku tahu bagaimana rasanya memegang tangan Zahira, dari bayi aku menggendong dan memeluknya. Dia tidak seperti itu, dia halus dan menghanyutkan." ucapnya sedih, tak mengalihkan pandangannya pada tubuh yang terbujur kaku.


"Tapi dia sudah meninggal Anggara, jelas keadaannya sudah berbeda, lagi pula tak akan ada kehangatan saat aliran darah sudah berhenti." Ricky mencoba menyadarkan pria tampan yang sedang bersedih.


Mereka hanya mengangguk patuh, tak ada bantahan walau hati kecil mereka tak yakin akan menemukan Zahira, bahkan sebagian dari mereka sudah menganggap bos mereka terkena gangguan jiwa akibat kehilangan wanita yang akan di jadikan istri.


"Kita pulang dan tutup mulut kalian rapat-rapat, jangan bocorkan hal ini pada siapapun apalagi polisi." ucap Ricky, sepertinya pria itu adalah satu-satunya orang yang percaya bahwa Zahira masih hidup.


"Baik." mereka menjawab serentak, dan mengikuti Anggara keluar dari ruangan itu.


"Kau puas?"


ucapan itu menghentikan langkah Anggara, pria itu menoleh.

__ADS_1


"Kau puas sudah membuatnya meninggal?" ucap Radit yang berdiri dan menatap tajam.


"Kau sendiri yang membuatnya pergi." jawab Anggara tenang.


"Jika kau tidak membantunya menggugat cerai aku, dia tak akan kecelakaan."


Anggara geram sekali mendengar ocehan anak kecil, seakan dia tak bersalah malah menyalahkan Anggara. "Bukankah kau yang sudah menyakiti hatinya hingga ia pergi, kau pikir aku tidak tau di saat dia merenggang nyawa di jalan panas itu kau sedang menghabiskan waktu tidur berdua dengan istrimu yang ****** itu." Anggara menatap tajam kali ini, meninggalkan tempat itu, membiarkan Radit yang masih di penuhi emosi, juga sesal yang tak berkurang walaupun sudah menangis sepanjang malam.


"Apa itu benar?" tanya Ayu pelan, wanita itu nyaris tak mampu bicara, bahkan berjalan sangat pelan.


Radit menunduk, sungguh ia tak mampu berbohong, benar adanya dia sudah banyak melakukan kesalahan-kesalahan yang menyakiti hati Zahira.


"Kau memberi uang setiap bulan pada Merry tapi tidak pada Zahira?" tanya Ayu lagi dengan menangis.


"Aku hanya tidak memberinya saat bulan terakhir Mama, aku lupa karena keributan yang semakin menjadi di akhir-akhir ini. Lagi pula Zahira memiliki tabungan dan aset yang banyak, selama ini semua kebutuhannya aku yang membayar." jawab Radit jujur.


"Dia tidak memegang asetnya Radit." ucap Ayu menyesal, mengapa suaminya sampai lupa akan hal sepenting itu.


"Artinya?" Radit mengusap rambutnya berkali-kali, pantas saja sidang yang mereka lalui begitu cepat, bahkan nafkah lahirnya Radit tak memberikan lagi. Sudah pasti pihak Zahira akan menang walau di tunda hingga beberapa hari, seratus pengacara pun tak akan berhasil memenangkan persidangan perceraian itu, di tambah lagi pengacara handal milik Anggara. Sudah pasti Radit bukanlah apa-apa.


*


Pagi hari, selesai di mandikan dan di kafan kan jenazah Zahira berangkat menuju pemakaman di iringi banyak bawahan serta rekan kerja dua perusahaan besar milik Ayu dan Zahira.


Proses yang mengharukan itu berjalan dengan lambat, tampak Radit yang ikut masuk ke dalam liang lahat dengan wajah lusuh dan sedihnya. Banyak di antara pelayat itu menangis terutama orang-orang yang mengenal sosok Zahira.


Anggara hanya berdiri saja tak ikut turun ke liang lahat, pria itu memakai kaca mata hitam berdiri tegak dengan beberapa bawahan ikut bersamanya. Hanya ikut berbelasungkawa, dia tidak lagi meratapi kepergian Zahira di dalam hatinya sangat yakin Zahira masih hidup.

__ADS_1


'Aku akan menemukan Zahiraku, aku pasti akan menemukannya. Dan yakinlah kalian semua akan ikut merasakan kehancuran seperti gadis yang kalian sakiti, terutama dia, dia, dan dia!'


Hati yang damai itu kini terusik, dingin dan kejam.


__ADS_2