
"Radit, Jaga ucapanmu itu!" Merry semakin emosi dan melempar bantal ke arah Radit berdiri.
"Harusnya kau menjaga dirimu, tidak mengemis untuk di sentuh dan tidak memancing ucapan kotor dari orang lain." Radit meraih celana pendek milik Merry dan merogoh kantong celananya, akhirnya kunci kamar itu ia dapatkan. Radit segera membuka pintu dan meninggalkan Merry yang masih berteriak kesal memangil namanya, gadis itu mengamuk melempar barang dengan penuh emosi, Radit tidak peduli.
Dengan perasaan kacau Radit melangkah masuk ke dalam mobil, wajah tampan itu terlihat kusut, segera menyalakan mobil dan melaju secepatnya. Di perjalanan Radit terlihat sangat kesal dan marah, wajahnya memerah dengan sesekali tangan itu mengepal dan memukul setir. Hingga akhirnya ia menepikan mobilnya sejenak di sebuah tikungan sepi, Radit mengusap kasar wajahnya.
"Apa yang sudah ku lakukan?" Radit menahan sesak di dadanya, tak sadar air mata seorang lelaki jatuh menetes di kedua belah pipinya. Radit sungguh menyesal sudah datang ke rumah itu, dia sungguh tidak menyangka akan terjadi hal yang menjijikkan dan sudah pasti akan menghancurkan pernikahannya jika Zahira sampai mengetahui.
"Zahira." Lirihnya menahan kesedihan. Bayangan bersama istri tercinta terpampang jelas menghantui pikirannya, tawanya yang selalu membuat Radit bahagia, sikap manjanya yang dari dulu Radit sungguh menyukainya. Saat-saat indah yang pernah mereka lalui di Malaysia saat Zahira masih menganggapnya seorang adik, begitu Radit menahan perasaan itu hingga akhirnya Zahira pulang lebih dulu dan mengetahui jika mereka bukanlah saudara. Saat pertama kali Radit memeluknya malam itu sebelum Zahira menerima lamarannya, pelukan yang hanya sekilas namun membuat Radit semakin gelisah menahan rasa cinta yang menggebu mengusik jiwa lelakinya.
"Maafkan aku Zahira sayang." Air matanya semakin deras mengalir dan terisak begitu dalam hingga menggoyangkan bahu kokohnya. Lama hingga isak tangis itu mulai mereda, Radit mulai berpikir kemana ia akan melajukan kendaraan itu. Ingin segera pulang namun dia begitu takut menatap wajah cantik kesayangan, bagaimana menghadapinya, bagaimana cara menyembunyikan ini semua atau haruskah jujur dan melihat ia terluka?
"Tidak!"
"Tidak akan pernah aku mengatakan ini semua, aku tidak ingin kehilangan Zahira, aku tidak mau." Radit bergumam sendiri. Berkali-kali Radit memukul setir di hadapannya, hingga ia merasa percuma.
Hingga ia memutuskan untuk pulang kerumah. "Radit." panggil Zahira, ia begitu senang melihat kedatangan Radit masuk ke ruang tamu dan melihat suaminya baik-baik saja.
Zahira mendekat dan ingin segera memeluk tubuh hangat yang selalu ia rindukan. Namun tak seperti biasanya Radit menahan Zahira untuk tidak mendekat. Gadis itu terkejut, menganga tak percaya, bibir mungil itu sedikit terbuka dengan wajah kecewa.
__ADS_1
"Tadi aku menolong orang pingsan di jalan, sebaiknya aku mandi dulu." Radit segera berlalu meninggalkan Zahira yang masih membuka kedua tangannya.
"Aneh sekali." ucapnya, bibir merah itu mengerucut. Namun akhirnya mengikuti Radit masuk ke dalam kamar mereka.
"Radit." Zahira memanggil Radit yang bergegas menuju kamar mandi.
Lama namun tak juga keluar, Zahira begitu gelisah dengan kelakuan suaminya yang tidak seperti biasa.
Sedangkan di kamar mandi pria itu mengguyur tubuhnya dengan air shower mengalir entah sudah berapa banyak. Dadanya terlihat kembang kempis menahan gejolak amarah yang tidak tau harus dia luapkan dengan siapa. Sedangkan di luar Zahira sudah menunggu dengan tidak sabar.
"Radit, kenapa lama sekali?" Zahira mengetuk kamar mandi yang terkunci, padahal biasanya Radit tak pernah menguncinya.
Belum habis lelah semalam, begitu rasa cinta yang mereka miliki sama besar dan sama luas untuk selalu di arungi. Kekhawatiran yang ia rasakan tadi sudah hilang bersama kembalinya Radit dalam keadaan baik-baik saja, hingga kantuk itu datang dan lupa bahwa ia sedang menunggu Radit yang tak kunjung selesai dengan aktifitas mandi yang begitu lama.
Radit keluar dengan rambut basah dan handuk di pinggang seperti biasa, itu begitu terlihat menggoda jika Zahira tidak sedang tidur. Radit mendekati wajah itu begitu cantik dan indah di pandang, seulas senyum terukir bahagia dan penuh cinta itulah yang ia rasakan, namun bayangan yang tadi terjadi bersama wanita lain kembali mengganggu perasaannya. Menghapus bahagia dan mengacaukan rasa yang penuh cinta, Radit memejamkan mata harus kembali menahan segala rasa, sesal, kesal dan marah. Merasa dirinya begitu kotor dan tidak pantas lagi membahagiakan Zahira, namun jika tanpa Zahira dia tak akan mampu, cintanya melampaui segalanya, bahkan kejujuran dan rasa tanggung jawab yang selalu menjadi prinsipnya ia abaikan karena terlalu takut kehilangan Zahira.
Malam itu, tak seperti biasanya Radit tidak melaksanakan sholat bersama Zahira, dia melamun di balkon seorang diri dengan tatapan yang jauh tak terbatas.
Zahira mendekat, memperhatikan Radit yang lebih banyak diam dan menolak saat di ajak makan dengan alasan masih kenyang, walaupun dengan setia dia menemani Zahira menghabiskan makanannya, tapi pria itu terlihat tidak bersemangat.
__ADS_1
"Radit sayang." panggilnya begitu mesra, mengusap bahu Radit dengan tangan kecilnya, jari-jari lentik dan kuku indah terawat itu biasanya akan senantiasa menggoda di mata Raditya suaminya.
"Iya." Radit menoleh. "Ada apa?" tanya Radit begitu lembut, tersenyum manis dan meraihnya kedalam pelukan hangat.
"Apa yang sedang kau pikirkan sayang?" suara Zahira terdengar merdu, sudah pasti ia sedang merayu, memenangkan hati Radit yang sedang gelisah, Zahira sungguh-sungguh mengetahui hal itu.
"Tidak ada, hanya memikirkan kita berdua." Radit memaksakan senyumnya, mengelus kepala Zahira dan mengecup keningnya.
"Mengapa dengan kita, bukankah kita sudah sangat bahagia? Bahkan di setiap hari tak pernah ada sekalipun pertengkaran antara kita Radit." ungkapnya begitu halus.
"Terkadang aku bosan Zahira, aku rindu saat-saat kita berada di Malaysia." Radit tersenyum.
"Aku juga, aku selalu mengingat saat kita selalu bersama. Sekolah dan belajar mengaji bersama. Terkadang kau menjahili aku hingga membuat ummi Nurul marah." Zahira tertawa, menyandar di dada Radit dengan begitu manja.
"Kau tahu sayang, menjahili gadis cantik sepertimu begitu membuatku bahagia, terkadang aku ingin sekali membuatmu menangis atas kejahilanku, dan setelahnya aku juga yang akan merayu dan meredakan tangismu. Tak sekali aku berkhayal tentang dirimu, selalu saja kau adalah objek dari setiap hal yang memenuhi imaginasiku." Radit memeluk Zahira begitu erat, ingatan-ingatan bahagia itu membuatnya melupakan kejadian itu.
"Aku sangat mencintai Radit." bisiknya begitu dekat hingga bibir itu menempel di pipi Radit.
"Aku juga sayang, bahkan melebihi cintamu padaku, dan jauh sebelum kau mencintaiku." Radit sangat menyayanginya, menikmati setiap kata yang keluar dari bibir merahnya, Zahira adalah penenang jiwa yang gelisah.
__ADS_1