
"Sebaiknya aku pulang." Radit berbalik, tak menyapa mantan mertuanya itu.
"Radit!" Merry melepaskan pelukan ayahnya, lalu mengejar Radit.
"Ayahmu baru saja datang, dan aku harus kembali ke kantor." ucap Radit datar.
Merry menatap ayahnya, lalu menatap Radit lagi. Ingin mencegah tapi rasanya tak mungkin, karena wajah Anwar sudah terlihat tak bersahabat.
Radit melanjutkan langkahnya menuju mobil, tak peduli Merry masih menatap kepergiannya di teras rumah.
"Apa lagi yang sudah kau lakukan sehingga dia mendekatimu?" tanya Anwar membuat Merry terkejut.
"Tidak ada Papa! Kami hanya kebetulan bertemu dan aku tidak rela Radit mendekati seorang gadis." jawab Merry menunduk.
"Ku harap kau tidak sedang mengulangi kesalahan yang sama, dan jangan mengambil resiko untuk memenuhi ambisimu memiliki anak David itu." Anwar mendekati putrinya.
"Ti-tidak Papa." jawabnya gugup.
"Ingat dulu dia sangat membencimu. Aku rasa seorang Radit tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk memilihmu lagi, sedang istri Anggara sudah menjanda saat ini." Anwar memperingatkan anaknya.
"Tapi dia tidak mau menerima Radit Papa! Dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika Radit sedang berusaha mendekati seorang gadis muda. Jujur saja, aku tidak suka!" ungkap Merry memberi jawaban.
"Kau yakin?" tanya Anwar lagi.
"Aku sangat yakin." Merry benar-benar tidak mau menerima kecurigaan Anwar.
Laki-laki tua itu hanya menarik nafas, ia takut putri semata wayangnya kembali terjebak dalam permainan penuh ambisi itu. Tapi ia juga tak bisa melarang jika sudah menyangkut kehendak Merry.
'Aku harus melakukan sesuatu untuk menjaga putriku.' gumamnya di dalam hati.
...***...
Keesokan harinya, Zahira sedang bersiap pergi ke kantor karena ada kontrak kerja baru yang harus ia tanda tangani, Ricky mengatakan jika hanya ada tiga perusahaan besar saja yang bekerja sama, namun tetap harus dengan tanda tangan Zahira saat ini sebagai pemimpin menggantikan Anggara.
Begitu pula Radit yang mendapat kabar mendadak dari Ricky, ia segera meluncur ke kantor Zahira, selain kontrak kerja yang besar, bertemu Zahira adalah tujuan utama laki-laki tampan itu.
"Ini tas siapa?" gumam Radit saat sudah di tengah jalan. Dia baru ingat jika kemarin ada Merry yang menumpang di mobilnya, sehingga ia berpikir untuk mengembalikan tas itu terlebih dahulu.
__ADS_1
Mobil melaju kearah lain, hingga satu jam kemudian tiba di rumah sederhana Merry, ia segera turun dari mobilnya.
"Radit!" Merry berlari keluar rumah menuju mobil silver Radit.
"Ini!" Radit meraih tas dan memberikannya kepada Merry dengan telunjuk mengait di tali tas berwarna hitam itu.
Merry meraihnya dengan kesal.
Radit kembali masuk tanpa menyapa. Namun dengan gesit Merry ikut masuk ke dalam mobil, seperti biasa wanita itu tak akan melepaskan Radit begitu saja.
Radit menoleh tajam. Percuma, Merry tak akan pergi walau di usir sekalipun.
"Kita mau kemana?" tanya Merry dengan wajah tampak bahagia.
"Ke kantor Anggara!" jawab Radit tanpa menoleh.
Merry sedikit terkejut, tampak jelas dari matanya yang menatap jalanan dengan mulut sedikit terbuka. "Untuk apa kita ke sana?" tanya Merry sedikit gugup.
"Tanda tangan proyek baru, proyek besar dan menguntungkan. Aku sudah lama menunggu proyek ini, dan akhirnya Om Ricky menghubungiku semalam." jawab Radit hanya melirik kaca depan.
"Jika tidak suka kau turun saja!" Radit tetap fokus dengan jalanan.
"Aku ikut!" jawabnya cepat.
"Apa kau ingin bertemu Zahira?" tanya Radit tersenyum sinis.
"Tidak! Untuk apa aku bertemu dengannya? Atau malah kau yang ingin bertemu dengannya?" Merry menatap tajam Radit.
"Kalau iya?" Radit menoleh wanita di sampingnya itu, ia ingin tahu bagaimana reaksi Merry.
Merry menunduk, entah jika wanita itu sedang berusaha mati-matian menutupi kebenciannya, namun sedikit Radit melihat, jika tangan Merry mengepal begitu erat.
"Dia tidak suka bertemu denganku!" sambung Radit lagi. " Aku juga tidak menyukai sikapnya yang sekarang, dia terlalu keras kepala dan sombong setelah memiliki semua harta Anggara." Radit kembali melirik wajah Merry.
"Dia memang sombong, dan mengerikan." jawab Merry, sepertinya ia kembali tenang.
"Benarkah?" Radit tak peduli, dia fokus dengan mobilnya sudah memasuki halaman kantor mewah Anggara.
__ADS_1
Merry tak beranjak, membiarkan Radit keluar dan meninggalkannya. Memilih tinggal di mobil melihat betapa besarnya kantor Anggara. "Wanita itu selalu beruntung, Anggara mati dia menjadi kaya raya. Harusnya tembakkan ku tidak meleset, kalau dia mati Anggara akan mencari wanita yang lain lagi. Hemmm..." Merry tersenyum sinis membayangkan hal itu. "Tapi jika tua Bangka itu tidak mati, aku pasti dalam bahaya." dia menyandar kesal. Memikirkan banyak hal membuatnya bosan di dalam mobil, kemudian membuka pintu dan keluar.
Mobil mewah berwarna putih memasuki halaman kantor Anggara. Seorang sopir keluar lebih dulu, pria tinggi itu tampak sigap membukakan pintu mobil untuk seseorang yang ada di dalamnya, kebetulan bersebelahan dengan mobil Radit.
"Silahkan Nyonya." ucap sopir sekaligus pengawal bagi Zahira.
Zahira meraih tas dan mulai melangkah. Belum lagi kakinya keluar sempurna dari mobil mewah itu, mata beningnya di kejutkan dengan seseorang yang sedang berdiri menatap kagum gedung kantor mewah miliknya.
Seketika darahnya berdesir satu arah, membuat ringan seluruh tubuhnya, dadanya bergemuruh hebat, dengan nafas kembang kempis dan emosi yang tak terkendali.
"*Sayang!" suara Anggara menggema di telinganya.
"Mas! Kau tertembak! Kita harus ke rumah sakit."
"Tidak!"
"Mas...!"
"Mas*.......!"
Air matanya mengalir hangat, Zahira melangkah perlahan, mendekati wanita yang sedang asyik menikmati keindahan kantor suami yang telah di habisi oleh wanita di hadapannya.
Bayangan-bayangan kepergian Anggara sangat jelas hadir di pelupuk mata, seakan air mata yang masih menggenang itu adalah kaca dimana wajah Anggara begitu tampan, tersenyum dan menangis bergantian. Tubuh yang bergetar itu merasa panas, juga teringat ketika Anggara memeluk erat, menggendong dengan mesra, mengecup pipinya juga anak-anak yang begitu di sayangnya.
"Aku mencintaimu!" ucapnya mengiang di telinga.
Dan
"Aaaaakkhhh..!!!" teriakan Merry terdengar melengking di pagi itu. Wanita berambut ikal itu begitu terkejut dengan serangan mendadak.
Rambutnya ditarik Zahira begitu kuat sehingga membuat tubuhnya terhuyung ke belakang. Tangannya tak sanggup melawan walau berkali-kali ia memegang tangan Zahira tapi sepertinya tangan kecil itu begitu kuat.
"Kau gila!" teriak Merry menahan sakit.
"Aku memang gila! Aku akan menghabisimu dengan tanganku!" geram Zahira, ia membalikkan tubuh Merry dan mencekik lehernya dengan begitu emosi, mata beningnya berkilat amarah, tangannya seolah berubah menjadi besi, menekan begitu kuat, memukul, mencengkeram wajah Merry, juga merobek pakaian Merry dengan membabi buta.
"Tolong....!" teriak Merry mengulurkan tangannya ke atas berharap ada seseorang melihat dan mendengarnya.
__ADS_1