Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
62. Pembohong besar


__ADS_3

"Kalau begitu aku pulang sendiri saja."


"Tidak perlu pulang, ini rumahmu." David menyela.


"Tentu saja Papa, untuk saat ini aku hanya butuh sedikit waktu untuk menenangkan diri. Setelah semuanya berlalu aku akan pulang merawat Papa dan Mama di masa tua, aku akan menyayangi Papa dan Mama seperti kalian menyayangi Aku saat masih kecil." Zahira merayu David dengan senyum dan ucapan lembutnya.


"Apa kau bisa berjanji?" tanya David menahan kesedihan.


"Insyaallah aku janji Papa."


"Kalau begitu pulanglah, tapi setelah itu Papa akan menunggumu pulang ke rumah ini." David harus merelakannya, ia tak mungkin menahan Zahira dalam kesedihan yang akan semakin menyiksanya.


"Iya." jawabnya singkat, tersenyum meyakinkan David. "Assalamualaikum Papa, Mama." ucapnya mencium punggung tangan David dan Ayu, Zahira berlalu mengejar Anggara dan Ricky.


"Mengapa Papa mengizinkannya pergi?" Radit menatap tajam pada David.


"Karena dia juga berhak mendapatkan ketenangan." jawab David.


"Dia istriku!" Radit merasa kesal.


"Pertahankan jika kau mampu!" David membuang pandangannya, ia malas berdebat dengan Radit.


"Zahira!" panggilnya, setelah Radit keluar dan segera meraih tangan gadis itu. "Aku akan mengantarmu." ucapnya sambil memegang pergelangan tangan Zahira.


"Aku ingin pulang sendirian saja Radit." jawabnya dengan suara pelan dan sedih.


"Tapi kita belum berpisah, aku masih suamimu. Bahkan semalam kita masih bersama melakukannya dengan penuh rindu." Radit sengaja mengingatkan Zahira.


Zahira tak menyangka, wajah cantik itu merah padam mendengar ungkapan Radit. "Itu keinginanmu." jawabnya kesal, ia segera melepaskan tangan Radit dan masuk ke dalam mobil Ricky.


"Pulanglah aku akan ikut mobil Ricky saja." Anggara meminta sopir yang sedari tadi siap memegang pintu mobilnya untuk pulang sendiri.


"Zahira kita tidak bisa terus seperti ini, Zahira!" Radit mencoba mencegah, namun mobil sudah melaju meninggalkan ia sendiri.


Radit menatap mobil itu dengan putus asa, pria muda itu sungguh-sungguh kehabisan cara untuk mempertahankan pernikahannya.


Sedangkan di dalam mobil, ketiga orang itu masih diam tak ada yang memulai pembicaraan. Anggara menatap jalanan sebelah kiri, Zahira menatap jalanan sebelah kanan, dan Ricky menatap lurus ke depan sambil mengemudi.


Lama


Hingga Ricky memecah keheningan.


"Sayang apa kau mengantuk?" tanya Ricky dengan keisengannya.

__ADS_1


"Kau senang sekali memanggilnya sayang." Anggara menatap tajam padanya.


"Mengapa kau marah, aku hanya mengutarakan perasaan sayangku." jawabnya tak peduli.


"Lama-lama aku akan benar-benar menghajarmu." ucap Anggara geram.


"Kau tidak dengar tadi, semalam mereka masih menghabiskan waktu bersama, harusnya kau marah pada Radit bukan padaku!" Ricky semakin mengerjainya, dia tahu Anggara sedang memikirkan itu.


"Kenapa harus marah?" Zahira merasa kesal di bicarakan dua pria dewasa itu.


"Ah, a_ aku tidak marah." Anggara menjadi gugup.


"Bohong, dia sedang cemburu." Ricky semakin mengerjainya.


Zahira menoleh, mencari jawaban atas pernyataan asisten tampan itu.


"Kita sedang selingkuh bukan?" Anggara mencari kata-kata yang tepat namun akhirnya kata-kata itu saja yang dapat ia katakan.


"Aku tidak merasa." jawab Zahira kembali menyandar.


"Harusnya kau senang aku mau berselingkuh denganmu, aku tampan, kaya dan pengusaha. Kau mau yang seperti apa? Apa masih menyukai laki-laki yang hobi tidur dengan pelakor?" Anggara kesal sekali bahkan sebagai selingkuhan ia tidak dianggap.


"Kenapa kau marah?" Zahira masih tak mengerti.


"Tentu saja aku marah." jawabnya.


"Ricky kau urus perceraiannya secepat mungkin dan buat gelar janda itu dalam waktu kurang dari sebulan!" Anggara malas sekali selalu berdebat dengan menahan rasa gemas di hatinya.


"Siap!" jawab Ricky cepat.


"Apa maksudnya?" Zahira menatap jengah pada pria tampan di sampingnya.


"Lihat saja, aku akan membuat mulut kecilmu itu diam selamanya." ucapnya gemas.


"Kau mau menghabisiku?" tanya Zahira, wajah cantiknya terlihat takut.


Anggara mendekatkan wajahnya. "Aku akan menghabisimu, benar-benar menghabisimu." ucapnya dingin, semakin mendekat dan membuat gadis itu menyandar tak berkutik.


"Kau habisi aku sekarang saja, agar aku terbebas dari rasa sakit ini." ucapnya pelan setengah berbisik.


Namun berbeda yang di rasakan Anggara pria itu sakit kepala mendengar ucapan Zahira, ia pria normal yang sedang kesulitan mendengar kata-kata mesra dari mulut kecil itu, mencoba memejamkan mata namun sia-sia hatinya masih bergejolak luar biasa.


"Stop!" Anggara meminta Ricky berhenti.

__ADS_1


"Ya!" Ricky benar-benar berhenti.


"Aku turun disini saja, sebelum aku menjadi tidak waras." ucapnya membuka pintu dan menutupnya kembali.


Zahira terheran-heran, masih memandang pria itu hingga mobil mereka menjauh dan pria tampan itu terlihat semakin kecil.


"Kanapa dia turun?" tanya Zahira pada Ricky.


"Dia takut khilaf." jawabnya sangat jelas.


"Apa dia tidak suka satu mobil denganku?" tanya Zahira lagi.


"Dia mencintaimu Zahira, sangat-sangat mencintaimu." Ricky melirik gadis itu dari kaca.


"Apa tidak malu menikahi seorang janda, lagi pula aku tak punya kelebihan apa-apa." jawabnya lemas.


"Di dunia ini yang dia cintai hanyalah kau saja, bahkan sebelum kau menikah. Atau boleh di katakan jauh saat kau lahir ke dunia ini." Ricky tersenyum.


"Radit juga mencintai aku sejak saat aku masih kecil." ucapnya sedih.


"Tapi kau akan lebih aman bersama Anggara. Dia benar-benar menginginkanmu, dia ingin kau memegang semua hartanya, hanya kau saja Zahira."


Zahira terdiam, dia tak ingin memikirkan pria lain di saat akan berpisah dengan Radit. Bukankah perjuangannya masih panjang, bahkan sidang pertama belum di mulai.


*


Satu Minggu kemudian.


"Om, apa orang yang kemarin sudah menemukan bukti?" tanya Zahira pada Ricky.


"Tentu sayang." jawabnya seperti biasa, langsung mengajak Zahira masuk ruang persidangan.


Proses yang lama, Radit hadir dengan wajah lemas, ia juga tak mau kalah dengan Zahira, pria muda itu menggandeng dua pengacara sekaligus, ia kukuh ingin mempertahankan rumah tangganya.


Hingga tiba saat pihak Zahira di beri kesempatan untuk membuktikan tuntutan dan kesalahan yang di lakukan Radit.


Di dalam keterangan yang di terima pengacara Zahira di sebutkan, Radit menikah secara diam-diam dengan Merry di luar kota lengkap beserta tanggal dan hari pelaksanaannya, setiap bulannya Radit mengirimkan sejumlah uang nafkah untuk istri kedua senilai Rp 50 juta ke atas dengan nama rekening pribadi Raditya Jovanka, Raditya beberapa kali menemui dan memastikan kesehatan serta keselamatan istri kedua, termasuk memberikan tempat tinggal dan fasilitas yang ditempati istri kedua.


"Tidak! Itu tidak benar?" Radit mencoba membantah, ia menatap Zahira dengan memohon.


"Kau pembohong besar Radit!" Zahira berteriak di tengah persidangan dengan emosi yang sudah tak terbendung lagi.


"Zahira dengarkan aku!" Radit mendekati Zahira namun Zahira mundur hingga membuat keadaan kacau.

__ADS_1


"Mohon tenang dulu!" salah satu petugas pengadilan meminta mereka duduk kembali.


"Aku benci padamu!" ucapnya, berlari meninggalkan persidangan.


__ADS_2