
"Ah, emm tadi a-ada orang berkelahi. Dan, aku mencoba melerai perkelahian mereka, tapi malah pukulan mereka mengenai wajahku." jawab Anggara berusaha meyakinkan.
"Tapi ini sakit sekali!" Zahira menyentuh sudut bibir suaminya yang pecah, juga tulang pipi sebelah kanan Anggara yang biru.
Anggara langsung memeluk tubuh berisi itu, sejenak membenamkan wajahnya dan menghisap aroma vanila mawar di tubuh kesayangan.
"Aku tidak sakit jika sudah memeluk tubuh wangimu, kau adalah obat dari semua sakit juga gelisah di hatiku. Aku sangat mencintaimu Zahira sayang." ucapnya masih memejamkan mata, memeluk erat tak mau merubah posisinya.
"Aku juga mencintaimu." jawab Zahira menikmati delapan hangat itu.
Anggara mengangkat tubuh Zahira, membawanya duduk di ranjang empuk milik mereka. Menatap mesra dengan tangan kanannya mengelus perut yang penuh itu.
"Baru tiga bulan, satu Minggu." ucap pria itu masih terus mengelus perut Zahira.
"Artinya masih perlu lima bulan lebih untuk menggendong mereka." jawab Zahira tersenyum hangat.
"Kita akan menghabiskan waktu berdua selama lima bulan ini, agar aku tidak merasa cemburu jika mereka sudah keluar." Anggara memeluk Zahira lagi.
"Tentu saja. Aku bahkan tidak mau di tinggal bekerja olehmu, ingin selalu bersamamu." jawab Zahira.
"Kita akan selalu bersama."
*
Suara tangis di rumah dua lantai itu menggema, sepertinya itu sudah berlangsung cukup lama sehingga membuat ibunya ikut berbicara juga dengan wajah kesal sekali.
"Apa masuk angin ya Non?" seorang asisten rumah tangga juga terlihat begitu khawatir sambil terus mengusap-usap punggung bayi kecil itu.
"Aku tidak tau Bi!" jawab Merry bingung.
"Coba hubungi Nyonya saja." usul asisten rumah tangga itu lagi.
"Benar juga." Merry meraih ponselnya segera menghubungi Ayu.
"Ada apa Merry?" tanya Ayu langsung saja tanpa basa-basi.
"Laura menangis terus Tante, aku bingung dia tetap tidak bisa diam meskipun sudah di beri susu." jelas Merry benar-benar terdengar khawatir.
__ADS_1
"Sebentar lagi aku akan ke sana bersama Radit." Ayu mengakhiri panggilan teleponnya.
Mery ingin bicara tapi panggilan itu sudah terputus, ia masih bingung mengapa Radit pulang ke rumah Ayu, bukankah seharusnya dia kembali nanti malam?
Merry mulai gelisah, berpikiran macam-macam dan hal yang paling ia takutkan adalah Radit tahu tentang Zahira.
"Non!"
Panggilan Bibi membuatnya berhenti dengan pikiran-pikiran rumitnya.
"Sayang, berhentilah menangis. Apa yang kau rasakan sehingga terus menjerit seperti ini? Jangan membuat Mama semakin pusing." Merry meraih dan menggendong gadis kecil itu.
Sejenak kemudian Laura berhenti menangis, mata satunya terlihat menutup, entah jika ia lelah menangis lalu tertidur dengan sendirinya.
"Merry!" suara ibu mertua itu terdengar dengan langkah semakin mendekat bersama pria tampan di belakangnya.
"Dia baru saja tertidur Tante." jawab Merry menunjukan wajah bayi dalam gendongannya.
Radit mendekat dan meraih tubuh mungil itu, tangan kokohnya memeluk lembut, mengecup sedikit pipi halus bayi perempuan itu.
"Mungkin saja." Radit tersenyum, membawa Laura ke tempat tidur.
Ayu menoleh Merry sejenak, ia duduk di sofa ruangan itu di ikuti Merry di sampingnya.
"Mengapa Radit sudah pulang, bukankah seharusnya mereka pulang nanti malam?" tanya Mery masih penasaran.
"Radit tidak jadi bekerja, karena di sana dia melihat Zahira." Ayu tak mau menutupi apapun.
Deg
Ia sangat terkejut tapi tak hanya itu, ia sedang ketakutan karena Radit masih mencintai wanita itu, terlebih lagi mereka baru saja akan menikah lagi. Dan sepertinya Zahira akan menjadi penghalang untuk pernikahan mereka.
Merry benar-benar gusar, ia sedang marah, kesal dan jengkel. Tentu saja hanya di dalam hati, ia tak akan memperlihatkan itu semua pada ibu mertua yang mulai bisa ia kelabuhi.
"Merry!" panggil Ayu, itu bukan hanya sekali tapi untuk yang ketiga kali.
"Iya Tante." Merry tersadar dari pikirannya yang berkelana jauh pada Zahira.
__ADS_1
"Ku harap kau mendukung Radit karena dia akan bekerja di perusahaan miliknya. Untuk menjadi seorang Direktur utama tidaklah mudah, butuh waktu dan dukungan penuh termasuk darimu." ucap Ayu.
"Radit akan memegang perusahaan Tante? tanya Merry bahagia, tentu ia senang karena sebentar lagi akan menjadi seorang istri Direktur perusahaan besar.
"Ya, dan ku harap kau tidak meributkan kehadiran Zahira. Dia sudah bahagia bersama suaminya, dan kau tidak perlu khawatir mereka akan kembali bersama." pinta Ayu benar-benar serius, ia sungguh khawatir dengan kondisi Radit yang baru saja pulih dari depresi beratnya.
"Bukankah dia sudah meninggal?" tanya Merry pura-pura tidak mengetahui.
"Dia belum meninggal, yang meninggal itu adalah anak buah Anggara." jelas Ayu, ingin sekali ia bicara banyak, tapi sejenak ia berpikir jika ia tak bisa berbicara dengan sembarang orang, bahkan menantunya sendiri.
"Mengapa anak buah Anggara bisa ada di mobil itu Tante?" tanya Merry masih ingin mengetahui semuanya.
"Anggara memang menyayangi Zahira sejak kecil, dan Zahira memakai jasa Pengacara Anggara saat menggugat cerai Radit." jawab Ayu seadanya.
"Apa Zahira selingkuh dengan Anggara?" tanya Merry tiba-tiba.
Ayu menatap heran dengan menantunya itu, mata tajamnya seolah menemukan sesuatu.
"Maaf, aku tidak terlalu mengetahui masalah itu." ucap Merry menunduk.
"Zahira tidak seperti itu, aku yang membesarkan dan mendidiknya. Dan kau tahu ibunya adalah seorang wanita baik-baik yang menjadi rebutan banyak pria berkelas." Ayu jadi sedikit tersinggung dengan pertanyaan Merry baru saja.
"Maaf Tante, aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya heran dengan kedekatan Zahira dengan Anggara." jawabnya mencoba mencari alasan.
"Jika putriku berselingkuh, bagaimana denganmu?" jawab Ayu semakin kesal.
Wanita Empat puluhan itu meraih tas dan segera meninggalkan rumah Radit. Entah mengapa ia merasa gerah berlama-lama di sana.
Sejenak Ayu duduk menyandar di dalam mobilnya, menetralkan pikiran dan juga menghirup udara bebas agar tak semakin emosi.
"Mungkin aku yang terlalu sensitif." gumamnya sendiri.
Lalu kemudian tersenyum lelah, menyadari jika dia selalu saja menjadi wanita yang bengis jika ada yang menyinggung tentang kakaknya. Sama halnya jika itu tentang Zahira, padahal Merry adalah menantu saat ini, tapi tetap saja Zahira adalah penting, ibarat hati dan buah hati, maka Zahira adalah sebagian dari buah hatinya.
Matanya ingin menangis, tapi sudahlah! Tak perlu ada air mata saat putrinya sedang berbahagia, mungkin besok atau lusa ia ingin melihat kebahagiaan itu langsung. Ikut tersenyum ketika gadis kesayangan itu tersenyum, walaupun itu bukan bersama Radit, Anggara-pun tak kalah baik.
Mungkin Tuhan sedang membayar cinta Anggara yang sudah ia berikan semenjak puluhan tahun yang lalu, kebahagiaan yang sempurna saat ini tunai ia rasakan.
__ADS_1