
"Di lantai atas?" Zahira melihat pintu lift di depan mereka.
"Iya." Anggara menekan tombol lift tersebut lalu pintunya terbuka.
"Apa tidak menunggu Radit?" Anggara melihat gadis itu akan segera masuk tanpa menoleh.
"Aku tidak tau dia dimana, nanti aku akan menghubunginya saja setelah di kamar." ucapnya melangkah masuk.
"Zahira."
Radit datang setengah berlari dan segera masuk lift bersama Zahira. "Kau kemana saja?" Zahira menatap heran padanya, sungguh Radit tak pernah meninggalkan Zahira berlama-lama.
Radit melirik Anggara sejenak, namun kemudian ia berusaha bersikap seperti biasa. "Tadi aku mencari toilet sayang, dan bertemu teman." ucapnya, pintu lift tertutup meninggalkan Anggara yang masih diam dengan mata tak lepas dari Radit yang tampak serba salah.
"Aku ingin istirahat di sini saja, lagi pula terlalu jauh untuk pulang karena hari sudah tengah malam." Zahira mengusap matanya yang terlihat sayu, dia mengantuk.
"Maaf sayang." Radit merasa bersalah, sudah pasti karena dia memang bersalah.
Lift berhenti dan mereka keluar menuju kamar VIP yang di berikan Anggara, Radit memasukkan card dan pintunya terbuka.
"Ah akhirnya aku bisa istirahat." Zahira masuk dan merebahkan tubuhnya di ranjang big size nan empuk itu.
Radit masih diam hanya tersenyum melihat gadis itu tidur tanpa mengganti baju, Radit mendekat dan ikut berbaring.
"Sayang." Radit memeluknya erat, menikmati wanginya tubuh mungil itu begitu selalu membuatnya rindu.
Zahira tersenyum sambil memejamkan mata, dia tahu semalam bahkan Radit tidak menyentuhnya, mungkin Radit sedang menginginkan hal itu. Zahira membalas pelukan Radit dan mengecup pipi suaminya, dan benar saja ia berhasil membuat Radit memulai aktivitas hangat itu.
"Sayang hijabmu sulit sekali di lepas." Radit sudah tidak sabar, ingin rasanya langsung merobek dan membuang namun ingat mereka sedang tidak membawa baju ganti.
"Sebentar." ucap Zahira pelan dan merdu, tangan kecil itu melepas hijabnya perlahan.
__ADS_1
"Kau memang sangat cantik sayang." Radit menatap wajah itu dengan kagum, seakan itu adalah pertama kali ia melihatnya, terlebih lagi dengan polesan make up tipis dan warna lipstik yang menggoda membuat Radit semakin tak terkendali.
"Aku sangat mencintaimu Zahira sayang." bisiknya di sela permainan panas itu.
"Aku juga sayang." Zahira ikut berbisik, malam ini Radit melupakan masalahnya dengan Merry, dia berharap tak mengingatnya lagi selamanya.
Pagi hari sebagian tamu yang menginap sudah pulang ke rumah masing-masing, termasuk Zahira dan Radit mereka pulang ke rumah dengan senyum bahagia. Suasana baru di hotel itu membuat Radit sedikit bisa mengendalikan kekesalannya terhadap Merry, pria itu tak berhenti tersenyum menatap Zahira di sampingnya yang menyandar manja.
"Sayang aku ingin segera sampai di rumah." Radit masih tersenyum, matanya berusaha fokus dengan jalanan di depan sana.
"Apa kau sangat lelah?" Zahira mendongak, dia khawatir suaminya lelah atau mengantuk.
"Tidak." jawab Radit masih dengan senyum manisnya.
"Lalu?" Zahira semakin heran.
"Aku ingin mengulang yang semalam, kau membuatku gila." Radit menatap nakal pada istri cantiknya.
"Aku benar-benar menyukainya. Boleh tahu kau belajar di mana?" Radit semakin membuat gadis itu malu.
"Aku hanya memikirkannya, tidak belajar dari siapapun." gumamnya pelan.
Radit terkekeh geli dan gemas sekali ingin segera melahap habis istri cantiknya itu. "Tidak usah malu, kau mendapat pahala karena sudah membuat suamimu senang sekali semalam."
"Apa selama ini kau tidak senang?" Zahira menatap mata sipit suaminya.
"Sangat senang sayang, hanya aku tidak menyangka istriku begitu luar biasa." Radit menoleh dan mengedipkan sebelah matanya.
"Aku takut kau bosan padaku Radit, aku sadar seorang istri terkadang merasa tidak penting dengan penampilan saat bersama suami, tapi rata-rata alasan suami selingkuh dari istrinya karena tidak puas dengan pelayanan yang di dapatkan dari istrinya. Meskipun cantik itu relatif, tapi kesan yang mendalam juga bisa membuat suami betah, baik itu kesan saat menyiapkan dan mengurus suami, atau juga saat di ranjang." jelas Zahira begitu serius.
"Aku tak mungkin bosan, tidakkah kau tahu bahwa duniaku hanya terisi dengan dirimu saja Zahira." Radit menggenggam tangan kecil itu.
__ADS_1
"Tapi membahagiakanmu juga kewajiban ku." Zahira kembali menyandar di bahu Radit hingga sampai di rumah.
*
Senin pagi-pagi sekali Zahira sudah bangun melaksanakan sholat dan menyiapkan segala hal karena mereka berdua harus sekolah dan kuliah. Sejenak Zahira menoleh Radit yang masih tertidur di ranjang, entah mengapa beberapa hari ini Radit terlihat malas untuk melaksanakan sholat. Tidak seperti biasanya, dia akan bangun lebih dulu meminta jatahnya dan setelahnya mandi berdua, sholat berdua lalu bersiap pergi belajar atau bekerja. Sebagai seorang istri Zahira merasa khawatir akan perubahan itu, entah mengapa perasannya menjadi sedikit sesak seakan ada yang mengganjal di rongga dada. Tapi apa?
Rasanya jika selingkuh tak akan mungkin Radit lakukan, bukankah dia begitu mencinta Zahira, lalu kenapa rasanya ada yang berbeda? Gadis itu memikirkan banyak hal. Namun tak lama setelahnya Radit bangun dan segera mandi.
"Sayang, nanti aku akan menjemputmu." Radit mengecup kening, pipi dan bibir merah miliknya.
"Jangan macam-macam di sekolahmu Radit." ucap Zahira pelan di sela ciuman hangat suaminya.
"Iya sayang." jawab pria itu, seakan belum tuntas dengan keinginan yang tertahan.
Zahira beranjak, kali ini Radit tidak membukakan pintu namun membiarkan Zahira masuk ke gerbang kampus sendiri hingga tak terlihat barulah Radit meninggalkan tempat itu.
Di sekolah Radit langsung menuju kelas dan duduk di bangkunya dengan tak menoleh siapapun, karena pelajaran akan segera di mulai. Nyaris terlambat, itulah hari ini Radit sedikit kesiangan namun tak mengurangi fokusnya untuk belajar, Radit begitu serius mengikuti pelajaran hingga selesai.
Masih tak beranjak, pria itu berpikir untuk segera pindah dari sekolah ini, namun ujian semester yang sebentar lagi menjadi kendala untuknya, jika saja masih lama akan sangat mudah bagi Radit untuk mengurus kepindahan sekolahnya.
Sepi.
Tiba-tiba ruangan telah sepi saat semua siswa-siswi beristirahat, mereka semua sibuk mencari makanan untuk mengisi perut.
"Radit aku ingin kau tetap menikah denganku." suara menjengkelkan itu kembali terdengar.
"Sudah ku bilang tidak mungkin Merry, aku sudah beristri. Jadi ku minta padamu lupakan aku, atau kau akan sengsara dengan hidup yang terus memaksa memiliki aku." Radit tak menoleh.
"Aku takut hamil Radit." ucapnya pelan.
"Bukan urusanku. Lagi pula aku tidak yakin kau melakukan itu pertama kali denganku." Radit tersenyum sinis tanpa menoleh, namun masih terlihat sudut bibirnya tertarik miring.
__ADS_1
"Kau brengsek Radit!" Merry berdiri di samping Radit dengan penuh amarah.