
Zahira menautkan alisnya, bagaimana mungkin Ayra masuk kedalam mobil Reza? Jika ingin keluar harusnya tinggal mengatakan kepada sopir, mereka siap mengantar kemana saja. Apakah mereka sudah saling mengenal? ia sibuk berpikir.
"Baiklah." Zahira melihat ponsel yang sejak tadi di genggamannya. Ia bahkan tak terpikir untuk menghubungi Ayra.
Namun sejenak kemudian ia menghubungi seseorang.
"Apakah Kak Aira bersamamu Mas, tadi sopirku bilang dia masuk ke dalam mobilmu?" Zahira sedikit berbohong jika Jia yang mengatakannya.
"Oh, tadi dia ada keperluan mendadak. Aku bahkan tidak tahu namanya!" jawab Reza di seberang telepon.
"Dia kakakku, baru satu Minggu yang lalu datang dari London. Apa kau tidak lihat jika wajah kami sedikit mirip?"
"Oh." jawab Reza singkat.
"Bisakah mengatakan padanya agar segera pulang?"
...***...
Beberapa saat kemudian belum juga tiba, Zahira sedikit khawatir dengan kepergian mendadaknya, tapi juga percaya jika Ayra akan baik-baik saja bersama Reza.
"Nyonya, anda harus bersiap karena empat puluh menit lagi kita akan ke Cafe, sebaiknya tidak membiarkan rekan bisnis anda menunggu." Jia mengingatkan. Wanita kurus itu sudah berpakaian rapi.
"Ya." Zahira beranjak dari duduknya, segera mengganti pakaian dan meminta Jia mengambil jas yang ada di lantai dua.
Tak berapa lama kemudian Zahira sudah siap dengan pakaian rapi, Jia memberikan jas Anggara yang di mintanya.
"Terimakasih." ucap Zahira memakai jas tersebut dari tangan Jia. "Kau terlalu melayani aku." Zahira tertawa.
"Jika aku menikah maka waktuku bersamamu akan berkurang Nyonya." jawabnya dengan wajah datar, tapi jelas sekali dia sedang memikirkan kebersamaan mereka.
"Kita akan satu keluarga jika kau menerima keponakan suamiku, anak-anakku adalah adik bagimu." jelas Zahira dengan senyum tulus. "Tapi jika kau bersedia, jika tidak aku tak akan memaksamu." ucapnya lagi.
Terdengar seseorang masuk dengan langkah sedikit cepat.
"Kak Ayra?" Zahira mendekati Kakak sepupunya tersebut.
"Aku hanya keluar sebentar, niat hati ingin membeli sesuatu tapi tidak jadi." jelasnya dengan sedikit gugup.
"Mengapa tidak jadi?" tanya Zahira menatap heran.
__ADS_1
"Aku, lupa membawa uang." jawabnya kemudian berlalu naik kelantai dua.
"Itu aneh sekali." Zahira tertawa.
"Kak, sebaiknya Kakak catat saja apa yang Kak Ayra butuhkan, biar nanti sopir yang membelikannya, atau kurir yang mengantar." ucap Zahira sedikit berteriak.
"Baiklah, nanti saja tidak apa-apa." jawab Ayra sudah berada di anak tangga bagian atas.
Zahira masih menatapnya heran, entah apa yang sedang di pikirkan Ayra sehingga bisa lupa membawa uang.
"Sebaiknya kita berangkat Nyonya." Jia berjalan lebih dulu menyiapkan mobil.
Zahira meraih tas dan kemudian mengikuti Jia keluar untuk pergi bersama.
"Jia?" Zahira memulai obrolan pada gadis yang menyetir di sebelahnya.
"Iya." jawabnya seperti biasa, singkat dan dingin.
"Aku rasa Kak Ayra sedang memiliki masalah sehingga ia datang kemari." ungkap Zahira tiba-tiba.
Membuat Jia menoleh, tapi kemudian kembali fokus dengan jalanan.
Jia masih tak menjawab, bahkan tak menunjukkan ekspresi apa-apa.
"Aku rasa dia sedang memendam sesuatu, dan kita tidak tahu. Atau memang kita tidak perlu tahu?" Zahira menebak-nebak.
"Lama-lama, kita akan tahu." jawab Jia kemudian.
Zahira hanya mengangguk-angguk, ia tidak tahu apa yang sedang di rahasiakan saudaranya, tapi benar kata Jia jika lama-lama akan ketahuan. Tapi apa?
"Kita sudah sampai Nyonya." Jia memarkirkan mobil mereka.
"Kau hubungi Akbar untuk menemanimu. Aku tidak akan lama." Zahira mengisyaratkan jika mereka akan berbeda meja, tentu saja karena Zahira akan meeting bersama Lili. Atau dia sengaja meminta Jia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Akbar.
Jia mengangguk mengerti, kemudian masuk, bersama-sama sekaligus memastikan siapa saja yang akan bertemu majikannya, mata tajamnya bagai menusuk menatap satu persatu orang yang sudah duduk di meja.
Seorang laki-laki yang mengangguk hormat dengan senyum tipis, dia tahu jika Jia adalah bodyguard Anggara yang selalu menjaga istrinya kemana-mana. Itu hanya di balas anggukan sedikit tanpa senyuman olehnya.
"Maaf lama menunggu." ucap Zahira tersenyum ramah.
__ADS_1
"Sama sekali tidak Nyonya, baru beberapa menit saja." jawab salah seorang tak kalah ramah dan sopan.
Meeting yang hanya beberapa puluh menit. Lili sekretaris Zahira izin kembali kekantor lebih dulu, menyisakan Zahira yang sengaja belum beranjak.
"Apakah sudah selesai?" suara Akbar menyapanya.
"Sudah." Zahira beranjak dari duduknya berpindah ke meja sebelah bersama Jia dan Akbar.
"Zahira." Akbar langsung saja berbicara serius. Ia tahu jika Zahira tak punya waktu banyak di luar rumah.
"Hem." Zahira mengatur duduknya agar lebih santai setelah meeting.
"Begini." Akbar menarik nafas lalu menghembuskan kemudian.
"Katakan saja, aku bukan calon mertua." Zahira tahu jika Akbar sedang kesulitan memulai pembicaraan.
Akbar sedikit salah tingkah. "Aku ingin mendatangi rumah orangtuanya di puncak. Ku harap kau tak keberatan jika dia libur dua hari."
Zahira menatap keduanya bergantian, Jia hanya menunduk. "Tentu saja boleh." Zahira tertawa. "Menikahlah secepat, aku tak bisa egois selalu menahan mu bersamaku. Kau juga harus bahagia, dan aku_"
"Aku tidak akan kemana-mana Nyonya, kami akan tinggal di sini. Aku akan tetap menjaga anak-anak hingga mereka benar-benar bisa mandiri." Jia menyahut.
Zahira menatapnya dengan terkejut, tapi sangat terharu.
"Benar." Akbar ikut menegaskan.
Tiba-tiba ia tak mampu bicara mendengar semua itu, benar saja jika Zahira memang menginginkan kebersamaan mereka selalu utuh. Entahlah, yang penting baginya Jia menikah dan berhak bahagia, tak selalu memikirkan pekerjaan yang membebani dirinya, Zahira tak ragu jika wanita pilihan Anggara adalah orang yang tulus, baik dan bersungguh-sungguh.
"Baiklah. Kau boleh pergi kapan saja kau mau, atau sore ini juga boleh, karena aku akan menginap di rumah Mama bersama Ayra dan anak-anak."
Kedua orang di hadapan Zahira tersebut saling berpandangan. "Kami akan berangkat nanti malam, setelah mengantarmu ke rumah Radit." ucap Akbar yakin.
"Baiklah." Zahira setuju, senyum manis mengembang di wajah cantiknya.
Membayangkan kehidupan baru bodyguard bengisnya tersebut akan berubah Seratus delapan puluh derajat setelah menikah, sulit di percaya ketika gadis galak tersebut merengek manja kepada Akbar keponakan suaminya.
ya, dulu juga ia merasakannya ketika bersama Radit, dan paling sempurna ketika bersama Anggara, pria dewasa yang selalu mesra, bahkan tak sadar sejak awal bertemu, dia memang selalu bisa menjinakkan sikap manja Zahira.
Membayangkan kebahagiaan orang lain membuatnya kembali menggali rindu dan duka.
__ADS_1