
Ayu terdiam sejenak.
"Aku tidak bermaksud begitu, aku hanya ingin anak-anakku tetap bersama. Kau tidak tahu rasanya menjadi aku, putraku bersalah, tapi aku tidak mau kehilangan putriku, aku menyayangi keduanya." jelas Ayu dengan wajah sedih.
"Kau hanya memikirkan putramu, tapi tidak memikirkan perasaan Zahira yang tersakiti. Dia butuh tempat untuk menyandar, butuh tempat untuk menenangkan diri, tapi kau membiarkan putramu yang egois itu selalu memaksakan kehendak dan mengganggunya. Dan yang paling menyedihkan, dia lari dari rumahnya sendiri tanpa uang, bahkan perusahaannya yang besar itu tak memberikan akses keuangan pada pemiliknya." Anggara tersenyum sinis.
"Apa?" Ayu menatap heran pada Anggara, ia tak percaya akan apa yang di dengarnya.
"Dan putramu memberikan nafkah puluhan juta untuk istri keduanya setiap bulan, apartemen juga fasilitas lainnya." jelas Anggara lagi.
Ayu tercengang dengan semua itu, apa benar Radit demikian peduli dengan Merry? Lalu Zahira?
"Bebaskan Zahira!" ucap Anggara berlalu.
"Anggara, dia putriku! Aku harap kau tidak ikut campur urusan kami terlalu jauh." Ayu menjadi khawatir dengan campur tangan Anggara.
"Dia bukan putrimu, biarkan dia memilih hidupnya sendiri." Anggara keluar dari rumah itu, tapi belum lagi ia masuk ke dalam mobil ada dua orang polisi datang ke rumah itu.
"Benar ini rumah pak David?" tanya salah satu polisi itu.
"Benar." Anggra menutup kembali mobilnya.
Ayu keluar dan segera menemui dua orang polisi, wajah wanita yang masih cantik itu tampak tegang dan bingung.
"Saya istrinya pak, suami saya sedang istirahat dia sakit." Ayu melangkah semakin mendekat.
"Begini Bu, telah terjadi kecelakaan di ujung jalan menuju kampus Tunas Bangsa, dengan nomor kendaraan yang kami temukan adalah milik keluarga pak David, beserta sebuah dompet dengan kartu identitas atas nama Zahira Putri Bramastya." ucapnya, menyerahkan dompet berwarna abu-abu.
"Dimana Zahira?" Anggara mendekat dengan wajah cemas sekali.
"Ada di rumah sakit, mobil yang di kendarainya meledak di tepi jurang menabrak pembatas yang memang sudah ada garis polisi, jenazah di temukan dalam keadaan terbakar dan sulit di kenali. Silahkan anda datang ke rumah sakit untuk memastikan identitas korban." jelas polisi itu lagi.
Anggara begitu terkejut, ia tak percaya, sungguh tak percaya. "Zahira!" ucap Anggara pelan.
__ADS_1
"Tidak pak, mungkin itu bukan putriku, aku yakin itu bukan putriku." Ayu menangis dan menggeleng tak percaya.
"Kita ke rumah sakit." Anggara meminta Ayu masuk ke mobilnya dan segera meluncur bersama polisi.
"Itu tidak mungkin Zahira, aku yakin polisi itu salah." Ayu masih mengatakannya berkali-kali, berbeda dengan Anggara yang diam tak mengucapkan apa-apa wajahnya terlihat tegang dan bersedih.
Tiba di rumah sakit, dua polisi itu sudah keluar dari dalam mobilnya lebih dulu.
"Mari Pak." Polisi itu meminta Anggara dan Ayu mengikuti mereka.
"Silahkan anda kenali barang-barang yang sudah di temukan." Polisi itu meminta Ayu dan Anggara masuk ke ruangan jenazah.
Tak lama terdengar tangis dan jeritan dari dalam sana, polisi itu saling memandang sejenak dan salah satunya menghubungi rekan yang lain.
Anggara juga keluar dengan wajah pucat dan lemas, pria itu tampak menghubungi seseorang.
"Ricky, jemput aku ke lokasi kecelakaan di ujung jalan menuju kampus Zahira. Aku di rumah sakit dan butuh dirimu sekarang juga." ucapnya pelan, pria itu terduduk menyandar di dinding dengan putus asa.
Sedangkan di rumah David, pria itu keluar dengan tubuhnya yang masih demam. Pria bertubuh kekar itu menoleh kesana-kemari mencari keberadaan Ayu, ia keluar dan mencarinya di halaman.
"Nyonya sedang ke rumah sakit bersama Tuan Anggara, tadi polisi datang kemari mengatakan kalau Nona Zahira kecelakaan." jawabnya jujur.
"Apa? Zahira!" ucapnya panik.
"Iya Tuan." jawab Satpam itu lagi.
"Antar aku ke rumah sakit, aku ingin menemui putriku." ucapnya bergetar, wajah yang lemas itu semakin pucat.
"Baik Tuan." salah satu satpam itu mendekati David dan membantunya masuk ke dalam mobil, dengan salah satu sopir segera masuk dan menyalakan mesinnya.
Hingga empat puluh menit kemudian David juga tiba di rumah sakit dengan langkah yang semakin gemetar. Pria itu masuk di bantu sopirnya, sebelum akhirnya bertemu dua orang polisi dan mereka memintanya menuju kamar jenazah.
"Mengapa putriku di sini, aku rasa kita salah kamar." ucap David menolak kenyataan, pria berbulu itu melihat istrinya sedang meraung-raung memanggil nama Zahira.
__ADS_1
"Sayang dimana Zahira?" ucapnya mendekat dengan mata berkaca-kaca, ia sungguh takut mendengar kabar kehilangan.
"Zahira." ucapnya di sela Isak tangis itu, dengan menunjuk jenazah yang di tutup kain putih.
"Dia bukan Zahira sayang!" ucap David tak mau melihatnya.
"Dia benar Zahira David seluruh tubuhnya terbakar bersama mobil ibunya. Dokter menemukan cincin pernikahannya dengan Radit di tangan Zahira, juga dompet dan Bros mawar yang masih menempel di hijab yang sudah terbakar." Ayu terus menangis histeris.
"Tidak, aku tidak percaya dia Zahira!" David mulai menangis, ia membuka kain penutup jenazah namun ia kecewa sama sekali tak dapat mengenali wajahnya, juga tangan dan kaki hangus terbakar. David melihat cincin dan Bros bunga yang di genggam Ayu, ternyata benar itu milik putrinya, di dalam cincin itu terukir nama Raditya.
David terpaku dengan air mata mengalir di sudut mata, pria itu sudah tak mampu bicara, tubuhnya kaku dengan mulut terbuka hingga akhirnya pingsan dengan satu tangan memegang dada.
"David!" jerit Ayu semakin bingung, wanita itu menjerit minta tolong hingga akhirnya dua orang suster masuk dan membawa pria bertubuh gagah itu masuk ke ruangan UGD.
Sedangkan di tempat lain, Radit baru saja bangun tidur dengan tangan Merry masih memeluk di dadanya. Pria itu melihat wajah istri keduanya itu sejenak, ia teringat aktivitas yang mereka lakukan tadi siang hingga menjelang sore dan berakhir tertidur bersama.
"Merry, aku harus pulang." Radit menggoyang pipi gadis itu.
Merry mulai bergerak, ia bangun dengan tubuh lelah karena memang mereka melakukannya dengan luar biasa.
"Tidak menginap saja." pintanya manja.
"Tidak, Papa sedang sakit aku tak enak jika meninggalkan mama sendirian." jawabnya beralasan.
"Baiklah, aku akan menunggumu meluangkan waktu untukku." jawanya lembut.
"Iya." jawab Radit memakai kembali pakaiannya.
"Aku akan semakin merindukanmu setelah hari ini." bisik Merry lagi memeluk Radit dan mengecup pipi suaminya.
"Kau memang selalu merindukan aku." Radit tersenyum sedikit menggoda Merry.
"Tapi kau tak pernah membalas rinduku." Merry semakin membuat Radit menyukainya.
__ADS_1
"Aku akan meluangkan waktu untukmu." Radit tak membalas pelukan gadis itu tapi hanya menikmati saja.
"Aku akan menunggumu setiap waktu."