Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
87. Bibit berudu


__ADS_3

Menyingkap tirai jendela, pria tinggi, putih dan tampan itu menatap keluar, langit yang jauh seakan mencerminkan rasa rindunya yang tak jua padam. Tak terlewatkan tiap titik awan yang terpisah, seakan menyingkap penghalang dan akan menampakkan wajah cantik di balik sana. Warnanya putih, biru, tipis dan tebal, bergumpal kecil juga besar, mereka perlahan berjalan mengikuti arah angin, yang kecil menyingkir mengikuti induknya, hingga memecah menjadi asap dan menguap di angkasa.


Zahira, nama yang masih terukir jelas di dalam hatinya.


"Kemanapun kau pergi, jika bebanmu adalah perasaan maka dia akan selalu ikut. Berbeda jika bebanmu adalah barang bawaan, maka ketika kau lelah bisa langsung kau lepaskan." David melihat anak semata wayangnya menatap langit dengan mata berkaca-kaca.


"Ini belum seberapa di bandingkan dengan kesalahanku padanya Papa, maka aku rela merasakannya." jawab Radit menunduk.


"Jika ada hal yang paling sulit di Dunia ini, itu adalah ikhlas. Apalagi mengikhlaskan orang yang tidak bersalah, itu hal yang lebih sulit bahkan di bilang mustahil." David ikut menatap langit yang jauh di sana. Dua pria itu terlarut sejenak dengan pikirannya masing-masing.


"Terkadang aku membayangkan, andai kesempatan itu masih ada." hatinya kembali teramat sakit.


"Jadilah pria yang bertanggung jawab, paling tidak pada dirimu sendiri. Jangan ulangi lagi kesalahan yang membuatmu menyesal, dan_"


Radit menoleh.


"Jangan mudah percaya pada siapapun yang terlihat baik, belum tentu kedalamannya benar-benar baik. Kau tahu, di dunia ini tidak banyak orang baik! Yang ada pura-pura baik, dan baik jika ada maunya." David menepuk lengan Radit dan berlalu dari kamar putranya.


Radit terdiam, dia sedang berpikir tentang orang baik, lebih tepatnya sedang mencari tahu siapakah yang di maksud ayahnya orang yang pura-pura baik?


*


"Dia sudah kembali Nona!" seorang pria memberi laporan kepada Merry yang sedang duduk di sofa dengan menahan perut buncitnya yang terasa berat.


"Iya. Dan kau lanjutkan tugasmu yang lain." jawab Merry mengibaskan satu tangannya meminta orang itu pergi.

__ADS_1


"Besok istri Anggara akan keluar, jadwalnya pergi ke salon pukul 10: 00 pagi." ucapnya langsung undur diri.


"Kirim alamat salonnya!" Merry sedikit berteriak karena pria itu sudah di ambang pintu, namun mengangguk sebelum ia menghilang.


Dia sedikit tersenyum, tapi kemudian merapatkan matanya dengan gigi mengerat. Dia sedang banyak pikiran, ingin segera bertemu Radit, tapi ia takut Ayu murka jika belum mendapatkan izinnya. Saat ini Merry hanya punya Ayu yang bisa ia harapkan untuk selalu bersama Radit, bahkan ia ragu jika Radit sudah benar-benar pulih dan menerimanya seperti sebelumnya.


"Aku harus menemui wanita itu, aku harus tahu apakah dia benar-benar Zahira." ucapnya lagi menghembuskan nafasnya.


Sudah pasti dia takut jika itu benar Zahira, tapi lagi-lagi dia merasa sangat percaya diri karena perutnya yang buncit itu akan ia pamerkan di hadapan Zahira, tentu saja, dia memiliki nilai lebih di bandingkan wanita yang di cintai suaminya. Malam ini ia akan habiskan dengan berpikir dan menyusun rencana untuk bertemu Zahira.


Malam yang sepi, tentu itu adalah ungkapan bagi orang yang jauh dari pasang. Radit yang di tinggal Zahira, Merry yang masih belum bertemu dengan Radit, wanita yang sudah menikah tapi jauh dari suaminya, sudah pasti rasanya sangat menyiksa.


Berbeda dengan pasangan yang selalu berbahagia, saling mencintai dan selalu saling melengkapi, saling merayu dan berbagi, saling mengisi dan saling menikmati.


"Mas, besok aku mau ikut ke kantormu." ungkapnya manja, tangan kecilnya memeluk dan bermain di atas dada yang terdapat bulu-bulu halus menggoda.


"Hanya sebentar, paling satu jam." jawabnya masih tak beralih posisi.


"Aku pulang saat jam makan siang, aku akan menjemputmu." jawab Anggara begitu memanjakan istri kecilnya yang beberapa hari mulai kembali bersikap seperti biasanya, mulut yang mungil, dengan bibir tebal di bagian bawahnya selalu membuat Anggara mabuk karenanya.


"Baiklah, aku akan menunggu kau menjemput, dan tidak akan pulang jika kau tidak datang." jawabnya melepaskan mainannya dan berganti memeluk Anggara, memejamkan mata tapi tak juga tertidur.


"Iya Sayang, aku selalu datang untukmu. Aku tak pernah membuatmu menunggu." jawab Anggara tersenyum menatap wajah yang tidur di bahunya, mata coklatnya begitu bahagia menyaksikan wajah cantik itu setiap malam ada di dalam pelukannya.


Suara manja yang selalu merengek itu baru diam saat ia sudah terlelap, hingga pagi menjemput, mulutnya akan kembali berkicau dengan segala macam-macam kata keluar dari bibir merahnya. Sejenak diam ketika Anggara menjadi imam dua rakaat dan kembali merengek dengan berbagi macam permintaan setelah beberapa menit setelahnya.

__ADS_1


"Sayang aku akan berangkat lebih pagi hari ini, karena ada pekerjaan yang terlewatkan kemarin." ucap Anggara sedang mencari pakaian di lemari besarnya.


Tangan Zahira mendahului meraih pakaian yang menurutnya pas untuk suaminya, memakaikan kemeja dengan sesekali sentuhan nakal menjahili.


"Istriku jahil sekali." Anggara memeluknya erat, dengan tangan kecilnya memasang kancing kemeja dari atas hingga ke bawah.


"Ini aktivitas yang menyenangkan, jangan sampai terlewatkan." jawabnya terlihat sangat manis.


"Aku tak mau menjadi manja, jika nanti kita punya anak kau akan kerepotan sayang." ucap Anggara dekat sekali dengan wajah cantiknya.


"Tapi itu masih lama." jawab Zahira meraih jas dan memakaikannya, tapi tangan Anggara tak melepas pinggang kecil itu bergantian kiri dan kanan.


"Kata siapa?" ucapnya lagi, mengecup pipi halus itu.


"Baru sebentar kita menikah." jawab Zahira.


"Kita melakukannya setiap waktu, sore, siang, pagi, dan berkali-kali saat malam hari. Aku ini sehat sayang, aku jamin salah satunya sudah membentuk berudu di dalam rahimmu." pria itu tak bosan memulai dan menyentuh titik yang tersembunyi di balik baju.


"Benar juga, jika sekali saja ada jutaan bibit berudu, bagaimana jika lima kali." Zahira tampak berpikir.


"Lima kali itu sehari, jika sebulan?" Anggara semakin membuat gadis itu berpikir.


"Ah itu banyak sekali, aku jadi bingung menghitungnya." Zahira memeluk Anggara.


"Tidak usah di hitung, kau hitung saja hasilnya setelah bulan ini." Anggara terkekeh geli.

__ADS_1


"Benar sekali, aku sampai lelah memikirkannya." gadis itu bersikap seperti biasa, sebelum ia lupa ingatan.


Di hadapan Radit ia selalu menjadi wanita yang lembut, baik dan sopan walau terkadang juga memperlihatkan kemanjaannya. Entah mengapa jika bersama Anggara dia menjadi seorang gadis yang berbeda lagi, tertawa lepas dan tidak menutupi apapun, bahkan tak segan memperlihatkan kekurangannya. Mungkin karena terlalu nyaman, dia memang selalu membuatnya nyaman.


__ADS_2