Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
212. Tergoda janda cantik


__ADS_3

"Jangan lupa minum obatnya." ucap Reza ketika mereka sudah pulang dari pantai, sore yang indah mewakili perasaan Reza yang semakin jatuh cinta saat berhasil dekat dengan Zahira.


"Aku sudah punya, harusnya kau tak perlu repot membawakan aku vitamin seperti ini. Apalagi kau masih belum menikah, tidak pantas rasanya peduli dengan ibu muda hamil seperti diriku." tangan kecilnya membenarkan posisi tas yang menggantung di bahu kirinya.


"Hanya tiba-tiba terpikirkan ketika aku melihat Amelia. Dan kebetulan aku ingin menemuimu." jawab Reza masih setia memandangi wajah cantik di hadapannya. Berdiri di depan pintu mobil halaman rumah Zahira.


"Maaf aku selalu merepotkan mu, aku janji suatu saat akan membalasnya sesuai dengan apa yang kau butuhkan dariku." ucapnya lembut, tak kalah lembut tatapan mata yang begitu indah.


Reza tersenyum manis, sinar ketulusan jelas terlihat di mata hitam pekat miliknya. "Aku tidak meminta apapun, hanya terkadang aku ingin sekali bertemu dan berbicara denganmu. Rasanya begitu tenang, hanya itu." jawab Reza tak ingin mengatakan lebih detail perasaannya. Ragu, atau mungkin takut Zahira marah dan menjauh.


"Aku hanya ada di rumah, dan di kantor ketika bekerja, tak ada tempat lain bagiku untuk bersembunyi darimu." Zahira menjawab dengan sedikit bercanda.


Rasanya tentu senang sekali, tak hanya harapan, tapi sepertinya jalan sudah membentang walau tidak seperti jalan tol, paling tidak jalan setapak bisa di lewati untuk mendekati Zahira, selangkah demi selangkah.


"Aku akan sering datang, ku harap kau tidak bosan. Maaf juga jika aku sering menggodamu." senyum cerah itu tampak penggoda di bibir milik Reza.


"Hanya jangan melewati batas, aku tidak sanggup jika harus berpikiran yang aneh." Zahira tertawa dengan kekonyolannya sendiri, ucapan Reza yang memancing membuatnya salah berpikir dan tak berkutik pada akhirnya.


Reza tertawa lebar kali ini. "Itu salahmu, kau berpikir terlalu jauh, padahal aku sedang mengatakan hal sebenarnya."


"Kau sengaja." Zahira meninggalkan Reza, maksud hati membiarkan pria itu pulang segera, tapi malah mengikut masuk ke dalam rumah.


"Aku rasa kau terlalu sensitif." ucapnya pelan ketika berjalan hingga lengannya begitu dekat dengan Zahira.


"Bukannya kau akan pulang?" Zahira menatap sekilas lalu mulai melangkah naik ke lantai Dua.


"Tidak! Aku ingin disini selalu bersamamu." jawabnya cepat.


Langkahnya terhenti, menoleh pria yang lebih tinggi itu, sepertinya ada yang salah dengan kata-katanya.


"Aku butuh pakaian Anggara." Reza tak akan membiarkan Zahira marah. "Sekalian parfumnya untuk bergentayangan nanti malam." sambungnya lagi mendahului Zahira.


Zahira kembali melangkah menyusul pria tinggi itu. Sedikit merasa sedih mendengar kata gentayangan itu, seakan-akan Anggara tidak tenang di sana. Padahal sebenarnya Zahira-lah yang belum merasa tenang jika Merry belum mendapat hukuman. Ya, bahkan kedekatan dengan Reza karena ingin membalas atas kehilangan Anggara.

__ADS_1


"Boleh aku masuk?" tanya Reza menoleh wanita yang mendadak lebih banyak diam itu.


"Masuk saja." Zahira membuka pintu ruangan yang dipenuhi pakaian Anggara, kamar yang bersebelahan dengannya ketika belum menikah, dan hanya berisi pakaian saat setelah menikah.


Reza mencari pakaian yang pas untuknya, pakaian yang kira-kira sering di pakai Anggara, Zahira ikut memilih.


"Yang ini?" Zahira meraih jas berwarna biru tua.


Reza tertarik, pria itu langsung memakainya. "Pas sekali." gumamnya tetap di dengar Zahira.


"Kalian memiliki ukuran yang sama." Zahira tersenyum memandang Reza Mahendra. Tak lagi sampai terkejut, namun rindu itu tak mungkin berkurang. Wajah cantiknya terlihat sendu dengan segala kegetiran tampak jelas mengihias di sana.


"Kau masih sangat merindukannya." Reza mengetahui apa yang dipikirkan Zahira, tentulah hatinya sedang bersedih.


"Iya, hanya itu rasa yang tersisa." ucap Zahira menunduk. Mata bening itu sudah menciptakan cermin kabur yang siap jatuh kapan saja.


"Zahira, maafkan aku dengan ide konyol ini. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu bersedih." ingin meraih tangan kecil itu namun takut Zahira tak suka.


"Tidak apa-apa. Aku sangat menginginkan kehancuran wanita yang sudah menghabisi suamiku, sungguh aku sanggup melakukan apa saja untuk membalasnya. Aku ingin dia menderita, aku tidak rela dia hidup tenang dan bebas sementara kami sangat kehilangan." ungkapnya pelan.


"Tadi aku tidak menangis, gara-gara kau memakai pakaian suamiku aku jadi rindu." ungkapnya mengusap air matanya sendiri.


"Kalau hanya rindu kau bisa meluapkannya padaku, aku tidak keberatan?" Reza memulai aksi jahilnya, kedua tangannya terbentang lebar.


"Tentu saja kau tidak keberatan, bahkan kau menyukainya!" Zahira melupakan air matanya, berganti dengan senyum manis terbit di bibir merah merekah.


"Itu benar sekali, apalagi saat mendapat pelukan seperti kemarin. Aku mau lagi." ucapnya semakin menggoda Zahira.


"Jangan bermimpi!" Zahira meninggalkannya keluar.


"Aku tidak bermimpi, yang kemarin itu sangat nyata." segera menyusul Zahira.


"Diam di sini!" Zahira menunjuk posisi di balkon, mengisyaratkan untuk tidak bergerak.

__ADS_1


"Tapi aku ingin ikut?" Reza masih menjawab walaupun pada akhirnya menurut.


"Angkat tanganmu." Zahira bersiap menyemprotkan parfum pada Reza.


Reza menurut, menikmati momen berharga saat mendapatkan pelayanan romantis dari Zahira. Menatap wajah cantik itu penuh khayalan.


"Aku jadi merasa sudah punya istri." ungkapnya dengan wajah bahagia, senyumnya selalu mengembang dengan mata tak lepas dari Zahira.


"Kalau begitu cepat menikah!" Zahira tak membalas tatapannya, jari kecilnya sibuk menutup kembali parfum Anggara.


"Apa kau mau menjadi istriku?" Reza tak pernah bisa menahan apapun perasaannya ketika sudah berbicara dengan Zahira.


Zahira mendongak heran, ia berpikir jika Reza Mahendra memang suka berbicara asal-asalan dan itu sudah biasa.


"Kau akan melamar seorang janda beranak tiga? Kurasa itu sangat memalukan!" Zahira menjawab dengan asal-asalan pula.


"Kalau aku benar-benar serius bagaimana?" ucapnya sedikit berteriak, Zahira sudah masuk kedalam kamarnya mengembalikan parfum Anggara.


"Pergilah! Kau bilang ingin menjadi hantu malam ini." setelah kembali keluar dari kamarnya.


"Ya, aku akan menghantui janda cantik." ucapnya menghirup aroma parfum di tubuhnya.


"Hati-hati nanti kau tergoda dan akhirnya kau menikah dengannya, bukannya malah membantuku malah kau jatuh ke tangan wanita licik itu dan memusuhi ku." Zahira sedikit mengomel.


"Apa kau cemburu?" tanya Reza mengangkat kedua alisnya.


"Tidak! tapi bisa saja seperti itu." Zahira menggeleng kesal.


"Aku memang sudah tergoda dengan janda cantik, aku bahkan ingin selalu bertemu dengannya, ingin bersamanya, bahkan membayangkan bisa hidup bersamanya."


Zahira kembali menatap heran, kedua alisnya bertaut.


"Namanya Zahira." ucap Reza segera berlalu, tak ingin mendengar jawaban atau protes dari wanita yang seringkali menjadi objek khayalannya akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Dia sudah gila!" gumam Zahira.


__ADS_2