
"Kita perlu bicara serius, tapi tidak di sini." Radit melepaskan tangannya dari lengan Reza Mahendra.
Pria tampan itu menautkan alisnya, sepertinya Radit tidak sedang bermain-main.
"Baiklah." Reza keluar dari ruangan itu menuju lift, sekali ia menoleh ruangan Zahira yang tertutup rapat, ingin sekali ia menemui wanita itu dan mengobrol sedikit walau hanya sekedar merayunya. Tapi tak kalah penting juga berbicara dengan Raditya, pria muda itu tak mungkin mengajaknya bicara jika tak ada hal yang sangat penting.
"Kita akan kemana?" tanya Reza menoleh rekan bisnisnya itu sambil berjalan sejajar.
"Tidak kemana-mana, aku hanya perlu bicara sebentar. Di dalam mobilmu saja sudah cukup." jawab Raditya dengan wajah datarnya.
Reza membuka mobilnya, benar saja jika Radit ikut membuka pintu berlawanan dan masuk ke dalamnya.
Reza menoleh Raditya, keningnya yang lebar membentuk garis di tengah, semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakan Radit padanya.
"Kemarin aku menyusul anak-anak bermain di pusat perbelanjaan milik ayahnya, bersama ibu ku juga ayahku. Dan ternyata di sana juga ada ibumu." Radit mulai bicara.
"Mama?" ucap Reza semakin mengernyitkan keningnya.
"Ya." Radit menoleh Reza, yakin namun sepertinya banyak hal yang belum dijelaskan.
"Tapi Mama tidak bercerita apa-apa padaku." Reza masih terlihat berpikir.
"Tentu saja seperti itu, karena ibumu tidak menyukai Zahira, dan kedua anaknya." tegas Radit semakin membuat Reza terkejut, kerongkongannya terasa kering mendadak.
Reza sudah tahu hal itu, tapi tidak menyangka jika sampai diketahui oleh orang lain, apalagi Radit, Reza menelan paksa ludahnya.
"Jika ibumu menolak, lebih baik kau pikirkan lagi untuk mendekati Zahira. Aku tidak mau dia sampai di tolak dan kecewa. Kau tahu mengapa aku tidak bersikeras mendekatinya dan membiarkan kau mendekati Zahira? itu karena aku berharap dia akan bahagia. Penderitanya sudah cukup banyak dan itu semua karena aku."
Reza menatap wajah serius Radit, benar jika di sana pria itu sedang merasa bersalah juga mengalah.
__ADS_1
"Tapi jika hanya akan membuatnya kecewa, maka sudah tentu aku tidak akan diam saja. Kau bisa mengatai aku hanya alasan atau apapun, tapi aku benar-benar serius tentang hal ini, aku tidak akan membiarkan Zahira melanjutkan hubungan yang hanya akan menyakitinya." ucap Raditya merasa lega sudah berbicara pada Reza Mahendra.
"Aku tahu ibuku tidak menyukai Zahira, tapi aku akan tetap memperjuangkan perasaanku." ucapnya pelan.
"Kau tahu sesuatu yang dipaksa tidak akan baik." kesal Radit.
"Tapi jika tidak diperjuangkan maka aku akan kalah dengan sia-sia. Aku tidak peduli ibuku suka atau tidak lagi pula selama ini aku hanya sendiri di negara ini. Aku akan tetap menikahinya jika Zahira sudah bersedia menerimaku." ucapnya sangat yakin.
"Kau egois, hanya memikirkan dirimu sendiri. Kau tidak berpikir bagaimana perasaan Zahira dan anak-anak? Lagi pula aku tidak yakin dia akan menerimamu setelah apa yang di ucapkan ibumu padanya!" Radit menggeleng tak habis pikir dengan sikap Reza yang keras kepala.
"Aku akan bicara padanya." Reza membuka pintu mobil.
Radit kembali meraih lengan Reza Mahendra kali ini lebih kuat. "Jagan membuat hidupnya menjadi lebih rumit, jika cintamu hanya akan membuatnya menangis, lebih baik kau tinggalkan Zahira. Atau akan berhadapan denganku, tak hanya aku tapi kami semua." geram Radit dengan tatapan tajam.
"Kami siapa maksudmu?" Reza tersenyum meremehkan ucapan Radit.
Reza menarik lengannya dengan tatapan tak kalah tajam. "Aku tidak peduli." ucapnya lalu keluar kembali masuk ke kantor besar milik Anggara.
Radit memandangnya dengan tatapan kesal, hingga berkali-kali ia menarik nafas dan menghembuskannya, akhirnya ia memutuskan kembali ke kantor lebih dulu.
Sedangkan di dalam kantor besar itu, ruangan Zahira yang sepi sedikit terganggu dengan masuknya Reza Mahendra yang terburu-buru.
"Kau belum pulang?" tanya Zahira masih tampak tenang walaupun sedikit terkejut.
Reza mendekati Zahira dan meraih tangannya mengajak duduk di sofa.
"Ada apa?" Zahira merasa tak nyaman dengan sikap Reza padanya.
"Apa kemarin Mama mengatakan sesuatu?" tanya Reza serius, membiarkan wanita cantik itu melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Tidak, hanya ibumu mengobrol sebentar dengan Mama." jawab Zahira mengatakan yang sebenarnya.
Reza kembali berpikir, wajah tampan itu semakin rumit dengan kehadiran ibunya yang mendadak menabur masalah untuk hubungannya bersama Zahira.
"Beliau hanya ingin kau bahagia Mas Reza." ucapnya halus, tak mau membuat Reza kecewa atau malah marah kepada ibunya.
"Tentu dia tahu jika aku akan bahagia bila bisa hidup bersamamu Zahira." jawabnya begitu dalam.
"Ya. Tapi tak semua orang tua sependapat dengan apa yang anak-anaknya inginkan. Terkadang mereka punya pandangan sendiri untuk menentukan masa depan anak-anak, dan kau juga harus mengerti, bahwa memang benar aku tidak cukup baik untukmu." ucap Zahira dengan tersenyum.
"Zahira!"
"Mas! Kau masih bujangan, layak mendapatkan seorang gadis yang lebih baik, tidak seperti aku yang sudah memiliki Tiga orang anak. Aku tidak bisa mengabaikan putra-putraku, kau juga tak bisa mengabaikan ibumu."
"Ibuku tidak tinggal di sini Zahira, dia akan pulang ke London sebentar lagi."
"Tapi dia tetap ibumu Mas, seperti aku, meskipun ibuku sudah meninggal tapi dia tetap ibuku. Dan Mama, meskipun Mama bukan orang yang melahirkan aku tapi dia tetap ibuku. Aku akan menurut jika Mama memintaku untuk tidak menikah denganmu." tegas Zahira semakin membuat Reza khawatir.
"Apakah Nyonya Ayu melarangmu dekat denganku?" tanya Reza dengan wajah sendu.
"Tidak, hanya Mama sedikit kecewa karena ibumu mengatakan jika kau sudah dijodohkan dengan gadis lainnya di London. Mama hanya merasa, kedekatan kita akan sia-sia." jelas Zahira tak menjelaskan semua, demi menjaga sedikit perasan Reza.
"Mama hanya mencari alasan, dia tidak pernah mengatakan itu padaku." Reza menggeleng, tak menyangka ibunya setega itu.
Zahira tak menjawab lagi, semua yang dia katakan hanya akan disangkal semuanya oleh Reza Mahendra.
Sedikit tak enak hati, wajah tampan yang selalu menghibur itu kini tampak kusut dan sedih. Bahkan selama ini dia sudah berperan banyak dalam menghibur Zahira yang sedang kehilangan Anggara. Tapi apa hendak di kata, jika Tuhan tidak memberi kesempatan untuk dekat, tentu seorang Zahira tak bisa berbuat apa-apa.
"Aku akan menyelesaikan semua ini secepatnya, aku yakin Mama hanya belum mengerti dan belum mengenalmu dengan baik. Dan aku hanya meminta satu hal padamu, beri aku waktu."
__ADS_1