Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
172. Pria mesum


__ADS_3

"Nona, apa sebaiknya aku saja yang keluar untuk membeli keperluanmu?" Jia memberi usul, ia berpikir jika Zahira akan lebih aman di rumah.


"Hanya sebentar Jia, stelah itu kita ke rumah Mama. Aku rindu sekali dengan Satria dan Sadewa." pinta Zahira dengan wajah memelas, tentu hal seperti itu membuat Jia pasrah.


"Baiklah." Wanita kurus tinggi dan langsing itu segera berlalu menuju kamarnya, berganti pakaian panjang seperti Zahira disertai masker senada.


"Kau cantik sekali." ucap Zahira setelah Jia keluar dari kamar.


"Tidak ada pilihan Nona." jawabnya pasrah digandeng Zahira.


Tak butuh waktu lama, mereka sengaja mencari pusat perbelanjaan yang dekat. Zahira tak pernah melepaskan tangan Jia, seakan sedang berjalan bersama saudara perempuan.


'Ini menguntungkan, tak ada yang akan curiga jika wanita yang bersama Zahira adalah bodyguard Jia.' Jia menatap kiri dan kanan dengan perasaan lega.


"Jia, kita harus membeli mainan dan makanan untuk mereka." Zahira mengajak Bodyguardnya dengan sedikit memaksa.


"Nona, apa kau tidak malu menggandengku seperti ini." ucap Jia, akhirnya ia merasa jika Zahira sudah berlebihan.


"Kenapa?" Zahira menatap Jia heran.


"Aku tidak setara denganmu." ucap Jia pelan.


"Lalu siapa yang setara denganku?" tanya Zahira tak peduli, tetap memperlakukan Jia semaunya.


'Penyakit Nona sedang kambuh'. Jurus seribu pertanyaan itu selalu membuatnya lebih memilih diam.


Beberapa saat sibuk memilih banyak mainan, lalu banyak makanan ringan. Mereka akhirnya memutuskan untuk istirahat, makan berdua dengan Jia.


"Kau mau pesan apa?" tanya Zahira pada Jia yang menyandar lelah.


"Apa saja." jawabnya tak mau melihat menu makanan.


"Baiklah." Zahira memesan Dua makanan juga minuman untuk mereka berdua.


"Kita akan pergi ke-"


"Halo menantuku Zahira." seorang menyapa dengan lembut namun terdengar aneh.


Zahira menoleh cepat, "Om Daniel?"


"Ya, sejak tadi aku memperhatikan dirimu membeli banyak barang mainan dan makanan. Ku rasa itu untuk cucuku." tebaknya ikut duduk tanpa dipersilahkan.


"Iya." jawab Zahira sedikit gugup.

__ADS_1


"Dua kali aku berkunjung ke rumah kalian, tapi tak sekalipun aku melihat mereka. Apa suamimu sengaja menyembunyikannya?" tanya Daniel dengan senyum licik.


"Oh, a-" Zahira semakin bingung dengan pertanyaan Daniel. Rasa takut membuat Zahira tak bisa berpikir harus berbicara apa.


"Ini pesanan anda Nona." seorang pegawai resto menghantarkan makanan.


"Terimakasih." Zahira sedikit tertolong dengan hadirnya wanita itu.


"Maaf Tuan, kami hanya memesan dua makanan. Jika anda ingin ikut makan bersama kami beritahukan saja apa yang ingin anda pesan." Jia sedikit merubah gaya bicaranya.


"Tidak terimakasih." jawab Daniel melirik mata Jia yang terukir indah. "Rasanya aku pernah melihatmu?" Daniel menyipitkan matanya.


"Kami bersaudara, kami sering jalan berdua dan berjanjian di kedai atau Cafe hanya untuk saling berbagi cerita. Aku takut adikku ini tidak bahagia." Jia memulai obrolan, lebih tepatnya sedikit bergosip.


"Jika menikah dengan konglomerat sudah pasti bahagia. Tapi jika tidak bahagia maka beritahu aku, aku akan membuat keponakanku mengerti jika istrinya sangat cantik dan layak bahagia." ucapnya tertawa lebar.


"Anda adalah pria yang sangat mengerti wanita." Jia semakin membuat Daniel senang.


"Kau juga sangat cantik Nona, bolehkah aku tahu siapa namamu?" Daniel menatap nanar pada mata berukir dan hidung mancung yang bersembunyi di balik masker milik Jia.


"Nur Azizah." jawab Jia membuat Zahira tersedak hebat.


"Minum Zahira." Jia memberikan air minum pada Zahira.


"Sebaiknya kita pulang, mungkin kau lelah." Jia mengusap punggung Zahira.


"Baiklah." Zahira meraih tas dan akan membayar makanan. Namun Daniel sudah mengeluarkan Lima lembar uang merah dan meletakkannya di atas meja.


"Tidak perlu Om." ucap Zahira menolak.


"Tidak perlu sungkan padaku, aku adalah pamanmu. Aku sangat menyukai panggilan Om yang terdengar merdu dari bibir merahmu." ucap Daniel dengan wajah mesum. "Jika kau butuh bantuan, hubungi saja aku." sambungnya lagi.


"Ah ku rasa itu tidak perlu. Adik iparku itu sangat pandai memanjakan wanita, bahkan masih bisa bertahan hingga berjam-jam." ucap Jia genit. Membuat Zahira semakin melongo dibuatnya.


"Benarkah?" Daniel penasaran, tapi juga sedikit kesal mendengar jawaban Jia.


"Tentu saja, aku sering menginap di rumah mereka." Jia meyakinkan.


Mata Daniel melirik Zahira lagi, entah mengapa jawaban Jia malah membuat pria itu berpikiran aneh.


"Kalau begitu kami permisi." Zahira ingin segera pergi, takut dan risih. Begitulah perasaan Zahira saat ini.


"Tunggu!" Daniel meraih tangan halus Zahira. Tentu saja Zahira terkejut dan menarik tangannya dengan kasar.

__ADS_1


"Aku akan sering datang ke rumahmu, aku ingin mengajak suamimu bekerja sama." ucapnya tak putus asa.


"I-itu-"


"Zahira." suara seseorang membuat mereka bertiga menoleh.


"Radit." ucapnya terkejut namun begitu lega.


"Mari kita pulang." ajaknya melirik Daniel.


"Bukankah kau pemimpin perusahaan besar milik Hartawan Dua." tanya Daniel menajamkan mata.


"Benar. Dan maaf kami harus pergi karena suami Zahira sudah menunggu." jawab Radit tersenyum dengan menyipitkan mata, tentu saja ia sedang tersenyum palsu.


"Oh, baiklah." jawab Daniel menyerah.


"Sampai jumpa lagi Tuan Daniel." Jia melambaikan tangan halusnya, membuat tua bangka itu tertawa senang. Ya, senang karena ada wanita-wanita cantik.


"Kenapa kalian tidak langsung pergi?" tanya Radit khawatir.


"Tadi juga akan pergi." Zahira menjawab pelan.


Antara khawatir dan gemas, suara merdu Zahira membuat kepala Radit berdenyut nyeri. Dasarnya memang cinta masih bersembunyi, sehingga kata-kata demikian seakan sedang merayu.


Zahira segera masuk mobil bersama Jia, pulang ke rumah Radit dan tentu Radit juga mengikuti mereka di belakang dengan mobilnya.


Tiba di rumah Ayu, Zahira langsung menuju ruang keluarga ingin segera menemui Sadewa dan Satria.


"Ibuuuuu....!" teriakan yang begitu keras, Dua anak laki-laki itu menghambur memeluk Zahira.


"Sayang, Ibu sangat rindu." Zahira memeluk dan mengecup pipi mereka bergantian.


"Kami juga rindu." jawab mereka manja, tubuh Zahira yang kecil dan ramping terlihat sesak karena pelukan dua malaikat jenius itu.


"Sayang Ibu." ucap Zahira mengusap punggung keduanya.


"Dimana Ayah?" tanya Sadewa dengan wajah sedih.


"Ayah di sini Sayang!" Anggara langsung berjongkok dan memeluk keduanya, menikmati aroma Vanila seperti aroma ibunya. "Sayang kau tak apa-apa?" tanya Anggara pada istrinya yang hanya diam di samping Anggara, tentu Jia yang memberi tahu semuanya pada Anggara.


Dia menggeleng, tapi sejenak kemudian Anggara meraih dan memeluknya juga.


"Maaf, karena aku kau jadi tak nyaman, bahkan dalam bahaya." ungkap Anggara terdengar sedih.

__ADS_1


"Apa tidak bisa kau selesaikan masalahmu dengan pria mesum itu secepatnya? Jika dia ingin hartamu maka berikan saja!" ucap Radit kesal.


__ADS_2