Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
247. Perlu bicara


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Reza Mahendra di siang itu, ia merasa ada yang tidak beres mendapatkan telepon dari Radit.


"Hanya perlu bicara." Radit tak menjelaskan apapun.


"Kita bertemu di luar, aku akan mengirim lokasinya."


Sejenak kemudian Reza mengakhiri panggilan telepon, beranjak dari meja kerjanya menuju sebuah Cafe tempat ia akan bertemu dengan Radit.


Sepanjang jalan ia memikirkan apa yang akan di bicarakan Radit padanya, apalagi pertemuan terakhirnya dengan Radit malah terjadi perdebatan yang membuatnya kesal. Hingga tak berapa lama kemudian ia sudah sampai di Cafe tersebut, dan ternyata Radit sudah ada di sana. Pria muda itu menyandar di mobilnya, sengaja menunggu Reza sampai terlebih dahulu.


"Apa sudah lama?" tanya Reza melangkah masuk ke dalam Cafe.


"Belum." jawab Radit mengikut Reza Mahendra.


Mereka duduk di sebuah ruangan VIP yang sengaja di pesan Reza.


"Minum apa?" tanya Reza, sedangkan dia sudah memesan kopi.


"Apa saja." Radit tak mau membuang waktu.


Reza memberikan Menu dan pesanan kepada pelayan Cafe. "Sebenarnya kau ingin berbicara apa?" tanya Reza menatap Radit serius.


"Sebenarnya aku tak punya hak untuk berbicara banyak padamu, tapi terus terang ini mengganggu pikiranku. Dan aku tidak bisa tenang jika belum berbicara padamu." Radit juga menatap Reza serius.


"Katakan saja, aku akan mendengarkanmu, jika memang harus ku dengarkan." ucapnya lagi.


"Begini!" Radit menarik nafas sejenak. "Ini masih tentang Zahira, aku tahu kau tak akan menyerah mendekatinya, seperti katamu. Terus terang saja aku tidak suka."


"Aku tahu kau tidak suka." jawab Reza Mahendra sedikit tersenyum. "Tapi kau tahu sendiri bagaimana dulu kau juga mencintainya, kau juga tak akan menyerah begitu saja."


"Ya, tapi pada akhirnya aku merelakannya asal dia bahagia. Tapi bukan berarti aku sudah menyerah, itu tidak akan pernah terjadi." Radit menjelaskan perasaannya.

__ADS_1


"Lalu?" tanya Reza Mahendra.


"Aku tidak mau Zahira sampai kecewa atau tersakiti karena ibumu." tegas Radit.


"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Reza tidak suka jika Radit tak percaya padanya.


"Dulu aku juga seperti itu, yakin bisa mengendalikan semuanya, yakin bahwa aku akan melindungi Zahira, tapi ternyata aku malah menghancurkan dirinya. Seorang wanita yang sedang cemburu dan benci, dapat melakukan apa saja, termasuk menghabisi nyawa seseorang, Merry Sandra contohnya."


"Kau membandingkan ibuku dengan mantan istrimu yang gila itu?" kesal Reza, tak suka dengan arah bicara Radit.


"Wanita yang ambisius memang bisa gila jika terlalu lama dalam tekanan, termasuk saat keinginannya tidak terpenuhi. Kau lebih berpengalaman dariku, kau bahkan lebih tau tentang wanita daripada aku. Lalu mengapa hal seperti ini bisa membuatmu marah? Harusnya kau lebih paham dan bersikap lebih baik." Radit balas menatap tajam Reza.


"Kau tidak usah khawatir, aku akan meminta ibuku kembali ke London segera. Dan tentang hubunganku dengan Zahira, ku harap kau tidak ikut campur." Reza menegaskan, jelas baginya jika Raditya adalah saingan, bukan saudara sesungguhnya seperti yang dia lihat.


"Aku tidak akan ikut campur jika kau tidak menyakitinya. Tapi jika sedikit saja kau membuatnya tidak nyaman, maka dengan senang hati aku akan siap menghadapi mu, aku tidak takut apapun."


"Bilang saja jika kau masih mencintainya." Reza menatap sinis.


"Ya, itu sudah jelas. Kau bukan laki-laki bodoh yang bisa ku bohongi. Aku tak munafik jika satu saat aku memiliki kesempatan lagi, aku akan membuatnya jadi istriku untuk yang kedua kali." Radit tersenyum sedikit, wajah tampannya lebih tenang.


"Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Aku harus pulang."


Reza beranjak dari duduknya, meninggalkan tiga lembar uang kertas dan pergi begitu saja. Sementara Radit masih duduk di posisinya, kepergian Reza tak berpengaruh, tapi cukup membuatnya puas, senyumnya sedikit terukir.


Sore hari kemudian, di rumah Reza Mahendra seorang wanita sedang duduk santai di depan Tv, sambil menikmati teh hangat dan beberapa potongan kue tawar.


"Mama."


Suara Reza membuat wanita itu menoleh.


"Kau sudah pulang?" Carolina meletakkan tehnya kembali di atas meja.

__ADS_1


"Ya." Reza sengaja duduk di sofa tak jauh dari ibunya.


"Ada apa lagi?" tanya ibunya sedikit jengah, sudah pasti yang ada dalam pikiran putranya adalah Zahira saja.


"Tidak apa-apa, aku hanya jenuh." Reza memancing obrolan dengan ibunya.


"Jika jenuh ya istirahat saja, atau pergi jalan-jalan?" usul Caroline, itu sudah bisa ditebak oleh Reza.


"Kapan Mama akan pulang ke London?" tanya Reza langsung pada intinya.


"Hem, Mama belum tahu." jawab Caroline santai.


"Aku ingin jalan-jalan ke luar negeri, menemui Papa mungkin?" Reza mengedikkan kedua bahunya.


"Untuk apa kau bertemu Papamu? Jika mencari dukungan maka percuma, dia tidak akan peduli." jawab ibunya masih menyimpan kesal. Maklum saja karena perpisahan mereka sangat menyedihkan.


"Kalau begitu ke London saja, sepertinya di sana akan dapat melupakan semua masalah di sini." tampak Reza memijit-mijit kepalanya.


"Ide bagus." Caroline sangat senang mendengarnya. Senyum manis tebit dibibir yang sudah keriput miliknya, tentu pancingan Reza Mahendra sudah hebat, tapi ternyata rencana Carolina tak kalah hebat, ingin Reza ikut dengannya dan bertemu seseorang setelah di sana, dan berharap putranya bisa melupakan Zahira.


"Kapan kita berangkat?" Reza tak mau menunda, lebih cepat lebih baik baginya.


"Kapan kau mau?" tanya Ibunya lagi, hatinya sedang bahagia.


"Besok!" jawab Reza mengangkat ponselnya dan mengetik sebuah pesan untuk asisten dan sekretarisnya agar memesan tiket cepat.


"Apa tidak mendadak?" Carolina sedikit heran dengan buru-burunya Reza ingin pergi dari Indonesia. Membuat ibunya menebak-nebak apa yang sudah terjadi padanya.


Namun tak ingin bertanya lebih banyak, Nyonya Carolina lebih suka pura-pura tidak tahu. Yang terpenting dia bisa membawa putranya ke London.


"Hanya ingin membuang penat nanti di sana, sekaligus ingin memikirkan bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Zahira." akhirnya ungkapan tentang Zahira keluar juga dari bibir Reza Mahendra.

__ADS_1


"Ya, kau memang harus berpikir ulang. Jangan memasuki kehidupan yang terlalu asing bagimu, itu akan sulit dan perlu pengorbanan yang banyak untuk menyesuaikan diri dengan kehidupannya. Berbeda jika sama-sama memulai hidup baru, kau akan berjalan seimbang dengan pasanganmu, tak perlu melakukan banyak hal untuk mengimbangi banyak hati." nasehat ibunya.


"Hati Mama-lah yang harus di sesuaikan dengan banyak orang, apa salahnya jika sedang berjalan sedikit membungkuk jika ada orang yang lebih pendek ukuran tubuhnya, bukan berati mereka tak punya kelebihan untuk di hargai." sindir Reza pada ibunya.


__ADS_2