Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
177. Dendam lama


__ADS_3

"Apa tidak ada cara untuk menghancurkan bisnisnya?" salah seorang asisten Anggara bertanya.


"Untuk saat ini belum ada, kita perlu strategi yang matang untuk mengalahkan orang licik seperti mereka." Ricky menjawab.


"Menurutku malah berbeda." Ricko membuat semua orang menoleh, termasuk Anggara. "Kita harus menjadi orang yang kejam jika berhadapan dengan orang yang kejam, menjadi orang jahat jika berhadapan dengan orang jahat, begitu juga selanjutnya. Jika kita hanya menjadi orang yang menunggu serangan maka kita akan kalah sebelum sempat melawan." Ricko menatap mereka satu-persatu, menanti apakah mereka semua sependapat.


"Bisa, tapi jangan larut dalam penyesuaian. Ingat kita hanya akan mengalahkan mereka jika mereka sudah mulai melakukan pergerakan. Jangan memulai lebih dulu, kita bukan penjahat sesungguhnya." Anggara menyetujui pendapat Ricko.


"Kau tenang saja, hanya bermain-main sedikit dengan Mafia ku rasa patut di coba." Ricko tampak senang dengan persetujuan Anggara.


"Dia Mafia sungguhan, kau jangan main-main!" Ricky menyahut kesal.


"Benarkah?" Ricko masih terlihat santai.


"Kau tahu dia mengalahkan tuntutanku atas hukuman Anwar dan Merry. Dia melakukan Negosiasi dan mengeluarkan jaminan yang besar di saat aku lengah." Ricky masih terlihat kesal, ia tidak suka dikalahkan, bahkan sepanjang ia menjadi asisten dan pengacara Anggara baru kali ini merasakan kekalahan.


"Hah, itu karena kau sudah tua, mulai pikun dan lelet." ucap Ricko membuat Ricky mendelik tajam.


"Sudahlah, mungkin memang sudah waktunya mereka bebas. Tapi, kali ini aku akan turun tangan langsung untuk menghancurkan Pamanku, aku harus mengakhiri semuanya agar tidak menghawatirkan di masa datang. Terlebih lagi ada anak-anak yang butuh kehidupan yang nyaman. Ini tak hanya perihal bisnis, juga bukan karena Anwar ataupun Merry yang masih membenci istriku. Tapi ada dendam pribadi diantara kami, yang sudah di mulai sejak lama ketika Nenekku selingkuh dan melahirkan paman Daniel. Saat itu ayah Paman Daniel sudah berperang bisnis dengan Kakekku. Mereka adalah saingan yang memang tak pernah akur, hingga berhasil menjerat Nenekku dan menyakiti hati Kakek. Dan ternyata, Paman Daniel pun mewarisi persaingan sengit itu, menghabisi nyawa ibuku, berharap bisa mengambil semua milik kakek. Beruntung saat itu aku di sebutkan putra seorang pembantu, bibi melindungi aku dan membesarkan aku. Namun akhirnya Paman Daniel mengetahui jika aku adalah cucu Kakek satu-satunya." jelas Anggara.


"Dia tak punya hak atas hartamu." Ricky menyahut.


"Ya, tapi Nenekku menanamkan sikap yang tidak baik pada Paman Daniel, mungkin karena Nenek sakit hati." Anggara menarik nafas berat, ia merasa semuanya harus berakhir, demi anak-anak yang tidak bisa ia sembunyikan terus menerus seperti ketika dia masih kecil, harus pergi dan masuk akademi militer untuk menutupi identitas sebenarnya. Karena tak mungkin jika anak pengusaha akan lebih memilih menjadi militer, apalagi cucu konglomerat satu-satunya. Dan hal itu juga yang membuat Anggara harus menahan perasaannya pada seorang gadis cantik dan lembut bernama Reva, hingga ketika kembali dia sudah memilih laki-laki lain untuk menjadi suaminya.


Ah, tiba-tiba Anggara merindukan Zahira.


"Maaf Pak, ada yang mencari Anda." sekretaris wanita itu baru saja membuka pesan, jika Anggara memiliki tamu yang ingin bertemu.


"Siapa?"


Cklek


Pintu ruangan itu terbuka, membuat mereka semua menoleh ke arah pintu, karena tak akan ada yang berani masuk jika tidak dengan izin Anggara.

__ADS_1


"Sayang!" Anggara sungguh tak menyangka Zahira datang ke kantor. Wanita cantik dan ramping itu berjalan masuk dengan salam terdengar indah, jalannya juga sangat pelan dan anggun, sesuai dengan pakaian panjang yang dipakainya.


"Maaf, aku mengganggu." ucapnya tersenyum mendekati Anggara.


"Tidak, kami sudah selesai." Anggara meraih tangan halusnya. Ia berdiri dan memeluk tubuh ramping itu, mengajaknya masuk ke ruangan pribadi.


"Aku bisa sendiri. Mas selesaikan saja." tangan kecilnya menahan Anggara untuk mengantar masuk.


"Baiklah, tunggi sebentar. Hanya lima menit." Anggara mencuri ciuman di pipi halus istrinya dan berlalu setelah menutup kembali pintu ruangan pribadinya.


Terburu-buru membuka pintu, Anggara langsung duduk dan bicara. "Ku rasa semua sudah selesai, jika ada yang perlu ditanyakan maka dengan Ricky atau Ricko saja." ucap Anggara pada beberapa asistennya, kemudian kembali keluar dengan langkah cepat.


"Dia tidak akan tenang bekerja jika sudah didatangi istrinya." Rikco tertawa kecil.


"Wajar saja, istrinya sangat muda, dan cantik." seorang lagi menyahut.


"Aku juga akan seperti itu jika memiliki istri masih muda dan cantik. Bahkan enggan bekerja."


"Aku juga."


"Hahahah."


Mereka melanjutkan gurauan itu hingga tertawa bersama-sama.


"Aku tidak ikut-ikutan. Aku masih butuh gaji besar darinya." Ricky pura-pura serius.


"Baru saja kau ikut tertawa." jawab Ricko, menunjuk wajah rekannya.


Sementara di dalam ruangan lain, Anggara sedang menunggu Zahira keluar dari kamar mandi, pria itu duduk di kursi kebesarannya menyimpan berkas yang baru saja ia ambil dari ruang rapat.


"Mas." panggil Zahira setelah keluar dari kamar mandi.


Anggara tersenyum. "Kemarilah." pria matang itu meminta Zahira mendekat, duduk di pangkuannya.

__ADS_1


Zahira mengulurkan tangan kecilnya di pundak Anggara, wajah Zahira terlihat cantik sekali jika di pandang sedekat itu.


"Apa yang membuat istriku datang kemari?" Anggara memeluk dan mengusap punggung Zahira.


"Tidak ada, hanya sedang rindu." jawabnya halus dan tersenyum manis.


"Kalau begitu aku tak perlu bekerja, aku ingin menemani istriku sepanjang hari." Anggara membelai wajah cantik itu dan merayunya.


Zahira langsung memeluk erat, senang sekali dengan rayuan yang di ungkapkan Anggara.


"Apa ingin membeli sesuatu?" tanya Anggara menebak. Biasanya Zahira akan merengek sebentar lagi.


"Aku ingin makan seafood, dan berkeliling sejenak." jawabnya terdengar manja.


"Kau mengidam Sayang."


Zahira tak menjawab, hanya sedang berpikir apakah benar dia sedang hamil?


Hingga beberapa saat mereka sudah tiba di sebuah Cafe yang menyediakan makanan laut itu. Suasana santai dan nyaman membuat keduanya sangat menikmati hidangan makan siang.


"Kita akan kemana lagi Sayang?" Anggara benar-benar memanjakannya.


"Pulang saja, aku lelah." Zahira mengelus perutnya yang sudah terisi penuh.


"Baiklah, anak-anak juga pasti sudah menunggu." Anggara melihat jam tangannya.


Mereka beranjak dari duduknya, sepertinya pulang adalah pilihan yang tepat, selain kenyang Zahira juga mengantuk. Dan tanpa sengaja saat berdiri tanpa menoleh, ia menyenggol seorang wanita muda.


"Maaf!" Zahira segera berbalik dan melihat orangnya.


"Kau?" wanita itu menoleh dengan wajah marah, namun akhirnya terhenti setelah melihat siapa yang menyenggol bahunya.


Lama saling diam, sulit mengungkapkan perasaan yang sejak lama kacau, benci, marah, kesal, dan sebagainya. Berdiri saling menatap dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2