Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
214. Bunga mawar dari R


__ADS_3

"Hebat sekali, suami bisa sangat membenci istri! Wajar saja anaknya menjadi seorang kriminal." Reza menyilang dada sambil terus berpikir.


Radit membiarkan rekannya terus mengoceh, ia tetap fokus menekan tombol dengan berbagi tanggal yang mungkin cocok.


"Berhasil!" ucap Radit dengan mata terbuka lebar sedikit tak percaya.


"Ayo masuk!" Reza berjalan lebih dulu. Tapi belum lagi mereka sempat menggeledah kamar itu terdengar suara bel berbunyi.


Reza dan Radit saling memandang, terlebih lagi Radit sangat terkejut. "Anwar!" ucap mereka bersamaan.


Reza segera keluar dari kamar itu juga Radit kembali menutup pintu kamar seperti semula.


"Pergilah, aku akan mengalihkan perhatian Anwar di kamar Merry.


Reza mengangguk mengerti, berjalan menuju pintu belakang. Sedangkan Radit membuka pintu untuk Anwar.


"Lama sekali! Untuk apa juga kau ada di sini?" Anwar menatap sinis.


"Putrimu pingsan di depan pintu, apa harus ku biarkan tergeletak di sini hingga pagi?" tanya Radit tak kalah sombong.


"Aku curiga kaulah penyebab dia pingsan!" kesal Anwar, berlalu lebih dulu dengan wajah khawatir.


"Jika aku penyebabnya, tentu sekarang aku sudah pergi!" Radit tak akan mungkin mau mengalah dengan mantan mertuanya itu.


"Merry!" Anwar melihat putrinya sedang berbaring seperti sedang tertidur pulas namun wajahnya pucat.


"Aku sedang berusaha membangunkannya tapi belum berhasil. Apa sebaiknya di bawa ke rumah sakit?" tanya Radit menawarkan bantuan.


"Angkat putriku ke mobil, aku akan membawanya ke rumah sakit!" Anwar meminta Radit menggendong Merry.


Tanpa bicara lagi Radit langsung membawa tubuh yang lemas juga terasa dingin di ujung-ujung jarinya. Sepertinya Merry benar-benar ketakutan, dan bisa jadi sakit setelah ini.


"Sebaiknya kau pergi, aku tidak butuh bantuanmu!" Anwar mengusir Radit.


"Tapi dia akan mencariku setelah sadar nanti!" Radit menunjukkan sikap peduli, tapi membuat mantan mertuanya itu semakin kesal.


"Aku bisa mengurusnya sendiri." Anwar masuk ke dalam mobil tanpa peduli Radit, pria tua itu melaju membawa putrinya.

__ADS_1


Radit menatap kepergian mobil itu sejenak, hatinya merasa lega karena Anwar tak mengajak dirinya. Tapi sejenak kemudian ia tampak berpikir dan meraih ponsel di sakunya.


"Kau dimana?" Radit mengubungi seseorang.


"Jalan sebelah kanan, aku sudah ada di mobil." jawab Reza yang menyembunyikan mobilnya di tikungan jalan agak jauh dari rumah itu.


Radit segera masuk ke mobil dan melaju mencari keberadaan Reza.


Tak jauh dari sana tampak mobil Reza masih ada, di pertigaan sedikit gelap, sepertinya Reza Mahendra bukanlah orang yang bisa di remehkan, tentu sudah banyak pengalaman yang di lalui.


"Pandai sekali kau memilih tempat bersembunyi?" ucap Radit setelah mereka sama-sama keluar dari mobil.


"Tentu saja!" jawabnya sombong, melepas kacamata hitam.


"Ya, kau sudah ahli menyelinap, mungkin sering mencuri ikan di rumah para artis dan model." sindir Radit bersilang dada.


"Aku tak perlu menyelinap untuk mendekati mereka! Hanya satu kedipan mata mereka akan mengejarku hingga ke lubang semut." Reza juga menyandar bersilang dada.


"Sombong sekali." Radit tersenyum mengejek.


"Apakah kita akan terus menakut-nakuti anak Anwar itu hingga gila?" tanya Reza merubah topik pembicaraan, karena jika di lanjutkan pasti ujung-ujungnya Zahira.


"Aku juga berpikir seperti itu. Kau tahu, kemarin aku memergoki Jia sedang mengincar mantan istrimu itu!" ungkap Reza serius.


"Merry?" Radit menatap heran.


"Siapa lagi? Apa kau punya mantan istri yang lain lagi?" ucap Reza kesal. "Mengatai aku pemain wanita, kau sendiri pernah beristri Dua. Kita sama saja, jadi jangan saling menjatuhkan apalagi di depan Zahira!"


"Hais sudahlah! Dimana kau melihat Jia?" tanya Radit kembali serius.


"Di sebuah pusat perbelanjaan. Sepertinya bodyguard Zahira itu ingin menghabisi Merry tanpa sepengetahuan siapapun. Tapi aksinya urung karena Merry tidak sendirian, dia pergi bersama pegawainya."


"Terkadang aku juga berpikir seperti itu." Radit menunduk.


"Yang ku takutkan itu terjadi, dan akhirnya tidak baik, bisa saja Jia masuk penjara! Dan Anwar masih bebas. Lalu bagaimana nasib Zahira dan anak-anak selanjutnya, sudah pasti mereka semakin tidak aman."


"Artinya kita yang harus menyelesaikan semua ini, terutama aku. Akulah sebab Anggara meninggal, dia mendorong Zahira dan mengorbankan diri. Sudah tentu Zahira menyalahkan aku dan sangat membenciku." ungkapan yang terdengar sedih.

__ADS_1


"Ya. Berdoa saja semua cepat berlalu, dan kalian tidak perlu bermusuhan." ucap Reza menghembus nafas kasar.


"Dan kau?" Radit menatap Reza penuh selidik.


"Aku? Ya jika jodoh berpihak padaku, aku akan melamarnya." Reza tak ingin berdebat, pria tampan itu membuka pintu dan segera masuk ke dalam mobil.


"Jangan lupa masih ada aku!" Radit menjawabnya, tentu persaingan akan terus berlangsung.


...***...


Pagi yang cerah di awal pekan, pergi lebih awal adalah pilihan yang bagus menghindari kepenatan jalan raya. Zahira baru saja tiba di kantor setelah hampir satu Minggu beristirahat, tentu banyak berkas yang membutuhkan goresan jari lentiknya.


"Kau sudah datang?" Ricky menyapa.


"Iya Om." Zahira menuju ruangannya bersama Ricky.


"Lima hari lagi acara ulang tahun hotel utama akan dirayakan, sebaiknya jangan terlalu lelah, karena kau harus hadir di sana." Ricky membukakan pintu untuk Zahira.


"Aku sudah lebih baik, dan aku pasti datang. Mas Anggara tidak pernah absen dari perayaan hotelnya, tentu aku akan hadir." Zahira meraih kursi kebesaran suaminya dan duduk berhadapan dengan Ricky.


Mata beningnya menangkap buket bunga mawar putih bercampur merah muda tergeletak indah di atas meja kerjanya.


"Untukmu." Ricky melihat kartu pengirim hanya berinisial R.


"Siapa R?" tanya Zahira menatap Ricky dengan heran.


"Jangan menatapku seperti itu! R bukan berarti aku." Ricky menunjuk kartu yang terletak diantara bunga.


Zahira terkekeh melihat tingkah asistennya itu. "Tentu saja Om, aku hanya sedang berpikir R itu siapa?" Zahira kembali terkekeh.


"Mana aku tahu, Radit mungkin? Reza?" jawabnya dengan meninggikan kedua bahu.


"Radit tak mungkin berani mengirim bunga." Zahira sedang memikirkan satu nama.


Ricky tersenyum mengerti, tentu yang ada dalam pikiran Bos cantiknya itu adalah Reza Mahendra. Laki-laki yang terlalu gesit untuk mendekati Zahira. Tak peduli bagaimana Zahira masih teramat sangat bersedih dengan kehilangan Anggara. Tapi mungkin ada baiknya, paling tidak tingkah konyol Reza bisa menghibur.


"Om, bagaimana dengan Merry?" tanya Zahira tiba-tiba, pikirannya masih tak teralihkan.

__ADS_1


"Dia sedang di rumah sakit, semalam dia pingsan lagi karena Reza menghantuinya." jawab Ricky menyandar santai.


"Benarkah?" dia menyukai kabar itu. Dia meraih buket bunga dan menatapnya dengan tersenyum.


__ADS_2