
Anggara menggenggam tangan lentik itu sepanjang jalan, mulut mereka tak ada yang bersuara, tapi tautan tangan itu cukup menjelaskan bahwa mereka saling mencintai dan sama-sama takut kehilangan.
"Bunga-bungamu sedang mekar Sayang." Anggara menunjuk taman di ujung halaman rumahnya. Mereka baru saja turun dari mobil dan kembali saling menggenggam tangan.
"Aku sudah lama tidak ke sana." jawab Zahira tersenyum senang.
Anggara mengajaknya menikmati Padang bunga itu, sengaja karena mereka butuh bicara.
"Lihatlah, kupu-kupu berwarna kuning itu sedang menikmati keindahan taman ini." ucap Zahira menunjuk banyak kupu-kupu.
"Mereka datang karena mencium aroma bunga. Seperti aku, aku sudah datang dalam kehidupanmu dan tidak mau pergi. Aroma tubuhmu bagaikan nyawa untukku, sama seperti kupu-kupu, wangi serbuk sari pada bunga-bunga itu mengundang dan membuat kupu-kupu tidak mau pergi." Anggara menatap mesra pada Zahira.
Zahira tersenyum manis sekali, ia membalas tatapan pria itu dengan sama hangatnya.
"Aku rasa ingatanmu sudah pulih semuanya. Aku berharap kau tidak lupa bahwa sebelumnya kau pernah mengatakan bahwa aku adalah tempat berlari. Dan sekarang aku sedang berusaha untuk menahanmu di sini." tangan Anggara masih menggenggam jari Zahira, kini semakin erat kedua tangannya.
"Aku tidak lupa." jawabnya tersenyum, tapi hidung meruncing itu sedikit merasa pedas. Air mata mengikut diantara embun yang sudah menghuni kelopak matanya, sungai kecil itu terbentuk di kedua sisi.
Tangan Anggara terangkat, jari halusnya mengusap pelan, menghapus sungai yang alirannya tak seberapa. "Aku tidak mau kau menangis, bahkan jika kau memintaku membeli separuh dunia agar kau bahagia." dia sedang merayu, tapi sudah jelas jika itu sangat di sukai istrinya.
"Aku hanya butuh kau selalu di sisiku, membesarkan anak-anak kita." jawab Zahira semakin menangis.
Anggara memeluk erat tubuh berisi itu, dia sedang bahagia, walaupun sedikit ada yang mengganjal di dalam hati, mungkin saja Zahira masih memikirkan Radit di sana.
"Aku akan menjadi apapun yang kau minta." bisik Anggara di dekat telinga Zahira.
Kupu-kupu beterbangan berkeliling di taman pribadi itu, sungguh indah semua yang disiapkan Allah untuknya. Suami dewasa yang selalu mengerti, rela melakukan apa saja, juga merawatnya berbulan-bulan tanpa lelah. Lalu anak kembar yang sedang hidup di dalam rahimnya, mereka adalah buah cinta, buah keikhlasan seorang Anggara, buah kebahagiaan dan rasa syukur atas kehidupan yang kadang membuat keduanya menangis dan tertawa, buah penantian bagi seorang laki-laki setia dengan rasa cinta satu-satunya.
Anggara tersenyum menikmati suasana indah dan hangatnya wanita yang bersembunyi erat di dada, dia adalah harta paling berharga Anggara saat ini, istri, dan anak-anak.
__ADS_1
"Sayang, apa yang kau ingat sehingga kau menangis dan berlari padaku saat di rumah Radit?" Anggara menatap wajah dalam pelukannya.
Zahira melonggarkan pelukannya, ia juga teringat sesuatu yang tidak pernah orang tahu.
"Sebelum aku dan Raya kecelakaan, kami datang ke apartemen Merry, dan aku melihat mereka sedang bersama." wajah Zahira menunduk, tapi kemudian membuang pandangan kesalnya.
"Aku tahu." jawab Anggara membuat Zahira terkejut.
"Kau tahu dari mana?" Zahira sungguh heran, sehingga matanya berkedip beberapa kali menatap Anggara.
"Dari CCTV." Anggara tersenyum, ia gemas sekali melihat wajah ingin tahu Zahira, pria itu mencubit pipi mulusnya.
"Oh, ku kira kau juga ikut menyaksikan Radit bermain dengan wanita itu." bibir merahnya mengerucut.
"Tidak baik berprasangka buruk pada orang lain, apalagi aku. Aku jadi ingin melakukannya bersamamu, bahkan sampai sekarang kau masih sangat liar." Anggara menggodanya.
Zahira tersenyum lebar hingga menyipit matanya, dia sungguh bahagia sekaligus malu jika mengingat ia sering merengek, meminta bahkan memaksa dengan tak sabar.
"Kita tidak membahas itu!" Zahira kembali memeluk tubuh gagah Anggara.
"Baiklah." Anggara tertawa lepas, senang sekali melihat istrinya salah tingkah jika sedang di goda olehnya.
"Besok aku akan menemui seseorang, baru saja aku mendapat kabar bahwa mereka sudah menemukan laki-laki yang membuat mobilmu meledak." ungkap Anggara kembali serius.
"Laki-laki?" tanya Zahira mengulang.
"Ya, dan itu adalah orang yang berhubungan dengan Radit, juga istrinya saat ini." jelas Anggara, semakin membuat Zahira terkejut.
"Aku ingin melihat siapa orangnya." Zahira jadi sangat penasaran.
__ADS_1
"Nanti, jika dia sudah di penjara. Aku akan menghukum setiap orang yang sudah mengusik istriku." ungkapnya, menakutkan tapi terdengar mesra di telinga Zahira.
"Aku tidak punya musuh." Zahira menatap bingung.
"Memang, tapi Radit membawa seseorang untuk hadir dan memusuhi mu. Juga aku, saingan bisnis dan orang licik di luar sana akan ikut memusuhimu. Bahkan ada yang mengintai rumah kita beberapa hari yang lalu."
"Benarkah?" ucapnya khawatir.
"Kau tidak boleh jauh dari Jia, hanya dia sekarang yang dapat dipercaya." ucap Anggara benar-benar serius.
"Iya." Zahira mengangguk mengerti. "Kau tahu, tadi anak-anak kita bergerak, dia bergerak dan menendang." ucapnya lagi dengan wajah sangat bahagia.
"Dia bergerak? Kapan dia bergerak lagi, aku juga ingin merasakan tendangannya." Anggara berjongkok dan meraba perut yang besar itu, mengelus dan menempelkan telinganya di kiri, kanan, atas dan bawah, tingkah pria itu terlihat lucu sekali, membuat Zahira terkekeh geli. Hingga kemudian pria itu menyadari tingkahnya tidak mendapat respon dari kedua berudu di dalam sana, ia berdiri beralih memeluk dan menciumi wajah cantik istrinya.
*
Pagi itu, Anggara beserta Dua asistennya 'Ricky dan Ricko' sedang menuju sebuah tempat agak jauh dari pusat kota. Mereka bertiga sengaja bersama untuk melihat dan mempertimbangkan hukuman untuk lelaki penyebab kecelakaan mobil Zahira.
Dua asisten sekaligus pengacara itu tampak tenang dengan kaca mata hitam di dua pasang mata mereka. Keduanya selalu terlihat kompak dengan style dan gaya yang hampir sama. Banyak diantara rekan mereka mengatakan jika asisten Anggara adalah saudara kembar.
"Kalian buat dia mengaku." perintah Anggara saat akan memasuki sebuah ruangan di gedung tiga lantai namun kosong tak terawat.
"Tentu." jawab Ricky penuh semangat.
"Ternyata anak kecil!" Ricko menatap tak percaya pada seorang laki-laki muda meringkuk di lantai beralaskan busa tipis.
"Memang anak kecil, tapi otak kriminalnya melampaui orang dewasa!" Ricky menjawab sambil memperhatikan pria muda itu dari kaki hingga kepala.
"Wah, kau akan di jerat banyak pasal, kau akan di penjara sangat lama. Sayang sekali di usia muda yang seharusnya kau menjalani hari bahagia dan penuh cinta bersama kekasihmu, kau malah lebih memilih di penjara!" Ricky berbicara banyak, sekaligus menakut-nakuti.
__ADS_1
"Benar sekali. Kau tahu, dulu aku seusianya memiliki kekasih yang cantik sekali, dan dia sangat suka jika aku berkunjung kerumahnya diam-diam. Kami menghabiskan waktu berhari-hari jika ayahnya sedang tidak ada di rumah." Ricko memprovokasi pria muda yang semakin serba salah.