
Karena rasa tidak sabar Anggara langsung menerobos masuk, Manager muda itu menghalangi dengan sekuat tenaga hingga terjadi saling dorong antara Anggara dan Manajer muda. Salah satu bodyguard Anggara maju menyerang Manager rumah sakit itu seperti menerkam, langsung mencengkeram erat kerah baju dan mendorongnya hingga terdengar benturan keras di pintu ruang UGD rumah sakit, membuat semua orang terkejut dan keluar menyaksikan keributan itu.
Anggara masuk, ia sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi.
Beberapa menit berlalu dengan posisi bodyguard itu masih menyudutkan pria muda di pintu UGD.
Anggara keluar, namun raut wajahnya lesu dan menunduk. Pria itu tak menoleh siapapun dan berjalan menuju jalan keluar, membuat semua mata mengikuti langkahnya.
"Anggara!" Ricky memanggil, tentu ia ingin tahu siapa di dalam, tapi dengan raut wajah kecewa itu dapat di pastikan Anggara tak menemukan apa-apa.
Ricky menoleh sekilas, satu tangannnya terangkat mengisyaratkan bodyguard itu untuk melepaskan cengkeramannya pada pria muda yang sudah tak bisa apa-apa. Ricky bukanlah orang yang mudah di bodohi, ia menangkap senyum tipis yang membuat ia sungguh benci.
"Untuk pembangunan rumah sakit ini, aku rasa kami akan meninjau ulang. Maaf mengecewakan!" Ricky berlalu dengan langkah arogan.
"Tapi tuan, bukankah tadi anda sudah berjanji akan membantu?" Dokter laki-laki yang sudah berumur itu mengejar langkah Ricky.
Ricky berhenti dan menoleh. "Kalian sudah membuat atasan kami memohon, harusnya itu tak perlu terjadi. Kau tahu, orang yang menemukan gadis itu akan mendapatkan uang sepuluh miliar, dan kami tidak sedang main-main disini." Ricky melanjutkan langkahnya di ikuti dua bawahan dan dua bodyguard di belakangnya.
"Tunggu!"
Kali ini suara dokter wanita yang menjabat sebagai kepala rumah sakit yang memanggil, wanita yang juga sudah berumur itu mengejar dan menghadang Ricky.
"Dia ada disini!" ucapnya dengan wajah berusaha setenang mungkin, sudah pasti ia gugup dan takut.
Ricky masih tak bergeming, matanya menatap tajam pada wanita berpakaian putih itu.
"Aku akan bawa atasanmu padanya." ucapnya lagi dengan yakin.
Ricky meminta salah satu dari mereka memanggil Anggara yang sudah lebih dulu masuk mobil.
"Aku tidak menginginkan uang banyak, aku hanya ingin rumah sakit ini tetap berdiri dan berfungsi." ucap wanita itu memohon.
"Itu bukan masalah, aku hanya tidak suka pada pria gila itu. Aku rasa dia punya obsesi lain." Ricky menatap sinis.
Anggara keluar dengan wajah malasnya, ia sungguh ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Ikutlah dengan wanita ini, siapa tahu yang di ucapkannya benar."
Anggara masih terlihat malas, "Aku sudah melihatnya." ucapnya kesal.
"Tidak, dia tak ada di sana." wanita itu menyahut.
Anggara mengerutkan keningnya, ia mulai mencerna ucapan wanita itu.
"Ikut aku!" pintanya lagi.
Semua orang mengikutinya menuju ruangan UGD yang tadi di masuki Anggara, membuat Anggara lebih tidak yakin lagi, namun ia akan mengikuti agar lepas dari rasa penasaran.
"Dokter, mengapa kau bawa mereka kembali?" tampak pria muda itu menatap dengan wajah khawatir.
Namun tak ada yang peduli hingga dokter wanita itu meraih tirai berwarna hijau dan ternyata di belakangnya adalah sebuah pintu. Dia membukanya dan tampak ruangan berukuran sedang dengan banyak alat medis di dalam sana.
"Apa yang kau lakukan?" pria muda itu marah dan menarik dokter paruh baya itu, namun bodyguard Anggara mendekat dengan wajah sangar membuat pria itu pasrah.
Anggara masuk
Ruangan itu sepi, dingin, dan seperti ruangan rahasia.
"Zahira!"
Ucapnya langsung mendekati wajah yang terpasang oksigen itu, dan benar dia adalah Zahira. Rambut halusnya terurai begitu saja tanpa penutup kepala, wajah mulusnya terlihat jelas membuat Anggra ingin segera membelainya.
Mata coklat itu tak mampu berpaling dari wajah cantik yang diam memejamkan mata, meraih jemari lentik dan mengecupnya perlahan.
"Zahira, akhirnya aku menemukanmu, akhirnya Tuhan mengabulkan doaku. Kau kesayanganku dan sudah berjanji untuk pulang ke rumahku"
Dia memeluk tubuh yang tertidur pulas, air mata pria itu jatuh tanpa terasa, tangannya begitu erat memeluk dan menggenggam jari halus kekasihnya.
"Bawalah dia ke rumah sakit yang memadai." ucap dokter wanita itu.
"Tentu saja, terimakasih kau sudah memberitahuku, dia calon istriku, aku sudah hampir putus asa mencarinya." jawab Anggara dengan mengusap tetesan bening di sudut mata. "Bisakah kau siapkan alat-alat ini untuk ku bawa, aku akan membawanya ke rumah sakit Jakarta." Anggara menatap dokter wanita itu dengan memohon.
__ADS_1
"Tentu!" jawabnya tersenyum.
"Ricky, kau minta Ricko mengurus kedatangan kita, dan rumah sakit terbaik luar negeri." perintah Anggara.
"Kau fokus saja padanya." Ricky tersenyum meyakinkan Anggara.
Hampir satu jam dokter wanita itu menyiapkan alat di mobil Anggara bersama para bawahan Anggara yang tampak gesit.
"Sudah siap Tuan." Dokter itu meminta Anggara mengangkat tubuh gadis kecilnya menuju mobil dengan beberapa alat infus dan oksigen tetap ikut di bawa bersama orang-orang ikut memeganginya.
"Kita akan pulang sayang." ucap Anggara pelan.
Pria itu tersenyum, ia sungguh-sungguh bahagia bisa menemukan gadis kesayangannya. Meskipun rasa khawatirnya tak mungkin di tutupi paling tidak saat ini dia sedang menggendong gadis kecilnya, tak ada jarak, tak ada kegelisahan, rindu itu sedikit berkurang, hanya masih butuh perjuangan untuk benar-benar membuatnya kembali.
"Terimakasih, aku berjanji akan membangun rumah sakit ini hingga selesai. Kau juga tak perlu khawatir masalah uang, salah satu dari mereka akan kembali mengurus semuanya." ucap Anggara pada wanita paruh baya itu.
Wanita itu tersenyum.
"Dia memang jodohmu, tak ada satupun yang bisa mencurinya." jawabnya melirik pria muda yang duduk menunduk di teras samping rumah sakit.
"Terimakasih." jawab Anggara lagi.
*
Satu Minggu kemudian di Jakarta, Raffles Hospital Singapore.
"Tuan Anggara, pasien sudah sadar." Dokter muda dengan gigi rapi itu tersenyum senang.
"Dia sadar?" tanya Anggara tak percaya, satu Minggu di rawat di rumah sakit itu membuat kondisi fisik Zahira membaik.
"Silahkan anda temui tapi tidak bisa terlalu lama. Pasien sangat lemah dan setelah dia pulih secara fisik, dia akan segera kita kirim ke Singapura, dia harus segera di operasi." Dokter itu menjelaskan.
"Iya, lakukan saja yang terbaik." Anggara terlihat bahagia.
"Tapi_"
__ADS_1
"Tapi apa?" Anggara duduk kembali dengan serius, ia takut sesuatu yang buruk terjadi.
"Jika di operasi, dia akan mengalami beberapa kemungkinan."