
"Semua manusia mempunyai harapan Mama, bahkan yang sudah tak berdaya masih memiliki harapan untuk hidup. Begitu juga aku yang masih hidup, masih punya harapan untuk bahagia, walaupun aku tidak tau kapan masa itu akan tiba." Radit menggeleng, lalu menunduk dengan nafas yang tak juga terasa lega. "Terkadang aku masih berharap Zahira masih hidup." ucapnya tersenyum getir.
"Dia tidak bisa menerima anakmu Nak, itulah penyebab dia menggugat cerai dirimu." Ayu berusaha perlahan menjelaskan.
"Iya." Radit kembali menahan kesedihan itu sendiri, dia juga tidak mungkin memaksakan Zahira menerima anaknya, dia pernah memohon untuk di ceraikan, hingga akhirnya harus di bawa ke pengadilan.
"Nanti sore Merry akan datang kemari, mungkin dengan adanya dia dan calon anakmu kau akan sedikit terhibur." Ayu mengelus lengan Radit.
"Iya." jawabnya berusaha menguatkan diri.
*
Di seberang sana, dia sedang berbunga-bunga mendapat kabar dari ibu mertuanya, ia tengah bersiap menemui Radit dengan wajah berseri dan segudang rindu yang selama Lima bulan lebih ia tahan.
Dia turun dari apartemen itu, segera memanggil taksi dan membawa kopernya masuk ke dalam. Di perjalanan ia sedang membayangkan duduk berdua dengan Radit, menikmati wajah tampannya dengan sepuas hati, siang dan malam tak akan berhenti.
Tak berapa lama, mobil itu berhenti di depan Rumah tiga lantai, terlihat lumayan mewah, dengan taman kecil di depannya, disain minimalis yang sejuk itu membuat Merry ingin segera masuk dan menikmati semuanya berdua dengan Radit.
"Pintu pagar rumah itu terbuka, seorang ART membukakan pintu dengan penuh hormat pada wanita hamil yang akan menjadi majikannya.
"Dimana Radit?" tanya Merry melihat ruangan bawah itu tak ada siapapun.
"Kau sudah datang." Radit turun dari lantai Dua, dia tidka tersenyum, tapi juga tidak terlihat marah.
"Radit!" Merry setengah berlari memeluk Radit dengan erat sekali.
Radit tak membalasnya, hanya memegang bahu Merry dan sejenak kemudian dia melanggar pelukan ibu muda itu.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Radit sedikit tersenyum.
"Tentu aku baik-baik saja, aku selalu menjaga diriku dan anakmu dengan baik." jawab Merry dengan semangat.
"Istirahatlah, biar aku yang membawa tas-mu." Radit meraihnya membawa masuk ke kamar di lantai dasar itu.
__ADS_1
"Kita tidur di sini?" tanya Merry memeluk lengan kokoh Radit.
"Aku di atas." jawab Radit jujur. "Tapi akan di sini jika kau membutuhkan aku." jawabnya lagi takut Merry kecewa.
"Aku ingin tidur di kamar yang sama denganmu." dia sedikit merengek.
"Iya, aku akan pindah kesini nanti." jawab Radit malas berdebat, ia harus mengalah dan membuang egonya. Dia sadar jika saat ini dia bukanlah anak kecil lagi.
"Aku rindu sekali." Merry memeluk Radit lagi dan bergelayut manja.
"Maaf aku baru bisa kembali, aku jadi melupakan mu." ucap Radit tak ingin mengecewakan.
"Aku tidak pernah lupa, aku akan mengingatkanmu bahwa kita akan segera memiliki anak tiga Minggu lagi. Kau akan menjadi Ayah, dan aku akan menjadi Ibu." ucapnya dengan lembut dan menatap sendu.
"Terimakasih, hanya ini yang tersisa." Radit memegang perut yang amat besar itu, dia merasakan hangatnya tubuh wanita yang sedang menahan berat di tubuhnya. Ia begitu bangga saat sebuah pergerakan terasa menyentuh tangan dari dalam sana bayi itu menyapa.
"Dia bergerak?" Radit menatap wajah Merry yang sedikit meringis.
"Sakit." ucap Merry mengernyitkan hidungnya, tentu saja gerakan yang lincah itu membuatnya nyeri.
Wanita itu tak melewatkan kesempatan, memeluk Radit dan menyadarkan kepalanya di bahu hangat Radit, membiarkan tangan besarnya mengelus dan bermain di perut yang menjadi kebanggaannya.
"Aku menyukainya." Radit tertawa dan terus menatap wajah Merry yang sesekali masih meringis, ia menyukai interaksi itu, begitu membuat ia kembali bahagia, dan sepertinya juga tak masalah istri sirinya sedikit bermanja.
"Dia anakmu Radit, dia sangat merindukanmu." ucapnya terdengar manja.
"Sepertinya bukan hanya dia, tapi juga kau." Radit sedikit menggodanya, pria itu hanyut dalam kehangatan temu rindu pada anak yang masih ada di dalam sana.
"Tentu saja." Merry menjawab dengan malu-malu, tapi kemudian kembali mengeratkan pelukannya.
*
Di rumah yang lain, pagi itu seorang wanita sedang menunggui sebuah benda yang ia letakkan di atas tisu, wajahnya terlihat tegang dengan tangannya tak henti bergerak, memegang kepala, lalu perut, dan kemudian menarik tisu dan kembali meletakkannya.
__ADS_1
"Sayang!" Anggara memanggilnya dari luar.
"Sebentar!" gadis itu berteriak, tak juga membuka pintu kamar mandi.
Hingga beberapa saat kemudian, ia keluar.
"Bagaimana?" Anggara menatap wajah cantik itu dengan rasa tak menentu.
Zahira masih tak membuka suaranya, menatap Anggara dengan tak berkedip, bibir merahnya mengerucut.
Anggara menarik nafas dan meraih tubuh kecil Zahira ke dalam pelukannya, ia mengelus dan mengecup kening gadis itu. "Artinya kita harus berusaha lebih keras." ucapnya menenangkan hati istrinya.
"Kata siapa?" jawab Zahira masih di dalam pelukan Anggara.
Anggara jadi berpikir, ia melonggarkan pelukannya dan melihat wajah cantik itu dengan sedikit mengerutkan keningnya.
"Aku hamil!" teriak Zahira memperlihatkan benda kecil itu di depan wajah Anggara.
Perlahan tangan hangat Anggara meraih benda kecil itu dan memperhatikan sejenak, senyum lebarnya tercetak sempurna. Ia sangat bahagia, mata coklatnya berkaca-kaca, akhirnya ia akan memiliki pewaris kerajaan bisnisnya, keturunan dari seorang Zahira yang selalu menjadi wanita sempurna di matanya, wanita paling ia cintai di dunia.
"Ini benar." ucapnya masih melihat benda kecil itu.
"Memang benar." jawab Zahira masih sangat bersemangat.
"Terimakasih, terimakasih banyak sudah bersedia menjadi istri dan mengandung anakku." Anggara memeluknya begitu erat, mengecup seluruh wajah dan kembali menenggelamkan tubuh kecil istrinya. Rasa kurang puas dan seperti masih tak cukup dekat, pria itu menggendong dan mengajaknya berputar-putar.
Lelah, lalu membawanya ke ranjang besar itu, kembali memberikan ciuman bertubi-tubi, tak melepaskannya hingga waktu yang lama.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu Zahira-ku." Anggara membenamkan wajahnya di leher Zahira, wangi dan menenangkan.
"Aku juga mencintaimu, aku tidak mau kau meninggalkan aku hanya karena aku belum hamil, dan sekarang kau tidak punya alasan." Zahira menatap sendu tapi wajah cantiknya begitu menggemaskan.
"Aku tidak akan pernah melakukannya."
__ADS_1
Kembali larut dalam kebahagiaan yang sedang berada di puncak, menikmati aroma vanila rasa madu yang selalu ia dapat di tubuh gadis itu, Anggara begitu menyayanginya, mengagumi juga memujanya. Ia tak pernah lelah membuat gadis itu bahagia, puas dan senang. Tangan halusnya tak pernah bosan menghangatkan jiwa muda dengan gerakan penuh damba, ia akan melakukan segalanya untuk Zahira.