
Senin ketika itu. Setelah beberapa Minggu terlewati, namun masih tak merubah keadaan. Radit tetaplah laki-laki yang dingin saat berhadapan dengan wanita selain Zahira.
Ah, lagi-lagi Zahira!
Merry tersenyum sinis ketika melihat pria itu datang dan langsung duduk di bangkunya. Sungguh tampan seorang Raditya, kulitnya, mata, hidungnya, dan rambutnya yang rapi, lurus dan menarik sekali untuk di tarik saat melakukan itu bersamanya, juga postur tubuhnya yang gagah dan menggoda, menggelitik naluri wanita remaja yang sudah mengalami dan merasakan nikmatnya bercinta.
Tapi tidak bagi Radit, pria itu tak suka di perhatikan oleh Merry, sekali ia menoleh, namun kemudian tak sekalipun lagi ia mengulanginya, bahkan memunggunginya hingga jam belajar berakhir. Radit mengemas buku juga alat tulis di atas meja, kemudian memakai kembali jaket andalannya, berjalan keluar tanpa menoleh siapapun juga.
"Radit!" panggil Merry saat sudah berada di parkiran.
Radit menoleh dengan mengerutkan keningnya, "Ada apa?" tanya Radit malas.
"Aku perlu bicara serius denganmu." ucap Merry
"Aku harus pulang menemui istriku." jawab Radit, ia melangkah pergi terburu-buru menuju mobilnya, tentu saja itu membuat nyeri hati Merry. Radit masuk ke dalam mobil dan Merry juga ikut masuk di dalamnya.
"Apa kau sudah gila?" bentak Radit pada gadis itu.
"Aku hamil!" ungkapnya dengan hasil tes kehamilan ia letakkan di dada Radit.
Seperti mendapat tembakan mendadak Radit begitu terkejut, sungguh ia tidak ingin mendengar kata-kata itu. Perlahan Radit melihat benda kecil yang terjatuh di pangkuannya, mengambilnya dengan tangan bergetar dan menatap dua garis berjejer di tengah benda mirip seperti lidi itu.
"Kita harus menikah Radit." ucap Merry lagi dengan menangis.
"Tidak! Ini tidak mungkin!" Radit menggeleng dan membuang benda itu sembarangan. Sejenak ia diam lalu kemudian meremas rambut lurusnya dan membentur-benturkan kepalanya di alat kemudi yang tadi dipegangnya.
"Tidak Merry, aku tidak yakin itu anakku. Aku hanya ingin memiliki anak dari istriku bukan denganmu. Lagi pula kau yang menjebakku, aku tidak akan bertanggung jawab atas kesalahanmu." tegas Radit dengan emosi.
"Tapi ini anakmu Radit!" pekiknya tertahan.
__ADS_1
"Aku tidak yakin Merry."
"Kau harus yakin kita melakukannya dan kau melepaskan milikmu di dalam sana." Merry hampir kehabisan kata-kata.
"Aku tidak mau anak darimu!" bentaknya lagi.
"Kau harus mau, ini darah dagingmu." ucap Merry lagi, tentu ia akan terus mendesak Radit.
"Tidak, sekali lagi ku tegaskan tidak!" Radit tak mau kalah.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memberitahu istrimu, ibumu dan ayahmu." ancam Merry dengan wajah dingin dan penuh amarah.
"Jangan kau coba menyentuh istriku, aku bisa menghabisimu jika itu sampai terjadi." Radit juga ikut mengancam.
"Kau pikir aku bodoh?" Merry menyeringai licik.
"Apa lagi?" Radit semakin marah.
"Aku tidak percaya." jawab Radit, sengaja ia memancing kebenaran atas ancaman itu.
"Oh baiklah." Merry mengambil ponsel dari tasnya dan menekan beberapa tombol.
Ponsel Radit berbunyi dan ia segera melihat isinya. Dua bola matanya membulat sempurna menyaksikan film pendek yang baru saja di terima dari ponsel Merry.
"Kau sudah gila!" Radit menatap jijik pada gadis itu.
"Aku memang gila, jadi ku harap kau pikirkan lagi keinginanku." ucap Merry, dengan tenang dia melangkah keluar dan melenggang menuju mobilnya. Matanya melirik Radit sekilas, tatapan kemenangan itu begitu membuat Radit lemas dan semakin marah.
"Akhirnya." ucap Merry lega. Ia belum juga melajukan mobil itu sebelum Radit lebih dulu berlalu. Ia senang sekali hari ini, Merry yakin jika setelah hati ini Radit akan menjadi miliknya.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu tersenyum-senyum begitu?" Entah kapan dia mendekat, tiba-tiba saja Vino sudah duduk di samping Merry.
"Radit akan menikahiku." jawabnya lembut, ia tahu jika Vino tak suka mendengarnya. Tapi Merry akan tetap membujuknya agar Vino tidak kecewa.
"Artinya aku akan kau campakkan." Vino menatap sedih.
"Tidak, kau tidak boleh berpikiran seperti itu. Kau adalah teman terbaikku Vino, kau sangat tampan, baik, sangat mengerti diriku, dan yang paling penting,... Kau hebat sekali." puji Merry mendekatkan kepalanya di bahu Vino.
Pria itu tersenyum, ia senang mendengar pujian dari wanita yang juga dipujanya itu, tapi entahlah, mendadak dia merasa hanya menjadi serep untuk kekasihnya, hanya berguna saat Raditya tidak ada.
"Ayo kita pulang, Papa sedang ke luar kota. Aku ingin makan Mie pedas hari ini, apa kau mau menemaniku?" Merry memintanya dengan semangat dan hati yang bahagia.
"Ya." jawab Vino singkat, hatinya sakit tapi tidak mampu menolak.
Malam harinya, tidaklah menyenangkan bagi Vino juga Raditya. Radit yang bingung harus bagaimana, ia tidak mau kehilangan Zahira. Sedangkan Vino sedang bersedih karena ia tidak mau kehilangan Merry kekasihnya. Ia bosan terus-menerus memikirkan Merry, tapi tetap saja hasilnya sama, Merry memilih Radit daripada dirinya.
"Heh, mengapa aku harus bingung, bukankah aku harusnya senang karena dapat menikmati hari dengan indah bersamanya. Tak perlu ku pikirkan dia akan menikah dengan siapa, lagi pula aku laki-laki, bukankah seharusnya dia yang khawatir dengan keputusannya sendiri. Jika dia menganggapku bodoh dan bisa di manfaatkan, mengapa aku tidak bisa menganggap dialah yang bodoh dan bisa ku nikmati." Vino menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak habis pikir dengan wanita seperti Merry.
"Jika dia bisa melakukan apa saja demi Radit, lalu aku? Mengapa aku tidak bisa memanfaatkan dia demi keinginanku terpenuhi, hingga aku bosan." Vino menyeringai.
Akhir pekan itu biasanya Vino akan menghabiskan waktu bersama Merry sepuas hati, tapi berbeda kali ini Merry malah menghilang. Vino menghubunginya tapi ponselnya mati. Dan tiba-tiba ia berpikir jika harus tahu dimana Radit, dan ternyata sama, bahwa ponsel keduanya sama-sama tidak aktif.
"Ku rasa mereka sudah menikah." ucap Vino pelan.
Benar saja ketika beberapa hari kemudian Merry sudah tidak tinggal di rumahnya lagi, ia sudah berpindah di sebuah apartemen tidak begitu merah, tapi cukup nyaman untuk ia tinggali.
Bulan berikutnya, Radit datang ke sekolah, tapi tidak masuk kelas, ia tidak mengikuti pelajaran, tapi jam pulang sekolah ia sudah ada di luar gerbang. Vino curiga jika Radit pergi ke rumah Merry dan menemaninya seharian.
"Kau dari mana saja?" tanya Vino saat mereka akan pulang bersama.
__ADS_1
"Aku ada urusan." jawab Radit tak mau menjelaskan. Pria itu malah diam tak memulai obrolan apapun sepanjang jalan, membuat Vino semakin penasaran.