Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
269. Menjadi ayahku


__ADS_3

"Habiskan sarapan mu." Ayu mendekatkan susu kepada Satria.


"Nenek mau kemana?" tanya Satria menatap Ayu yang sudah rapi pagi ini, itu tak biasa bagi mereka mengingat Ayu hanya di rumah saja.


"Nenek akan bekerja hari ini, Pamanmu sedang banyak pekerjaan." Jawab Ayu menatap Radit yang terlihat heran.


"Artinya aku akan berangkat bersama Mama." Zahira menyahut.


"Papa akan mengantarkan cucu-cucu Papa ke sekolah." David tersenyum senang.


"Ada sopir yang akan mengantar mereka Papa." ucap Zahira menatap David.


"Papa masih muda, kau tenang saja." jawab David mengundang tawa dari semua orang.


"Apakah Jia sudah kembali?" Ayu menanyakan Jia karena dua hari ini tak melihatnya.


"Sudah Mama, hanya dia sedang ada urusan dengan Akbar, sepertinya mereka akan segera menikah."


"Oh, itu bagus sekali." Ayu terlihat senang mendengar kabar tersebut.


"Baiklah, kita akan segera berangkat." David sudah selesai, begitu juga anak-anak. Mereka terlihat sedang menegak susu bersamaan.


"Paman sudah berjanji akan menjemput kami setiap hari." Satria mendekati Radit.


"Tentu saja, hanya kemarin itu Paman sibuk sekali." jawab Radit sedikit menunduk.


"Tapi Paman sudah janji, jika sekali lagi ingkar janji maka perjanjian kita akan batal." ucapnya dengan mata bening tajam menatap Radit.


"Paman tidak akan ingkar janji." Radit berucap yakin.


"Kau terlalu merepotkan." Sadewa menegur Satria.


"Tentu saja harus berusaha keras untuk menjadi Ayahku."


Uhugkh...uhugkh.


Zahira tersedak hebat mendengar pembicaraan anak-anak dengan Radit.


"Minum Sayang." Ayu memberikan air minumnya, sepertinya Zahira mengalami sakit di dadanya juga akibat makanan yang tertelan paksa.


Zahira meraih air minum dan segera meneguknya, sejenak kemudian mengatur nafas mengurangi rasa sakit.


"Ibu." Satria dan Sadewa mendekat.


"Pergilah." Zahira mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Assalamualaikum Ibu." ucap mereka bergantian mencium punggung tangan Zahira. Juga yang Ayu dan Radit.


"Wa'alaikum salam Sayang." Zahira masih memegangi dadanya hingga mereka sudah berlalu.


Zahira menatap Radit yang tampak tak peduli, walau sesekali melirik Zahira tapi tak berniat untuk bicara. Sementara Ayu memilih untuk pura-pura tidak tahu, membiarkan semua berjalan apa adanya, walaupun di belakang mereka Ayu dan David akan berusaha menyatukan anak-anak mereka kembali.


"Kita berangkat Sayang." Ayu mengajak Zahira pergi bersama.


"Apakah Radit tidak bekerja?" tanya Zahira melihat mobil. masih tertutup rapat.


"Bekerja, cuma dia sedang ada urusan lain." Ayu meminta sopir melaju. Mereka duduk berdua di belakang.


"Proyek kalian sudah sembilan puluh persen Sayang, hanya properti pelengkap saja yang belum masuk." Ayu mempelajari berkas ditangannya.


"Iya, bulan depan selesai, dan awal bulan berikutnya resmi di buka." jawab Zahira duduk tenang di samping Ayu.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di kantor Hartawan II Kantor milik Raditya.


"Ayo Sayang." Ayu mengajak Zahira masuk, dan sekilas ia melihat mobil berwarna hitam dengan BG mewah telah terparkir di halaman, sepertinya Reza Mahendra sudah ada di dalam.


Ruang Rapat sudah siap, tiga orang sekretaris dan dua orang laki-laki sudah siap di dalamnya, Ricky dan Reza Mahendra.


"Selamat pagi." Ayu masuk dengan langkah arogan khas seorang pemimpin perusahaan.


"Selamat pagi." Semuanya berdiri menyambut Ayu yang hari ini tiba-tiba datang menggantikan Radit.


"Baik Tuan Ricky, aku hanya sedang bosan di rumah. Lagi pula putraku sedang ada urusan." Ayu duduk bersama dengan Zahira di sampingnya.


"Oh, begitu rupanya." Ricky menatap atasannya yang tampak nyaman di samping Ayu.


"Apakah berkas milikku di bawa?" tanya Zahira kepada Lili dan Ricky.


"Ada." Ricky memberikan map milik Zahira.


Rapat di mulai dengan sangat baik, tangan mereka semua sibuk membolak-balik kertas dan menyampaikan hasil kerja masing-masing. Hingga lebih dari satu jam mereka sudah selesai.


"Baiklah, terimakasih sudah hadir di kantor perusahaan kami." Ayu tersenyum ramah saling berjabat tangan dengan semuanya.


"Mama." Zahira tersenyum lebar mendapat jabat tangan dari ibunya, tak pernah di sangka jika ada waktu seperti ini, di kantor yang berbeda dan bekerja sama.


"Kau pemimpin sekarang, Mama ada di bawahmu." Ayu memeluk Zahira.


"Kami akan kembali ke kantor." Ricky mengisyaratkan Zahira pulang bersamanya.


"Ah, maaf kami ada keperluan yang lain." Reza menyela ucapan Ricky.

__ADS_1


"Ya." Zahira mengangguk setuju, mereka memang sudah berjanji akan pergi berdua untuk berbicara hal serius.


"Baiklah." Ricky melihat jam tangannya, masih pukul 09:40.


"Permisi." mereka semua membubarkan diri.


Sementara Reza mengikuti langkah Zahira hingga di parkiran.


"Sayang." Reza meminta Zahira masuk ke mobilnya.


"Terimakasih." Zahira masuk duduk bersebelahan dengan pria tampan tersebut.


Dari luar bisa dilihat jika mereka sangat serasi, Zahira yang ramping ideal, cantik dan anggun. Sedangkan Reza tinggi, gagah dan tampan, tubuh yang tidak terlalu berotot, kaki dan lengan yang ramping tapi memiliki dada yang lebar, wajah tampan dengan hidung mancung dan bibir tipis berkumis. Di tambah lagi sikapnya begitu mesra dan hangat, wanita mana saja akan meleleh dan bersedia disampingnya.


"Apa yang Radit katakan?" Reza bertanya setelah mobil mereka melaju.


"Tidak ada, hanya dia sedikit tak suka denganmu. Ku rasa kalian sedang salah paham." Zahira menatap mata Reza mencari jawaban.


"Tentu saja aku tak suka, dia masih mencintaimu Zahira. Aku cemburu, aku benar-benar gelisah jika kau dekat dengannya." jelas Reza.


"Tapi tak bisa dihindari kami akan selalu bertemu. Papa dan Mamanya adalah orangtuaku juga Mas Reza." Zahira mencoba menjelaskan.


"Entahlah Sayang, aku merasa Tuan David dan Ibumu juga tidak mnyukai aku." Reza tampak kecewa.


"Mama tidak seperti itu, sebelumnya dia mengizinkan aku dekat denganmu atau siapa saja. Hanya ketika Ibumu mengatakan terus terang tentang rasa tidak sukanya padaku, Mama mulai tak memberi dukungan terhadap kedekatan kita."


"Tapi aku tidak peduli dengan apapun kata ibuku, yang terpenting adalah kita bisa bersama." Reza kembali meyakinkan Zahira.


"Baiklah, kita bicara di dalam saja." Zahira menunjuk sebuah Cafe yang merupakan tujuan mereka.


"Ya." Reza turun lebih dulu, dan membuka pintu untuk Zahira seperti biasa.


"Aku ingin kita selalu berdua seperti ini." Reza menoleh Zahira yang berjalan sejajar dengannya.


Zahira tersenyum lalu menuju sebuah meja yang masih kosong.


"Mas."


"Sayang, mari menikah." Reza tak memberi kesempatan Zahira untuk bicara.


"Aku tidak _"


"Aku mohon, kita menikah secepatnya, aku sudah tidak tahan lagi dengan keadaan ini." Reza semakin mendesaknya.


"Aku harus bicarakan dengan Mama dan Papa, bagaimanapun juga mereka yang mengurusku hingga saat ini, ini masih terlalu cepat untukku."

__ADS_1


"Mereka bukan orang tua kandungmu Zahira, tentu mereka akan mendukung Radit untuk manjadi suamimu lagi!"


__ADS_2