
Pulang hingga sore hari, pekerjaan yang menumpuk membuatnya kerepotan hari ini. Sedikit lelah namun rasanya lebih lega setelah bekerja dengan serius. Seiring waktu perlahan sosok yang manja dan tidak tau apa-apa itu kini mulai menunjukkan kemampuannya. Walau terkadang lelah, malas dan jenuh melanda, namun sebuah ungkapan sekaligus pujian beberapa tahun yang lalu ketika dia baru mengenal Anggara. "Anak pengusaha tentu akan menjadi pengusaha."
Sungguh masih jelas mengiang di telinga ketika ucapan itu keluar dari bibir tipis pria dewasa bernama Anggara. Membuatnya kesal, tidak menyerah mengajarinya bekerja walaupun Zahira sangat tidak menyukainya kala itu. Selalu membantah dan mendebatnya setiap hari.
"Ibu!" teriakan kedua putra tercinta, penyemangat sekaligus tumpuan hidup.
"Sayang." Zahira membentangkan kedua tangannya memeluk mereka bersamaan.
Rasanya hangat dan lembut, suara khas anak-anak yang selalu menyejukkan telinga, penyembuh dikala lelah, penyemangat dikala putus asa.
"Kami punya kabar baik untuk Ibu." ucap Satria mendengarkan wajah Zahira.
"Oh ya? Apa itu Sayang?" Zahira duduk dengan satu kaki menekuk, menatap wajah putra-putra tampannya.
"Kami lulus ujian kelas Dua Sekolah dasar, artinya semester depan kami sudah kelas Tiga." Sadewa tak mau ketinggalan memberikan kabar bahagia, Satu gigi yang sudah terlepas itu semakin membuat gemas.
"Alhamdulillah, anak-anak Ibu sangat hebat. Ibu bangga sekali." Zahira mencium pipi mereka bergantian, memeluk lagi dengan gemas.
Kembali menatap wajah mereka bergantian, Satria yang tampan merupakan kesayangan Anggara, dan Sadewa yang lebih mirip ayahnya, merupakan kebanggaan dan harapan bagi Anggara.
Ah, rasanya air mata itu sudah tak punya penampung lagi, sehingga ketika mengingat kebahagiaan yang sudah terlewat itu langsung terjatuh tanpa menunggu aba-aba.
Sekilas mata yang mulai buram itu melihat pria muda yang begitu dikenalnya sedang menatap dari ujung halaman tempat dia dan anak-anak bermain. Masih tanpa senyuman, sepertinya mata menyipit itu sedang ikut merasakan sedih dan mungkin bersalah.
Bedanya, saat ini sudah tak ada pertengkaran lagi antara dia dan Zahira, perlahan luka yang berdarah mulai mengering, hingga perihnya berangsur berkurang. Tapi bekasnya masih ada bukan?
Radit memilih berbalik masuk ke dalam rumah tanpa bertegur sapa atau hanya berbasa-basi. mungkin lelah berusaha, atau mungkin merasa percuma.
"Apa Mama sudah siap?" tanya Radit sambil menuangkan air putih di ruang makan.
"Sudah. Duduklah sebentar tunggu Zahira masuk dan beristirahat." Ayu sudah menyiapkan tas juga beberapa pakaian saja untuk di bawa pulang.
Tak lama kemudian terdengar suara anak-anak dan Zahira bercanda, suara mereka memenuhi ruangan besar itu.
"Itu mereka." Ayu tersenyum senang.
"Apa Mama akan pulang?" tanya Zahira seperti tak rela, terbiasa selalu bersama Ayu juga David terkadang ikut menginap, membuatnya sedih jika Ayu pulang meski hanya beberapa hari saja.
__ADS_1
"Ya, kasihan Papamu. Lagi pula Mama harus menyiapkan keperluan Radit di sana nanti. Sekalipun ada Bibi, tapi rasanya ada yang tak lengkap jika Mama tidak turun tangan." sedikit bercanda.
"Baiklah." Zahira ikut duduk dan meraih air putih, meneguk hingga habis.
"Itu milikku." Radit menunjuk gelas yang sudah kosong.
Zahira juga menatap gelas tersebut. Benar saja bahkan dia belum menuangkan air ke dalam gelas.
"Maaf." ucapnya merasa malu.
Ayu terkekeh melihat mereka seperti itu. "Bukannya sudah bias, saat kecil itu sering terjadi. Dan kau tak pernah marah." Ayu melirik Radit.
"Aku tidak marah, hanya aku belum minum." Radit kembali menuang air di gelas yang sama.
Meski ingin protes bahwa gelas itu bekas bibirnya, tapi tak berani bicara. Hanya membiarkan dengan melihat lalu pura-pura tak melihat ketika Radit menoleh padanya.
"Kalau begitu Nenek pulang dulu. Kalian jangan nakal." Ayu memeluk kedua cucunya bergantian, kedua anak laki-laki yang sedang duduk lelah itu menatap sendu.
"Apa akan lama?" tanya Sadewa melingkarkan tangan kecilnya di leher Ayu.
"Tidak, Beberapa hari kemudian Nenek akan kembali ke rumah ini. Tentu Nenek akan merindukan kalian." Ayu mengelus pipi halus keduanya.
"Anak pintar." Ayu mengecup lagi pipi keduanya bergantian.
"Salam untuk Kakek." Zahira mengajari kedua anaknya.
"Iya, salam untuk Kakek." anak-anak itu berbicara dengan tawa tak ketinggalan menghiasi wajah keduanya.
"Tentu saja Sayang." Ayu berjalan lebih dulu keluar menuju teras depan.
"Aku pergi." Radit berpamitan.
Sedikit terkejut namun akhirnya senang mendengarnya.
"Hati-hati." ucapan yang tak kalah singkat.
"Sepi." Satria mengeluh, tangan keduanya terulur di atas meja dengan menidurkan kepala diatasnya.
__ADS_1
"Masih ada Paman Hiko, Bibi Jia, dan suster. Juga ada Nenek Bibi, bukankah itu cukup ramai?" rayu Zahira menghibur kedua anaknya. Mereka tak menjawab, sepertinya juga lelah.
Pukul 20:00, anak-anak yang selalu aktif bermain itu kini sudah tertidur pulas, pakaian yang sama, bantal dan selimut yang sama tampak ikut menyenangkan mata ketika melihat mereka di malam hari, diam sudah tak berkutik.
Zahira menutup pintu kamar mereka. Malam ini ia ingin sendiri walau terkadang sering tidur di tengah-tengah mereka dengan di pagi hari mereka ribut meminta di peluk, tapi untuk malam Zahira ingin tidur di lantai Dua, di kamarnya bersama Anggara.
Ponselnya berdering, Zahira mengangkatnya sambil menaiki anak tangga.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam Sayang." suara Reza Mahendra sudah pasti.
"Ada apa?" tanya Zahira pelan, sama dengan langkahnya yang sudah mulai menginjak lantai Dua.
"Hanya rindu, tadi tak sempat menemui mu." ucapnya seperti biasa, penuh perasaan tapi juga penuh dengan rayuan.
Zahira tak menjawab, hanya terdengar dia sedang sibuk membuka pintu.
"Kau sedang apa?" tanya Reza penasaran dengan apa yang sedang di lakukan Zahira.
"Sedang di kamar atas." jawabnya singkat, namun terdengar sibuk.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Reza lagi.
"Tidak, hanya sedang menikmati suasana sunyi di kamar ini. Terkadang aku merasa dia masih ada." jawabnya jujur.
"Kau sangat mencintainya, dan dia juga sangat mencintaimu. Itu sering membuatku iri saat itu." dia tidak marah.
Terkadang Zahira merasa jika Reza Mahendra terlalu mengerti dengan hatinya. Namun entah jika untuk hidup bersama, Zahira belum merasa yakin. Terlebih lagi ketika sudah bertemu dengan ibunya.
Hening
Sepertinya Zahira sedang tak ingin di ganggu malam ini, bicara lebih sedikit dari biasanya hingga Reza mengakhiri panggilan teleponnya, membiarkan wanita itu menikmati suasana sepi, dia butuh ruang untuk sendiri.
Tak kalah kesepian Reza Mahendra juga sedang gundah dengan posisinya sendiri, satu sisi masih terus mencintai, namun sisi lain ia takut jika Zahira menjauh.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
__ADS_1
Nyonya Carolina mendekati putranya, dia memang sengaja mencari waktu yang tepat untuk bicara.