Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
255. Pergi bersama Tuan Reza


__ADS_3

Pagi yang cerah.


"Kau tidak bekerja?" tanya Ayra, ia melihat Zahira masih berpakaian santai.


"Hari ini, aku harus rapar di luar bersama Jia karena ada yang harus kami bicarakan. Jadi aku tidak ke kantor." Zahira baru saja naik ke lantai dua, sengaja menuju ruang pakaian Anggara, ingin memilih salah satu jas kesayangan suaminya. Ayra mengikutinya dari belakang, mungkin penasaran.


"Kau masih suka memakainya?" tanya Ayra melihat adiknya masuk dan memilih pakaian di ruangan khusus pakaian Anggara.


"Iya. Aku merasa dia masih ada jika aku memakainya. Bahkan aroma kehidupan masih dapat ku rasakan." jawab Zahira tertawa kecil, sadar jika itu hanya perasaannya saja.


Ayra ikut tertawa. "Kalian pasti sangat mesra saat itu."


"Ya, suamiku sangat menyayangiku. Dia tidak pernah sekalipun membuat aku kecewa, dan saat aku sakit dia menjagaku hingga berbulan-bulan. Dia sangat istimewa di hatiku, kemarin, sekarang dan selamanya." jelas Zahira sambil memeluk dan mencium jas yang sudah di raihnya.


"Lalu bagaimana dengan Radit? Aku bahkan belum bertemu dengannya. Apakah kalian masih berhubungan baik?" tanya Ayra penasaran.


"Ya, walaupun aku sempat membencinya, menyalahkannya atas banyak kejadian yang selalu membuat kami terikat emosi. Entahlah, sepertinya Allah sengaja membuat masalah hidupku berhubungan dengan dirinya, sampai akhirnya aku sadar jika tak sepenuhnya semua salah Radit. Walaupun untuk benar-benar akur masih sangat sulit. Terkadang aku sudah mencoba mengalah, tapi saat itu juga dia yang memulai perdebatan. Lain waktu kemudian dia yang mengalah, tapi malah aku yang terkadang tak sengaja membuatnya marah. Kami seperti air dan minyak." tertawa sedikit dengan menggeleng kepala, merasa aneh dengan dirinya sendiri.


"Kapan kita ke rumah Radit?" tanya Ayra keluar dari ruangan tersebut bersama Zahira.


"Nanti, sore mungkin?" Zahira menoleh Ayra.


"Ya." Ayra mengangguk. "Aku ingin menghirup udara segar di taman bungamu." ucapnya lagi.


"Aku akan menyusul." Zahira melangkah menuju kamarnya. sedangkan Ayra menuruni anak tangga ingin segera menikmati keindahan taman di halaman luas rumah Zahira.


Langkah terburu-buru, setengah berlari pria tinggi dan tampan memasuki rumah besar itu, rambutnya rapi dan wangi, sesekali melihat jam di tangannya, sepertinya dia sedang kejar-kejaran dengan waktu.


Merasa ada seseorang yang menghalangi jalannya Reza Mahendra berhenti.


"Kau?"


Mereka saling menatap dengan wajah sangat terkejut.

__ADS_1


...***...


Sementara di lantai atas, Zahira baru saja keluar dari kamarnya, ia harus segera menyusul Ayra ke taman di ujung halaman.


"Sayang."


"Mas Reza." Zahira tak menyangka pria itu sudah ada di lantai dua.


"Apa kabarmu Sayang, maaf aku baru datang setelah lama di London, aku juga berkunjung ke Singapura menemui ayahku." Reza menyapanya penuh cinta, sorot mata hitam pekat itu menusuk dalam menyalurkan rindu yang sulit di jelaskan.


"Tidak apa-apa Mas Reza, aku tak masalah dengan kesibukanmu. Aku juga harus terbiasa dengan tanpa dirimu. Bukankah begitu?" ungkapan dan pertanyaan yang menusuk, hatinya tersakiti dengan pertanyaan sederhana namun penuh makna.


"Kita tetap akan menikah Zahira, aku tidak mau kehilanganmu hanya karena Mama tak suka. Sedangkan dulu dia sama sekali tak peduli padaku, aku harus hidup sendiri tanpa kasih sayang orang tua. Mama tidak pernah memikirkan aku. Tapi sekarang malah ingin mengatur kebahagiaanku." ucap Reza dengan wajah kecewa.


"Tak ada orang tua yang menginginkan anaknya menderita, tentunya pilihan mereka adalah yang terbaik untukmu." jawab Zahira selalu lembut dan merdu.


"Tidak Sayang, aku hanya ingin kita menikah, bukan dengan gadis pilihan Mama. Aku mohon terimalah aku dan aku benar-benar tidak peduli dengan apapun kecuali ingin hidup bersamamu." Reza meraih jari-jari lentik Zahira, rasanya tentulah hangat dan menggemaskan. Selalu menggelitik dan tampak nikmat untuk di sentuh. "Aku benar-benar mencintaimu." ucapnya setengah berbisik, menatap wajah ayu itu dari dekat.


"Baiknya kau pikirkan lagi. Apalah artinya hubungan ini tanpa restu orang tua." jawabnya semakin membuat seorang Reza tak rela.


"Sebaiknya kita bicarakan nanti." Zahira menatap wajah Reza yang masih terlihat lelah. Dia pasti sangat buru-buru, entah jam berapa ia baru tiba dari Singapura.


"Baiklah." ucapnya mengalah, tentu ia sangat sibuk sekali. Beberapa waktu pergi ke luar negeri membuat banyak sekali pekerjaan yang tertunda dan harus lembur untuk beberapa hari.


Reza berbalik menuruni anak tangga, sementara Zahira harus kembali ke kamarnya karena ponselnya ketinggalan. "Lili pasti menghubungiku sebentar lagi." gumamnya sedikit bingung.


Benar saja ponsel yang tergeletak di ranjang itu berbunyi.


"Assalamualaikum Mama?" ternyata Ayu yang menghubunginya.


"Wa'alaikum salam Sayang, bisakah nanti sore menginap di rumah Mama, sekalian ajak Ayra."


"Nanti sore?" Zahira sedang berpikir.

__ADS_1


"Jika tidak bisa nanti sore besok juga tidak apa-apa. Mama hanya rindu dengan anak-anak, sudah satu Minggu Mama tidak bertemu, Papamu baru saja pulang dari luar kota." sambung Ayu lagi.


"Baiklah. Aku akan menelepon Mama nanti." Zahira belum bisa memutuskannya.


"Assalamu'alaikum Sayang."


"Wa'alaikum salam Mama."


Teringat jika kakak sepupunya sedang menunggu, Zahira bergegas turun kebawah untuk menemaninya.


"Kak Ayra?" panggilnya. Zahira sudah ada di taman, tapi tak melihat siapa-siapa. "Apakah dia tidak jadi ke taman? Lalu kemana?" Zahira masih melihat kesana-kemari mencari sosok Ayra. Hingga beberapa saat kemudian ia memutuskan berkeliling, mungkin Ayra ada di taman belakang. Ingat jika taman belakang selalu ramai karena para asisten rumah tangga dan tukang kebun selalu berkumpul dan bercanda di sana.


Lumayan jauh, Zahira berjalan-jalan sekaligus menikmati matahari pagi.


"Selamat pagi Nyonya, mengapa sampai anda datang kemari? Apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya seorang asisten pada Zahira.


"Tidak, aku sedang mencari Kak Ayra, tadi dia mengatakan akan pergi ke taman menikmati udara pagi, tapi malah tak ada. Ku pikir dia datang ke sini." jelas Zahira juga melihat-lihat sekeliling taman belakang.


"Tidak ada yang datang Nyonya, mungkin tidak jadi ke taman." jawabnya lagi dengan sopan.


"Benar juga. Baiklah, terimakasih." ucap Zahira kemudian.


"Sama-sama nyonya." jawab asisten senior tersebut.


Zahira berbalik, menuju pintu belakang masuk ke rumah besarnya mencari Ayra.


"Di kamar rasanya tak mungkin, karena dia sudah turun." Zahira mencarinya di banyak ruangan.


"Nyonya mencari apa?"


Suara Jia mengejutkan Zahira yang baru saja menutup kembali pintu mushola di sudut rumah.


"Jia? Apakah kau melihat Kak Ayra?" tanya Zahira dengan mata beningnya terbuka lebar.

__ADS_1


"Nona Ayra pergi bersama Tuan Reza, dia keluar." jawab Jia membuat Zahira sedikit tercengang.


__ADS_2