Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
254. Bukan gadis pilihan Mama


__ADS_3

"Saudara?" tanya Zahira sibuk berpikir. Ia sedang mengingat-ingat jika dia tak memiliki keluarga lain selain hanya keluarga dari Ayu, itupun tak ada seorang gadis , yang ada hanyalah sepupu laki-laki Radit, yaitu Akbar, dan tentu dia sudah biasa datang karena merupakan keponakan suaminya.


Zahira beranjak dari duduknya, penasaran dan juga sedikit cemas, walaupun Merry sudah di penjara dan juga di rawat karena gangguan jiwa, tetap ia harus waspada. Tapi kembali ia berpikir jika itu Merry maka semua bodyguard mereka sudah tahu wajahnya, lalu siapa?


Di luar, tampak seorang gadis dengan kaos panjang dan celana jeans menyandar di gerbang memunggungi para bodyguard, menatap jalanan di depan rumah.


"Selamat sore?" Zahira menyapa dengan suara halusnya, menatap penasaran pada sosok yang terlihat cantik dari belakang.


Wanita itu berbalik cepat, membuat rambut berwarna cokelat lembut berayun indah. Wajahnya halus, matanya indah, hidungnya mancung menggemaskan seperti Zahira, bibirnya merah dan basah, cantik sekali.


"Zahira!" ucapnya sama-sama kagum dengan Zahira.


"Kak Ayra!" Zahira mendekat dan tergesa-gesa, memeluk gadis itu dan melonggarkan berulang kali, hanya memastikan jika yang datang adalah benar Ayra, putri satu-satunya Rey, saudara ibunya.


"Ya, aku Ayra, sengaja datang menemui mu agar tak hanya mendengar cerita dari Papa dan Mama." ucapnya masih terdengar kaku, maklum jika bahasa mereka berbeda.


"Ayo masuk Kak." Zahira mengajaknya segera masuk, meminta bodyguardnya membawa koper pakaian yang lumayan besar.


"Papa dan Mama meminta maaf, karena belum sempat datang setelah mendengar berita meninggalnya suamimu." ucap Ayra lagi.


"Ya, tidak masalah. Yang terpenting bagiku adalah kedatangan mu saat ini, sungguh luar biasa, ku pikir aku tak akan pernah bertemu denganmu." Zahira masih memeluk lengan Ayra.


"Sekarang kita sudah bertemu." jawab Aira menoleh adiknya, matanya menatap kagum pada sosok Zahira, cantik sekali dengan lesung pipi yang membuatnya iri.


"Kamarmu di sini, kau pasti sangat lelah sekali." Zahira membukakan pintu sebuah kamar yang luas di lantai dua.


"Terimakasih Zahira." ucapnya tersenyum manis.


"Tidak perlu seperti itu, kau Kakakku, anak-anak pasti akan selalu mengganggumu jika tidur di lantai dasar, mereka nakal sekali." Zahira memberitahunya.


"Tapi mereka sangat tampan, aku bahkan tak berhenti memandang foto mereka saat kau mengirimkan kepada Mama dan Papa."

__ADS_1


"Ya, aku hanya memiliki mereka sebagai pengobat rindu pada suamiku." jawab Zahira dengan wajah sendu.


Ayra mengangguk, sejenak memperhatikan wajah adiknya, entah dia sedang memikirkan apa.


"Istirahatlah Kak, aku akan ada di bawah." ucap Zahira menunjuk lantai dasar.


"Kau tidur di bawah?" tanya Ayra ingin tahu.


"Terkadang juga di sini, di ujung sana adalah kamar kami saat Mas Anggara masih ada. Hanya ketika malam hari anak-anak masih perlu di awasi saat tidur, jadi aku ikut tidur bersama mereka." jelasnya lagi.


"Oh." Ayra mengerti.


"Baiklah, selamat istirahat. Jika butuh sesuatu kakak panggil aku atau katakan saja pada semua penghuni rumah ini." ucap Zahira lagi.


"Ya, aku mengerti."


Zahira meninggalkan Ayra yang masih terpaku di pintu kamarnya. Mata berwarna cokelat itu benar-benar seperti sudah tertarik magnet, menatap Zahira hingga menghilang dalam putaran anak tangga.


"Bagaimana dengan rumahmu?" tanya Ayra di malam itu, mereka sedang makan malam bersama.


"Hanya ada Mbok Tuti dan scurity saja. Walau terkadang aku ingin pulang, tapi anak-anak lebih suka di sini, rumah ayahnya." jelas Zahira melihat sekeliling rumah ada beberapa foto Anggara dan juga dirinya.


"Suamimu tampan sekali." ucap Ayra melihat foto besar Anggara sedang memeluk Zahira saat mereka menikah.


"Bagiku sangat tampan, tidak ada yang bisa menandinginya." Zahira tertawa.


Ayra paham sekarang, jika Zahira begitu mencintai suami keduanya.


"Apakah kau akan menikah lagi?" tanya Ayra tiba-tiba, membuat Zahira urung memasukkan sendok ke mulutnya.


"Aku belum memikirkannya, aku masih menikmati sisa kenangan bersama suamiku." jawab Zahira kembali makan.

__ADS_1


"Ku pikir kau akan menikah lagi, karena pasti ada laki-laki yang mendekatimu." Ayra mencoba menebak.


"Kau benar, tapi rasanya itu masih tidak mungkin." Zahira sedikit menerawang.


"Apakah dia sudah melamarmu?" tanya Ayra begitu penasaran.


"Hem, hanya ku rasa kami bukanlah pasangan yang pas. Terlebih lagi posisiku yang seorang janda, ibunya tidak menyukai statusku." jelas Zahira lebih detail.


"Apakah status sepenting itu?" tanya Ayra, wajahnya sedikit tegang.


Zahira tersenyum, dia sendiri tidak tahu jika status akan membuatnya tidak diterima. Walau tidak merasa kecewa, tapi sedikit ia pahami bahwa status bagi sebagian orang sangat penting. Sebelumnya ia dinikahi Anggara tanpa peduli statusnya sebagai mantan istri Radit, tapi kali ini ia di tolak karena mantan istri Anggara dan ibu dari dua anaknya.


Entahlah, hari-hari bersama Ayra memang menyenangkan, namun sering terlihat gadis itu melamun dan banyak berpikir. Satu Minggu bersamanya Zahira banyak menceritakan tentang dirinya, tapi tidak untuk Ayra, masih terlihat berjarak dan menutupi kehidupan pribadinya.


Di pagi itu, akhir pekan yang selalu menjadi momen istirahat sekaligus waktu berharga bagi Zahira untuk bermain dan berbagi kasih sayang sepanjang hari dengan anak-anak. Ponsel Zahira berbunyi.


"Assalamualaikum Mas." ucapnya seperti biasa, duduk bersama Ayra membuat kakak sepupunya sedikit penasaran, ingin tahu pada siapa Zahira berbicara.


"Wa'alaikum salam Sayang." suara berat Reza Mahendra kembali terdengar setelah beberapa waktu tak mengubungi dirinya.


"Ku rasa kau sedang ada di Singapura?" tanya Zahira menebak.


"Ya, dan besok aku akan pulang. Aku sudah sangat rindu pada seseorang yang sangat cantik. Wajahnya yang halus itu selalu saja membuat tidurku tidak nyenyak." rayunya seperti biasa.


"Itu bohong, buktinya kau baik-baik saja dan tidak menghubungiku beberapa waktu terakhir." Zahira tertawa mendengar rayuan pria tampan tersebut.


"Aku hanya sibuk, tentu aku sibuk karena harus segera kembali menemui mu. Aku sudah tidak sabar ingin pulang." masih berlanjut rayuan Reza Mahendra.


"Mengapa harus pulang, bukankah di London kau akan-"


"Sayang, aku hanya menginginkan kau yang menjadi istriku. Bukan orang lain, bukan gadis pilihan Mama, aku sama sekali tidak suka." jelas Reza terdengar sangat serius.

__ADS_1


__ADS_2