Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
262. Kami akan menikah


__ADS_3

"Tasku masih di kamar." Zahira beranjak meninggalkan dua orang laki-laki tampan tersebut.


Reza tak ambil bicara, ia melamun menatap piring yang kosong, tapi kepalanya penuh dengan berbagai macam pikiran.


"Untuk apa kau datang ke rumah Ayra?" tanya Radit dingin, matanya hanya fokus kepada buah Anggur dan mengambilnya lagi. Namun jelas sekali pertanyaannya menuntut jawaban dari Reza Mahendra.


"Aku mencari Zahira." jawabnya singkat, sempat menoleh terkejut tapi kemudian kembali bersikap biasa-biasa saja.


"Benarkah?" Radit menoleh, mata sipitnya menajam mencari kebohongan di wajah pria di hadapannya. "Mengapa aku curiga jika kalian saling mengenal? Ku rasa tahu sesuatu tentangmu?"


Reza tersenyum sedikit, balas menatap Radit dengan tak kalah tajam.


"Aku hanya mengenal Zahira saja, wanita itu atau siapa namanya aku tidak peduli." kesal Reza tak suka, terlebih lagi Radit terkesan ikut campur semua urusannya.


"Tapi aku peduli." jawab Radit tersenyum palsu. "Ingat jika aku tidak diam saja jika aku sampai tahu bahwa kau tak cukup baik untuk Zahira." ucapnya lagi seperti ancaman.


"Kami akan menikah secepatnya." Reza juga mengeluarkan senyum palsu untuk menantang Radit.


"Bohong!" ucap Radit tak percaya, walau hatinya sempat berdenyut dengan ungkapan Reza.


"Aku tidak bohong, dia akan menjadi milikku." Reza menatap tajam tanpa senyuman. Dia sedang tidak main-main.


Seketika wajah putih dan tampan Radit berubah pucat, rasanya bibir merah dan basah miliknya langsung mengering mendengar ungkapan Reza yang terlihat sangat serius.


"Zahira milikku." bisik Reza lagi melihat Bibi membawa kotak makanan dari dapur.


"Ini Tuan." Bibi meletakkan kotak makanan di atas meja dekat Reza.


"Terimakasih Bibi." ucapnya dengan pelan, sengaja memperlihatkan bahwa dia cukup dekat dengan semua orang di rumah itu.


"Aku masih tidak percaya padamu." ucap Radit dengan aura pias di wajahnya.


"Aku tidak peduli, apapun tak akan menjadi penghalang bagiku termasuk Ibuku. Apalagi hanya dirimu yang ku yakin tak akan berarti apa-apa di hati Zahira. Sekarang hanya ada aku, hanya aku!"


Antara cinta dan amarah yang bercampur aduk, Reza tak mau ada yang ikut campur urusannya dengan Zahira.


Hingga terdengar suara langkah kaki Zahira mendekat, keduanya melonggarkan tatapan saling menyerang mereka.

__ADS_1


"Mas, aku akan bersama Radit, anak-anak sudah bersamanya." ucap Zahira sambil mendekati keduanya.


"Oh, ya. Tidak masalah, nanti aku akan menjemputmu." ucap Reza melirik Radit.


"Tidak perlu, kau sangat sibuk bukan?" jawab Zahira sambil melangkah ke menuju keluar, ia ingin segera menemui anak-anak yang pasti sudah bosan di dalam mobil Radit.


"Tidak juga." Reza tak mau mengalah, mana mungkin ia mengatakan sibuk sedangkan saingannya sedang mengintai.


"Ibu!" kedua anak-anak sudah mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil yang terbuka.


"Sayang, maaf menunggu lama. Ayo berangkat." ucap Zahira tak menoleh siapa saja, ia hanya terfokus dengan anak-anak.


Radit masuk ke dalam mobilnya, sekilas masih menyambung perang kilatan mata dengan Reza. Hingga akhirnya mobil mereka melaju dengan arah yang berbeda.


"Kalian sudah sarapan?" tanya Zahira hanya memulai obrolan.


"Sudah, tadi aku minum susu dan roti dengan selai kacang yang banyak." Satria menjawab dengan suara khas dirinya, selalu menggemaskan. Lagi ia berdiri dan memeluk Radit yang sedang menyetir.


"Aku juga!" Sadewa ikut berdiri dan memeluk Zahira.


"Sayang, pelukanmu mengganggu Paman Radit, dia sedang menyetir." Zahira meminta Satria duduk.


"Ayahku juga menyukainya." ucap Satria tiba-tiba, membuat Radit dan Zahira berpandangan sejenak.


"Kalau begitu anggaplah Paman ini ayahmu. Kau bebas memeluk Paman sesukamu, dan tinggal bersama Paman sampai kapan saja." jawab Radit tak menoleh Zahira, ia tak peduli, dia sedang kecewa walaupun tak bisa mengungkapkan.


"Radit!" Zahira menegurnya.


Radit tersenyum menatap jalanan, ia tak mau melihat wajah Zahira untuk sementara, dia akan semakin terluka.


"Bagaimana Sayang?" Radit memiringkan kepalanya sedikit agar wajahnya bersentuhan dengan kulit wajah halus Satria.


"Aku akan memikirkannya, dan mulai sekarang kau harus sering menjemputku." ucap Satria tak mengerti dengan perasaan tak karuan di hati Raditya.


"Baiklah, itu tidak terlalu sulit untuk seorang Bos sepertiku." Radit sedikit menyombongkan diri.


"Kalau sudah besar kami akan menjadi Bos seperti Ayahku." Sadewa menyahut tak mau ketinggalan keseruan mereka.

__ADS_1


"Tentu saja." Radit menjawabnya tak kalah bersemangat.


"Kita sudah sampai Nak." Zahira meminta kedua anaknya melepaskan pelukan mereka masing-masing.


Mereka berbalik mengambil tas dan turun dengan sendirinya setelah Radit membukakan pintu mobil, terlihat pintar dan mandiri.


"Bye Sayang." Radit melambaikan tangannya, juga Zahira yang berdiri di depan pintu mobil.


Radit kembali berbalik masuk ke dalam mobil, mereka kembali melaku menuju kantor Zahira.


"Kau terlalu repot harus mengantar kami semua." Zahira merasa Radit sangat sibuk karena dia dan anak-anak.


Radit tak menjawab.


Zahira menoleh pria di sampingnya berkali-kali, hingga tiba di kantor Anggara Radit tetap tak memulai pembicaraan apapun.


"Radit! Apakah aku memiliki salah padamu?" tanya Zahira, sikap Radit yang tak biasa membuatnya serba salah.


Radit menoleh dan menatap lembut. "Tidak ada Zahira, kau tidak salah apa-apa. Akulah yang salah." ucapnya terdengar sangat kecewa, bahkan sedang lemah jatuh rendah di titik yang paling bawah.


Zahira merasa heran, namun mencoba abaikan mungkin Radit sedang banyak pikiran.


"Terimakasih sudah mengantar anak-anak dan juga aku." Zahira tersenyum dan kemudian beranjak dari duduknya, keluar dari mobil Radit dan berlalu masuk ke kantor besar milik suaminya.


Radit masih belum beranjak, menatap punggung Zahira hingga hilang.


"Aku harus tahu sesuatu." Radit memutar arah mobilnya, melaju cepat, sepertinya dia tidak kekantor hari ini.


Sementara di dalam kantor Anggara, Zahira mulai sibuk dengan berkas seperti biasa, yang penting sudah berada di urutan paling atas, semua sudah di atur Ricky dan sekretarisnya.


"Zahira!" pintu terbuka bersamaan dengan panggilan Ricky.


"Masuklah Om." Zahira masih fokus dengan kertas di tangannya.


"Jia baru saja meneleponku, sekretaris suamimu yang ada di Vila B, meminta berkas Vila milikmu untuk mengurus pajak, karena milikmu selalu di bayar terpisah oleh Anggara."


"Oh." Zahira tampak berpikir, ia tidak tahu berkasnya ada dimana. Tapi kemudian ia mengingat jika dulu Anggara pernah memperlihatkan berkas Vila miliknya dan mengeluarkannya dari lemari besar penuh dengan berkas. Dia menoleh, di sebelah kiri dimana lemari tersebut berada.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mencarinya. Ku rasa butuh waktu lama untuk mendapatkannya." Zahira menyandar lelah, membayangkannya saja ia sudah pusing.


"Sabar, begitulah resiko menjadi seorang istri konglomerat, hartanya banyak, tanggung jawabnya juga banyak." Ricky menertawainya.


__ADS_2