
"Mama, aku sangat mencintai Radit." ucap gadis itu begitu polos, namun ucapan itu terdengar menyakitkan hati Ayu.
"Radit juga sangat mencintaimu sayang, bukankah kau juga tahu dia begitu takut kehilanganmu." Ayu mencoba untuk menenangkan hati Zahira.
"Aku tahu, tapi entah mengapa hatiku mengatakan akan kehilangan Radit Mama." ucapnya lagi.
"Ada Mama bersamamu sayang, ada Papa juga, kau tidak perlu khawatirkan apapun." Ayu menggenggam tangan Zahira erat dan penuh kasih sayang.
*
Lampu di Vila terpencil itu masih tampak menyala, suasana malam hari yang dingin sepi tanpa suara apapun juga siapapun. Radit duduk di teras dengan gelisah memikirkan istri di rumah pasti sedang gelisah, pria itu duduk sambil memijat kepalanya mencoba memikirkan alasan apa yang akan ia katakan esok pagi.
"Radit, masuklah di luar sangat dingin." Suara Merry membuyarkan lamunannya.
Radit tak menjawab tak juga menoleh, ia tahu gadis itu ada di belakangnya. Lama ia berdiam namun wanita itu tak juga meninggalkannya sehingga Radit beranjak masuk tanpa menoleh.
Gadis itu mengikuti dari belakang. " Tidurlah di dalam." ucapnya lagi.
"Kau saja, biarkan aku disini." Radit merubah posisinya menjadi berbaring di sofa satu-satunya itu.
Gadis itu masuk ke dalam kamar, namun setelah beberapa menit gadis itu kembali keluar dengan membawa selimut. Dia memperhatikan wajah suaminya yang sedang tidur, membentangkan selimut lalu menyelimuti Radit. Wajahnya mendekat dan mencium kening Radit, walau tak ada respon tapi sungguh gadis itu sangat bahagia.
Pagi hari di Vila kecil itu terasa begitu sejuk, dengan berbagai pemandangan alami, rumput liar dan banyak pepohonan melahirkan ketenangan sendiri bagi yang menyaksikannya. Matahari mulai menampakkan sinarnya menghangatkan sebagian bumi, burung-burung tak ketinggalan menari dan bernyanyi menyambut hari yang indah.
Radit bangun dengan punggungnya terasa pegal sebab tidur di sofa yang ukurannya tidak pas dengan tubuh Radit yang tinggi dan lebar. Pria itu duduk menyandarkan tubuhnya terlebih dahulu, namun sayup terdengar suara di dalam kamar seperti sedang muntah dan kesulitan, sehingga ia masuk perlahan ke kamar satu-satunya di vila kecil itu.
"Merry!" panggilnya.
Tak ada jawaban hanya suara gemericik dan muntah yang tak berkesudahan di dalam kamar mandi. Sebab rasa penasaran juga sedikit kasihan, mau tak mau Radit membuka kamar mandi dan,
"Kau sakit?" tanya Radit ketus.
"Radit." panggil Merry pelan, wajahnya pucat dan tubuhnya lemas. Sejenak lalu kembai muntah tapi tak ada lagi yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Radit menyandar di pintu hanya menyaksikan gadis itu begitu menderita, dia memang pernah mendengar bahwa ibu hamil memang akan mengalami mual dan muntah, tapi ia tak menyangka akan separah itu.
Kasihan!
Buat apa kasihan, bukankah dia sendiri yang menginginkannya, jadi rasakan saja penderitaan itu sendirian.
Selesai muntah hingga nafasnya juga seakan ikut keluar, gadis itu menarik nafas sejenak lalu kemudian berbalik dengan tubuh yang lemas, tangannya meraba mencari pegangan namun tak sempat meraih dan akhirnya ia terjatuh.
Beruntung Radit masih sempat meraih lengan gadis itu, dapat ia rasakan tubuh itu lemas dan tidak bertenaga. Dengan sedikit rasa kasihan Radit membawanya masuk ke kamar dan membantunya naik keranjang agar segera menyandar.
"Apa anak yang ada dalam perutmu ini benar anakku?" tanya Radit sinis.
Merry tak menjawab, wajah pucatnya seakan mengatakan ia hampir tak memiliki tenaga untuk bicara, hanya meraih ponsel yang tergeletak di atas ranjang dan menekan beberapa tombol, lalu memberikannya pada Radit.
"Apa maksudmu?" Radit terlihat marah menyaksikan apa yang ada di dalam sana.
"Kau lihat hingga selesai." jawabnya lemah.
Pria itu tampak gelisah melihat apa yang ia lakukan bersama Merry di dalam rekaman itu, sesekali ia mengusap wajahnya. Namun hingga hampir menit ke tiga puluh wajahnya tampak serius, dan akhirnya menunduk lemah.
Hening.
Hening.
"Aku tau." jawabnya singkat dan hampir berbisik.
"Aku harus pulang pagi ini, kau pulang sendiri saja." Radit masih belum menerima sepenuhnya.
"Aku akan tetap di sini Radit, kau pulanglah sendiri." jawabnya, gadis itu berusaha meraih botol air mineral di atas meja.
Radit mengambil botol dan memberikannya pada Merry. "Untuk apa kau disini sendirian."
"Papa tak mau mengurusku, apalagi aku setiap hari muntah dan merepotkan, papa tidak mau orang lain tau bahwa aku sudah hamil." jawabnya terdengar sedih.
__ADS_1
"Tapi disini? Bahkan jaringan selulerpun tak ada!" Radit sedikit khawatir.
Gadis itu diam, tatapannya sungguh berharap Radit selalu bersamanya.
"Kita pulang saja Merry, kau bisa tinggal di apartemen atau kontrakan dan aku akan memenuhi semua kebutuhanmu."
Dia menangis dan mengangguk. "Terimakasih." Merry beranjak dan memeluk Radit begitu erat, melepaskan semua beban yang akhir-akhir ini ia nikmati sendirian.
"Aku harus melihat di belakang apa masih ada makanan?" Radit melonggarkan pelukan gadis itu dan beranjak keluar.
"Aku saja yang menyiapkan untukmu." tangan lembutnya menahan Radit.
"Kau istirahat saja, kau lemas sekali." jawabnya, Merry begitu bahagia mendapatkan perhatian dari suami tampannya, tapi berbeda dengan Radit, ia berusaha menghindari pelukan Merry.
*
"Apa Radit masih belum memberi kabar?" Ayu melihat wajah Zahira tampak murung.
"Belum mama." jawabnya pelan.
"Mama akan cari tahu semua tentang suamimu dan dengan siapa dia pergi." Ayu mengisi piring Zahira dengan makanan.
"Iya." jawabnya singkat, Zahira menatap piring di hadapannya sudah penuh dengan banyak makanan.
"Makanlah, nanti ikut papa meeting di restoran ternama, kita akan banyak bertemu rekan kerja di sana termasuk desain muda yang hebat-hebat kau akan suka bertemu mereka." David menghiburnya.
"Ada acara apa Papa?" Zahira tertarik mendengar rayuan David, dia memang sangat tahu cara mengalihkan kesedihan putrinya.
"Hanya berkenalan dan bertukar pendapat, kita lakukan diskusi dan sebagainya. Setelah itu kita akan pilih beberapa orang untuk membantumu bekerja di kantor.
"Kau butuh partner kerja yang sama muda dan masih bersemangat tinggi, agar pekerjaanmu lancar dan perusahaan bisa lebih maju." jelas David lagi.
"Baiklah, aku akan ikut Papa." Zahira meraih sendok dan menyuapkan makanan ke mulutnya.
__ADS_1
Ayu tersenyum akhirnya makanan itu di makan juga,daris malam anak gadisnya tak makan apapun, 'Radit memang keterlaluan sudah pergi tidak jelas dan tidak memberi kabar. Sungguh aku akan mencari tahu apa yang di ia sembunyikan dariku, dari Zahira dan kami semua. Tak biasanya anakku menjadi orang yang suka menutup-nutupi sesuatu, atau jangan-jangan?' Pikiran Ayu melayang ke mana-mana, salah satunya gadis yang selalu perhatikan Ayu dan Zahira saat berada di hotel Anggara.