Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
103. Yakin dia istriku


__ADS_3

Langkahnya berhenti di depan pintu tepat dimana ia melihat wanita itu berdiri. Nafasnya yang memburu karena berlari sama sekali ia tak peduli, matanya mulai berembun menatap pagar balkon itu adalah tempat ia berpegang beberapa waktu yang lalu.


Pintunya tertutup Rapat.


"Om Anggara!" panggilnya dengan hati yang nyeri.


Tak terdengar jawaban, itu membuat Radit kembali teringat apa yang ia lihat. Anggara memeluk dan membelainya dengan begitu mesra, Radit berpikir mungkin saat ini mereka sedang bercinta.


"Om Anggara, tolong buka pintunya." teriak Radit dengan tangannya terlihat nyata bergetar dan wajah memucat.


Hingga berkali-kali ia mencoba mengetuk tapi tak juga ada jawaban.


"Mas, Tuan Anggara sudah kembali baru saja sepuluh menit yang lalu di jemput asistennya." penjaga Vila itu menyusul bersama Akbar, mereka tampak bingung melihat Radit yang seakan menggila dengan kekhawatirannya.


"Dia bersama istrinya?" tanya Radit masih bergetar.


"Iya Mas, mereka tinggal di sini sudah dua bulan." jelasnya dengan sopan.


"Siapa nama istrinya?" tanya Radit tak mau melewatkan kesempatan untuk mencari tahu.


"Maaf tidak tahu Mas." jawab penjaga Vila itu, entah jika ia tak mau memberitahu.


Radit mengeluarkan ponselnya, membuka galeri dan memperlihatkan foto seorang wanita pada penjaga Vila.


"Apa ini orangnya?" tanya Radit dengan hati yang semakin nyeri, ia takut tapi juga berharap bahwa itu benar Zahira.


"Iya Mas, benar." jawabannya jujur.


Lemas seluruh tubuhnya, hati yang sudah hancur itu semakin sakit, jantungnya seakan berhenti. Sungguh rasa nyeri itu menyebar di seluruh aliran darahnya, menguras habis semua kekuatan dan membuatnya terjatuh.


Tubuh gagahnya luruh menyandar di dinding dengan air mata terjatuh dengan sendirinya. Dada yang tadinya merasa lega kini kembali sesak dan menarik nafas-pun seolah tak bisa.


"Radit, ini belum pasti. Bisa jadi hanya mirip dengan istrimu." Akbar menenangkan sepupunya.


"Aku yakin dia istriku." ucapnya pelan.

__ADS_1


"Bagaimana jika bukan?" tanya Akbar tak ingin Radit semakin sedih.


"Aku akan mengejarnya, aku yakin dia istriku." ucapnya lagi tak peduli, wajah pucat dan lemas itu sungguh menyedihkan.


"Ayo kita pulang." Akbar meraih bahu Radit dan membantunya turun menuju mobil.


"Aku akan pulang menyusul Om Anggara, aku tidak bisa bekerja dengan pikiranku jauh di sana." Radit menatap gelisah ke kiri dan ke kanan.


"Tenangkan dirimu Radit, kau tidak bisa pulang dengan keadaan seperti ini. Kau harus bisa mengendalikan dirimu jika nanti berhadapan dengan pamanku. Kau tahu dia tidak akan suka miliknya di ganggu." Akbar berusaha menenangkan Radit.


"Tapi dia istriku, mana mungkin kau diam saja saat istriku di ambil orang. Dan semua orang tahu aku sangat mencintainya, termasuk pamanmu itu." Radit menjadi kesal dengan Anggara, ia membayangkan tangan pria itu berada di dalam kimono Zahira, ia sungguh tidak rela.


"Aku tahu! Tapi belum tentu dia itu Zahira istrimu." Akbar hampir putus asa berbicara dengan Radit.


Hingga mobil mereka kembali ke Vila yang mereka tempati, Akbar tidak mengizinkan Radit kembali dalam keadaan kacau, sudah tentu ia tak akan fokus menyetir melainkan melamun dan membayangkan Zahira.


Malam itu terasa begitu lama, setiap detiknya begitu terasa lambat dan membuat Radit semakin gelisah. Pria itu tak henti melihat foto Zahira dengan sesekali menutup matanya menahan rindu yang selalu terbayang rasanya menghabiskan waktu bersama istri cantiknya itu. Namun lagi-lagi bayangan Anggara memeluk, mengecup dan membelai wanita itu membuatnya sakit kepala, seperti kayu basah yang terbakar api, asapnya lebih banyak dari nyalanya sendiri. Pria itu menggila dengan pikirannya, sekali terhanyut membayangkan nikmatnya bersama wanita itu, tapi kemudian terbakar cemburu karena bukan dia yang melakukannya di beberapa saat yang lalu. Menyaksikan sentuhan yang hanya sedikit, namun gelisahnya seperti bukit.


Ia tidak kuat sehingga di tengah malam yang gelap Radit meraih kunci mobil,m segera melaju tidak peduli dengan pekerjaan mereka. Yang terpenting adalah bertemu Zahira.


*


"Dia lelah, tadi memetik banyak buah dan membawanya pulang." Anggara mengelus kepala Zahira.


"David mendatangiku semalam, aku sudah bercerita semuanya." ucap Ricky sambil fokus menyetir.


"Tidak apa-apa, Zahira sudah mulai mengingat sedikit-sedikit. Biarkan saja semua berjalan apa adanya." jawabnya tidak terlihat khawatir.


"Dia juga sudah ku beritahu tentang kehamilan istrimu, sepertinya akan sangat heboh di keluarga mereka." Ricky sedikit tertawa.


Anggara ikut tersenyum, sungguh ia tak peduli apapun selain Zahira dan calon anaknya.


"Besok aku harus ke rumah sakit, aku ingin memeriksakan kandungan istriku." ucapnya kemudian.


"Dia terlihat lebih gendut, dan perutnya besar sekali." Ricky melirik Zahira, sungguh perubahan itu sangat terlihat jelas.

__ADS_1


"Benar." Anggara menatap istrinya yang sedang tertidur pulas.


"Jangan-jangan dia kekenyangan karena terlalu banyak menelan milikmu." Ricky memulai dengan obrolan gilanya.


"Itu tidak membuat perutnya besar." Anggara menjawabnya dengan biasa saja, berbeda jika dulu ia akan menghindari obrolan seperti itu.


"Haha, buktinya sudah ada kau masih mengelak." Ricky tertawa terbahak-bahak.


"Aku sedang serius, kau malah bercanda." Anggara malas ikut tertawa, walaupun Ricky masih saja menertawainya.


"Nikmati saja, sebelum mantan suaminya menggila dan mengusik kebahagiaanmu." Ricky tersenyum sedikit, ia tahu Anggara juga sedang mengkhawatirkan hal itu, apalagi saat ini Zahira sedang mengandung.


"Siang aku akan ke kantor." ucap Anggara lagi.


"Ya, kau selesaikan urusanmu. Di kantor besok sudah pasti David akan kembali menemuimu." Ricky yakin sekali.


"Biarkan saja." Anggara tidak tau harus menghindarinya atau membiarkan, tapi dia juga tidak mungkin melakukan hal yang kelewatan pada teman lamanya itu.


*


Sedangkan jauh di belakang mereka, pria muda itu menyetir dengan perasan masih saja gelisah, tapi ia tidak tahu dimana kediaman pribadi Anggara. Dia sedang berpikir harus bertanya dengan siapa.


"Mama!" ucapnya sejenak memperlambat laju mobilnya dan meriah ponsel untuk menghubungi Ayu.


"Halo Sayang, ada apa kau menghubungi Mama malam-malam begini?" suara berat Ayu terdengar di seberang telepon.


"Apa Mama tahu alamat rumah pribadi Om Anggara?" tanya Radit seakan terburu-buru.


Ayu langsung terjaga dari rasa mengantuknya, ia sedang mencerna ucapan Radit baru saja.


"Mama tidak tahu." jawab Ayu dengan hati yang juga mulai gelisah.


"Kalau begitu tolong Mama tanyakan pada Papa." Radit masih tak menyerah.


"Papamu sedang tidur Sayang. Boleh Mama tahu untuk apa kau menanyakan alamat rumah Anggara?" Ayu ingin memastikan kecurigaannya.

__ADS_1


"Aku melihat Zahira bersamanya Mama." jawab Radit benar-benar serius.


Sungguh itu membuat Ayu menelan paksa ludahnya, ia tidak menyangka jika Radit mengetahui itu semua lebih dulu sebelum ia mengatakannya.


__ADS_2