Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
120. Bagaimana jika bertemu Radit?


__ADS_3

Anggara memejamkan matanya sejenak, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. "Ya, aku takut Zahira mengetahui semuanya sebelum ia siap, aku takut dia kembali sakit dan_" pria itu berhenti bicara, membayangkan hal buruk itu seakan baru saja terlewati.


"Aku tidak akan tinggal diam jika putriku dalam masalah, aku tidak akan mengulangi kesalahan dengan membiarkan dia sendiri." ucap David terdengar sedih.


Anggara tak menjawab.


"Aku hanya ingin putriku bahagia, dan ku tahu kau juga ingin membahagiakan dirinya." ucap David lagi.


"Ya, dia istriku." jawab Anggara, berbalik dan masuk ke ruangan Zahira.


Tampak Zahira sedang duduk dengan gelisah, alisnya beradu dengan wajah yang sendu.


"Assalamualaikum istriku." Anggara tersenyum juga mengatur nafas agar tak terlihat khawatir.


"Mas, kenapa lama sekali?" suara halusnya merengek manja dengan bibir merahnya mengerucut, kepalanya menyandar langsung di bahu Anggara menikmati pelukan hangat yang begitu ia rindukan.


"Maaf Sayang, aku sedang ada pekerjaan sedikit." jawab Anggara pelan, memeluk erat istrinya.


"Aku sudah di bolehkan pulang, tadi Papa yang mengurus semuanya." jelas Zahira, sepertinya mereka kembali dekat, David benar-benar memanfaatkan kesempatan saat Anggara tak ada.


"Oh, jadi karena hal bahagia itu membuatmu tak menjawab salamku?"


"Wa'alaikum salam." jawabnya pelan, mendapat kecupan di pipi kirinya.


"Itu bagus Sayang, artinya kau sudah baik-baik saja. Kita akan pulang, jalan-jalan dan banyak lagi hal menyenangkan lainnya." jawab Anggara, ia bahagia melihat istrinya kembali bersemangat.


"Yang penting bagiku adalah bersamamu, dimana saja kita berada asalkan kita tidak terpisah." Zahira merayunya, tingkah manjanya membuat Anggara melupakan ketegangan yang baru saja terjadi.


"Dan yang penting bagiku adalah dirimu." bisik Anggara, satu tangannya memeluk perut Zahira yang sudah besar. Tubuh moleknya menggeliat, menikmati sentuhan hangat itu dan menyembunyikan wajahnya di leher Anggara.


"Aku mau pulang." rengeknya lagi.


"Iya Sayang." Anggara mengecup seluruh wajah Zahira, hingga ingin meraih bibir merah merekah itu. Tapi Zahira malah mengelak mendorong wajah Anggara dengan keningnya.


"Kau nakal sekali." bisik Anggara terdengar sangat mesra, tawanya jelas sekali ikut terdengar hingga keluar.

__ADS_1


"Aku mau pulang." kali ini bukan hanya merengek, tapi memeluk Anggara begitu erat.


Mereka tak sadar jika pintu kamar itu tidak tertutup rapat, sehingga David bisa melihatnya dari luar. Dua sudut bibirnya tertarik sedikit, ia ikut bahagia melihat kemesraan dua orang beda usia itu. Anggara benar-benar memanjakannya, menyayanginya dengan tulus, cintanya sungguh berlimpah.


'Lihatlah putrimu, dia begitu bahagia di tangan Anggara. Pria yang kau cemburui Dua puluh tahunan yang lalu, kini menjadi menantu yang bisa kau andalkan untuk menjaga putrimu.' ucap David di dalam hati, seolah dia sedang berbicara dengan sahabatnya, Aldo Bramastya.


David masih ingat saat itu, sahabatnya cemburu dengan Anggara muda, lebih muda daripada mereka. Wajah Aldo memerah saat datang ke Cafe milik mereka, bukan bekerja malah dia datang untuk melampiaskan kekesalannya. Hingga akhirnya sadar bahwa dia hanya cemburu buta, dan pulang terburu-buru di malam hari.


Seandainya pria itu masih hidup, mungkin Anggara akan kembali bersitegang demi mendapatkan Zahira. Atau bahkan beradu tinju jika ingin mendapatkan anaknya, tentu saja itu hanya bayangan David.


"Tuan David!"


Panggilan Jia membuyarkan lamunan yang semakin jauh itu, David benar-benar merindukan saat-saat bersama rekan kerjanya itu.


"Kau memanggilku?" tanya David sedikit salah tingkah.


"Benar, hanya ingin menyampaikan jika Dokter Nina sedang ada keperluan di luar, jadi soal hasil pemeriksaan tadi silahkan Anda bicarakan dengan Tuan Anggara." jelas Jia menunduk hormat.


"Oh, tentu." David tersenyum mengerti.


Jia masuk membantu Anggara membawa beberapa barang dari ruangan itu, mereka akan pulang dengan kondisi Zahira sudah pulih dan kembali bersemangat.


"Tidak sopan sekali jika kau yang menyetir Tuan David." Anggara menyahut.


"Hahaha, sok sekali kau memanggilku Tuan David, aku ayah mertua sekarang ini." David masuk lebih dulu ke dalam mobil Anggara.


"Apalagi jika Ayah mertua, lebih tidak sopan jika harus menyetir dan kami duduk di belakang." ungkap Anggara membuka pintu dan meminta Zahira masuk lebih dulu.


"Tidak apa untuk kali ini, lain kali kau yang akan menyetir untukku." jawab David sudah menyalakan mesinnya.


"Baiklah, aku sedang berhutang padamu." Anggara duduk di samping Zahira, memeluk dan membiarkan wanita itu menyandarkan diri di dadanya.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di kediaman Anggara, pria itu menggendong dan mengantar Zahira ke kamarnya, lalu kemudian kembali berbicara dengan David.


"Dokter Nina mengatakan jika sebaiknya ingatannya segera pulih, di ingatkan pelan-pelan sehingga dia bisa mengingat kembali semuanya lagi. Dan itu sangat bergantung padamu." David menatap wajah Anggara.

__ADS_1


"Aku juga sedang berusaha, hanya aku tak akan memaksa bila dia tidak ingin mengingat semuanya, aku lebih sayang nyawanya dari apapun juga."


"Bagaimana jika ia bertemu Radit?" tanya David tiba-tiba.


"Mereka sudah bertemu, walau hanya sebentar. Dan itu belum berpengaruh apa-apa, entah jika saat ini."


"Boleh aku tahu siapa yang sedang mengincar dirimu?" David juga penasaran.


"Kau akan terkejut jika mendengarnya." jawab Anggara, menatap David dengan yakin.


"Tidak masalah, yang akan membuat jantungku kumat hanya jika terjadi sesuatu dengan Zahira." David tersenyum.


"Ini juga tak kalah penting buatmu." Anggara benar-benar serius.


"Siapa?" David menjadi tegang.


"Anwar, ayah mertua putramu." jelas Anggara.


"Anwar?" tanya David, ia tampak terkejut, juga sedang berpikir jika Radit sedang dalam masalah.


"Radit." ucapnya pelan.


"Tadi Radit datang menemui ku, dan sepertinya dia sudah curiga dengan ayah mertuanya sendiri. Tapi aku tak menambah kecurigaannya, karena aku takut putramu mengamuk." jelas Anggara menyebutkan alasnya.


"Tapi Radit-." David menggeleng dan mengatur nafas. "Apa alasan Anwar melakukan semua itu?" tanya David belum habis terkejut.


"Anwar dan menantumu itu bukan orang baik David, dalam usia yang masih ingusan itu dia sudah mampu melakukan sebuah kejahatan."


"Kejahatan apa?" David sedang mengatur detak jantungnya agar tak terlalu cepat.


"Kecelakaan Zahira."


Ucapan yang berhasil membuat mata seorang David terbuka lebar. Dia masih tak percaya jika Merry yang masih sangat muda itu sudah mampu melakukan kejahatan.


"Ada seorang laki-laki seusia mereka yang membantunya, dan aku sedang mencari keberadaan anak laki-laki itu." jelas Anggara masih tak mendapat respon selain terkejut.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Sore itu Anwar sedang mengantar Merry dan Laura ke rumah Radit. Mereka sudah tiba dengan tas besar yang di bawanya kemarin ikut serta dan kali ini Anwar yang membawanya.


"Tolong panggilkan Radit, aku ingin bertemu dengan menantuku." ucap Anwar pada asisten rumah tangga yang menyambut kedatangannya.


__ADS_2