Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
281. Hutang di bayar lunas


__ADS_3

Merry menatap Radit dengan penuh perasaan, kedua sudut matanya bak mata air yang sedang mengalir dengan begitu banyaknya. Hatinya sedang bertarung hebat antara merasa bersalah juga benci karena cintanya untuk Radit tak juga mendapat balasan, bahkan saat ia termakan rayuan dan kelembutan Radit, dia siap berubah, dia sanggup berubah asal Radit mau bersamanya, tapi sayang semua hanyalah sandiwara, dan itu semua Radit lakukan untuk Zahira.


"Kau menipuku." ucapnya lirih, dia sangat bersedih hingga bergetar tubuhnya karena menangis.


"Ya, aku bersalah." Radit tak mau berdebat, walau bisa saja dia menyangkal tapi tak mungkin dia lakukan karena ada Zahira di belakangnya.


"Kau menyakitiku hingga aku menjadi gila." ucapnya semakin pelan dan sedih.


"Aku juga pernah menjadi gila saat kau menipuku Merry, kita mengalami hal yang sama." jawab Radit membuat wanita itu semakin menangis hingga terlihat nyeri di wajahnya.


Tak ada yang tahu apa yang sedang dia rasakan, tapi dapat dipastikan dia sedang mengenang semua hal yang pernah dia lalui, entah itu dengan Radit, atau tentang kesalahannya sendiri.


"Aku juga kehilangan istri saat itu, sama seperti kau kehilangan ayahmu. Aku juga tidak pernah bahagia sampai saat ini sama sepertimu. Kita sama-sama kehilangan letak bahagia di hati kita, kita sama-sama tersiksa, mencari dan terus mengejar kebahagiaan yang kita sendiri tidak tahu ada dimana."


Tangan yang membidik itu mulai kendur, lututnya lemas karena hatinya sedang di serang penyesalan. Ucapan Radit membuatnya sedikit sadar, namun entah jika detik berikutnya dia akan kembali berubah. Benar saja dia kembali berdiri tegap dan tanpa aba-aba menarik pelatuk benda yang sejak tadi dipegangnya.


Bersamaan dengan Jia yang melempar benda andalannya di pergelangan tangan Merry, membuat senj*ta itu terlepas dari tangannya, terjatuh tepat di kaki Zahira.


Tanpa berpikir lagi Zahira mengambil dan membidik bergantian. Semakin membuat keadaan lebih tegang, Merry memeluk Radit dengan erat, antara rindu dan takut, dia bersembunyi di tubuh gagah Radit.


Entah mengapa pelukan itu tampak begitu hangat. Sebegitu kah Merry mencintai Raditya? Segala cara, semua usaha, bahkan kejahatan tak segan dia lakukan hanya untuk mendapatkan seorang Radit. Menentang semuanya termasuk menentang takdir kehidupan yang bertolak belakang dari kehidupannya.


Jelas saat ini Zahira sedang memiliki kesempatan untuk membalas kematian Anggara. Ya, dengan senj*ta yang sama! Ini waktunya!


"Nyonya!" Jia mendekati Zahira dan menggenggam tangannya.


"Kesempatan tidak datang dua kali Jia." ucapnya mencari sela karena Merry memeluk Radit dan berusaha menghindari bidikan Zahira.


"Polisi sudah mengelilingi kita, aku tidak ingin kau ditahan." Jia melirik sekeliling yang benar saja banyak orang di sekeliling Mereka.


Menyadari itu Radit memegang tangan Merry dan berusaha menguncinya, tapi tanpa di duga ternyata di balik saku pakaian susternya dia masih menyimpan sesuatu. Merry melepaskan peluru ke arah Zahira dan sebaliknya dua tangan yang sedang saling menggenggam itu menarik pelatuk dan melepaskan peluru.

__ADS_1


Dua ledakan bersamaan namun sasaran yang berbeda, Zahira terlempar tapi Jia yang terluka. Merry terjatuh di pelukan Radit, tapi dengan kekuatan yang tersisa wanita itu juga dengan cepat mengarahkan temb*kan kepada Raditya. Sekuat tenaga Radit menekan tangan Merry Sandra, dan kemudian suara ledakan diantara perut mereka berdua terdengar.


"Radit!" Zahira berteriak keras, bersamaan dengan jatuhnya dua orang tersebut.


"Nyonya disini saja!" Jia melarang Zahira mendekat, membiarkan dua orang petugas meraih tubuh Merry Sandra dan ternyata Radit yang memegang senj*tanya.


"Jia!" Zahira melihat bahu Jia berdarah. "Pak, Jia terluka!" teriak Zahira meminta dua orang petugas itu membantu Jia. Matanya kembali tertutup pemandangan memilukan ketika Anggara yang terluka dan Zahira berteriak minta tolong kepada Jia.


"Ini tidak akan membunuhku." ucap Jia menutup lukanya dengan tangan, tentu darah yang banyak tidak bisa ditutup begitu saja.


"Bawa Nona ke rumah sakit!"


Bodyguard Ricko membantu Jia yang mulai mengabur penglihatannya, bahkan ruangan itu tampak berputar. Tapi tangannya masih dengan erat menggenggam benda yang sudah menghabisi Merry Sandra.


Dia masih sempat tersenyum, bayangan dimana saat terakhir Anggara melepaskan temb*kan kepada Daniel, tepat sekali ketika pria tua itu akan menghabisi Jia.


'Hutang nyawa di bayar nyawa.'


Begitu hatinya berkata, bahunya tak kan patah karena luka yang dianggapnya tak seberapa, jantungnya tak apa-apa.


"Biar kami yang mengurus Nona Jia, Anda harus memastikan anak-anak baik-baik saja." Tomy meminta Zahira tak ikut masuk.


Dengan hati tak menentu Zahira berdiri diluar mobil, lalu teringat masih banyak orang di dalam. Zahira kembali masuk dengan mengusap air matanya.


"Radit!" Zahira mendekati Radit yang berdiri menunduk menatap tubuh Merry yang sudah tak bernyawa.


"Semuanya benar-benar berakhir." ucap Radit pelan, namun dapat di dengar Zahira.


Hatinya menjadi tak menentu dengan kejadian tiba-tiba di malam ini, wanita yang mencintainya hingga mati itu terlihat sangat menyedihkan dengan dua luka di dada dan di perutnya. Darahnya masih mengalir, matanya terpejam, tubuhnya terlentang, dia tidak akan bangun lagi.


Kebersamaan sejenak, walaupun menyakitkan hati, menghancurkan hidupnya tapi saat melihatnya seperti itu, hati Radit ikut berduka.

__ADS_1


"Dia sangat ingin bahagia, tapi caranya yang salah." ucap Radit lagi.


Seorang petugas meraih tangan Radit yang sejak tadi masih memegang senj*ta, mengambilnya dan menyimpannya di dalam plastik.


"Anda harus ikut ke kantor Polisi." ucap petugas itu kepada Radit.


"Mengapa Radit dibawa? Dia tidak bersalah." Zahira menahan lengan Radit.


"Harus di periksa Nyonya, Tuan Radit bisa menjelaskan semuanya di kantor nanti. Anda dan Nona Jia juga harus ikut kami ke kantor."


"Tapi Pak! Aku_"


"Silahkan bertemu dengan anak-anak anda."


"Ibu!" Satria dan Sadewa memanggilnya. Mereka berempat keluar dengan keadaan baik-baik saja.


Zahira berlari mendekatinya, memeluk keduanya dengan hangat. Rasa khawatir dan takut itu sudah berakhir.


"Syukurlah, Ibu senang sekali kalian baik-baik saja." ucap Zahira mengecup pipi keduanya bergantian.


"Kami bersembunyi di kamar Bibi." Satria melaporkan yang baru saja mereka lakukan.


"Itu bagus Sayang." Zahira kembali mengecup kening keduanya. Kemudian berdiri menatap dua orang yang sejak tadi ingin ditemuinya, David dan Ayu.


Zahira mendekatinya perlahan, mata beningnya sudah digenangi air mata. Zahira menghambur memeluk keduanya meraih tubuh David untuk mendekat, dia menangis di bahu keduanya dengan begitu sedih.


"Sayang." Ayu mengelus bahu Zahira, sedikit heran dengan tangisan yang sangat memilukan dari putrinya.


David juga merasa haru, tapi juga sedikit bingung dengan sikap Zahira.


"Sudahlah, semua sudah berakhir." Ayu menenangkan Zahira.

__ADS_1


Sejenak tak ada pergerakan, hanya isak tangis saja dari Zahira, hingga kemudian ia melonggarkan pelukan hangatnya.


"Maafkan aku Mama!" tangisnya kembali pecah.


__ADS_2