
"Meninggal bagaimana?" tanya Ayu dengan wajah penasaran.
"Meninggal setelah berkelahi dengan Jia. Om Ricky bilang Jia yang menghabisinya, Jia bilang dia tidak melakukannya, dan dokter bilang Anwar meninggal karena serangan jantung." Radit menyandar lelah.
Ayu tampak berpikir. "Bagaimana dengan Merry?" tanya Ayu kemudian.
"Mama tolong periksa Zahira, aku yakin dia terluka!" Radit baru ingat jika tadi dia sedang menghawatirkan Zahira.
"Apalagi ini, mengapa bisa terluka?" Ayu segera beranjak menuju kamar Zahira. Tampak di dalam Jia sedang membuka pakaian Zahira dengan hati-hati.
"Apa yang terjadi?" tanya Ayu masih diliputi rasa penasaran.
"P*hanya memar!" Jia menatap dengan sangat terkejut ketik berhasil membuka pakaian bawah Zahira.
"Ahh!" Zahira terbangun karena Jia menyentuh bagian yang memar tersebut.
"Sayang ini harus diobati!" Ayu segera meraih telepon di kamar Zahira.
"Biar saya saja Nyonya." Jia keluar untuk menghubungi dokter pribadi Anggara.
"Nak, kau sedang hamil. Bagaimana bisa kau berkelahi? Siapa yang melakukan ini?" Ayu benar-benar khawatir dengan Zahira.
"Mama." Zahira sedikit meringis.
"ini pasti sakit sekali." Ayu segera keluar mengambil handuk dan air hangat untuk mengompres luka lebam Zahira.
Tak lama kemudian Ayu sudah kembali dengan kain dan mangkuk ditangannya.
"Luruskan kakimu!" Ayu memeras handuk dan mulai mengompres.
"Mama, sakit!" rengekya begitu manja.
"Tentu saja sakit!" kesal Ayu, ia benar-benar tidak tega melihat Zahira kesakitan.
__ADS_1
"Tadi tidak sakit Mama, sekarang malah terasa panas dan berdenyut-denyut." ucap Zahira lagi memejamkan mata.
"Katakan siapa yang melakukan ini?" tanya Ayu lagi belum mendapat jawaban.
"Aku berkelahi dengan mantan menantu Mama." jawabnya pelan sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Astaga, kau berkelahi dengan orang gila." Ayu menggeleng.
"Bukan dia, tapi akulah yang gila." gumamnya masih di dengar Ayu. "Aku rasa dia lebih parah dari ini." wajahnya kembali meringis.
"Kau sedang mengandung Sayang, Mama tak hanya khawatir padamu, tapi pada bayi di dalam sini." Ayu menunjuk perut Zahira.
"Aku tidak bisa menahannya Mama, wajahnya selalu memanggilku untuk menghabisinya." jawab Zahira membayangkan wajah Merry.
"Mama tahu, tapi yang namanya berkelahi tak ada yang beruntung di dalamnya. Semua pasti merasakan sakit dan saling membalas. Tak hanya dia yang rugi, kau juga!" Ayu masih mengomel sambil terus menempelkan kain hangat itu di bagian p*hanya.
"Mama." panggil Zahira tampak sedang berpikir.
"Ada apa?" Ayu menatap wajah cantik putrinya sedikit.
"Siapa lagi yang tidak pernah keberatan menggendongmu?" Ayu tersenyum sedikit.
"Radit!" Zahira membulatkan matanya, kemudian menutup wajahnya dengan tangan kiri.
Ayu tersenyum tipis, hatinya sungguh berharap ini adalah awal untuk memperbaiki hubungan kedua anaknya. Rasanya sudah lelah selama beberapa tahun ini melihat keduanya seperti kucing dan anjing, ketika bertemu mereka hanya berdebat dan saling menyalahkan, bahkan semakin buruk ketika Anggara meninggal.
"Bukankah tadi kau pergi bersama Reza Mahendra?" tanya Ayu menyelidik, penasaran dengan apa yang terjadi.
"Radit melarangnya mengantarku pulang." jawab Zahira sedikit melirik Ayu, kemudian fokus dengan bagian yang masih di kompres.
"Kau menyukai Reza Mahendra?" tanya Ayu lagi, kali ini mata keduanya bertemu.
"Aku tidak memikirkan itu Mama, aku masih sangat mencintai suamiku. Apalagi saat ini aku sedang mengandung anaknya, aku tidak mau memberi harapan pada Reza. Nyatanya hatiku masih terisi penuh oleh Mas Anggara saja." jawab Zahira jujur.
__ADS_1
"Mama tidak melarang apapun yang menurutmu baik. Mama juga tahu kau nyaman bersama Reza Mahendra, itu wajar! karena dia dewasa dan baik. Mama berharap kau bisa memilih yang benar-benar terbaik untukmu, tak hanya untukmu tapi untuk anak-anak. Mereka butuh laki-laki yang bersedia membagi kasih sayang untuk mereka, tak hanya padamu. Menilai kepribadian orang tak hanya sekilas Sayang, tapi butuh waktu. Status janda muda sepertimu tak hanya menyenangkan ketika banyak orang datang memuji dan menginginkan dirimu, tapi juga menyulitkan ketika kau harus menentukan pilihan. Dan lagi, jika terus hidup sendiri juga tak kalah sulit bagimu. Namun ketika kau sudah memilih seseorang, tentu tak seperti kau masih sendiri. saat kau menikah nanti, anakmu juga ikut menikah dengan ayah sambungnya, dan itu yang paling sulit Nak! Anak-anak akan merasa punya saingan saat kau juga menyayangi suamimu, anak-anak akan merasa terabaikan ketika kau lebih sering bersama suamimu, anak-anak akan merasa terluka jika terjadi perselisihan dan kau tak bisa membela salah satunya. Mama harap kau tidak salah memilih."
"Aku tahu Ma, bagiku tidak semudah itu untuk memilih seseorang. Mas Anggara saja bisa memberikan nyawanya untukku, harusnya aku bisa setia dan menunggu waktu mempertemukan kami kembali." Zahira merubah posisinya, duduk perlahan dan menatap sedih pada foto yang selalu terpajang di meja sudut kamarnya.
Suara pintu diketuk, "Nyonya, dokter sudah datang." Jia membukakan pintu dan tampak dokter wanita masuk dengan senyum ramah.
"Selamat malam Nyonya!" sapa dokter wanita itu.
"Selamat malam, maaf Dok, mengganggu waktu istirahatmu." ucap Zahira.
"Tidak masalah, aku baru saja pulang dari rumah sakit, sekalian langsung datang kemari." Dokter itu mulai memeriksa Zahira.
"Ini akan lama, butuh satu Minggu untuk menghilangkan memarnya." ucap dokter.
"Apa kandungannya baik-baik saja?" tanya Ayu khawatir.
Dokter itu juga memeriksa kandungan Zahira, sejenak kemudian menutup kembali pakaian Zahira. "Tidak apa-apa, tapi sebaiknya tidak mengulangi hal ini lagi, emosi yang berlebihan, stress dan kegiatan keras bisa menyebabkan gangguan pada kehamilan anda Nyonya. Sebaiknya Anda istirahat untuk beberapa waktu." saran dokter itu lagi.
"Iya, aku memang harus istirahat." Zahira mengangguk.
"Ini obat dan vitaminnya, dan ada satu obat untuk memar yang saya tidak membawanya, besok akan saya kirimkan."
"Terimakasih Dok, biar sopir saja yang mengambilnya besok pagi. Dokter pasti sangat sibuk sekali."
"Ah, kalau begitu saya permisi, jangan lupa istirahat Nyonya." Dokter wanita itu beranjak.
"Mari saya antar." Jia menghantarkan dokter itu keluar.
Di tempat lain, rumah sakit itu tampak heboh bagian ruang rawatnya. Banyak sekali pasien yang tiba-tiba datang serentak dengan luka hampir sama akibat perkelahian. Juga Merry Sandra yang kini baru saja sadar dari pingsan, wanita muda itu sedang menangisi tangannya yang kini di perban dan harus di gendong. Juga kakinya yang berdenyut nyeri, sakit luar biasa bagian betisnya karena di injak Zahira.
"Wanita gila! Harusnya dia yang mati, dia memang harus mati." umpatnya dengan wajah geram tapi meringis.
"Nona sudah sadar?" seorang suster masuk dengan sedikit tersenyum, tapi salah seorang lagi mengikutinya dengan kursi roda.
__ADS_1
"Ada apa Suster?" Merry merasa heran ketika kedua orang itu membantunya turun dari ranjang.